
Suara napas berat terdengar, warna ruangan itu masih tak berganti sama sekali.
Domino yang bagaikan papan catur dengan hanya dua warna.
Aroma anyir tercium, mata nya yang gemetar takut dengan rantai di tangan dan kaki nya. Suara lonceng bergemerincing satu sama lain.
Tak ada pengobatan sama sekali bahkan setelah ia terpental ketika di tabrak oleh mobil hingga membuat kaki nya memutar kebelakang akibat sendi yang sudah patah sempurna.
"I.. iblis! Gila! B*ngsat!"
Pria yang memiliki tubuh tegap itu tampak memaki di akhir hidup nya.
"Kau memukul anak itu kan? Bukan harus ku ulangi, kenapa kau mengejar mereka? Dia jadi sangat bau." suara yang datar itu tampak sedang menghela saat mengingat gadis nya seperti tikus toilet ketika ia menemukan nya.
"Hey gila! Kau pikir aku takut dengan mu?! Kalau kau tidak melepas ku akan membunuh mu!" pria botak itu tak memahami situasi.
Wajah datar itu terlihat tak menunjukkan ekspresi apapun, tak takut dan juga tak tersenyum sama sekali.
Tak ada keseruan yang ia dapatkan ketika ia membunuh seseorang dan warna yang dulu ia idamkan juga kini semua nya terasa hanya biasa saja untuk nya.
"Apa yang kau bicarakan dengan kedua gadis itu sebelum kau mengejar nya?" ia tak peduli dan hanya menanyakan apa yang ingin ia dengar.
"Kau seperti ini karna dua jal*ng itu? Kalau tau begitu aku sudah memukul mereka sampai mamp*s! Seharusnya aku menarik rambut blonde itu dengan lebih kuat!" ucap nya yang terus memaki tanpa rasa takut.
Mata dengan warna abu-abu gelap itu langsung menatap dengan tajam.
"Siapa? Rambut blonde?" sinar yang tampak cerah di bawah sorot itu tampak dengan tajam.
Hanya ada satu gadis yang memiliki rambut pirang ketika pria botak itu mengejar tadi malam.
"Kau membuat dia terjebak di kotoran lalu menarik rambut nya dan memaki nya, seperti aku lebih sulit bicara dengan mu dari pada dengan anjing," wajah yang tak menunjukkan ekspresi apapun itu melihat dengan mata tajam.
Ia berbalik tanpa mengatakan apapun, "Aku baru beli gergaji mesin dan pemotong besi, kau mau yang mana?"
Pria dengan seluruh tubuh yang di rantai itu mengernyit mendengar nya.
"Lama sekali? Karna kau sedikit kasar kita pakai gergaji mesin saja, kulit mu sedikit tebal tapi aku memang tidak berniat membuka nya." ucap pria tampan itu dengan mata yang menunjukkan rasa kepuasan dan keinginan tersendiri.
Ia berbalik dan dan mulai menghidupkan gergaji mesin yang bersuara kasar itu.
NGINGG!!!!
Suara berisik itu mulai terdengar, pria yang di rantai itu menatap dengan mata yang membelalak.
"Si*l! Apa ya- AKHHH!!!!"
Crasss!!!
Suara gemerincing lonceng dengan rantai itu bersahutan bagai musik melodi, jeritan yang tenggelam dengan suara gergaji itu terdengar menyatu bagai harmoni di sebuah Opera.
"Tangan mu sudah ku lepaskan kan? Mau aku lepaskan rantai di kaki mu juga?" kali ini pertanyaan itu di awali dengan senyuman tipis.
Cairan merah kental sudah tercium dengan pekat dan begitu menyatu, setidak nya aroma ini lebih harum dan indah di bandingkan aroma kotoran yang busuk.
"B.. br*ngsek!"
Ia memaki sejenak dengan lidah yang masih bisa bergerak sampai-
ARRGGHHH!!!!
Suara jeritan itu kembali terdengar sekali lagi dengan gemerincing lonceng yang semakin terdengar sebagai alunan musik dan suara mesin yang membuat semua nya menyatu.
Crasshh!!!
__ADS_1
Darah segar itu mengalir keluar, namun tak hanya itu, sesuatu yang terlihat berwarna putih dan lunak pun ikut menghambur keluar.
Jeritan itu tak lagi terdengar, mesin yang berputar itu sudah membelah dan membuat kedua mata itu terpisah.
"Otak nya keluar? Tekstur nya cukup bagus," gumam nya sembari menantikan gergaji mesin nya dan melihat kepala dengan isi yang berhamburan akibat terbelah dua dengan gergaji mesin yang berada di tangan nya.
Sepatu yang mengkilap itu menginjak dan menghancurkan benda lunak yang bercampur dengan darah itu.
Aroma amis menjadi lebih pekat dengan anyir yang menyatu, tapi itu bukan lah sesuatu yang mengganggu sama sekali.
Suara ketukan terdengar, wajah yang tak menunjukkan ekspresi apapun itu menoleh ke arah pintu.
"Tuan? Nona Anna sudah menunggu untuk makan siang."
Suara yang terdengar dari luar, bukan nya sang pelayan yang lancang namun memang ia yang meminta untuk di panggil ketika jadwal makan siang bersama karna ingin memperhatikan asupan makanan gadis nya.
"Ya," jawab nya singkat dengan memberi tanda jika ia sudah mendengar.
Clak!
Suara genangan darah itu terdengar menjiplak di sepatu nya saat ia berjalan keluar dengan tidak peduli pada mayat yang berada di dekat nya itu.
"Aku akan membuat nya makan lebih banyak nanti," ucap nya dengan senyuman tipis yang begitu berbeda dengan ekspresi nya barusan.
...
Mata biru itu menoleh ke arah pria yang baru datang namun ia memang tak menunggu terlalu lama karna makanan yang di sajikan pun masih hangat dan belum dingin.
"Luc?" panggil Anna lirih.
Walaupun pria itu selalu tak menunjukan ekspresi namun sorot mata nya selalu bisa mengatakan seperti apa suasana hati nya.
Tak ada jawaban, namun pria tampan itu menoleh ke arah gadis yang memanggil nya itu.
"Kamu ga kerja? Bukan nya bos perusahaan itu sibuk ya?" tanya Anna lirih yang ingin menghindari pria itu namun kini malah terus bertemu.
"Aku terlihat seperti pengangguran?" Lucas menjawab dengan nada sarkas yang terdengar sedang kesal.
"Tidak! Ma.. maksud ku, aku suka sekali karna sama kamu seharian!" ucap Anna dengan langsung merevisi perkataan nya.
Lucas tersenyum kecil mendengar nya, tatapan nya menjadi melemah sedikit dan membuat gadis itu merasa lega.
Makan siang pun mulai berlanjut, satu persatu makanan masuk ke dalam mulut kedua orang itu.
"Luc? Soal orang itu..."
"Maksud ku waktu aku bilang mau balas dendam sama ayah ku..."
Anna berbicara dengan suara yang bergumam karna takut membahas nya, namun ia juga merasa balas dendam nya tak memberikan pengaruh apapun.
Ia tak merasa puas atau senang tapi tetap saja ia tidak merasa sedih sama sekali. Perasaan yang datar tanpa kesedihan atau kepuasan.
Tak mengharapkan kata maaf lagi dan juga tak merasa kehilangan sama sekali.
"Oh? Ayah mu itu? Kabar yang ku dengar terakhir kali kata nya sekarang dia punya satu ginjal karna di ambil rentenir." ucap Lucas yang lupa memberikan kabar baik tentang ayah gadis nya.
"Ohh..." Anna berekspresi kosong, jujur saja ia tak terkejut atau pun sedih mendengar nya.
Ia sama sekali tak merasa iba namun ia juga tak merasa senang sama sekali.
"Bagus kan?" tanya Lucas dengan senyuman tipis dan mengharapkan wajah yang tampak mendukung nya.
Anna tersenyum tipis, tak sulit untuk selalu tersenyum kapan pun dia mau ketika pria itu meminta nya.
__ADS_1
"Iya, tapi soal Sam..." ucap nya lirih yang kali ini menyebutkan nama yang berbeda.
"Anak itu? Anak yang dengan kemarin malam kan? Aku tidak melakukan apapun pada nya sejauh ini, dia hancur karna keluarga nya. Tapi apa dia juga membuat mu kesal? Aku bisa menghilangkan satu mata nya dan membuat nya bisu. Itu akan terlihat menyenangkan, bukan?" tanya Lucas sembari membayangkan hal yang lain.
Anna langsung menggeleng dengan cepat, "Tidak! Jangan lakukan apapun! Di.. dia kan sudah ta.. tau rasa nya seperti aku dulu ja.. jadi jangan ber.. berlebihan."
"Aku berlebihan? Padahal aku melakukan semua yang kau mau." ucap Lucas yang langsung menatap dengan sorot yang tajam.
Anna gugup apa lagi yang harus ia katakan pada pria yang selalu tampak kesal dengan mudah itu.
Cup!
"Ma.. maaf! Luc jangan marah..." ucap nua lirih dengan kecupan yang mampu menurunkan level amarah yang mulai naik itu.
Lucas tersenyum tipis, ia merasa senang dan menatap ke arah gadis nya yang mencoba membujuk nya itu.
......................
Dua hari kemudian.
Sekolah.
"Akh!"
Gadis itu tersentak, loker nya yang ia ingat tapi kini terlihat berantakan dan di penuhi dengan alat kontr*sepsi bekas yang di letakkan secara asal.
"Hey! Kau tidak datang sampai setahun karna hamil kan?"
Gadis itu masih terkejut, namun suara yang menyapa dan terdengar di telinga pun lebih mengejutkan lagi.
"A.. apa?"
Rasa nya masih begitu sulit mencerna nya, tapi kenapa semua tatapan yang melihat ke arah nya begitu berbeda?
Mata yang membuat nya merasa di tel*njangi dan membuat nya merasa begitu tak nyaman seperti sedang berdiri di tempat yang tak menerima nya sama sekali.
"Jeff melihat mu di club' beberapa hari yang lalu, kau kerja di sana? Jadi gosip tentang kau hamil itu benar?" tanya salah satu nya yang terlihat berbicara dengan penuh dukungan.
"Apa? Kalian bicara apa sih? Sudah gila ya?" Anna tampak bingung.
Memang sedikit asing bagi nya saat ia kembali setelah hampir satu tahun tak pernah masuk ke sekolah.
"Ck! Kami satu kelas dengan pel*cur?" ucap gadis itu sembari memainkan rambut nya.
"A.. apa? Jaga bicara mu!" memang ia terkejut namun tentu ia tak terima mendengar nya.
"Apa kau pikir kami tidak tau?" tanya gadis itu sembari mendorong bahu gadis itu hingga terjatuh.
Auch!
Anna meringis, namun belum sempat ia membalas suara berbisik yang mentertawakan nya terdengar.
"Lihat paha nya, apa kita bisa lihat isi nya juga?"
Deg!
Gadis itu terguncang beberapa saat, ia melihat ke arah rok yang tersingkap dan berusaha menutup nya karna memang semua seragam nya memakai rok pendek.
Tatapan yang mematikan dan membuat nya tak nyaman itu tak lagi bisa ia tahan.
Langkah nya berbalik, ia berlari keluar kelas dengan cepat dan semakin membuat diri nya tampak bersalah.
...
__ADS_1
Suara air terdengar, gadis itu tampak mencuci tangan nya yang gemetar itu.
"A.. apa yang mereka katakan?" gumam nya lirih yang bahkan tak tau gosip apa yang sudah tersebar di sekolah nya tentang diri nya.