Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Goresan


__ADS_3

Mata biru itu menatap ke arah kakak kelas nya sejenak saat mendengar penuturan yang ia sendiri tak pernah dengar.


"Ih! Mana ada begitu!" ucap nya yang beranjak membuka seat belt nya dan keluar melalui pintu mobil remaja tampan itu.


"Loh? Kok gak bisa?" tanya nya yang bingung melihat pintu yang terkunci.


Ia berusaha membuka sendiri namun mobil tersebut tak mau mengikuti keinginan nya.


Gevan diam tak mengatakan kata sanggahan apapun, ia menghidupkan mesin mobil, "Pakai lagi sabuk pengaman mu."


Anna tersentak, "Loh? Kak! Aku harus pulang kak!" ucap nya yang terkejut namun mobil tersebut sudah jalan lebih dulu.


Gevan tak mengatakan apapun, dan gadis itu pun tak berani melaporkan kegiatan nya kali ini.


"Kita mau kemana?" tanya nya lirih dengan mata yang sayup dan tampak gusar.


Gevan tak mengatakan apapun, ia hanya mengendarai mobil nya sendiri.


Ban bulat berwarna hitam itu terus berputar dan menggelinding sampai ke salah satu hotel berbintang dan memasuki parkiran nya tanpa hambatan.


Sedangkan Anna semakin gusar, takut jika kakak kelas nya itu memang menginginkan nya untuk melakukan hal tersebut.


"Ki..kita ngapain ke sini kak?" tanya nya lirih saat tangan nya di tarik keluar begitu sampai.


"Pesan kamar lah! Masa mau bersih-bersih!" jawab Gevan ketus dan menarik tangan gadis itu.


"Loh? Kita kan masih pelajar! Kalau nanti di tanya-tanya gimana?" ucap Anna lagi sembari berusaha melepaskan tangan remaja tampan itu dari nya namun begitu sulit.


"Ga bakal di tanya, hotel nya punya Papa ku." jawab remaja itu enteng dan dengan mudah ia menaiki lift dengan kartu yang ia miliki dan ia memang sering menginap di sana sehingga memiliki akses nya.


...


"Aduh!"


Anna meringis, tangan nya di lepas begitu ia memasuki kamar yang terlihat sangat mewah itu.


Desain yang megah dan juga di lengkapi dengan berbagai fasilitas serta jendela kamar yang besar.


Gevan melepaskan jas sekolah nya dan menggantung nya, begitu ia berbalik ia menatap ke arah gadis yang terlihat terpesona dengan suasana kamar yang di masuki nya.


"Kau belum pernah ke kamar seperti ini?" tanya nya mendekat dan membuat Anna tersentak.


"Bu..bukan urusan mu!" ucap nya yang kesal dan tak lagi berbicara dengan panggilan nya.


"Belum? Pelit banget sugar mu," jawab yang seperti meremehkan.


"Memang nya apa hubungan nya kamar sama punya sugar?" tanya gadis itu yang terus memundurkan langkah nya karna remaja itu terus menerus melangkah maju.


Gevan tersenyum, "Kau mau mandi dulu? Atau sekarang saja?" tanya nya pada gadis itu.


Mata biru itu bergetar, "Ka..kak!" ucap nya yang tergagap namun berusaha tenang dan langsung meraih tangan kakak kelas nya itu.


"Mau sekarang saja ya?" tanya Gevan yang menaikkan senyuman nya saat gadis itu meraih nya.


"Ga..ganti yang lain ya? A..aku jadi pembantu selama sebulan deh!" ucap nya yang membujuk dengan mata biru nya yang bersinar itu.


"Aku juga udah punya banyak pembantu tuh!" jawab nya dengan ringan.


"La..lagi pula kita juga masih di bawah umur!" jawab Anna sekali lagi pada remaja itu.


"Yang di bawah umur kan kau," jawab Gevan yang tau gadis itu butuh satu tahun lagi untuk mencapai usia dewasa di negara nya.


"Ta..tapi kan kita masih pelajar!" jawab Anna sekali lagi.


"Terus?" tanya nya yang seperti tak peduli apapun.


"Ki..kita harus nya ti..tidur sama o..orang yang ki..kita suka, I..iya kan?" tanya Anna yang semakin gugup melihat remaja tampan itu tak peduli sama sekali.


"Takut banget sih? Cuma sekali, aku juga ga akan tinggalin bekas nya nanti. Jadi dia ga bakal tau." ketus Gevan yang memang bisa melakukan nya tanpa meninggalkan bekas percintaan nya di tubuh pasangan nya.


"Tapi aku ga mau!" jawab Anna seketika yang tampak panik.


"Kenapa ga mau? Sama aku juga bisa puas kok, kayak masih perawan aja?" ucap nya terkekeh pada gadis remaja itu.


Anna mengernyit mendengar nya, memang nya selama ini pandangan anak di sekolah nya melihat nya seperti apa?


"Aku memang masih perawan," jawab nya pada remaja itu.


"Pft! Apaan sih?" tanya Gevan yang tertawa dan tak percaya.


Gadis itu memiliki seseorang pria yang mensponsori nya dalam artian 'Sugar' tapi masih mengaku murni?


Bahkan seseorang yang tidak memiliki kekasih atau sponsor seperti itu saja sudah banyak yang tidak lagi 'murni' apa lagi yan tergolong di salah satu nya?


"Kenapa ketawa? Aku ga bohong!" ucap yang sekali lagi menatap ke arah remaja itu.


"Memang nya sekarang siapa sih yang masih perawan? Kalau umur mu masih 14 atau 15 tahun terus ga punya sugar kayak begitu aku bisa percaya," jawab nya terkekeh.


"Kenapa ga percaya? Samantha juga tuh!" jawab yang menyebut teman yang sering bersama nya.


Gevan semakin tertawa mendengar nya, sepupu nya itu di sebut?


"Samantha? Anak itu masih perawan?" tanya nya yang terkekeh.


Anna menatap bingung melihat tawa remaja itu.


"Dia itu punya pacar, jadi mereka ngapain? Lomba makan tiap hari?" tanya nya terkekeh.


"Terus kalau misal nya punya pacar harus tidur bareng gitu?" tanya Anna sekali lagi.


Gevan membuang napas nya lirih, "Ga harus sih tapi kan..." ucap nya yang juga bingung.


Memang tak ada aturan tertulis yang harus di patuhi kalau seseorang yang memiliki pacar harus tidur bersama namun 90 persen orang-orang melakukan aturan tak tertulis itu dengan keinginan satu sama lain.


"Iya kan? A..aku duluan ya kak!" jawab nya pada remaja itu dengan berusaha kabur namun sayang tangan nya kembali tercegah.


Greb!

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Gevan yang merasa tak pernah mengatakan agar gadis itu bisa pergi.


"Pu...pulang lah!" jawab Anna seketika yang terlihat kesulitan melepaskan tangan nya.


Gevan terdiam, awal nya ia memang berpikir kalau gadis itu masih murni namun ketika bertemu di pesta sebelum nya dan melihat sendiri gadis itu menjadi 'pasangan' yang tentu setiap mata dapat mengetahui 'pasangan' seperti apa yang di maksud ia tak lagi mempercayai nya.


Mana mungkin gadis yang menjadi simpanan pria kaya seperti itu tak pernah di sentuh?


"Sakit! Gevan!" panggil gadis itu tanpa mengatakan panggilan formal nya lagi.


Gevan tertawa mendengar nya sembari mendorong tubuh gadis itu ke ranjang.


"Perawan ya? Mana coba? Sini aku lihat?" ucap nya yang menindih tubuh gadis itu.


"Lepas! Kenapa sih?" tanya nya yang merasa begitu heran kenapa remaja itu sungguh tak mempercayai ucapan nya.


Sreg!


Mata nya membulat, kancing seragam nya nya tercabut saat di tarik, tangan nya yang berusaha mendorong dan memberontak seseorang yang menindih nya membuat dada nya semakin tersingkap.


"Tenang sedikit Ann! Kau ini kenapa sih?!" tanya Gevan yang kesulitan melucuti seragam gadis remaja itu.


"Aku beneran masih..."


"Kenapa ga percaya?"


Tanya Anna lirih dengan suara yang mulai gemetar sembari berusaha menangkis tangan kakak kelas nya itu.


Gevan tak menjawab, ia malah menurunkan pegangan nya saat tenaga gadis itu mulai melemah ketika melawan nya.


"Percaya kok, aku juga percaya besok ada kucing yang bisa bicara." jawab nya yang terlihat jelas jika ia tak mempercayai apa yang di katakan gadis itu.


Set!


Anna tersentak, ia berusaha bangun dan mendorong seseorang yang menyingkap rok nya dan menarik kain segi tiga berwarna merah muda yang memiliki gambar kucing putih yang tampak menggemaskan.


"Kau punya selera pakaian seperti ini?" tanya Gevan yang tertawa melihat motif anak-anak di pakaian d*lam gadis itu.


"Aku gak mau! Beneran- Ukh!" ucapan nya terpotong, biasanya akan ada sentuhan yang setidak nya menjalar ke seluruh tubuh nya sebelum sempat ke bagian inti nya namun sekarang?


Ia meringis saat ada yang tiba-tiba menyentuh bagian privasi nya.


Deg!


Gevan tersentak, ia memang tau bagaimana rasa nya gadis yang masih murni karna sejauh ia pernah tidur dengan seseorang adalah yang pernah melakukan nya sebelum nya.


Namun ia tau sesuatu yang mengganjal seperti tak bisa menerima dua jemari nya, "Kau?" tanya nya yang langsung membuka k*ki gadis itu dan memeriksa nya sendiri.


Mata hijau nya membulat, itu bukan tampilan sesuatu yang pernah di masuki sebelum nya.


"Kau benar masih perawan?!" tanya nya yang terkejut dan langsung bangun melihat wajah gadis itu.


"Hiks..."


Suara tangisan lirih terdengar, begitu kaki nya di lepaskan, ia langsung meringkuk dan menutup nya.


Ia tak bisa melihat wajah gadis itu namun ia bisa mendengar suara tangisan lirih nya yang terdengar jelas.


"Ann? Anna? Iya! Aku percaya!" ucap nya yang bangun dari ranjang.


Sedangkan gadis itu masih menutup wajah nya dan meringkuk dengan suara tangisan yang terdengar.


"I..ini mau ku pakai kan lagi celana nya?" tanya nya yang mengambil kain berbentuk segi tiga bercorak kucing itu.


Ia benar-benar tidak pernah menghadapi gadis perawan dan ia pun tak pernah memaksa pasangan nya untuk tidur bersama sebelum nya.


Dan kali ini pun ia memberikan paksaan karna berpikir gadis itu juga akan menerima nya pada akhir nya, dan yang paling utama ia memang berpikir jika gadis itu sudah terbiasa melakukan nya.


Anna menggerakkan kaki nya seperti menendang ketika remaja itu ingin menyingkap selimut nya untuk memasangkan kembali yang sudah di lepas.


"Aku beneran ga tau Ann!" ucap nya yang sedikit merasa bersalah pada gadis itu.


Anna tak menjawab, ia masih menangis sembari menutup wajah nya.


"Ck!" Gevan berdecak, ia berbalik dan ingin beranjak pergi.


"Ke..kenapa sih ka..kalian jahat? A..aku kan ju..juga punya perasaan..."


Suara tangisan yang bercampur dengan gumam nya yang tak jelas itu membuat Gevan berbalik.


Ia tak mengatakan apapun lagi, ia sendiri juga bingung harus apa, ia memang anak yang nakal namun kenakalan nya jarang berpusat mengganggu perempuan walaupun ia adalah pembully yang benar-benar kasar saat menganggu.


......................


JNN grup


Kali ini Lucas datang ke perusahaan walaupun biasanya ia lebih suka bekerja dari rumah.


Pertemuan dan berbagai urusan bisnis begitu banyak hari ini karna ia memang selalu sibuk.


Drrtt... drrtt... drrtt...


Ponsel nya bergetar, ia mengambil nya dan mengangkat nya tanpa melihat nama nya.


"Halo?"


"Sir? Saya sudah menunggu nona Anna selama dua jam tapi dia belum kembali juga."


Lucas mengernyit mendengar nya, ia menutup nya tanpa mengatakan apapun dan melihat ke arah riwayat chat yang di kirimkan gadis itu.


"Dia bilang sudah pulang?" gumam nya yang membaca chat terakhir yang mengatakan jika gadis itu sudah pulang.


Sesuai yang di minta, Anna mengirimkan semua yang ia lakukan pada pria itu.


"Ck! Anak ini benar-benar!" gumam nya yang berdecak kesal sembari kembali mengaktifkan chip yang berada di tubuh gadis itu untuk tau di mana gadis itu saat ini.


Seharusnya memang chip tersebut tak boleh di aktifkan dulu selama seminggu untuk menekan paparan yang sudah teradiasi namun karna gadis itu tak mendengar nya ia pun mengaktifkan nya kembali.

__ADS_1


"Hotel?!" ucap nya yang langsung terkejut melihat titik di mana gadis itu berada.


Ia tersenyum kesal dan mengambil ponsel nya untuk menelpon gadis itu walaupun tanpa menelpon ia bisa mengaktifkan penyadap yang di tanam di tubuh gadis itu dan bisa mendengar semua percakapan gadis itu.


......................


Hotel


Gevan melihat ke arah ponsel yang bergetar di dekat seragam gadis itu yang tadi nya tercampak saat ia menarik nya.


"Ann? Ada yang nelpon," ucap Gevan yang menyenggol bahu gadis yang masih menangis itu.


Tak ada jawaban, padahal ia mengantar nya alih-alih menjawab karena ingin gadis itu bicara dengan nya.


"Dari Vampir gila," ucap Gevan lagi dan membuat gadis itu langsung membuka wajah nya dan mengambil ponsel nya segera.


Anna mengusap air mata nya dan berusaha mengatur suara nya yang serak karna tangis.


"Di mana?"


Suara yang langsung terdengar tanpa sapaan halo terlebih dahulu.


"Di.. di se..sekolah..." jawab nya lirih yang takut mengatakan di mana ia berada.


"Sekolah?" suara yang terdengar seperti terdapat tawa itu membuat Anna meremas selimut nya.


"I..iya Sir!" jawab nya yang membuat suara nya kembali riang kembali walau sedikit sulit.


"Aku membeli sesuatu yang tajam dan mengkilap hari ini, aku juga belum mencoba nya, kau mau coba?"


"Be..benarkah?" tanya nya yang berusaha tertawa dan tampak suka.


"Hm, aku sekarang juga hampir lupa..."


"Lu..lupa apa?" tanya Anna yang terdengar suara gemetar dan serak nya walaupun ia berusaha untuk seceria mungkin.


"Lupa, bagaimana warna darah mu."


Deg!


Gadis itu tersentak mendengar nya, tangan nya gemetar dan juga memegang ponsel yang tampak goyah itu.


Panggilan nya terputus, Gevan melihat ke arah wajah yang tampak pucat dan mata yang gemetar seperti takut.


Tentu ia bisa membedakan bagaimana seseorang tengah merasa takut atau tidak karna ia sering membully seseorang dan melihat mata yang ketakutan atau tidak.


"Anna? Kenapa? Mau ku antar pulang?" tanya nya yang menyentuh tangan gadis itu.


Plak!


Mata hijau itu goyah sejenak, saat ia merasakan pukulan yang perih di pipi nya.


"Aku memang punya orang seperti itu, tapi aku bukan pel*cur!" ucap nya yang beranjak bangun dan merapikan semua pakaian nya.


Memang benar jika tubuh nya pernah tersentuh di beberapa tempat namun bukan berarti ia bisa di sentuh dengan mudah oleh siapa saja.


......................


JNN grup


Lucas memegang pisau lipat nya dan memainkan mata pisau tajam itu.


"Pel*cur ya?" gumam nya lirih yang mendengarkan apa yang di katakan gadis itu setelah panggilan ponsel nya di tutup.


"Tapi dari pada itu, aku haru menghukum nya karna berbohong kan?" tanya nya lirih yang melihat ke arah pisau nya.


Ia tak mengetahui masalah sebelum nya karna baru mengaktifkan chip nya sekarang namun yang paling ia tau jika gadis itu berbohong pada nya.


......................


Mansion Damian


"S..sir?"


Anna tampak takut saat melihat pria itu yang datang pada nya di malam hari.


Terlihat jelas jika pria itu baru saja kembali dari kantor dan lambung mendatangi nya.


"Sekarang kau sekolah di hotel?" tanya Lucas dengan senyuman tipis yang membuat nya tampak semakin menakutkan.


"I..itu..." Anna tersentak mendengar nya.


Greb!


Sebelum ia bisa pergi tangan nya di tarik kuat oleh Lucas dan,


Crash!


Ack!


Tes...


Tes...


Tes...


Cairan merah yang kental itu tampak menetes jatuh, tangan yang kecil itu tampak tergores panjang membuat gadis itu meringis sakit.


"Ada yang menganggu mu? Katakan pada ku dan aku akan menghukum nya juga." ucap Lucas yang menekan luka di tangan gadis itu dan semakin membuat darah segar itu mengalir.


Ia sedang memberikan hukuman untuk gadis itu dan bertanya apakah ia harus memberi hukuman untuk yang lain nya juga ketika mendengar sepenggal kalimat saat ia mengaktifkan chip nya tadi.


Anna menggeleng, ia memang marah dan kesal pada kakak kelas nya namun ia takut jika mengatakan sesuatu maka pria di depan nya akan membunuh nya.


Dan ia sangat tidak ingin melihat kematian seseorang yang ia kenal.


"Ma..maaf..."

__ADS_1


"Sa..saya salah..." jawab Anna meringis sembari memegang tangan nya yang terus meneteskan cairan merah kental itu.


__ADS_2