Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Maybe, your sister


__ADS_3

Mansion Damian


Lucas mengernyitkan dahi nya, begitu ia menanggalkan pakaian gadis nya saat menyuruh nya untuk mandu bersama ia bisa melihat ke arah bekas cengkraman tangan di lengan yang berkulit putih itu.


"Ini siapa yang buat?" tanya Lucas yang menatap ke arah wajah gadis nya.


"Hum? Ini?" Anna menjawab sembari menoleh ke lengan nya yang masih memerah.


Ia tak tau harus menjawab dengan jujur atau bagaimana karna sepupu pria psikopat itu lah yang melakukan nya tanpa sengaja.


"Aku baik-baik saja..." ucap Anna yang malah tanpa sadar menutup mulut nya ketika ia pun bingung.


"Siapa? Hm?" Lucas mendekat, melihat ke arah wajah gadis nya dengan tatapan yang tajam.


Anna terdiam untuk beberapa saat, seluruh tubuh nya meremang. Mau selama apapun ia tinggal bersama pria itu tetap saja merasa takut dengan tatapan mata yang tajam itu.


Dan pada akhirnya ia hanya kehilangan jadi diri nya perlahan demi perlahan.


"Anna!" Lucas memanggil sekali lagi, kali ini tampak lebih serius.


"Yang bisa meninggalkan bekas di tubuh mu cuma aku! Aku tidak menerima hal seperti ini, kalau kau tidak mau kena hukuman katakan." ucap Lucas sekali lagi.


"Ta.. tadi kan..." Anna bergumam saat menjawab nya.


Padahal ia sudah merasa dekat tapi kenapa untuk di beberapa hal ia selalu saja merasa takut dengan pria itu.


Gadis itu mulai bercerita tentang apa yang terjadi di apart nya, dan tentu ia juga menekankan bahwa sepupu pria itu terlihat tak sengaja ketika tak bisa mengontrol kekuatan nya untuk mencengkram lengan nya.


Lucas tak mengatakan apapun atau memotong pembicaraan, ia hanya mendengarkan hingga selesai.


...


Pukul 02.15 am


Waktu dini hari namun pria itu masih belum tertidur sama sekali, ia menatap ke arah gadis dengan rambut yang basah dan juga wajah yang lelah itu.


Ia benci melihat tanda yang di ciptakan oleh orang lain di tubuh gadis nya, maka dari itu ia menghilangkan nya dengan bekas kepemilikan yang ia buat.


Tangan nya mengusap lembut kepala yang tampak tidur dengan lelah itu. Bibir merah muda yang terluka dan leher jenjang yang putih dan mulus itu menjadi sasaran dari tatapan mata nya.


"Bagaimana cara nya agar kau tetap jadi milik ku sepenuh nya? Apa aku harus membunuh mu?" gumam nya lirih dengan tangan yang menyentuh leher gadis itu seperti akan mencekik nya.


"Tapi kalau aku melakukan nya aku tidak akan mendengar suara mu lagi..." Lucas bergumam, sekali lagi ia tak tau bagaimana cara nya mengatur emosi yang asing itu.


......................


Apart.


Pria itu tampak gelisah, tubuh nya berkeringat. Tangan yang menggenggam kemeja kusut nya dengan aroma alkohol memenuhi kamar nya.


Botol-botol minuman keras itu masih berserakan di ranjang nya karna ia menggunakan nya untuk bisa tertidur.


...


Kau yakin dengan yang kau katakan?


Iya! Aku ga bohong kok!


Suara kecil yang terdengar ketika meyakinkan seseorang dengan kebohongan nya.


Berpikir jika ia melakukan nya maka ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


Itu yang ia pikirkan sampai hari itu tiba.


Sepatu nya melangkah mendekat, bilik kremasi yang membuat nya penasaran karna seperti mimpi yang tak nyata.


Akh!


Bu.. bukan...


Wanita dengan wajah membiru dan tampak luka di seluruh bagian, setengah dari kepala nya terbakar. Tampak begitu tragis untuk kematian.


Nak?


Kenapa di sana?

__ADS_1


Jangan lihat, dia itu wanita iblis yang harus nya kau hindari...


...


"Hah!"


Suara napas yang berat terdengar begitu netra yang tampak gelisah itu langsung mendelik saat ia bangun.


"Ma.. maaf..." ucap nya lirih yang dengan suara gemetar.


Melihat wajah yang hampir ia lupakan membuat nya tak bisa tidur.


Kau membuang sepatu mu?


Darah...


Aku menginjak darah nya, apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa melihat nya...


Aku...


"Hentikan!" ia bergumam, suara dari memori yang tak ingin ia ingat itu berdengung di telinga nya.


Pria itu menutup telinga nya dengan rapat agar menghentikan suara yang datang dari pikiran nya itu.


"Ck! Sial!" ia mengumpat dan memilih untuk bangun.


Langkah nya yang goyah itu berjalan mengambil laptop nya, ia tak bisa tidur sama sekali.


Malam yang harus nya waktu di mana seseorang beristirahat namun ia malah mencoba untuk mencari tau seseorang.


......................


Ke esokkan hari nya.


JNN Grup


Lucas membuang napas nya dengan kesal saat tak percaya melihat pemberitahuan libur sepupu nya.


Setelah bertahun-tahun bekerja baru kali ini sepupu nya itu minta cuti untuk beberapa hari.


Lucas membuang napas nya, ia melanjutkan kembali pekerjaan nya karna walaupun sekertaris nya tai datang ia masih memiliki wakil sekertaris dan beberapa orang yang memang bekerja di departemen sekertaris.


......................


Apart


Sama seperti sepupu nya yang bisa masuk dan keluar dari mansion nya dengan mudah, ia pun bisa masuk dan keluar dari apart mewah itu dengan mudah saat ia tau kode akses nya.


Langkah nya melambat, aroma alkohol tercium memenuhi hidung nya.


Ia tak menghiraukan nya dan mencari sepupu nya bahkan sampai memeriksa ruang kerja dan juga kamar nya.


"Kau mabuk dan tidak masuk karna alasan seperti ini? Kau terlihat kacau?" tanya nya yang melihat ke arah sepupu nya.


Pria itu tersenyum dan tak menjawab ke arah sepupu nya yang selalu menampilkan wajah datar itu.


"Luc? Kau ingat ibu mu? Kau dulu sangat menyayangi nya walaupun kau tidak tau cara menunjukkan emosi." ucap nya yang tertawa kecil.


Tempo hari ia meminjam foto yang harus nya di bawa dan di cari oleh Anna, lebih tepat nya ia yang menyimpan nya untuk mencari tau sesuatu.


"Kenapa kau sering membahas tentang ibu ku? Dulu kau juga begitu, kau seperti nya terlalu terobsesi dengan wanita itu." ucap Lucas yang mengernyitkan dahi nya.


"Iya..."


"Mungkin kau benar, aku terosebsi dengan wanita itu..." gumam nya lirih dengan senyuman tipis.


Seharusnya saat ia mencari tau tentang keluarga Anna saat gadis itu ingin balas dendam dengan selingkuhan ayah nya ia juga harus nya mencari tau foto nya dan bukan hanya tau nama nya.


"Kau lihat ini? Anak ini Anna mu dan wanita yang di samping nya, kau tidak merasa dia familiar?" tanya Diego yang mendekat dan menunjukkan foto yang ia bawa.


Lucas tak mengatakan apapun, bahkan fokus yang ia lihat adalah wajah gadis nya yang tampak lucu saat masih kecil.


"Kenapa kau membuat bekas di tubuh Anna?" ucap Lucas yang tak terpengaruh dengan foto di depan nya dan menanyakan tentang tujuan nya.


Diego diam sejenak, teman nya tampak tak menunjukkan reaksi apapun bahkan setelah ia menunjukkan foto wanita yang begitu mirip dengan ibu nya.

__ADS_1


"Kau tidak ingat? Wanita yang ada di foto ini sangat mirip seperti ibu mu, bukan! Mungkin bukan hanya mirip tapi sama seperti ibu mu. Kau tidak merasakan nya?" tanya nya yang menatap ke arah sepupu nya.


"Kenapa aku harus ingat dengan seseorang yang ku lupakan? Kalau aku tidak tau dia berarti dia adalah orang yang tidak penting kan?" tanya nya dengan datar.


Ingatan nya terhapus untuk satu orang, seseorang yang sangat berharga dan sangat ia sayangi dulu nya.


Diego tertawa lirih mendengar nya, "Tidak penting? Kau lupa?" ucap nya yang melihat ke arah pria di depan nya.


"Kau yang bahkan tidak pernah takut atau menangis sebelum nya terus mengeluarkan air mata mu. Kau gemetar untuk pertama kali dan tampak akan hancur."


"Kau bilang darah nya mengalir di sepatu mu, kau bahkan bisa melihat pantulan wajah nya di darah itu? Oh? Mungkin karna itu kau hanya bisa melihat warna darah?"


Lucas mengernyitkan dahi nya, ia menatap marah pada sepupu nya yang menyinggung tentang penglihatan nya.


Greb!


"Apa yang mau coba kau katakan?! Kau bersikap seperti ular yang sedang bersembunyi!" ucap Lucas yang menarik kemeja Diego.


Diego tak mengatakan apapun untuk beberapa saat, sampai akhir pun lidah nya akan terasa keluh untuk mengatakan sesuatu di balik kematian ibu sepupu nya.


"Lakukan tes DNA, kemungkinan kau punya hubungan darah dengan Anna, bukan satu ayah tapi satu ibu." ucap Diego lirih yang menatap ke arah wajah sepupu nya.


Mata abu-abu yang menyilang itu tampak tersentak, ia melepaskan dengan kasar cengkraman nya dan membuat pria yang memang sedang goyah itu langsung terduduk di lantai.


"Kau tadi bilang aku terosebsi dengan ibu mu kan? Ku rasa kau benar..."


"Jadi aku juga terosebsi dengan apa yang dia tinggalkan. Jadi lakukan tes itu..." ucap nya lirih.


Bugh!


Tangan yang gatal itu tak lagi bisa menahan pukulan nya.


Ia menarik kerah sepupu nya dan memukul nya dengan kepalan tangan yang keras itu.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Diego tak melawan sama sekali, darah yang keluar dari bibir dan dahi nya menyiprat ke lantai.


"Hah!" Lucas menahan pukulan nya kali ini, karna ia tau jika ia memukul lebih lagi maka satu-satu keluarga yang setidak nya bisa ia percayai mungkin akan benar-benar mati.


"Jangan katakan hal yang konyol lagi, aku akan benar-benar membunuh mu." ucap nya yang bangun dan melihat ke arah pria yang masih dalam kondisi sadar namun tak bangun itu.


"Tapi..."


"Mungkin dia adik mu, lakukan saja tes nya. Jika bukan kau bisa tenang..."


Lucas berbalik mendengar nya, tangan nya mengepal menatap ke arah pria yang terus berbicara itu.


"Atau mungkin kau takut?"


"Kau takut dia benar-benar adik mu dan kau pada akhirnya jadi seperti ayah kita?"


Kali ini seperti batas dari kemampuan menahan emosi di otak nya hampir putus.


Sama seperti ketika ia kehilangan kendali emosi nya saat berpikir gadis nya akan meninggalkan nya.


"Melakukan hubungan sedarah yang menjijikan? Tapi kalau pun itu terjadi setidak nya kalian beda Aya-"


Brak!


Lucas kehabisan semua rasional nya, ia sangat membenci sang ayah namun ia di samakan dengan orang itu?


Tangan nya membawa dan menyeret sepupu nya untuk bangun dan kemudian memukuli nya, wajah nya datar menunjukan kemarahan yang meluap di dalam nya.


Bagi nya apa yang ia dengar seperti omong kosong.


Namun tetap saja omong kosong itu menghantui nya, bagaimana jika itu semua adalah kebenaran?


Apa yang harus ia lakukan?


Sedangkan ia sudah merasa 'candu' pada gadis itu seperti memakai golongan narkotika jenis pertama.

__ADS_1


__ADS_2