
Mansion Damian
Malam yang panjang, suara tangisan lirih yang tenggelam di dalam deritan ranjang.
Buliran bening itu menetes di mata yang biru dan jernih, gadis itu tak mengatakan satu kata pun untuk meminta berhenti atau kata makian.
Lidah nya keluh, suara nya tercekat dan ia yang begitu merasa takut membuat nya tak bisa mengatakan apapun kecuali kata 'Maaf' yang terus terucap berulang kali dari bibir nya seperti kata-kata otomatis.
"Uhh..."
"Hiks..."
Pandangan yang sayup melihat ke arah pria yang bangkit dari tubuh nya.
Yah, walaupun pria itu sedang semarah apapun namun ia tak melupakan pengaman nya karna ia tak ingin gadis itu sampai hamil.
Bukan karna ia yang tak ingin tanggung jawab namun ia memang tak ingin memiliki anak.
"Ma.. maaf..."
Suara lirih itu terdengar, mata sayup itu menatap ke arah pria yang merobek bungkus pengaman nya sekali lagi.
Tak ada jawaban, ia bahkan tak bisa benar-benar melihat mata abu-abu yang menyilang gelap itu pada nya.
Tangisan nya tak di dengar, keheningan yang mencekam menelan tangisan nya, ia merasa kaki nya yang terbuka sekali lagi.
Rasa perih kembali membuat meringis, pria yang dengan gemas mengigiti paha nya dan bagian tubuh nya yang lain.
Memar?
Atau mungkin luka?
Ia tak tau kecuali ingin pria itu berhenti namun bibir nya tak bisa mengatakan apapun, kepala nya begitu terasa berat.
Entah keringat atau darah yang menetes di dahi nya, gadis itu bahkan tak tau lagi.
Pandangan nya terasa gelap saat pria itu kembali naik ke atas tubuh nya, tangan nya naik sesaat.
Memegang wajah tampan itu sembari menyentuh rahang yang kekar itu dengan tangan kini terasa begitu halus saat ia tak lagi bekerja keras.
"Sa.. sakit..."
Suara yang tak keluar kecuali hanya bibir yang bergerak dan menatap ke arah pria menyatukan lagi diri nya.
Humph!
Tak ada balasan, rahang nya di cengkram. Bibir biasa nya berwarna merah muda namun kini tampak pucat itu di l*mat habis.
__ADS_1
Mata biru sayup itu perlahan memejam, rasa sakit di tubuh nya perlahan menghilang dengan rasa kebas yang menjalar.
....
Pagi menerjap, mentari mulai naik dan menyebarkan cahaya hangat nya. Namun silau itu tak bisa membangunkan seseorang yang masih terpejam dengan wajah pucat nya.
Sprei yang memiliki warna putih itu tampak bercorak lain, bantal yang berwarna merah dan mulai berubah gelap ketika darah yang jatuh sudah mulai mengering.
Gadis yang masih terbungkus selimut tebal berwarna putih, bekas kemerahan dan memar terukir di tubuh indah nya yang memiliki kulit lembut dan halus itu.
Klek,
Suara pintu terdengar, seorang pria yang datang dengan air hangat dan handuk basah yang lembut.
Ia mendekat dan duduk di samping ranjang sembari melihat ke arah wajah yang tampak pucat namun masih bernafas itu.
Rambut yang tampak berantakan dengan darah yang mengering di helaian nya itu mulai di bersihkan.
Setidak nya ia harus memberikan dan menutup tabuh gadis nya dengan beberapa kain sebelum memberikan nya pada dokter untuk di periksa.
......................
Apart
Panggilan masuk ke ponsel nya, gadis itu tak menjawab sama sekali.
Ia terkejut mendengar tentang kehamilan yang bahkan tak ia ketahui, wajah nya memar begitu juga dengan tubuh nya.
"Ini! Sekarang Mama yang bakal kerja! Gila kamu ya? Ga habis pikir Mama sama kamu!" ucap wanita itu yang masuk sembari memberikan makanan.
Memang sulit untuk membuat makanan dengan hanya satu tangan kiri nya, namun mau tak mau ia harus melakukannya.
Ia memang menuntut putri nya untuk membalas Budi namun ia tak tau jika putri nya berkerja menggunakan tubuh nya.
Samantha beranjak bangun, ia tak menyentuh makanan nya sama sekali. Sang ibu memukuli nya saat tau pekerjaan nya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Mrs. Laura yang menatap ke arah putri yang keluar.
"Cari kerja," hanya dua kata yang menjadi jawaban.
"Mau kerja apa kamu? Mau jadi pel*cur lagi! Ck! Sekarang aku bahkan merasa jijik dengan gelas yang kau pakai!" wanita itu berdecak, ia memang menganggap hina pekerjaan itu walaupun ia sendiri pernah melakukan hal yang hina dengan merebut suami teman nya.
Gadis itu mengepalkan tangan nya begitu mendengar ucapan ibu nya yang mengatakan kalimat hinaan.
"Iya! Mama ga usah minum gelas yang sama kayak aku! Aku banyak masukin ***** ke mulut! Terus aku juga banyak minum ****, ga cuma itu aja! Aku juga suka ***** maka-"
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan keras melayang di wajah yang tampak sudah kehilangan semua nya itu.
"Murahan kamu!" ucap wanita itu yang tak bisa mendengar ucapan putri nya.
"Tapi bukan nya lebih bagus ya? Setidaknya aku dapat uang! Mama ga tau kan? Sebagian dari rentenir yang kejar itu itu hampir perk*sa aku! Ga tau kan Mama? Mama ga tau kan kalau mereka dulu sering lec*hin aku! Aku kerja sebanyak apapun juga ga bisa bayar mereka Ma!" ucap nya yang berteriak pada ibu nya.
"Kenapa kamu ga bilang! Harus nya kamu bil-"
"Memang nya kalau aku bilang Mama bisa apa? Mama bakal percaya?! Gak! Mama cuma bakal nyuruh aku kerja! Mamah bakal bilang aku anak yang ga tau di untung! Mama ga akan peduli Ma..." ucap nya lirih pada ibu nya.
"Sekarang aku kerja, aku punya uang untuk kita! Untuk bayar hutang Papa! Mama pernah tanya sama aku apa yang aku kerjain? Engga kan? Sekarang Mama nyalahin aku?" tanya nya yang dengan suara yang bergetar saat tangisan nya tertahan di tenggorokan.
Wanita itu terdiam, ia tak mengatakan apapun lagi dan kali ini membiarkan putri nya pergi.
......................
Mansion Damian
Pukul 10. 24 am
Hampir tengah hari namun gadis itu masih belum terbangun sama sekali. Lucas pun kali ini tak datang ke perusahaan dan memilih bekerja dari rumah saja.
"Kau tidak melakukan sesuatu yang berlebihan kan?" tanya nya menatap ke arah sepupu nya yang duduk sembari menerima laporan nya namun kali ini pria itu tak berada di ruang kerja.
"Tidak," jawab Lucas singkat pada sepupu sekaligus sekertaris nya.
Diego tak mengatakan apapun, namun beberapa saat kemudian salah satu bawahan pria itu datang dan membisikkan sesuatu.
"Pindahkan dia ke kamar yang biasa," perintah nya pada bawahan nya.
"Kau mencari pria yang membawa Anna di pesta?" tanya Diego mengernyit.
"Ya," jawab nya singkat sembari melihat ke arah lembaran kertas yang berisi data itu dan mencocokkan nya dengan iPad nya.
Karna seharunya yang bernyanyi saat itu penyanyi lain namun di dalam data masih belum di ganti saat Gevan yang menjadi pemain piano dan tentu pencarian yang di dapatkan adalah musisi asli yang harus nya datang.
Menjadi sebuah keberuntungan untuk orang lain dan kemalangan untuk orang yang lain nya juga.
"Kau benar-benar tidak terlalu keras pada anak it-"
Deg!
Ia tersentak, mata nya melihat ke arah pelayan mansion yang membawa sprei yang penuh darah itu saat akan mengganti nya.
"Luc? Di mana anak itu?" tanya nya yang menatap ke arah sepupu nya.
Lucas menghentikan pekerjaan nya sejenak, ia tau sepupu nya tertarik dengan gadis nya karna membuat nya ingat dengan adik nya.
__ADS_1
"She isn't your sister! Stop giving her attention!" ucap nya dengan nada penuh penekanan.
"But you kill her slowly, she will die." balas pria itu dengan menatap ke arah mata sepupu nya.