Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Lampu gantung


__ADS_3

Mansion Damian


Lucas kembali ke kamar nya, ia meninggalkan gadis yang baru saja mengatakan nama nya dan menatap nya dengan bingung.


"Aneh..." ucap nya lirih sembari membuang napas nya.


Mata nya tak lagi bisa tertidur, entah mengapa suara lembut dari wanita yang memanggil nya begitu mengganggu.


Tangan yang besar dan hangat rambut ikal bergelombang yang berwarna mentari itu membuat nya tak bisa melupakan nya.


Tak ada satupun yang bisa ia ingat sebanyak apapun ia berusaha, semua nya masih sama.


Ia bahkan mendekor kamar nya dengan warna yang gelap agar benar-benar menyesuaikan warna yang ia lihat.


...


5 Hari kemudian


Gadis itu menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangan tubuh nya.


Gaun berwarna biru tua dengan memberikan siluet yang membentuk tubuh nya dengan indah.


Walaupun tertutup namun tetap saja memberikn kesan yang dewasa.


"Hum?" Anna menoleh ke belakang, rambut yang di tata rapi itu di tarik hingga membuat nya jatuh tergerai.


"Kita akan ke pesta seperti apa, Sir?" tanya nya menatap ke arah pria yang sudah lama tak bertemu dengan nya semenjak malam ia membangunkan nya.


Pria tak menjawab, namun ia melihat ke arah untaian halus dan lembut itu. Ia tak salah lihat.


Warna berkilau itu memang tak hilang walaupun ia melihat nya berapa kali, mata yang biru dan gaun yang tak berwarna.


Mata nya menatap ke arah cermin di depan nya, jangankan untuk tau bagaimana wajah gadis cantik itu ia bahkan tak tau bagaimana dengan wajah nya sendiri.


"Anda terlihat tampan, Sir!" ucap Anna dengan senyuman dan memuji ke arah pria itu.


"Benarkah?" pria itu menatap ke arah gadis di depan nya dan melihat pantulan diri nya dari cermin.


"Anda tidak tau anda tampan?" tanya nya sembari menatap ke arah pria itu.


"Kalau kau bilang seperti itu, aku harus mempercayai mu kan?" tanya pria itu dengan senyuman kecil.


Ia melihat ke arah mata dan rambut gadis itu yang memberikan cahaya namun tetap saja ia tak bisa melihat bagaimana wajah nya.


"Sir? Kenapa anda menghindari saya?" tanya Anna dengan ragu.


Bukan apa, namun ia malah merasa takut jika tak menemui pria itu beberapa hari lalu setelah bertemu lagi ia akan di gigiti seperti sebelumnya.


"Kenapa? Rindu?" tanya nya sembari menyentuh pipi bulat gadis itu yang terasa halus.


Anna membalas dengan senyuman nya yang tampak cantik dan tentu ia tak akan berani mengatakan 'tidak' pada ucapan pria itu.


......................


Gadis itu melihat nanar ke arah tempat pest yang bagi nya bukan untuk kaum seperti nya.


Lokasi yang di adakan di sebuah villa besar terbuka dan ruangan. Makanan yang beraneka ragam serta banyak makanan dan minuman yang di hidangkan.


"Kau bisa membuat kekacauan kalau kau mau, dan lihat mereka." ucap nya sembari menunjuk ke arah sekumpulan orang-orang dari beragam usia yang membentuk lingkaran itu.


"Kau harus membuat mereka kesal," bisik nya sembari menarik pinggang ramping itu ke sisi nya.


"Nanti saya di racun, Sir sama mereka?" tanya Anna yang tak ingin di jadikan pembuat masalah untuk membereskan masalah lain nya bagi pria itu.


"Tidak apa, aku akan melindungi mu. Kau cukup mengikuti apa yang ku katakan saja." ucap nya sembari mengajak gadis itu.


Mata yang tampak tajam itu terdiam ketika ia dan pria di samping nya bergabung.


"Luc? Lama tidak jumpa? Bagaimana keadaan perusahaan? Baik?" tanya seorang wanita yang memegang gelas champange di tangan nya.


"Saya tidak punya alasan untuk tidak metasa baik," ucap nya sembari menatap ke arah wanita yang berbicara pada nya.


"Tapi, siapa gadis di sebelah mu?" tanya salah satu yang lain nya.


"Dia? Aku harus bilang apa tentang dia?" jawab Lucas sembari menarik pinggang gadis itu mendekat ke arah nya.


"Kau bertemu dengan seorang gadis? Kenapa tidak beri tau kami?" tanya salah satu pria dengan rambut memutih yang tampak tak senang itu.


"Jika bukan gadis lalu saya harus temui pria?" tanya dengan senyuman yang tampak mengejek.


"Diego di mana? Kalian biasa nya selalu bersama?" tanya wanita bergaun merah itu yang tampak mengalihkan pembicaraan.


"Kalau saya terus bersama dengan Diego, saya akan meninggalkan gadis saya sendirian, dia ini sangat penakut terlebih dengan orang asing." ucap pria itu sembari menatap ke arah gadis di samping nya.


Anna tersentak, ia menatap ke arah pria yang memegang pinggang ramping nya dan menatap seperti menyuruh sesuatu tanpa berucap.


Apa? Aku harus apa?


Gadis itu bingung namun ia hanya memutar suasana nya saja seperti yang di katakan pria itu, tangan nya bergelayut pada tangan kekar yang penuh otot itu dan memeluk nya.


"Iya..."


"Aku takut kalau gak ada kamu..." ucap nya dengan suara yang manja karna pria itu mengatakan dirinya sebagai 'gadis saya' untuk menyebut diri nya.


Sekumpulan orang-orang itu terkejut, pria yang tak pernah terlibat skandal dengan wanita itu tak mendorong nya atau terlihat risih.


"Kami hanya khawatir, kau dan Diego tumbuh tanpa orang tua," ucap salah satu di antara nya dengan senyuman yang seakan sedang mengejek.


Lucas tak menanggapi ucapan itu, ia bahkan tau jika artikel gosip yang menyebutkan dirinya menyukai sesama jenis datang dari sanak keluarga nya sendiri.

__ADS_1


Dan tentang orang tua nya, walaupun ia tau ayah nya memiliki rahasia umum tentang asmara nya namun ia tak bisa melakukan sesuatu untuk menutup mulut-mulut dari keluarga nya yang gemar bergosip.


"Nona? Apa anda sudah bisa minum?" tanya salah satu wanita dan memberi nya segelas anggur.


Mata Anna berbinar, ia sangat ingin mencoba dan merasakan nya, namun belum sempat terambil gelas itu sudah di tangkap lebih dulu oleh pria yang tengah merangkul nya itu.


"Dia tidak boleh minum yang seperti ini dulu," ucap Lucas sembari menegak semua anggur yang berada dalam gelas itu.


Anna menatap kesal namun ia tak boleh menunjukkan nya, "Papa.." ucap nya dengan manja sembari membentuk pola lingkaran di dada bidang pria itu dengan telunjuk nya.


Semua nya terdiam, sedangkan Lucas hampir tersedak mendengar nya.


Kenapa diam? Salah?


Batin yang semakin bingung harus berbuat apa, "Daddy..."


"Mau minum..." ucap nya sekali lagi dengan nada manja dan membuat semua yang mendengar nya membatu.


Anna tampak kebingungan, bukan hanya orang-orang asing berkelas itu yang membatu pria yang berada di depan nya juga membatu seketika.


"Sa...sayang?" panggil nya lirih yang mencoba panggilan lain.


Aku harus bilang apa? Kakak?


Batin nya yang semakin bingung, perbedaan umur yang berkisar 13 tahun dengan pria itu tentu membuat nya sedikit bingung jika memanggil selain bahasa formal yang biasa ia gunakan.


"Kau tau kan? Masih tidak boleh minum..." balas pria itu dengan suara yang lebih lembut dari biasa nya.


Anna langsung membeku, walaupun tersenyum namun jelas mata pria itu menatap nya tajam seperti akan membelah nya menjadi dua.


"Tapi kan ak-"


"Yang di sini nanti sakit lagi?" ucap pria itu sembari memegang perut dan perlahan menarik pinggang ramping gadis itu.


"Mual,"


Bisik nya di telinga gadis itu, Anna mengernyit dengan bingung namun ketika melihat mata yang menatap nya dengan tajam itu membuat nya langsung bersikap seperti memiliki gejolak di perut nya.


"Hoek!"


"Sakit? Kau perlu istirahat?" tanya Lucas sembari semakin memeluk tubuh kecil yang ramping itu.


Anna hanya tersenyum canggung ketika dada bidang pria itu seperti membuat wajah kecil nya tenggelam.


Karna tak bisa bernapas ia pun menoleh ke arah lain.


Deg!


Mata biru nya membulat seketika, ia melihat remaja pria yang menatap nya dengan senyuman sembari memegang gelas tinggi yang berwarna seperti lemon tea atau champange.


Kenapa dia di sini?


Anna tersentak, namun Lucas sudah membwa pergi setelah membuat seluruh keluarga nya terdiam.


"Anda mau kemana, Sir?" tanya Anna yang panik takut seseorang yang ia kenal di sekolah nya itu mendatangi nya.


"Aku ada urusan, kau makan sesuatu dulu dan untuk yang tadi itu kerja bagus." ucap Lucas sembari beranjak meninggalkan gadis itu di meja dekat makanan ringan itu.


"Si..Sir? Ka..kalau terjadi sesuatu pada saya bagaimana?" tanya Anna yang langsung meraih tangan pria itu tanpa sadar karna panik saat tau ada teman sekolah nya yang melihat apa yang baru saja ia lakukan tadi.


"Aku akan mendatangi mu," ucap Lucas yang melepaskan tangan gadis itu karna ia juga memiliki beberapa urusan mendesak dan bukan nya harus menjadi pengasuh gadis itu.


Anna tak lagi bisa menahan pria itu, sedangkan Lucas mulai beranjak dan memakai alat kecil airphone di telinga dan mengaktifkan chip di tubuh gadis itu agar tetap bisa mengawasi nya.


Tak berapa lama kemudian, rasa takut gadis itu benar-benar datang.


"Tadi sugar Daddy mu?"


Gadis itu memejam, habis sudah semua nya!


Di antara sekian banyak orang kenapa kakak kelas yang menjengkelkan itu yang harus melihat nya.


"Siapa ya? Gak kenal," ucap nya ketus sembari mengambil satu cupcake coklat di atas meja yang di sediakan itu.


Gevan hanya tersenyum, "Kau hamil ya?" tanya yang langsung mengejutkan gadis itu.


Uhuk!


Anna hampir mati tersedak mendengar nya, tangan nya langsung mencari air dan mengambil salah satu minuman yang berada di dekat meja itu.


"Uhuk! Ini apa?" ucap nya yang juga terkejut dengan minuman yang ia ambil.


Namun bukan nya kembali meletakkan ataupun mencari minuman lain nya gadis itu malah tampak meminum lagi dan menghabiskan nya.


"Bukan nya kau tidak boleh minum alkohol? Kan kasihan bayi nya." ucap Gevan dengan tawa kecil.


Anna kembali tersadar jika ia se bersama dengan seseorang yang menyebalkan.


"Bayi apa? Aku gak hamil kok!" sanggah Anna seketika.


Ia saja belum pernah tidur dengan pria atau melakukan hal itu pada seorang pria jadi bagaimana ia bisa hamil?


"Bukan nya tadi pria itu menjaga mu karna kau hamil yah?" tanya Gevan tertawa.


Anna menatap kesal namun entah mengapa ia juga mulai pusing dan merasakan pijakan kaki nya yang sangat ringan hingga membuat nya ingin melayang.


"Hey? Kau sudah mabuk?" tanya Gevan menjentik jemari di depan gadis yang mulai tampak berubah itu.


"Hehe, engga tuh..." jawab Anna dengan cengengesan dan tertawa seperti anak kecil.

__ADS_1


"Kau mabuk," ucap Gevan menarik napas nya.


"Hum? Siapa nih? Ganteng nya..." ucap Anna yang mulai melantur.


Sangat cepat untuk membuat kesadaran nya hilang karna ia baru kali ini meminum alkohol dan itu pun menghabiskan nya dalam sekali teguk.


Gevan tersenyum bangga mendengar gadis itu memuji nya.


"Tapi nyebelin! Jadi mau di pukul!" ucap gadis itu yang bergerak hampir terjatuh.


Gevan mengernyit namun ia melihat ke arah gadis itu, lalu


Bugh!


Remaja tampan itu langsung terkejut, "****!" umpat nya yang hampir terjatuh dan menyentuh hidung nya.


"Darah?" gumam nya yang tak tau kalau pukulan gadis bertubuh kecil itu benar-benar kuat.


"Hehe..." Anna tertawa dengan puas melihat nya dan mengambil cupcake lain nya di atas meja.


"Kau pura-pura mabuk kan? Sini kau," ucap Gevan dengan kesal melihat wajah tertawa gadis itu.


Greb!


Belum sempat ia menarik atau memukul balik tubuh gadis itu sudah di tarik oleh seseorang.


"Jangan membuat keributan di pesta orang lain, kau tidak terlihat asing? Ahh..."


"Kau putra walikota? Atau..."


Gevan terdiam, jika sang ayah tau ia membuat keributan di pesta yang penting maka ia akan terkena dampak nya.


Lucas tersenyum melihat remaja itu tak lagi berkutik, ia langsung datang saat mendengar chip yang ada di telinga mulai memberikan panggilan yang berbeda.


Ia pun membawa gadis yang sempoyongan itu dengan menggendong nya lalu meninggalkan remaja tampan itu sendiri.


Diego yang melihat hal itu pun langsung mendekat dan menawarkan agar gadis itu ia saja yang membawa nya, ia menatap gadis yang tampak mabuk itu memakan cupcake coklat seperti anak kecil hingga membuat jas yang di kenakan sepupu nya kotor karena ua menggendong nya.


"No, She's my diamond." ucap pria itu yang tanpa sadar tak ingin gadis itu di bawa orang lain.


"Diamond? I think She's your pet?" balas Diego pada pria itu.


"Urus pesta nya, aku kembali lebih dulu." ucap nya sembari menuju ke mansion nya lebih awal.


......................


Mansion Damian


Lucas menarik napas nya, dada bidang dan perut nya yang penuh dengan otot yang keras itu terpampang dengan jelas.


Ia tak memakai apapun kecuali handuk putih yang menutupi dari pinggang hingga lutut itu.


Karna siapa ia harus mandi malam-malam? Siapa lagi jika bukan karena gadis yang makan seperti anak kecil saat ia gendong dan membuat jas mahal nya menjadi kotor.


Bahkan gadis itu juga menawarkan cupcake itu itu pada nya dan membuat wajah nya juga berpoles cream berwarna coklat itu.


"Cumi-cumi menyebalkan, kenapa kotor sekali?!" tanya Lucas sembari mengusap bibir dan pipi yang celemotan itu.


Awal nya ia membawa gadis itu ke kamar nya namun malah gadis itu tak mau turun dari gendongan. Bahkan saat ia melepaskan gendongan itu dengan paksa gadis itu malah mengikuti nya ke kamar dengan sendiri nya dan kini?


Gadis itu menguasai tempat tidur nya yang tentu lebih lebar dari pada tempat tidur yang ia miliki.


Mata biru itu terbuka saat bibir nya di usap dengan tissu, "Hum?"


Gadis itu membuka mata nya yang segaris, kesadaran nya belum kembali dan ia yang melihat pria itu seperti roti bantal.


"Wih..." ucap nya yang bangun dan dengan wajah yang ingin memakan sesuatu karna membayangkan makanan saat melihat tubuh pria yang penuh otot itu.


"Harum..." ucap Anna lirih sembari mulai mendekat dan mengendus tubuh yang baru saja mandi itu dan tentu yang di cium adalah aroma sabun nya.


Lucas tersentak, tangan kecil gadis itu tiba-tiba meremas dada bidang nya dan perut nya.


"Loh? Kok keras?" tanya Anna yang menatap bingung.


"Cumi-cumi gila!" ucap nya yang langsung mendorong gadis itu hingga jatuh.


Ia bahkan tak sadar jika selama ini yang ia lakukan lebih parah saat meraba tubuh gadis itu.


Aduh!


Anna terjatuh ke lantai ketika pria itu mendorong nya, namun tangan nya yang menarik handuk pria itu membuat nya tepat melihat sesuatu di depan nya.


"Eh? Ada lampu gantung," ucap nya tertawa dengan polos nya.


"Tuing! Tuing! Hehe..." gadis itu tertawa sembari menyenggol sesuatu yang bergantung di depan nya itu.


"Loh? Kok bisa besar?" tanya gadis itu yang menatap bingung kenapa gantungan lampu itu bisa tumbuh dengan sendiri nya.


Lucas membatu sejenak, dan menatap dengan tajam.


Plak!


Tangan nya memukul kepala gadis yang tertawa dengan polos itu sembari memainkan sesuatu yang seharusnya bukan mainan.


Anna langsung mendarat tertidur di lantai, kepala nya terasa begitu pusing.


"Aduh, sakit..." ucap nya yang mengelus kepalanya sejenak sebelum kembali memejam.


Lucas menaikkan kembali handuk dan langsung ke kamar mandi kembali.

__ADS_1


"Dia melakukan pel*cehan pada ku," ucap nya lirih dengan jantung berdebar.


Wajah nya terasa panas dengan telinga yang mulai memerah.


__ADS_2