
Hah...
Aku membuang napas ku, seperti nya aku baru saja bermimpi buruk karna sekarang semua terlihat baik-baik saja.
Bibi Camilla memakan Pizza yang ku beli tadi, dengan ekstra tambahan keju serta pepperoni di atas nya.
"Seperti nya aku harus diet sekarang, lihat! Perut di lemak ku bertambah!"
Ucap wanita itu tapi dia terus saja memakan pizza yang ku beli dengan lahap.
"Mama?"
"Mau!"
Tubuh kecil itu berlari pada ku, haruskah ku marahi putra ku yang nakal ini karna belum tidur walau sudah malam?
Tapi begitu melihat wajah nya yang polos dan mata yang jernih itu membuat hati ku luluh. Aku benar-benar tak bisa marah pada anak selucu ini.
Yah walaupun aku lepas kendali sesekali.
Dia mengambil sepotong pizza itu, tapi tangan mungil nya berhenti dan menatap wajah ku seperti meminta izin.
"Boleh, tapi satu aja ya? Jangan sering makan malam..." ucap nya dengan senyuman tipis dan mengangkat tubuh kecil putra ku lalu memangku nya.
Ia mengangguk, dan dengan senang memakan pizza itu walaupun wajah nya tak tersenyum. Tapi sekarang aku sudah tau jika dia merasa sedih atau senang di wajah yang datar itu.
Aku bukan pelit, hanya saja pencernaan kecil nya mungkin bisa terganggu.
"Varsha? Kau tidak makan?"
Bibi Camilla bertanya pada ku, aku menggeleng. Rasa nya lapar ku hilang. Mata berair dan aku merasa seperti momen ini begitu berharga untuk ku.
"Kau menangis? Kenapa?"
Dia berhenti makan makanan yang yang dia suka hanya untuk bertanya pada ku dan mengusap air mata ku tak hanya dia tapi Estelle kesayangan ku pun berhenti dan menatap ke arah ku.
"Bi? Seperti nya aku mimpi buruk..."
"Aku melihat bibi pergi, pergi ke tempat aku tidak bisa bertemu bibi lagi..."
Tangis ku yang tanpa sadar pecah saat ku katakan tentang mimpi buruk ku itu.
Bibi Camilla terlihat menarik napas, ia kemudian tersenyum dan menatap ku dengan tatapan yang ingin mengatakan semua baik-baik saja.
Entah sejak kapan wajah yang selalu ketus dan dingin itu kini mulai sering tersenyum dan menatap ku hangat.
"Memang nya aku mau ke mana? Tapi kalau aku berpergian tidak buruk juga? Kau tau? Ini perjalanan pertama ku keluar negeri, kalau tidak mengenal mu aku mungkin masih di desa itu dan melihat pantai seumur hidup ku."
Dia tertawa renyah tanpa beban tapi ucapan nya membuat ku takut.
Aku memang tidak pernah mengatakan nya tapi dia adalah seseorang yang ku anggap seperti ibu ku sendiri.
Atau aku terlalu naif karna begitu rakus pada kasih sayang ibu?
"Bibi tetap di sama aku kan? Aku nanti belikan pizza yang banyak buat Bibi..." tangis ku dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Sekali lagi dia tersenyum tipis, dia menghapus air mata ku dan bertanya.
"Seperti nya bayi cumi-cumi ini mengalami mimpi yang benar-benar buruk? Jangan terlalu khawatir, aku akan menjaga kalian."
Dia mengatakan itu dengan tangan nya yang sedikit keriput dan dingin namun entah kenapa hati ku menjadi lebih hangat.
"Mama sosis?"
Aku menoleh ke arah putra ku, tanpa sadar aku tersenyum. Dia memiliki cara lain untuk menghibur ku.
Membawakan bunga liar cantik yang mungkin membuat tangan nya gatal hanya karna memetik lalu memberikan nya pada ku.
Atau memberikan makanan dan bagian favorit nya untuk ku, entah itu permen, susu atau sosis di pizza yang sangat dia sukai.
Aku memeluk tubuh kecil, "Mama mau nya Estelle, Estelle kesayangan Mama..."
Aku memeluk nya dengan erat, dia tak mengatakan apapun dan tak menolak. Kenapa putra ku yang tampan ini begitu pendiam?
Malam ini seperti nya lebih cerah, tak ada awan yang menutup bulan dan bintang. Sama seperti malam di mana aku memberi nama pada putra ku.
Ku rasa itu benar...
Aku hanya sedang bermimpi buruk, aku tidak kehilangan siapapun...
Ya!
Ku harap aku hanya sedang bermimpi buruk tadi, aku sudah pulang...
Aku kembali dan aku ingin hari ku seperti ini terus, melupakan cinta pertama ku yang mungkin jika semua psikiater bicara mereka akan mengatakan kalau itu bukan cinta.
Kalau dia bukan cinta pertama ku dan aku tidak benar-benar mencintai nya karna hubungan yang terlalu riskan untuk di katakan sebagai cinta.
Aku juga tidak tau, aku bingung sampai saat ini.
Tapi yang sangat aku tau kalau aku merasa hari tenang seperti ini adalah yang ku inginkan...
Ku harap mimpi buruk itu tidak akan datang lagi...
......................
Bern, Swiss
Pria itu menatap ke arah gadis yang tampak menangis dalam tidur nya, ia membawa tentu membawa nya ke tempat tinggal nya.
Membeli apart dadakan karna tentu ia tak bisa membawa seseorang ke hotel dalam kondisi seperti itu walau ia menggunakan kamar presiden suite.
"Peluru nya tidak mengenai syaraf tapi untuk kaki kiri seperti nya mengenai tulang dan pemulihan nya akan cukup lama. Pemasangan pe-"
"Lalu dia cacat?" potong Lucas yang masih duduk di pinggir ranjang gadis itu.
"Dengan pemulihan, nyonya bisa menghindari hal itu." jawab sang dokter karna memang gadis itu tak di bawa ke rumah sakit.
"Berarti belum?" gumam Lucas yang memang tak ingin gadis itu bisa berjalan lagi.
Sang dokter sedikit bingung namun ia memilih bungkam karna tau siapa klien nya saat ini.
"Saya akan memberikan laporan hasil pengujian nya dengan cepat." ucap nya yang kemudian berbalik karna ia sudah mengambil darah dari anak kecil yang bagi nya baru pertama kali ia lihat.
Tak ada tangisan saat ia mengambil darah, namun tentu penolakan ada serta mata yang tajam saat bertanya di mana ibu nya.
__ADS_1
"Kau bisa keluar, ucap Lucas yang menatap ke arah pria itu dan menyuruh nya pergi.
Ia kembali melihat ke arah gadis nya yang masih tampak menangis dalam tidur nya, entah mimpi apa yang sedang di alami atau kenangan apa yang mungkin masuk ke dalam mimpi nya.
Lagi-lagi tangan mengusap nya, "Kenapa kau yang menangis? Bukan nya kesedihan itu harus nya aku? Kau yang berbohong, kau yang meninggalkan ku..."
Gumam nya saat melihat ke arah gadis itu, penglihatan nya tak membaik, karna yang bisa ia lihat dengan jelas hanyalah pada Anna kesayangan nya.
Cup!
Kecupan nya mendarat lembut di atas bibir tipis yang terluka karna gigitan nya tadi.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi, aku tidak akan mempercayai mu jadi..."
"Kau akan tetap bersama ku..."
Gumam nya lirih sembari memegang tangan dan jemari kecil gadis itu ia mencium nya lagi ciuman yang kali ini lebih dalam.
Pria itu mengendus di leher nya, mengusap nya pelan dan menarik selimut nya.
Ia memikirkan banyak hal, mulai dari ingin memotong kaki kecil yang kabur itu, menguliti wajah nya dan mengambil mata nya atau menembak kepala nya lalu menjadikan nya patung.
Namun ketika bertemu lagi, isi kepala nya seperti mereboot ulang, ia ingin memeluk nya. Ia merasa marah dan kecewa namun juga merasa senang.
Ingin melihat gadis itu menangis dan juga memeluk nya, melihat mata indah itu yang hanya menatap nya dan memohon maaf karena meninggalkan nya.
Hah...
Suara napas itu terdengar berat, ia memberikan kecupan terkahir sebelum memakai kembali kemeja nya.
Menutup tubuh polos itu dengan selimut tebal dengan ekor mata yang melirik ke arah kedua kaki yang di perban dan tampak kembali berdarah lagi.
Gadis itu tak terbangun sama sekali walau ia melakukan semua hal di atas tubuh kecil itu. Hanya rintikan air mata tanpa suara yang keluar sesekali.
Lucas kini kembali berpakaian seperti sebelum nya, ia mengusap wajah yang tampak pucat itu dengan jemari nya dan beranjak keluar.
Langkah nya berjalan ke arah kamar yang di dalam nya tepat berada anak kecil yang di katakan sebagai anak nya.
Yah! Walaupun semua orang di dunia mengatakan jika wajah anak itu mirip dengan nya ia tak akan bisa melihat itu karna ia sendiri saja tak bisa melihat wajah nya.
Mata berwarna abu-abu gelap itu menatap tajam, tubuh kecil nya datang dengan cepat dan ingin menyeruduk nya namun hal itu tentu sia-sia.
Bruk!
Bukan seseorang yang ia seruduk yang jatuh namun ia lah yang tersungkur ke lantai karna tak bisa menjatuhkan pria itu.
"Penjahat! Mama! Nenek!" teriak nya yang memanggil Camilla dan ibu nya di saat yang bersamaan setelah ia menatap marah pada pria di depan nya.
"Dia menangis?" tanya Lucas pada penjaga yang mengawasi semua gerak anak kecil itu.
"Ya, saat berada di Wegen dia menangis dan sekarang sudah tidak bahkan saat tadi di ambil darah nya." jawab penjaga itu yang mengatakan semua nya tanpa kebohongan nya.
Lucas mendekat, ia berjongkok dan melihat ke arah wajah mungil yang abstrak itu.
Estelle langsung berdiri, ia mencoba serangan nya yang lain yaitu gigitan nya yang kuat.
"Hup!"
Ia mencoba sekuat tenaga, namun satu tarikan di rambut halus nya langsung melepaskan gigitan nya dengan cepat.
"Uhh!"
Lucas masih diam, ia beranjak mengambil tangan mungil itu dan ingin memastikan sesuatu.
"Ukh!"
Cubitan yang cukup kuat, memutar dan bahkan untuk orang dewasa pun akan terasa begitu sakit.
Namun tak ada suara rengekan tak ada teriakan atau tangisan sama sekali.
"Heh!" senyum miring nya tampak melihat ke arah anak itu.
Ia melepaskan cubitan nya dan tak lama memar mulai terlihat di tangan mungil itu.
"Kau tidak bisa merasakan apapun?" tanya nya dengan merasa anak itu sedikit mirip dengan nya.
Estelle tak menjawab sama sekali, ia bukan nya tak bisa merasakan apapun. Hanya saja syaraf sensorik sedikit kurang berfungsi seperti pemahaman akan perasaan.
Ia tetap bisa merasa sakit namun tak seperti orang lain nya, rasa sakit yang ia rasakan lebih tawar sehingga membuat nya bisa menahan sesuatu yang lebih kuat.
Lucas tak lagi bertanya, mata nya melirik ke arah tangan yang memegang bekas memar nya itu dan menutup nya saat ia melihat.
Memang tak ada warna nya namun bagian yang memar memiliki warna yang lebih gelap.
Pria itu berdiri, ia menatap ke arah penjaga nya "Jaga dia, jangan sampai dia lari atau menghilang." ucap nya yang beranjak pergi tanpa merasa bersalah sudah membuat tangan mungil itu menjadi memar karna cubitan nya.
Estelle masih diam, namun begitu ia melihat pria itu ingin pergi langkah kaki nya yang mungil itu kembali mengejar.
"Mama! Mama mana!" tanya nya yang menginginkan ibu nya.
Lucas berbalik ia menatap ke arah anak kecil yang sudah cekal oleh penjaga nya itu.
"Kenapa kau terus bertanya di mana istri ku? Kau pikir aku akan memberikan nya pada mu? Seharusnya kau bersyukur aku tidak membunuh mu tadi." ucap nya yang tentu anak kecil itu masih tak tau apa itu 'istri'.
"Nenek! Nenek Camilla! Mama!" teriak Estelle yang masih tak mengerti apa yang di katakan seseorang yang bagi nya penjahat penerobos masuk ke dalam rumah nya.
"Kau mau aku mengirim mu sekalian seperti wanita itu? Dengan cara pengiriman yang sama?" tanya nya yang tau siapa 'nenek' yang di maksud.
Tentu adalah wanita yang sudah berumur setengah abad lebih yang saat pertama kali ia memasuki rumah itu langsung mengusir nya dan menyuruh nya pergi sampai menjadikan diri nya sendiri sebagai tameng.
Estelle diam tak menjawab, lagi-lagi ia tak tau apapun karna tadi ia masih tidur di kamar nya dan terbangun saat mendengar suara gaduh lalu bertemu dengan seseorang yang tinggi dan tegap lalu mencekik nya.
"Penjahat! Mama! Mama! Mama!" panggil nya sekali lagi terus berteriak dengan sekuat tenaga nya sampai membuat telinga pria itu ingin peka.
"Teruslah berteriak dan aku akan membuat mu tidak pernah bertemu dengan Mama mu lagi!" ucap Lucas yang tak suka mendengar jeritan anak tampan dan menggemaskan itu.
Estelle langsung terdiam, ia berhenti dan tak membuka mulut nya lagi.
Pintu kamar itu tertutup kembali, kali ini tangan penjaga yang memegang tubuh nya mulai melonggar membuat nya bisa berjalan ke arah pintu.
Bayi tampan itu tampak berjalan dengan sedikit lambat dan duduk di tempat di depan pintu itu untuk menunggu seseorang.
Penjaga itu tak mengatakan apapun, ia melihat wajah yang seperti menunggu sesuatu dengan mata yang jernih yang tetap bulat melihat ke arah pintu.
"Mama..."
__ADS_1
"Mama ke sini..."
Gumam nya lirih namun tak berani berteriak karna ia mengerti ancaman dari tidak akan di biarkan bertemu ibu nya lagi.
"Pindah ke atas," ucap penjaga itu dan beranjak menggendong tubuh mungil anak lelaki itu.
Estelle menolak, ia menunggu ibu nya dan menjadi orang yang pertama memeluk nya saat gadis itu datang.
"Mama mana? Nenek Milla mana?" tanya nya ketika ia menolak gendongan penjaga itu dan tetap duduk di lantai.
Tak ada jawaban atas pertanyaan nya, mata bulat itu kembali menunduk dan melihat ke arah pintu.
Jari-jari tangan nya yang mungil mulai ia rentangkan dan menghitung nya satu persatu seperti yang terkadang di ajari Camilla.
"Satu..."
"Emlat..."
"Tiga..."
"Dua..."
Gumam nya yang berhitung walau nama angka nya masih acak karna memang pengajaran berhitung baru dua kali ia dapatkan dari Camilla.
Selebih nya, ia di bacakan dongeng ataupun di ajak bermain oleh sang ibu.
Penjaga itu tak berpindah, ia hanya melihat ke arah anak kecil yang bergumam dengan hitungan nya dan menunggu ibu nya tanpa tau apa yang sedang terjadi saat ini.
......................
Berlin, Jerman
Diego terus menelpon seseorang, berdasarkan informasi yang ia dapat sepupu nya akan kembali malam ini namun sampai sekarang tak ada siapapun yang datang.
"Pesan tiket ku sekarang, aku akan Swiss sekarang." ucap nya yang memberi tau pada salah satu orang yang bekerja pada nya.
Ia terus menelpon beberapa orang nya, tak ada satu pun yang menjawab termasuk Camilla atau pun beberapa penjaga yang ia berikan di sana.
Begitu hening sampai ia naik ke dalam pesawat dan tentu nya tak bisa lagi melakukan panggilan sebelum benda besi yang bisa terbang itu lepas landas.
......................
Bern, Swiss
Deg!
Mata biru terperanjat seketika, ia terbangun di tempat yang tidak ia ketahui dan kemudian semua bayangan dari malam mengerikan itu datang.
Semua yang sangat ia harapkan hanya mimpi belaka adalah sebuah kenyataan yang harus ia hadapi
"Estelle?"
Bruk!
Tubuh nya langsung terjatuh, tentu ia tak bisa berjalan apalagi berlari ketika kedua kaki nya tertembak timah panas itu.
Anna tersentak, ia baru sadar jika ia sedang tak memakai apapun di tubuh nya, selimut tebal itu kembali ia tarik dan berusaha untuk bangun segera.
Greb!
Deg!
Gadis itu tersentak, seseorang menarik lengan nya dan mencengkram dengan erat.
"Mau kemana?"
Pertanyaan itu di lontarkan dengan mata yang menatap curiga. Kini presentase kepercayaan pria itu bukan lagi 0% melainkan minus.
"Estelle? Di mana Estelle?" tanya Anna dengan suara gemetar, ia bahkan tak bertanya tentang rasa perih di bagian inti nya atau bagaimana ia bisa bangun tanpa pakaian satu pun.
Pria itu tak menjawab, ia mengusap wajah yang panik dan takut itu dengan lembut. Melirik ke arah paha yang tampak tersikap itu dan memperlihatkan perban nya.
Greb!
"Akh!"
Gadis itu tersentak, ia menggeliat dan meremas tangan yang sedang menekan luka yang masih basah itu.
"Kau mau kabur lagi kan?" tanya nya Lucas yang menatap dan kini ia sama sekali tak mempercayai gadis di depan nya.
Anna menggeleng, "Estelle..."
"Aku mau Estelle..." ucap nya meringis dan menahan sakit.
"Akh!" pekik Anna tertahan saat pria itu melepaskan cengkraman nya.
Lucas menyibakkan tangan nya saat melihat noda darah itu menempel.
"Makan sarapan mu," ucap nya yang tak menjawab sama sekali pertanyaan yang di lontarkan gadis itu.
Anna terdiam, air mata nya luruh. Padahal kemarin pagi ia masih memakan sarapan yang di buat Camilla dan membangunkan putra nya lalu mengecek yogurt yang ia buat.
Tapi pagi ini berbeda, tak ada Bibi yang dingin dan ketus walau sebenarnya hangat serta tidak ada juga wajah polos putra nya yang selalu menatap nya saat ingin meminta di pangku.
"Kenapa?"
Suara lirih yang gemetar itu tertunduk dan masih terduduk di lantai dengan selimut yang tebal itu masih menutup nya.
Lucas berbalik, begitu ia mendengar pertanyaan yang bagi nya tak masuk akal.
"Kenapa? Kau tanya hal itu pada ku?" tanya Lucas tidak percaya.
"Kenapa kamu ga lepasin aku? Kamu punya semua nya, kamu ga butuh aku lagi..."
"Tapi aku butuh anak ku dan kamu ga mau itu..."
Suara yang gemetar itu tampak begitu sendu namun tentu pria di depan nya sulit membaca ekspresi yang kalut dan sedih itu.
"Apa karna anak itu?" tanya Lucas yang semakin tampak tak menyukai putra nya.
Anna menggeleng, "Bukan, bukan karna siapapun, aku kabur karna keinginan ku..." jawab nya lirih yang tentu tau pria itu tak akan bisa memahami perasaan nya.
"Kamu udah ambil semua nya dari aku..." gumam nya lirih, wanita yang bersama nya semanjak kehamilan awal sampai putra nya berumur 3 tahun telah berakhir tragis dan sekarang ia bahkan tidak tau bagaimana nasib putra nya.
"Ya, kau benar..."
__ADS_1
"Aku akan mengambil semua yang kau miliki, sampai kau berpikir kalau kau itu tidak memiliki hak untuk apapun, bahkan untuk suara mu..."
Anna memejam, air mata nya jatuh dan ia masih tak bisa mengatakan apapun. Bagi nya ini semua terlalu mendadak untuk jadi sebuah kenyataan.