
Mansion Damian
"S..sir..."
Pria itu menaikkan smirk nya, wajah yang tampak sayu menoleh ke arah nya dan menatap nya sesaat.
"Kenapa? Kau mau bicara tentang ini?" tanya nya sembari menunjukkan jemari nya.
"Sa..saya tidak pipis..." jawab nya lirih.
"Benarkah? Tapi kenapa bisa begini? Kau sekarang sudah pandai berbohong? Hm?" pria itu tersenyum simpul, walaupun tak pernah berurusan dengan wanita namun tentu ia tau bagaimana sistem tubuh wanita itu sendiri.
"Beneran!" jawab Anna seketika.
Pria itu tak lagi menjawab, pura-pura bodoh dan kemudian melihat gadis itu menyangkal sangat menyenangkan.
"Jangan terus melihat ku, lanjutkan pelajaran mu." ucap nya sembari menunjuk dengan dagu nya ke arah buku yang terbuka itu.
Anna kembali menoleh, sedangkan pria itu kembali menjamah tubuh nya di balik pakaian.
Ugh!
"Sir!" gadis itu tersentak, ia langsung bangun dari pangkuan pria itu saat ia merasa ada yang mencoba memasuki nya.
Lucas tak mengatakan apapun, ia melihat ke arah gadis yang berdiri di samping nya dengan pakaian yang berantakan dan kemudian melihat ke arah jemari nya.
"Kenapa?" tanya nya dengan wajah datar.
"I..itu.."
"A..anda men..mencoba..."
Anna tergagap, ia bahkan malu mengatakan dengan mulut nya sendiri.
"Apa? Katakan yang jelas," pria itu mulai bangun menatap ke arah gadis itu.
Sedangkan Anna tampak gelagapan, antara membenarkan posisi pakaian nya kembali sekaligus memundurkan langkah nya karna pria itu terus mendekat.
"Aku menyuruh mu belajar tapi kau malah tidak mendengarkan ku?" tanya nya sembari menyudutkan gadis itu.
"Sa..saya belajar!" jawab nya pada pria yang tengah menatap nya.
Pria itu menyunggingkan senyuman nya, "Oh ya? Coba aku lihat berapa soal kau menjawab dengan benar." ucap nya yang berbalik tiba-tiba dan melihat ke arah buku belajar gadis itu.
Anna bernapas sedikit lega dan langsung membenarkan semua posisi pakaian nya yang berantakan.
Sedangkan pria yang tengah membalik buku itu mengernyit, walaupun ia menganggu gadis itu belajar namun ia juga mengajari nya di saat yang bersamaan, tapi?
"Kau hanya benar 4 soal di 15 soal?" tanya nya yang langsung berbalik.
"I..itu kan pelajaran matematika..." jawab Anna tersentak.
Lucas kembali melihat buku yang lain dan memeriksa nya, "Tadi sebelum nya aku tanya pelajaran biologi mu kan? Kenapa lebih parah?" tanya nya sembari menarik napas tak percaya.
"Hum? Memang nya berapa?" gadis itu langsung mendekat, ia bahkan lupa jika pria di samping nya adalah predator yang harus di jauhi.
"Tapi kan benar nya 6!" ucap nya yang langsung menunjuk ke arah titik yang di tandai benar.
"Dari 20 soal?" tanya Lucas mengulang.
Anna langsung merapatkan mulut nya, "Ma..maaf..." ucap nya lirih.
"Kau tau? Aku paling tidak suka dengan orang yang berisik dan bodoh." ucap nya pada gadis itu.
Anna tak menjawab, ia hanya diam dan takut itu tiba-tiba memarahi nya.
Lucas kembali menoleh ke arah wajah gadis itu.
Greb!
"Eh?" Anna tersentak, tangan nya di tarik menuju ranjang dan kemudian melemparkan nya.
"Kau mau jadi anak pintar?" tanya nya sembari beranjak ke atas tubuh gadis itu.
"Eh? Apa?" Anna masih terkejut dan gugup membuat nya tak begitu tanggap akan situasi nya.
Lucas tersenyum kecil, ia memang akan sedikit membual pada gadis itu karna ingin memalukan sesuatu.
Pria itu mendekat ke telinga gadis itu, untaian rambut berwarna pirang kecoklatan itu pun mengenai hidung nya.
"Kau tau? Apa yang di keluarkan pria juga memiliki vitamin yang bisa membuat mu sedikit pintar." bisik nya pada gadis itu.
Anna mengernyit, ia masih belum terlalu paham dengan bahasa ambigu itu.
"Dan lagi aku juga mau kau membantu mengeluarkan nya, aku ini punya hidup yang sehat." sambung nya tersenyum.
"Vitamin? Keluar? Maksud nya sir?" tanya nya dengan mata yang menyipit dan dahi yang mengernyit tampak bingung.
"Yang di sini," ucap pria itu dengan wajah datar dan blak-blakan saat mengambil tangan gadis itu dan mengarahkan nya pada lampu gantung otomatis yang bisa besar dengan sendiri nya itu.
Mata biru itu membulat, Anna tersentak dan langsung terkejut.
"Astaga!" ucap nya tersentak.
Wajah nya langsung memerah, pipi yang merona dan mata yang tampak canggung.
"Sekarang sudah tau kan?" tanya Lucas pada gadis itu dengan wajah yang datar.
Ia sudah lebih dulu mengalami wajah yang memerah malu seperti gadis itu dan kini saat gadis itu yang berbalik malu.
"Sir?" panggil Anna lirih.
"Hm?"
"A..anda meletakkan timun kan di dalam?" tanya nya lirih.
"A..apa?!" Lucas langsung mengernyit tak menyangka dengan pertanyaan yang akan ia dapatkan.
"Ke..keras banget..." Anna bergumam lirih sembari menoleh ke samping tak ingin melihat wajah yang berada di depan nya itu.
Lucas tersenyum kecil mendengar nya, ia mendekat lagi ke telinga gadis itu. "Lalu mau melihat nya? Kau bisa cari tau sendiri ini asli atau tidak."
Mata biru itu membulat seketika mendengar nya, "Ti..tidak!" jawab nya pada pria tampan itu.
"Tapi kau harus coba, aku perlu mengeluarkan nya dan kau juga perlu itu untuk jadi anak pintar, maksud ku tidak sebodoh sekarang." ucap nya dengan senyuman licik.
Anna langsung kembali menoleh, "Anda bohong kan? Mana ada yang seperti itu! Walaupun saya tidak pintar tapi saya juga tidak sebodoh itu!" jawab nya langsung menyanggah.
"Yang ku katakan benar, tapi cara ini memang tidak di beri tau di pelajaran karna akan bahaya kalau benar-benar bahaya di lakukan semua orang," ucap nya pada gadis itu.
"Anda bohong! Sa..saya tau!" ucap nya yang masih menolak.
Walaupun ia tak pernah pacaran atau memiliki teman setidaknya ia sedikit mengerti hal seperti itu karna bekerja di banyak tempat dan tau keras nya dunia karna ia sudah mencari nafkah untuk dirinya sendiri.
Lucas tersenyum mendengar nya, ia beranjak bangun sedikit dan menarik pakaian gadis itu.
Anna tersentak, pria itu tak pernah membuka pakaian nya sendiri sebelum meminta nya melakukan nya.
"S..sir..." panggil nya lirih yang tersentak.
Tak ada jawaban nya, hanya senyuman simpul yang di keluarkan pria itu dan beranjak ingin melepaskan celana jeans yang di kenakan oleh nya.
"Tu..tunggu sir!" Anna berusaha menahan tangan pria itu agar tak sembrono langsung menarik nya.
"Sstt! Jangan berisik, tadi aku bilang kalau aku tidak suka orang yang berisik kan?" ucap nya dengan suara yang rendah namun dapat terdengar dengan jelas.
Anna terdiam, tubuh dan bibir nya seakan membatu membuat nya tak bisa mengatakan kalimat yang menyangkal.
Satu persatu kain yang melekat di tubuh nya terlepas, pria itu menoleh ke arah wajah cantik yang tampak gugup dan risau itu.
"Kau mau coba dulu?" tanya pada gadis itu.
__ADS_1
Anna mengernyit, namun tak lama kemudian ia sudah merasa kan tangan pria itu menyentuh nya.
"Si- Humph!"
Gadis itu tersentak, bibir nya kembali di hisap dengan gigitan kecil dan lum*tan yang membuat nya tak bisa bicara.
Walaupun ia menggeliat dan berusaha lepas namun tak akan ada hasil nya jika tubuh kecil nya tenggelam di dalam tubuh pria itu.
"Tu..tunggu Sir..." ucap nya yang terkejut pria itu melepaskan ciuman nya dan turun ke sisi yang meruncing di tubuh nya.
Lucas tak mengatakan apapun, setidaknya ia tau gadis itu tak akan mencoba banyak melawan karna ia sudah memanaskan tubuh itu sebelum nya.
Ugh!
Benar saja, gadis itu menggeliat dan kembali panas karna memang tubuh kecil yang tak mengerti itu masih membutuhkan penyelesaian.
Panas!
Yah, hanya itu yang kini terasa di tubuh gadis itu, desiran aneh yang membuat aliran darah nya melaju lebih cepat dan debaran jantung nya yang berdegup meluap di dalam dirinya.
Tangan yang dengan jemari yang kekar itu meraba perut rata nya, tak lagi ada kecupan di atas Piramida yang kemerahan dan basah itu
Cup!
Kecupan itu membuat perut yang semakin rata itu merasa geli.
Tangan yang perlahan mulai memegang p*ha kecil yang mulus itu dan membuka nya.
Ehm!
"S..sir..."
Suara nya terdengar aneh dan sayup memanggil pria itu.
Tak ada jawaban, pria yang penasaran itu langsung mengambil sesuatu yang sebelum nya hanya sebentar ia cicipi.
Tubuh gadis itu genatar, secara refleks ia menarik tubuh nya dan kembali mendorong kepala pria itu.
Lucas mengangkat wajah nya, melihat wajah sayup yang memerah rona seperti stroberi itu.
"Kalau kau mendorong ku lagi, aku akan mengikat tangan mu seperti sebelum nya." ucap nya pada gadis itu.
Anna tersentak, ia langsung menarik tangan nya, usia yang masih sangat muda untuk mengenal dan menahan godaan yang belum ia mengerti.
Senyuman pria itu naik, gadis itu kembali menurut seperti biasanya.
"Seperti nya aku cocok menjadi guru," gumam nya tersenyum karna membuat gadis itu diam tanpa perlawanan nya.
Pria itu kembali menoleh, ia menatap ke arah pemandangan di depan nya. Aroma yang khas dan membuat nya ingin mendekat secepat mungkin.
Ungh!
Gadis itu meremas sprei yang menjadi alas nya saat ini, ia tak pernah merasa seaneh ini sebelum nya.
Tubuh nya seakan bergetar dan ingin melayang tinggi, gadis itu menggeliat dan mengeluarkan sesuatu yang membuat nya sedikit aneh.
Lucas mengangkat wajah nya dengan senyuman yang puas, ia mengusap sudut bibir yang basah dan melihat gadis yang menarik napas nya terengah-engah itu.
"Lain kali aku akan berikan vitamin nya untuk mu," ucap nya sembari bangun dan menarik satu selimut menutup tubuh yang polos itu.
"Hum?" Anna menatap sayu.
Ia tidak tau apa yang terjadi, namun rasa nya tenaga nya berkurang habis sejenak, perasaan yang melayang yang tidak ia ketahui baru saja menyerbu nya tadi.
"Pasti di marahin..." ucap nya lirih dengan suara yang sayup karna mengira ia buang air kecil saat pria itu menciumi nya di bawah sana.
Lucas keluar dari kamar gadis itu, memang ia tak mendapatkan servis apapun namun entah mengapa ia mendapatkan kepuasan tersendiri yang tak bisa ia katakan.
"Rasa nya aneh, tapi cukup menyegarkan." gumam nya yang keluar dengan senyuman di wajah nya.
......................
Sekolah.
"Sam!"
"Astaga! Jangan teriak Ann!" selak gadis cantik itu yang terkejut.
"Kamu gak apa-apa? Polisi nya udah dateng?" tanya Anna dengan mata yang tampak khawatir dengan tulus.
"Polisi? Polisi apa?" tanya Samantha mengernyitkan dahi nya.
"Iya! Malam itu kan telpon nya putus tiba-tiba terus aku panik Sam! Aku keluar kan habis itu ketemu sama-"
"Tunggu! Kamu telpon polisi Ann?" tanya Samantha yang langsung menatap teman nya tak percaya.
"Bukan aku," jawab Anna dengan wajah yang tampak polos tak berdosa.
"Terus siapa?" Tanya Samantha dengan wajah panik.
"Sir Diego," jawab Anna dengan mata yang cerah dan polos.
"Kamu bilang apa?" tanya nya yang langsung mewawancarai teman nya itu.
"Aku bilang kalau kamu itu gak suka olahraga tapi malah lari malam-malam terus aku juga bilang suara kamu tuh aneh ada suara berisik juga, aku juga bilang kalau kamu itu di rumah sendirian ter-"
"Stop!" ucap Samantha yang langsung membekap mulut teman nya.
"Terus dia bilang apa?" tanya Samantha lirih dengan mata yang sayup malu.
"Dia tanya kamu punya pacar atau engga," jawab Anna sembari melepaskan tangan kecil yang menutup mulut nya.
"Kamu jawab?" tanya Samantha sekali lagi.
"Aku jawab kalau kamu punya pacar lah," jawab Anna dengan wajah polos nya.
"Astaga! Ann!" keluh gadis itu dengan suara yang ingin menangis.
"Sam? Kenapa Sam?" tanya Anna yang langsung memegang pundak teman nya yang terlihat ingin menangis itu.
Samantha melihat ke arah wajah yang tampak penuh dengan rasa khawatir dan mata yang polos karna benar-benar tak mengerti membuat nya tak bisa memarahi nya walaupun ia sudah sangat malu.
"Siapa tadi? Sir Diego?" tanya nya mengulang.
"Iya, kenapa Sam?" tanya Anna mengernyit.
"Ga apa-apa, cuma kalau nanti kamu lihat dia waktu sama aku langsung bilang yah." ucap nya lirih.
"Kenapa?" tanya Anna lagi mengernyit.
"Iya, biar aku bisa langsung kabur." ucap nya yang tentu nya merasa malu jika bertemu dengan seseorang yang mendengar hal itu.
"Hum? Okey..." jawab Anna mengiyakan walau ia bingung kenapa teman nya itu ingin kabur.
Festival telah selesai, kini sekolah kembali berjalan seperti semula.
Kabar tentang kakak kelas tampan yang sering menganggu nya pun sudah terdengar.
"Kayak nya aku besok mau ke rumah sakit deh," ucap Anna saat melihat ke arah ponsel nya.
"Kamu mau jenguk kak Gevan?" tanya Samantha sembari memakan makan siang nya.
"Bukan, dia yang minta di jenguk." jawab Anna lirih.
"Ann? Tau gak? Kalau gosip kalian pacaran itu udah kesebar tau." bisik Samantha mendekat ke telinga teman nya.
"Tapi kami kan gak pacaran." jawab Anna seketika.
"Iya, tapi gosip nya bilang begitu. Kalian kan ciuman waktu di festival kemarin." ucap
Samantha.
__ADS_1
"Iya! Makanya aku di marahin!" ketus Anna dengan wajah kecil.
"Di marahi siapa? Ya ampun!" ucap Samantha seketika.
"Kamu beneran punya Sugar Dad-"
"Sam!" Anna lambung menyenggol bahu teman nya sebelum kalimat itu selesai.
"Tunggu! Kalau kamu punya masa kamu gak ngerti sih?" sambung nya yang bingung melihat teman nya yang bahkan benar-benar ingin memanggil polisi ke tempat nya.
"Ngerti apa Sam?" tanya Anna mengernyit.
Gadis tersenyum dan mendekat ke arah teman nya yang masih makan itu, "Kamu sama sugar kamu itu ngapain aja?" tanya nya berbisik.
"Gak ad-" ucapan sangkalan itu tak terjawab seluruh nya dan malah menampilkan wajah yang memerah semu.
Anna terdiam, ia mengingat sedikit potongan memori tentang bagaimana pria itu menghisap nya hingga membuat tubuh nya lunglai.
"Ngapain loh?" goda Samantha pada teman nya itu.
"Udah ih!" ucap Anna yang langsung bangun.
...
Setelah pulang dari sekolah, gadis itu berdiri di tempat yang biasa menungggu seseorang menjemput nya.
"Kenapa anda yang menjemput saya?" tanya nya melihat ke arah pria yang selalu tersenyum namun seperti bukan senyuman yang tulus melainkan formalitas.
"Dia menyuruh ku yang jemput, kau di suruh ke kantor nya." ucap nya pada gadis itu.
Anna mengangguk kecil mengindahkan ucapan yang baru di dengar nya.
"Anna!"
Suara teriakan yang membuat nya kembali menoleh, "Nih! Ketinggalan, kebiasaan kamu!" ketus gadis dengan rambut yang di gerai itu sembari memberikan buku catatan yang tertinggal.
Anna mengambil nya dan menatap ke arah Diego sampai lupa pesan teman nya sebelumnya.
"Sir? Ini Samantha, yang kemarin udah di panggilin po-"
Mata Samantha membulat sempurna, ia langsung menarik teman nya hingga membuat Anna berhenti bicara.
"Samantha? Lain kali jauhkan ponsel saat olahraga malam yah?" ucap Diego dengan senyuman nya yang tidak bisa di mengerti maksud nya.
"I..iya Sir..." jawab Samantha dengan wajah yang begitu memerah karna merasa malu.
Sedangkan Anna tersenyum polos seperti tanpa beban dan kesalahan.
"Ayo," ucap Diego pada Anna.
"Bye, Sam." Anna melambaikan tangan pada teman nya yang merasa malu sampai ingin mengubur diri nya.
...
"Sir?"
"Hm?"
"Sa..saya mau tanya..." ucap nya yang ragu-ragu pada pria di samping nya.
"Tanya apa? Tanyakan saja," ucap nya pada gadis itu sembari mengemudikan mobil nya.
"Yang di bilang Sir Lucas itu bener?" tanya nya pada pria itu.
"Dia bilang apa?" tanya nya yang masih terdengar santai.
"Tidak jadi..." jawab Anna lirih.
Diego tersenyum, "Menurut mu dia itu orang seperti apa?" tanya nya pada gadis remaja itu.
"Tidak mau bilang! Nanti anda mengadu!" ucap Anna pada pria itu.
"Padahal kalau dia melakukan sesuatu yang buruk aku berniat membela mu, kau tau? Dia juga menyebalkan untuk ku." seru Diego dengan tawa nya.
"Bohong! Yang menculik saya saja adalah anda Sir, anda juga tidak berniat melepaskan saya juga!" seru Anna pada pria yang dari tadi hanya tertawa saja seperti tak merasa bersalah.
"Kalau begitu kau harus lebih kaya dari Luc nanti aku akan bekerja pada mu." ucap nya walaupun ia memang sudah kaya dari lahir.
"Yauda, nanti di kehidupan kedua aja." celetuk Anna yang tau tidak akan bisa menyamai kekayaan seseorang yang sudah dari lahir nya sudah punya saham sendiri.
......................
JNN grup
"Sir?" panggil Anna yang sejak ia datang hanya di jadikan seperti patung yang duduk di sofa ruangan mewah itu sembari melihat ke arah pria yang terus menerus memainkan laptop nya.
Lucas menoleh, ia melihat ke arah gadis yang masih memakai seragam sekolah nya itu.
"Ke sini," perintah nya sembari memberikan isyarat dengan tangan nya untuk meminta gadis itu mendekat.
Gadis itu berdiri di samping sembari melihat ke arah mata yang menatap nya.
Greb!
Dengan satu tarikan tubuh kecil itu langsung terjatuh ke pangkuan pria tampan itu.
"Kau dekat dengan Diego?" tanya nya pada gadis itu.
"Hum? Tidak..." jawab Anna yang merasa ia memang tidak cukup dekat dengan pria itu.
"Tapi kau sangat sering bicara dengan nya," ucap Lucas sembari meraba wajah gadis itu dan mengusap bibir merah muda itu dengan ibu jari nya.
"Saya kan hanya bicara," jawab Anna pada pria itu.
"Tapi aku cuma mau kau hanya bicara dengan ku," ucap nya sembari menatap wajah yang terlihat sangat jelas dan cantik itu.
Anna tak menjawab, namun mata biru nya terus melihat ke arah wajah pria dewasa itu.
"You always tell everyone that I am your Sugar Daddy,"
"Hum?" Anna mengernyit tampak bingung, sedangkan pria itu mulai menyelipkan rambut pirang nya ke balik telinga nya.
"You wanna know what will happen if those words are real?" bisik nya lagi.
"Sir?" Anna menatap dengan bingung melihat senyuman yang tak biasa itu.
"Kau perlu kelas tambahan ku rasa," ucap nya yang beranjak membiarkan gadis itu bangun dan mulai menekan sambungan telpon di meja untuk tak ada yang menganggu nya satu jam ke depan.
Anna masih tampak bingung saat pria itu menyeret dan membawa nya ke ruangan yang terlihat seperti kamar lain nya di dalam ruangan kerja yang begitu besar di perusahaan itu.
...
Sshh...
Ehm...
Suara bariton yang terdengar berat itu memenuhi ruangan yang memiliki warna dominasi hitam putih itu.
Tangan nya, memegang kepala dengan rambut pirang bergelombang itu sampai ia memuntahkan lava panas nya.
Heuk!
Gadis itu terbatuk, ia menelan sesuatu yang terasa aneh masuk ke dalam tenggorokan nya.
Mata nya tertutup dengan dasi, wajah cantik nya tampak berantakan.
"Bagaimana rasa nya?" pria itu tersenyum, tak masalah ia tak melihat mata biru yang cantik itu karna ia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas sekarang.
"Aneh Sir? Ini apa Sir?" tanya nya sembari memegang sesuatu yang panas dan keras itu.
"Kau menyebut lampu waktu itu," jawab dengan tersenyum.
__ADS_1
"Lampu?" tanya Anna mengulang.
"Ya, lampu gantung." jawab Lucas.