Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Anna POV


__ADS_3

Flashback


5 Minggu sebelum nya.


Anna POV


Dia masih tertidur, kata nya seseorang yang dalam kondisi seperti itu masih bisa mendengar apa yang ada di sekitar nya kan?


Aku tidak tau, dia memang bisa mendengar ku atau tidak karena dia tidak menjawab semua yang ku katakan.


Ku rasa aku tidak kuat lagi, aku mau berhenti dan mau terbebas.


Mungkin makhluk yang paling egois itu aku?


"Estelle?"


Aku memanggil nya kali ini, menatap nya dengan mata yang berbinar dan berharap dia memberikan reaksi untuk ku.


Namun tetap saja, dia diam seperti anak tampan yang tenang.


Mungkin dia tidak mau bangun karna marah punya ibu seperti ku? Bodoh dan sama sekali tak becus.


"Kamu..."


Aku memanggil nya lirih, menunduk dan mencoba berbisik.


"Kamu masih tidur ya? Atau kamu memang udah ga mau bangun lagi?"


"Kamu marah karna punya Mama yang lemah ya? Maaf..."


"Semua salah Mama, kamu memang tidak minta di lahirin dan Mama yang mau kamu ada di dunia..."


"Tapi Mama juga yang tidak bisa jaga kamu, Mama sudah tidak kuat lagi, Mama tidak bisa benci dia..."


"Mama sayang kamu, tapi Mama juga ga bisa lindungi kamu, di kehidupan ini Mama sama sekali tidak menyesal karna punya anak seperti kamu, karna kamu itu bintang yang paling bersinar di hidup Mama..."


"Tapi walaupun begitu Mama mau di tempat lain atau mungkin di dunia lain yang kita juga tidak pernah tau."


"Mama mau kamu punya orang tua yang lebih baik dari Mama, Mama mau kamu ada di rahim wanita yang bukan seperti Mama..."


"Estelle? Nak..."


"Mama ikut kamu boleh? Di sini Mama lebih merasa sakit? Aneh kan? Padahal Mama yang nyakitin semua orang..."


"Ini salah Mama, jadi..."


"Kalau misal nya kamu bisa bertahan sedikit lagi Mama harap kamu tidak benci dia, tapi kamu boleh benci Mama..."


"Karna Mama..."


"Mama cinta sama orang seperti itu..."


"Sayang? Karna itu, Mama harap kamu tidak akan pernah lagi jadi anak Mama di tempat yang lain atau kehidupan yang lain kalau ada..."


"Mama mau kamu punya orang tua yang bukan seperti kami, Mama mau kamu bisa lari sambil tersenyum, Mama mau kamu bisa punya dunia yang lebih cerah dari siapapun..."


"Kamu itu..."


"Sesuatu yang paling berharga untuk Mama, karna bagi Mama kamu itu dunia untuk Mama..."


Aku berdiri, aku membisikkan kata-kata yang rancu namun membahas semua yang ku rasakan.


Dia memang dunia ku, dunia tak perlu besar untuk menampung segala nya namun dunia yang di pijak pun tak bisa ada dua.

__ADS_1


Aku tidak bisa memilih, waktu yang sudah berlalu tak menjawab keberlangsungan hidup dunia ku.


Dunia dengan di sinari bintang yang cemerlang untuk ku.


Dan aku pun tak bisa memilih, rasa nya aku semakin hancur dari waktu ke waktu padahal aku tidak terluka dan tidak sakit sama sekali.


Aneh kan?


Rasa nya lelah dan sakit, tapi aku juga baik-baik saja.


Aku tidak bisa berhenti dan aku tidak ingin lagi semakin hancur tentu aku pun tidak ingin semakin melukai seseorang yang harus nya tidak bisa aku lukai.


Aku mau melihat nya tersiksa tapi aku juga tidak bisa melihat nya sakit.


Apa itu nama nya? Benci? Cinta?


Aku bingung tapi entah kenapa tadi aku mengatakan aku mencintai seseorang yang aku bunuh perlahan.


Itu cinta?


Dada ku seperti tertekan, aku mengusap air mata yang keluar dengan sendiri nya bahkan tanpa aku minta sama sekali.


Menatap sejenak ke arah putra ku dan kemudian keluar dari kamar nya.


...


5 Minggu kemudian.


Skip


Wegen Swiss


Tangan ku ragu ketika aku menuangkan cairan kimia dengan ekstrak bunga yang kata nya seperti obat yang bisa membuat serangan jantung mendadak.


Greb!


Aku terkejut, seseorang memeluk pinggang ku dengan erat dan kemudian mencium tengkuk ku.


"Kau masih lama?"


Seperti anak kucing yang sedang kedinginan dia memeluk ku, tubuh nya yang tegap dan penuh otot membuat ku membatu beberapa saat dan takut dia melihat apa yang baru ku tuang di dalam wine itu.


"Tidak, sebentar lagi." aku menjawab dengan senyuman tipis.


Napas nya terasa di tengkuk ku dan membuat ku merasa hangat walau sesaat.


Cup!


"Aku menunggu di teras,"


Dia mengecup kepala ku, senyuman yang tipis di wajah yang dingin namun mata yang hanya menatap ke arah ku.


Rasa nya sakit, aku sesak walaupun aku tidak tenggelam.


"Heuk!"


"Hiks..."


Dia pergi, dan kaki ku terasa lemas namun aku tetap berusaha untuk berdiri sembari menutup mulut ku agar tak membocorkan suara tangisan ku yang bahkan tak ku ketahui datang dari mana kesedihan ini.


Mata ku melihat kembali ke dalam gelas yang sudah ku siapkan, aku takut.


Mungkin juga perasaan yang sudah memberi ku signal kalau aku tidak bisa melakukan nya, pikiran ku terasa kosong.

__ADS_1


Ini gila!


Aku menukar nya, aku rasa aku memang sudah gila?


Dia bilang dia mengenal ku? Lalu apa dia tau sekarang?


Seperti dorongan bodoh dan kekanakan yang ingin membuat dia tau semua yang aku rasakan.


Mungkin ini bisa saja sia-sia, karna merubah seseorang bukanlah yang mudah.


Tapi tidak apa, setidak nya kami tidak akan saling menyakiti lagi kan?


Hanya itu yang aku pikirkan saat aku menukar gelas nya dan memberikan nya teh dengan aroma lain yang mungkin akan membuat aroma dan rasa wine nya aneh.


Aku ingin sedikit bercanda pada nya dengan menakuti nya tapi mungkin dia tidak akan takut kalaupun aku benar-benar tidak menukar gelas nya.


Malam ini akhir nya, makan malam kami juga berjalan dengan lancar.


Jantung ku berdegup kencang saat aku mengangkat gelas ku untuk nya.


Aku menatap nya sambil meminum wine yang harus nya untuk nya saat ini.


Aku mau mengatakan semua yang terasa sesak dan tak bisa ku ungkapkan, aku mengatakan semua nya!


Rasa terbakar mulai menjalar di tubuh ku tapi aku masih bersikap normal sampai aku memuntahkan darah.


Deg!


Untuk pertama kali nya aku melihat dia terkejut dan mimik wajah seperti orang ketakutan.


Dia memanggil nama ku dengan nada yang mirip seperti seseorang yang khawatir.


Entah mengapa aku tersenyum, rasa nya lega walau ku rasa juga menyakitkan untuk ku.


Mata nya dingin itu seperti akan menangis?


Entahlah, apa dia menangis?


Dia menunjukkan wajah seperti itu pada ku?


Aku tidak tau lagi, karna mata ku sendiri pun sudah ingin memejam, rasa sakit ku mulai terasa kebas dan hilang satu persatu.


Rasa nya aku ingin menghibur nya dan saat itu aku baru yakin dengan perasaan ku.


Ini bukan hanya ketergantungan dengan seseorang yang menculik ku atau memberi ku sandaran.


Bukan Stockholm Syndrom seperti yang di katakan oleh terapis ku, tapi aku rasa aku benar-benar mencintai nya.


Butuh waktu yang begitu lama untuk benar-benar tau perasaan ku yang sebenarnya kalau ini adalah jawaban kenapa aku tidak bisa membenci nya ada rasa sakit itu selalu ada saat melihat nya.


Dia pasti tidak akan percaya kan?


Kalau aku mengatakan aku mencintai nya pun dia akan menganggap itu sebagai kebohongan manis yang palsu.


Tapi sekarang tidak apa-apa...


Kebohongan atau tidak sekarang semua sudah tidak di perlukan lagi.


Aku pergi, kali ini...


Dan apapun itu dia tidak akan sakit karna kebodohan ku lagi lalu bintang ku?


Aku harap bintang ku akan bersinar, bersinar lebih terang dari apapun dan bisa hidup tanpa luka dari ibu yang bodoh seperti ku lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2