
Mansion Damian
Suara mesin pengering rambut itu terdengar, angin yang di atur hangat agar tak membuat kepala kecil itu kepanasan.
"Bagaimana tadi? Kau senang?" suara bariton itu bertanya sembari mengibaskan rambut ikal yang panjang itu.
"I..iya..." jawab Anna yang merasa tak nyaman karena pria itu mengeringkan rambut nya.
"Senang? Padahal kau kan cuma boleh senang-senang dengan ku," ucap pria itu dengan nada yang berbeda.
"La..lalu kenapa tadi a..anda izinkan?" tanya Anna lirih dengan gugup.
"Karna aku mau imbalan?" jawab pria itu sembari menarikan mesin pengering rambut yang ia pegang.
Anna langsung berbalik, ia menengandah pada pria yang berdiri di belakang nya itu.
"Imbalan?" tanya nya mengernyit.
"Hm, kau kan sudah bersenang-senang tampa ku tadi jadi kau juga harus membuat ku merasa senang." ucap Lucas sembari memegang dagu gadis itu.
Anna diam, ia tau apa yang di minta oleh pria itu. Membuat nya senang dalam melakukan hal lain.
"Sir!" Gadis itu langsung berdiri sebelum pikiran pria di depan nya semakin melayang kotor.
Lucas tak menjawab namun ia melihat ke arah gadis yang tiba-tiba memanggil nya itu.
"Bagaimana kalau saya masakan anda sesuatu! Anda belum pernah coba makanan yang saya buat kan?" tanya nya yang mencoba mengalihkan hal lain.
"Aku sudah makan," tolak Lucas dengan cepat karna yang ia inginkan bukan itu.
"Sir? Anda tau? Mencoba hal baru seperti memakan sesuatu saat larut malam itu mungkin bisa membuat penglihatan anda membaik!" ucap Anna yang berusaha membujuk pria itu.
"Penglihatan ku membaik? Yang ada malah menimbun penyakit." jawab Lucas pada gadis yang berusaha mengalihkan nya.
"Sudah, kau naik lebih dulu ke ranj-"
"Ayo! Saya buatkan makanan!" ucap nya yang langsung menarik tangan pria itu.
"Kau seperti nya ingin cepat mati? Berani sekali memotong ucapan ku," Lucas yang tampak kelam itu langsung membuat Anna tersentak.
"Ke..kenapa saya mau mati? Sa..saya kan mau hidup lama dengan a..anda Sir..." jawab Anna dengan senyuman takut saat mendengar ancaman pria itu.
"Kau mau hidup lama dengan ku?" tanya Lucas yang sedikit teralihkan dan menyukai kata-kata yang baru di dengar nya.
"Ya, tentu saja!" jawab Anna yang harus tetap tersenyum.
"Kau menyukai kan?" tanya Lucas lagi saat berjalan menuju ke arah dapur.
"Ya, Sa..saya menyukai Anda!" ucap Anna sesuai dengan jawaban yang ingin di dengar oleh pria itu.
Lucas tersenyum tipis mendengar nya, ia mengikuti langkah gadis itu.
15 menit kemudian
Pria itu menatap datar ke arah makanan yang di sajikan untuk nya.
Bukan makanan mewah seperti daging panggang, steik, sup atau sebagai nya melainkan semangkuk mi instan dengan telur dan daun bawang di atas nya.
"Maksud mu ini? Makanan yang ku buatkan untuk ku?" tanya Lucas yang sangat jauh dari ekspektasi nya.
"Tentu!" jawab Anna tersenyum yang di depan nya juga sudah ada semangkuk mi instan yang sama.
Sudah sangat jarang ia memakan makanan itu semenjak mengenal pria di depan nya.
Gadis yang hidup sendirian dengan penuh keterbatasan ekonomi tentu menjadikan makanan penuh micin itu sebagai andalan nya.
"Sudah di waktu yang larut dan kau malah memberikan ini?" tanya Lucas sekali lagi.
Ia tak memakan makanan yang seperti itu, junk food adalah sesuatu yang ia hindari karna ia mencintai kesehatan nya.
"Coba dulu Sir," ucap Anna pada pria itu.
Lucas menarik napas nya sebelum mengangkat sendok dan garpu nya.
Satu suapan masuk ke dalam mulut nya, mi yang kenyal dan panjang dengan rasa gurih dan pedas di tambah aroma harum daun bawang dan lemak dari telur yang di masak setengah matang itu menyatu di lidah nya.
"Enak kan?" tanya Anna pada pria yang tampak terkejut dengan yang ia makan.
"Biasa saja," jawab Lucas dan mulai kembali melanjutkan suapan nya.
"Anda baru pertama kali mencoba nya?" tanya Anna pada pria yang terlihat menyukai makanan yang ia buat itu.
Tak ada jawaban sama sekali nya, hanya ada seorang pria yang terlihat menyukai makanan dengan harga ekonomis itu yang terlihat lahap.
__ADS_1
"Yasudah, saya juga makan." ucap Anna ketika melihat pria itu dan ingin beranjak mengangkat sendok dan garpu nya.
"Selamat mak-"
"Kau tidak makan ini kan? Kau tau? Tidak boleh membuang makanan." ucap pria itu yang mengambil mangkuk mi instan gadis di depan nya.
"Eh? Sa..saya mak-"
Ucapan Anna terhenti pria itu sudah kembali memakan jatah mi nya dan ia pun hanya terdiam sembari memangku dagu nya.
"Aku tidak pernah makan makanan mahal dan dia tidak pernah makan makanan murah, apa karna ini kami bertemu?" gumam nya yang menggeleng dengan tatapan sedih melihat makanan yang ia rindukan juga di sita oleh pria itu.
"Kau bilang apa?" tanya Lucas yang menghentikan makan nya sejenak dan menoleh ke arah gadis remaja itu.
Anna tersenyum dan membuat mata biru nya menatap seperti sabit, ia menggelengkan kepala nya, "Tidak ada, selamat makan Sir." ucap nya pada pria itu walau sebenarnya ia kesal.
Lucas tak mengatakan apapun lagi, ia kembali menyantap makanan yang selama 30 tahun di hidup nya baru kali ia coba.
10 menit kemudian.
Pria tampan itu tampak meminum air mineral yang berada di gelas nya, ia melihat ke arah gadis yang menunggu nya di depan.
"Kenapa porsi nya sangat sedikit untuk orang dewasa? Bukan nya itu porsi anak-anak?" tanya Lucas pada gadis itu.
Bukan porsi nya yang sedikit, makan anda yang kebanyakan!
Anna hanya tersenyum dengan minim komentar. Setidak nya pria itu tak akan membuat nya begadang malam ini.
......................
Rumah sakit
Prang!
Wanita itu tampak mengamuk, ia melempar makanan yang di berikan pada nya ke arah putri nya.
"Kata siapa kau bisa memutuskan seenak nya?!" tanya Mrs. Laura yang begitu marah dengan putri nya yang menyetujui untuk operasi tangan kanan nya.
"Mama perlu operasi Ma, Sam cuma mau Mama sehat lag-"
"Anak durhaka kamu!" ucap nya yang tentu tak bisa menerima keadaan nya.
"Ma..maaf..." gadis itu menunduk lirih.
Sang ayah masih belum kembali dan entah di mana saat ini, mungkin mengindari para rentenir yang tengah mengejar nya.
Sedangkan gadis itu hanya menunduk tak tah harus mengatakan apa pada sang ibu yang tampak begitu terpukul.
"Ma..maaf..." ucap nya lirih pada sang ibu.
Ia tak tau harus apa, penyerang yang membuat ibu nya cacat pun belum di temukan sama sekali sedangkan ia juga harus membayar tagihan rumah sakit yang sebelum nya meminta penangguhan.
"Karna kamu! Karna kamu Mama cacat!" ucap Mrs. Laura yang menangis dan berteriak menjadi satu pada putri nya.
Ia menyalahkan keputusan putri semata wayang nya itu yang menyetujui amputasi tangan kanan nya, mencurahkan semua rasa tak adil dan kemarahan nya.
......................
4 Hari kemudian
Mansion Damian.
Anna mengetuk pintu kamar pria itu, ia berniat untuk meminta izin ingin pergi kerja kelompok.
"Masuk,"
Mendengar satu kata dari dalam, Anna pun langsung membuka nya perlahan.
"Sir? Saya ***-"
"Benar! Aku bawa kau saja!" ucap pria itu yang menarik tangan gadis remaja itu masuk ke dalam kamar nya.
"Eh? Kenapa anda?" tanya Anna yang terkejut dengan pria yang tiba-tiba menarik nya itu.
"Padahal aku tadi sudah berpikir untuk tidak pergi lagi, tapi karna ada kau ku rasa tidak terlalu buruk." ucap nya yang melihat ke arah wajah bingung gadis remaja itu.
Ini adalah hari di mana makan malam tahunan keluarga nya, dan ia pun sebenarnya berniat untuk tak datang lagi karna tak menyukai suasana tegang yang bisa membuat perut nya sakit.
"Anda sibuk? Si..silahkan lanjutkan pekerjaan anda..." ucap Anna yang ingin kabur lagi.
"Kita perlu sedikit mendandani mu." ucap nya yang melihat ke arah gadis itu dan mulai memanggil penata rias nya.
Anna pun terdiam, ia datang di waktu yang salah yang membuat nya menyesali keputusan nya satu menit yang lalu.
__ADS_1
......................
Mansion Kelurga Damian
"Wah!" mata biru gelap itu tampak terpesona dengan bangunan yang tak kalah mewah nya dengan tempat yang ia tinggali sebelum nya.
Lucas menoleh pada gadis yang selalu terlihat penuh ekspresi di wajah nya itu, atau mungkin karna ia hanya bisa melihat ekspresi gadis itu?
"Eh? Ma..maaf Sir..." ucap Anna lirih saat sadar pria itu memperhatikan nya dan tentu ia takut di marahi karna bersikap norak.
"Kau bisa melakukan apa saja, dan kalau kau membuat masalah itu juga lebih bagus." jawab Lucas yang menggenggam tangan gadis itu untuk masuk.
...
Anna terdiam, suasana yang hening di meja panjang yang berisi dengan makanan yang beraneka ragam.
Sedangkan seorang pria yang tampak paling tua dengan duduk di ujung meja itu terus melirik dan memperhatikan gadis remaja yang di ajak ikut walaupun ia bukan lah keluarga inti.
"Ehem!" Mr. Ehrlich batuk walaupun tak merasa gatal di tenggorokan nya sama sekali.
"Jadi ini alasan mu meminta untuk menambah kursi?" tanya nya ke arah cucu pertama nya yang tampak tenang seperti patung Romawi kuno itu.
"Anda sudah melihat nya, saya rasa, saya tidak perlu menjawab apapun lagi." ucap Lucas yang begitu tenang sedangkan orang-orang di tempat itu sudah menarik napas nya.
"Tapi ini tidak sopan membawa perempuan yang tidak tau asal usul nya untuk mengikuti makan malam ini!" sahut seorang yang wanita yang merupakan bibi dari pria itu.
"Bi? Tenanglah, lagi pula ini makan malam bersama dengan kakek setelah dia bangun." ucap Diego yang langsung menenangkan wanita yang bernama Veronica itu.
"Siapa yang kau panggil kakek!" pria itu tampak sangar dengan wajah nya yang kaku mirip dengan cucu pertama nya.
Bukan nya ia benar-benar marah dengan panggilan yang seharus nya itu melainkan ia yang merasa cucu kedua nya itu sedang membela cucu pertama nya.
Ia sangat tak ingin kejadian kedua orang tua cucu dari istri pertama nya yang telah tiada itu kembali terulang.
"Saya menyebut diri saya sendiri," jawab Diego yang membuang napas nya dan sudah terbiasa dengan sikap ketus sang kakek.
Suasana kembali mencekam, Anna terdiam seperti makhluk planet lain di dunia berbeda saat ia di bawa ke tempat yang begitu asing.
"Hey nak?" suara pria tua itu yang terdengar serak khas manula itu memangil.
Anna masih terdiam, ia tak sadar jika ia lah yang di panggil.
"Hey? Kau! Gaun merah muda!" ucap Mr. Ehrlich sekali lagi yang memanggil gadis itu dengan menyebutkan warna gaun yang di pakai.
"Eh? Iya kek? Eh bukan, Ups!" Anna yang begitu terkejut dan bingung bagaimana memanggil pria itu karna tadi pria itu saja menolak panggilan dari cucu kandung nya.
"Siapa nama mu," tanya Mr. Ehrlich pada gadis itu.
"Anna," jawab Anna singkat tanpa menyebutkan nama belakang nya.
"Kau di paksa untuk ikut ke sini?" tanya nya sekali lagi.
Ia yang sejak sadar sudah mendengar rumor bahwa kedua cucu nya itu mengikuti jejak orang tua nya tentu hanya menganggap gadis itu seperti peralihan seperti apa yang dulu di lakukan oleh kedua putra nya yang tetap berpura-pura menikah dan mempunyai anak padahal itu semua hanya kedok untuk menutupi hasrat tersembunyi nya.
"Saya? Iya," jawab Anna yang tanpa sadar, "Eh! Bukan! Sa..saya memang mau ikut!" sambung nya lagi pada pria tua itu.
Sedangkan sanak saudara yang lain tersenyum miring mendengar nya, mereka yang menyebar gosip bahwa Lucas dan Diego juga sepasang kekasih seperti mending kedua ayah orang itu sebelum nya.
"Jangan membuat nya gugup, anda terlalu menyeramkan untuk di lihat." ucap Lucas pada sang kakek.
"Diam! Aku menyuruh mu untuk bicara?" ucap Mr. Ehrlich pada cucu pertama nya itu.
Lucas tak mengatakan apapun lagi, ia diam dan ia juga sudah terbiasa dengan sikap ketus sang kakek.
"Kau di bayar berapa?" tanya Mr. Ehrlich yang ingin tau cucu nya membayar berapa harga untuk wanita yang di jadikan tameng agar menutupi kisah asmara terlarang yang sebenarnya.
"Sa..saya tidak di ba..bayar..." jawab Anna lirih yang merasa semakin gugup.
"Pertanyaan anda tidak sopan," ucap Lucas pada sang kakek.
"Lalu kenapa kau datang?" tanya Mr. Ehrlich yang tak memperdulikan ucapan sang cucu.
Anna merasa begitu tertekan, aura yang sama dan bahkan lebih pekat di bandingkan pria yang punya hobi menguliti seseorang itu.
Duk!
"Jawab!" desak Mr. Ehrlich sembari menghentakkan tongkat nya ke lantai.
"Ka..karna saya mau makan malam!" jawab Anna yang berteriak terkejut dan memejam dengan begitu gugup.
"Ha? Apa?" pria itu tak menyangka dengan jawaban absurd yang keluar dari mulut gadis itu.
Tak hanya diri nya, sanak saudara yang lain pun tak mengira akan keluar jawaban yang seperti itu.
__ADS_1
"Ja..jadi Ki..kita kapan makan nya?" tanya Anna dengan suara yang mulai mencicit sembari membuka mata nya perlahan.
Lucas tersenyum tipis melihat nya, ia membawa seseorang yang tepat untuk berhadapan dengan kakek nya yang tak kunjung mati itu.