
JNN grup
Laboratorium
Pria itu mengatakan jika diri nya baik-baik saja namun ia yang malah tak bisa meninggalkan kursi nya saat ini dan terus melihat ke arah gadis yang sejak di bawa sudah tak sadar itu.
Pekerjaan nya yang begitu banyak pun ia tinggalkan sejenak dan memilih untuk tetap melihat gadis itu.
Kelopak mata yang mulai bergerak pelan, jemari yang ikut bergerak menandakan jika gadis itu seperti akan bangun sebentar lagi.
"Anna?"
"Hey?"
Ia menggoyangkan tangan gadis itu, perlahan kelopak mata itu terbuka hanya segaris.
Dahi yang mengernyit dan terlihat berusaha untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang berada di ruangan tersebut.
Gadis itu menoleh melihat ke arah sang pemanggil, ia menatap nya dan melihat ke arah nya.
Tak ada kata-kata seperti 'Ini dimana?' atau 'Kenapa aku bisa di sini?'
Mata biru gadis itu langsung membulat seketika dan tersentak dengan langsung bangun entah tenaga dari mana.
"Sir?" tanya nya tersentak yang malah merasa takut akan di omeli karna tertidur terlalu lama.
Ack!
Anna tersentak, tangan pria itu malah memegang kening nya dan kembali menidurkan nya lagi.
"Siapa yang suruh langsung bangun?" tanya Lucas pada gadis itu.
Anna diam dan menatap dengan wajah pucat nya, "Kalau saya tidur terus kan anda akan marah..." jawab nya lirih.
Lucas diam tak mengatakan apapun lagi, para dokter serta peneliti yang tadi nya memeriksa gadis itu mengatakan untuk tetap di rawat di sana selama dua hari untuk melihat perkembangan gelombang nya lagi.
"Kau sudah bangun kan? Aku pulang," ucap nya pada gadis itu sembari membuang napas nya.
"Eh?" Anna tersentak, namun tanpa sadar tangan nya mencegah pria itu untuk pergi dengan memegang jas nya.
"Kenapa?" tanya Lucas mengernyit melihat gadis itu yang mencegah nya.
"Hum?" Anna baru saja tersadar jika ia mencegah pria itu.
Ia tak suka suasana rumah sakit, aroma anestesi dan obat-obatan yang membuat nya teringat dengan kenangan yang buruk.
"A..anda ti..tidak membawa sa..saya?" tanya nya lirih yang merasa canggung.
Jika biasa nya ia ingin pria itu meninggalkan nya sendiri namun tidak kali ini karna ia mengira jika ruangan itu adalah rumah sakit yang ia benci dan lagi pula suasana nya pun juga sama walaupun sebenarnya ia berada di dalam laboratorium perusahaan.
"Kau di sini selama dua hari," jawab Lucas pada gadis itu dengan wajah yang datar.
"Ta..tapi saya se..sehat! Saya tidak sakit!" bantah nya pada pria itu.
"Kenapa membangkang?" tanya Lucas mengernyit.
"Sa..saya tidak suka sendirian di rumah sakit..." jawab Anna lirih.
Pria itu menarik napas nya, "Ini bukan di rumah sakit, tapi di lab dan ini masih di perusahaan ku." ucap nya pada gadis itu.
"Hum?" Anna mengangkat wajah nya dan melihat ke arah sekeliling nya.
Hanya lab tapi sangat bagus dan memiliki ruangan yang mirip dengan kamar rumah sakit.
"Kau mencegah ku bukan nya karna ingin bersama ku?" tanya Lucas dengan kepercayaan diri yang penuh pada gadis itu dan senyuman tipis.
"Eh? I..iya..." jawab Anna tersenyum canggung akan pertanyaan pria itu.
"Mau ku temani?" tawar Lucas spontan yang bahkan ia sendiri tak sadar jika mengatakan nya.
"Hm?" Anna terlihat linglung dan menatap ke arah pria yang menawarkan diri itu.
"Lama sekali? Aku pu-"
Greb!
Gadis itu tak mengatakan apapun kecuali tangan yang kembali meraih jas pria itu dan menatap dengan mata puppy eyes yang menyedihkan.
"Minggir," ucap Lucas pada gadis itu.
"Hum?" Anna langsung mengernyit tak mengerti, apa ia di suruh itu pergi?
"Aku juga ingin istirahat," ucap Lucas dan langsung menerobos di atas ranjang yang kecil itu juga.
"Sir?" panggil Anna yang merasa sesak saat pria itu menggeser nya dan memaksa tubuh tegap nya itu untuk tidur berdua di atas ranjang pasien itu.
"Kalau sempit kau tidur di bawah, atau di sofa." ucap Lucas yang lupa jika ia tengah menjaga pasien.
"Sir? Bukan nya saya sedang sakit?" tanya nya dengan bingung.
Pria itu tersentak, mata nya berkedip dan lupa dengan awal mula mengapa ia di sana dan mengapa gadis itu berada di sana.
"Bukan nya kau tadi bilang tidak sakit dan sehat?" tanya nya yang mengelak dan tentu tidak bisa di salahkan.
"Oh? Benar juga..." jawab Anna yang mengangguk seperti baru teringat dengan apa yang ia katakan.
Ia merasa sempit saat pria itu semakin bergerak di atas ranjang pasien yang memang hanya di tujukan untuk satu orang saja.
"Sir?" panggil nya lirih menatap ke arah pria yang memejam itu.
__ADS_1
"Kalau anda mau pulang juga tidak apa-apa, setelah saya pikir saya akan baik-baik saja kalau sendirian." ucap nya pada pria itu.
Lucas membuka mata nya, walaupun ia tak mengatakan apapun namun tatapan yang tajam membuat gadis itu sadar diri sendiri untuk tetap diam.
"Sa..saya pindah saja?" tanya nya pada pria itu dengan gugup.
Lucas menarik napas nya, hanya satu tarikan tubuh kecil gadis itu bisa langsung mendekat pada nya.
"Kau berisik, apa sudah sehat?" tanya nya sembari menepuk b*kong gadis itu.
Mata biru itu membulat dengan wajah yang memerah malu karna pria itu menepuk sesuatu yang harus nya tidak ingin di tepuk.
"Tidur," ucap Lucas pada gadis itu dan membuat Anna bungkam walaupun ia sebenarnya baru ingin memberontak.
Lucas membuka mata nya, gadis itu baru saja tersadar namun ia kembali menyuruh nya tidur tanpa sadar.
"Aneh..." gumam nya lirih yang bingung bagaimana menjelaskan perasaan yang menggelitik di dalam dada nya saat ia bersama dengan gadis itu.
"Ya, Sir?" jawab Anna yang menengandah menatap ke arah wajah pria itu yang tampak lebih tajam dan tampan jika di lihat dari dekat.
Ia mendengar pria itu bergumam mengatakan sesuatu namun ia juga tak tau apa itu.
Tak!
"Ku suruh tidur, kenapa belum tidur?" tanya nya yang langsung menjetik kepala gadis itu.
"Sa..saya kan baru bangun..." jawab Anna lirih.
Yang ia butuhkan saat ini adalah makanan bukan nya kembali tidur.
"Tidur," ucap Lucas sekali lagi yang membuat nya tak bisa berkata-kata.
"Ba..baik..." jawab Anna yang berusaha memejamkan mata nya lagi.
Ia memang tak masalah jika harus menahan lapar karna sudah terbiasa namun terkadang ada sesuatu yang tak bisa ia hentikan, contoh nya seperti saat ini.
Kruuk!
Lucas tersentak, ia mendengar suara aneh yang tak pernah ia dengar sebelum nya.
Anna pun langsung membuka mata nya kembali saat mendengar perut nya berbunyi.
"Suara mengerikan apa itu?" tanya nya yang langsung bangun.
"I..itu su..suara sa..saya..." jawab Anna lirih dengan wajah yang memerah karna malu.
Krukk! Kruekk!
Deg!
Lucas semakin tersentak mendengar paduan suara dari pawai dari perut gadis itu.
"I..itu kar-"
Kruukk!
Aduh diam dulu!
Gadis itu belum sempat melanjutkan kalimat nya namun perut langsing nya itu tak bisa di ajak bicara.
Lucas mengernyit, ia mulai berpikir jika gadis itu tengah memiliki efek lain di tubuh nya setelah gelombang radiasi yang tinggi dari chip yang di tanam.
"Sir? Anda mau ke mana?" tanta Anna yang melihat pria itu langsung bangun.
Lucas tak menjawab, namun tak berapa lama kemudian setelah ia memanggil seseorang di ponsel nya.
"Apa ada masalah lagi Sir?"
Pintu yang terbuka tiba-tiba, kerumunan orang yang memakai jas putih tampak datang dengan tergesa-gesa.
"Dia jadi punya suara aneh," ucap Lucas dengan wajah datar yang serius itu.
"Suara aneh apa?" tanya salah satu dokter yang langsung mendekat.
Kruuk!
"Dengar kan?" ucap nya saat suara perut gadis itu kembali.
Semua dokter saling memandang saat mendengar suara yang bagi mereka tak asing sedangkan Anna menundukkan kepala nya saat merasa malu ketika pria itu dengan kepekaan 0.5 persen memanggil orang-orang hanya untuk mendengar kan perut lapar nya.
"Co..coba saya periksa dulu apakah ada masalah," ucap dokter tersebut yang tetap memeriksa kondisi gadis itu.
Anna diam saja, ia tak tau kenapa pria itu begitu memperhatikan kesehatan nya karna ia memang tidak tau jika ia di jadikan salah satu subjek tes dengan chip yang di tanam di tubuh nya tanpa sepengetahuan nya.
"Seperti nya hanya ada satu masalah," ucap dokter itu setelah memeriksa.
Lucas memasang telinga lebar dengan wajah tanpa ekspresi itu saat ingin mendengar tentang kondisi gadis itu.
"Seperti nya dia lapar," ucap sang dokter dengan kalimat singkat namun membuat wajah pucat itu bisa memerah karna malu.
"Apa?" tanya Lucas mengulang mendengar jawaban yang bahkan tak ia sangka sama sekali.
"Dia membutuhkan makanan," ucap sang dokter mengulang.
"Makanan? Dia lapar sampai bersuara mengerikan seperti itu?" tanya Lucas tak percaya.
"Sir..." panggil Anna lirih yang merasa semakin malu.
Lucas menarik napas nya, "Keluar dan minta seseorang untuk bawa makanan ke sini secepat nya." ucap nya pada para dokter tersebut.
__ADS_1
Tak lama kemudian makanan pun datang dan ia langsung menyuruh gadis itu mengabiskan semua nya.
......................
Mansion Damian
Setelah di lakukan beberapa pemeriksaan tak ada lagi masalah pada tubuh gadis itu, namun ia di beri tau untuk rutin memberikan suplemen penambah darah setiap saat dan juga untuk tidak mengaktifkan chip tersebut sementara waktu sampai tubuh gadis itu baik-baik saja.
Anna membuang napas nya lirih, ia semakin tak mengerti mengapa tiba-tiba ia di perlakukan dengan baik secara tiba-tiba.
Ia tak di bolehkan pergi ke sekolah ataupun melakukan sesuatu kecuali hanya berdiam diri di kamar nya.
Dan pria yang membuat nya tetap di kamar itu berulang kali datang tanpa alasan yang jelas da terkadang hanya untuk mengomel setelah itu keluar.
Ya! Tentu Lucas punya banyak waktu untuk mengunjungi gadis itu di kamar nya karna ia hari ini tak ke perusahaan dan memilih bekerja dari rumah.
Klek!
Anna membuang napas nya dengan malas sembari melihat ke arah pintu.
"Ada apa lagi, Sir? Bayangan anda ketinggalan?" tanya Anna membuang napas sembari meyandarkan pipi nya dengan punggung telapak tangan nya dan melihat pria itu datang lagi ke kamar nya.
"Ekhm!" Lucas membuang wajah nya dan terbatuk walupun ia sedang tak ingin batuk, ia mengernyit sembari menggaruk leher nya dan bagian di dalam kaus putih nya.
"Kenapa duduk di lantai?" tanya nya yang kali ini melihat gadis itu kembali dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Anna membuang napas nya, dan kemudian tersenyum dengan senyuman palsu nya.
"Karna saya sedang ingin duduk di sini," jawab nya yang sebisa mungkin tidak mengeluh dan membuat pria itu cepat pergi.
"Bangun," ucap Lucas dengan satu kata dan gadis itu pun langsung menuruti nya.
Lucas diam, ia sedikit tak fokus dan hanya memikirkan gadis itu saat melakukan pekerjaan nya membuat nya berkali-kali datang.
"Sir?" panggil Anna yang seperti anak nakal yang di strap berdiri.
"Kau bisa main di taman kalau kau mau," ucap nya yang berbalik pergi.
Jika gadis itu bermain di taman maka ia bisa melihat dari jendela nya dan menatap ke arah gadis yang berada di halaman nya itu.
Anna terdiam, "Memang nya dia pikir aku anak-anak?" gumam nya lirih dengan bibir yang memanyun.
Namun,
30 menit kemudian.
Gadis itu tersenyum seperti peri hutan yang bermain di taman luas mansion mewah itu.
"Udara segar adalah yang paling baik," ucap nya lirih sembari menghirup aroma bunga yang bermekaran.
Lucas tanpa sadar tersenyum saat melihat gadis itu yang keluar dan beranjak ke taman nya.
Piyama putih tidur yang belum di ganti, rambut yang di ikat setengah dan tampak bersinar di bawah mentari.
Wajah yang begitu jelas dan bagi nya tetap cantik walau tak menggunakan make up itu.
Deg!
Ia tersentak, senyuman tipis nya hilang. Ia mengernyit melihat ke arah gadis yang berbicara dengan salah satu pelayan wanita dan kemudian tertawa.
Memang saat mendengarkan gadis itu melalui chip, ia biasa mendengar jika gadis itu tertawa dengan teman-teman nya.
Namun ia tak tau jika mendengar dan melihat langsung membuat nya merasa berbeda.
Ia seperti merasa sesuatu yang menjadi milik nya di ambil oleh orang lain dan itu adalah...
Auch!
Anna meringis, ia terkejut saat seseorang tiba-tiba menarik rambut nya dari belakang sampai membuat tubuh nya terhuyung hampir terjatuh.
Pelayan wanita itu pun tersentak dan langsung menunduk.
"Sa..saya permisi tuan..." ucap nya dengan sopan dan ingin beranjak pergi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucas tajam sembari menatap gadis yang tak lagi tertawa itu melainkan meringis karna tangan nya yang tengah menarik rambut panjang bergelombang itu.
"Me...memang nya sa..saya melakukan apa? Sir?" tanya Anna terbata tak bisa berbicara dengan jelas saat ia juga menahan sakit di kepala nya.
"Kau tersenyum," jawab Lucas yang tampak tak senang.
Ya! Senyuman!
Bagi nya pelayan wanita itu mengambil senyuman yang harus nya untuk diri nya saja.
"A..apa?" Anna tak mengerti, apa yang salah dengan itu.
"Senyuman mu hanya untuk ku! Kau memberikan nya pada orang lain juga?!" tanya nya yang melepaskan rambut panjang gadis itu dan malah berbalik mencengkram rahang kecil di wajah cantik gadis remaja itu.
Anna meremang, ia masih merasa takut dengan kekerasan dan juga ia memang memiliki rasa takut pada pria yang ia lihat pernah membunuh orang lain dan pernah hampir membunuh nya.
Tubuh nya gemetar namun ia dengan cepat menggeleng walaupun sulit.
"Sa..saya kan mi..milik anda..." jawab nya yang berusaha tersenyum walaupun sulit.
Pria itu melepaskan cengkraman nya perlahan dan kembali tersenyum tipis.
__ADS_1
"Benar, kau harus seperti itu..." bisik nya lirih dengan senyuman yang naik namun membuat gadis itu merasa begitu takut sampai wajah nya pucat kembali.