
Satu minggu kemudian.
Kastil Neuschwanstein.
Wanita itu menoleh ke arah sekeliling nya dan kemudian menatap ke arah pria di samping nya.
Es krim yang berada di tangan nya mulai meleleh dan ia menatap ke arah pria itu.
"Suka?" tanya Diego yang berdiri di samping gadis itu sembari melihat ke arah luar jendela dari kastil yang teramat besar di atas bukit itu.
Satu anggukan terlihat, "Ini tempat tinggal raja dan ratu? Atau putri?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu dengan tatapan mata nya yang tampak penasaran.
"Entahlah, mungkin..."
"Ku dengar raja Ludwig II yang membangun nya, tapi aku juga tidak terlalu tau cerita sejarah." jawab Diego yang menatap ke arah luar kastil.
"Kau mau kita buat yang seperti ini untuk kita? Tidak sebesar ini tapi aku juga bisa bangun di atas bukit," sambung nya yang menatap ke arah wanita di samping nya.
"Bisa?" tanya Samantha yang tak percaya.
"Aku lebih kaya dari yang kau pikir," jawab pria itu walaupun bukan maksud menyombongkan diri nya.
"Tapi kamu kan sekertaris," jawab Samantha yang ringan sembari memakan es krim nya.
"Itu tidak salah tapi kau lupa? Aku juga sepupu dari atasan ku yang berarti aku juga bukan dari kalangan bawah," ucap Diego yang mengatakan nya.
"Berarti kamu jadi sekertaris karna koneksi?" tanya Samantha sekali lagi dengan santai sembari memakan es krim nya.
"Astaga Sam!" Diego menarik napas nya, ia tak lagi bisa berkata-kata dan hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Kenapa? Aku salah?" tanya Samantha yang menatap bingung.
"Tidak salah tapi juga bukan benar." jawab pria itu yang menarik napas nya.
"Diego?" panggil Samantha yang menatap sekilas ke arah pria itu.
"Hm?" pria itu menyahut dengan hanya berdehem saja.
"Kamu ga mau nikahin aku?" tanya Samantha walaupun ia tau dengan pasti apa jawaban nya.
"Sam?" Diego tak menjawab namun nada ia memanggil sudah menunjukkan semua nya.
"Kalau begitu kamu mau punya anak?" tanya Samantha sekali lagi.
"Kau mau? Kita bisa program," jawab Diego yang kali ini sama sekali tak menentang nya.
Dan ia pun tau wanita itu perlu menjalani program kehamilan karna ia sendiri juga mendengar apa yang terjadi waktu itu.
"Iya, kalau punya anak kamu mau?" tanya wanita itu mengulang.
"Tidak terlalu buruk, aku mau punya sepasang." jawab Diego yang membayangkan anak-anak kecil yang mungkin akan membuat apart nya gaduh.
"Terus kalau dia nanti tanya kenapa Mama Papa nya ga nikah gimana?" tanya Samantha sekali lagi.
"Kalau dia tidak tanya?" tanya Diego yang menatap ke arah wanita itu.
"Jawab dulu! Kalau misal nya anak kita nanti tanya kamu mau jawab apa?" tanya Samantha mendesak.
"Aku tidak bisa menikahi ibu mu, karna kalau aku menikahi nya aku seperti harus menceraikan nya," jawab Diego yang memperagakan apa yang akan di jawab nya nanti.
"Kamu langsung bilang begitu? Kalau misal nya dia masih kecil gimana? Kamu mau jawab itu?" tanya Samantha yang tak habis pikir.
"Karna dia masih kecil harus di beri tau lebih awal kan?" tanya Digeo yang menatap ke arah pria itu.
"Ck! Kamu tuh banyak alasan aja ya? Padahal aku kan cuma mau minta nikahin," celetuk Samantha yang merasa kesal.
"Mungkin nanti..." jawab Diego lirih yang tak bisa memastikan.
"Kapan?" tanya Samantha yang menunggu jawaban.
"Nanti kalau aku sudah siap," jawab pria itu datar sembari merasakan angin di wajah nya.
"Tapi kan sama aja? Kita juga udah tinggal bareng kan? Aku juga udah pernah lihat kamu marah nya gimana?" tanya Samantha yang sudah merasa jika ia sudah mengenal pria itu.
"Aku punya stigma yang buruk tentang pernikahan, aku tidak tau apa yang kau pikirkan tentang pernikahan yang ada di sekitar mu. Tapi yang aku lihat orang-orang yang menikah tidak berakhir dengan baik." jawab Digeo tanpa melihat.
__ADS_1
"Kamu tau dari mana kalau pernikahan kamu ga bakal berhasil? Kamu udah pernah nikah?" tanya Samantha yang menatap ke arah pria itu.
"Belum lah!" ucap pria itu yang langsung menyanggah.
"Ya! Itu! Kata nya cinta..." ucap wanita itu lirih yang menatap dengan wajah cemberut nya.
"Sam? Kamu udah punya semua nya, kadang apa yang kamu punya sekarang mungkin yang orang lain mau, kita berhenti bahas ini ya?" tanya nya yang menatap ke arah wanita itu.
Memberi nya pengertian dengan nada yang lebih lembut.
"Iya! Kamu sih! Pasti gitu!" ucap Samantha yang selalu menatap dengan kesal jika pria itu ingin menutup pembahasan tentang pernikahan.
Diego menarik napas nya, "Kita mau temui dokter Minggu depan? Kau bilang kau mau hamil lagi kan?" tanya Diego yang menatap ke arah wanita itu sekali lagi.
Samantha tak menjawab untuk sementara waktu dan kemudian mengangguk.
......................
Mansion Damian.
Anna tersenyum tipis, kini putra nya tak lagi memakai berbagai alat medis yang mendukung pernapasan nya karna sudah kembali ke dalam kondisi vegetatif.
"Estelle? Mama udah lihat semua foto yang kamu ambil, kamu kapan ambil lagi? Mama nungguin kamu loh..." ucap nya yang seperti berbicara pada seseorang yang bisa menjawab nya.
"Estelle masih ngantuk ya? Maka nya ga bisa jawab Mama? Ga apa-apa..."
"Nanti kalau kamu bangun, Mama bakal pastiin kamu selalu seneng..." ucap nya yang memandang dengan senyuman sayu.
Masih tak ada jawaban sama sekali, anak kecil yang menggemaskan itu tampak tidur dengan tenang seperti tak merasakan sakit sama sekali.
"Estelle? Bangun ya nak? Atau kamu ga mau bangun karna marah sama Mama? Karna Mama jahat ya? Bawa kamu ke sini?" tanya Anna dengan perubahan emosi yang cepat berubah.
"Kamu benci Mama?" tanya nya lagi dan tentu tak ada jawaban apapun.
Anna beranjak bangun, ia mengecupi wajah putra nya yang menggemaskan itu dan menatap nya lirih.
"Maaf..."
"Mama yang salah, kamu pasti benci punya Mama yang egois kan? Tapi..."
.....................
Dua Hari kemudian
JNN grup.
Suara air yang menyala terdengar memenuhi suara yang sekaan memuntahkan sesuatu.
Tap!
Suara air itu menghilang di saat bersamaan ia berhenti, wajah nya mulai tampak pucat dengan warna kulit yang mulai berbeda.
Tak ada satupun perkataan apapun, tak mengumpat atau mengeluh sama sekali.
"Luc? Kau sudah siap? Kau harus membuka acara nya?"
Suara sepupu nya terdengar dan pria itu pun sudah tau.
Ia tak menjawab namun ia keluar dengan sendiri nya.
"Kau sudah mengirim supir untuk menjemput Anna kan?" tanya Lucas yang memang terkadang menunjukan sang istri ke publik agar para pemegang saham tak lupa jika ia sudah memiliki pasangan.
"Ya, nanti dia akan datang." jawab Diego singkat sembari menatap ke arah sepupu nya yang sekarang sering terlihat pucat.
"Kau baik-baik saja?" tanya nya yang tak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.
"Apa aku terlihat seperti akan mati?" jawaban yang selalu terdengar ketus dan dingin.
"Ya, kau akan baik-baik saja. Sikap mu tidak berubah." jawab Diego pada sepupu nya yang masih terus memandang nya dengan ketus.
....
Suara tepukan tangan terdengar, peresmian produk terbaru dan juga kata sambutan atau peresmian singkat terdengar.
Anna menghentikan tangan nya, ketika suara gaduh dari tepukan tangan itu mulai mereda.
__ADS_1
Ia berdiri di belakang sang suami bersamaan dengan para petinggi lain nya yang berdiri setelah peresmian.
"Saya harap ini akan menjadi awal baru untuk kita semua," ucap Lucas yang menutup pembicaraan nya dan berbalik setelah menurunkan mic nya.
Ia mengulurkan tangan nya agar wanita itu bisa turun bersama nya.
Anna menurut, tanpa banyak bicara ia pun langsung meraih tangan sang suami dan berjalan turun dari podium itu.
"Luc? Setelah in-"
Bruk!
Anna tersentak, tangan yang ia gandeng barusan jatuh ke lantai.
Mata nya membulat sempurna menatap dengan gugup bersamaan dengan orang-orang yang berada di tempat itu yang tampak juga ikut terkejut.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung wanita itu berdegup, suasana kacau namun ia tampak terkunci dengan waktu nya sendiri.
"Bawa dia! Cepat panggil bantuan!" ucap Diego yang langsung mendekat dan tentu harus segera membawa sepupu nya.
Anna masih mematung, ia terkejut saat melihat pria yang biasa nya kuat itu tiba-tiba jatuh pingsan.
"Anna!" sentak Digeo yang memanggil nama wanita itu.
Anna terkejut dan langsung menoleh, ia tersadar sejenak dari lamunan panjang nya.
"Ayo!" ucap Diego yang cekat dan tentu wanita itu hanya menurut saja.
......................
Rumah sakit.
Anna terdiam, ia terkejut dan merasa semakin bingung.
Harus nya senang kan? Jika pria itu tampak terluka dan sakit, bahkan kini terlihat seperti manusia biasa yang bisa jatuh juga.
Pria itu sudah tak sadar selama dua jam dan kini mungkin sudah hampir tiga ja walaupun ia sudah mendapatkan pemerikasaan.
"Tidak apa-apa..."
"Ini yang benar, Luc? Aku harap kamu..."
"Kamu yang pergi..."
Suara yang terdengar gemetar itu, seperti berat mengatakan nya namun ia juga tak bisa berhenti sama sekali.
Pria itu tak mengatakan apapun, mata yang masih terpejam dan tak tau apakah sudah terbangun atau belum.
Anna tak bisa menyentuh nya, tangan nya gemetar dan dingin dan ia memilih keluar ruangan itu karna tak bisa menunggu lebih lama.
Suara pintu tertutup, keheningan yang terdengar memenuhi suara yang sunyi.
Mata abu-abu gelap itu terbuka, ia melirik ke arah ke arah ruangan nya yang kosong.
Dari pada memikirkan tentang doa sang istri agar ia lebih cepat pergi, pria itu malah memilih mengambil ponsel nya.
"Dia keluar, perhatikan dia. Jangan sampai kabur lagi." ucap nya di telpon dan kemudian menutup panggilan nya.
Lucas beranjak bangun, melihat ke arah infus yang masih berada di tangan nya.
"Kau sangat membenci ku sampai mau aku mati?" gumam nya yang tersenyum kosong.
Bukan senyuman senang atau pun sedih, ia tak tau perasaan apa yang harus ia keluarkan.
Kecewa atau bahagia?
Marah atau senang?
Karna setidak nya wanita itu membuat nya menjadi prioritas utama, walaupun dalam kebencian.
__ADS_1