Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Manja


__ADS_3

Mansion Damian


Anna kini sudah kembali ke tempat di mana tak ada yang memandang rendah atau sinis. Ia berdiri di kamar nya. Melihat keluar jendela tanpa membuka nya.


Tangan nya masih gemetar jika ia mengingat tatapan mata yang lebih buruk dari ejekan, bisikan yang berupa hinaan dan ucapan yang bahkan sama sekali tak pernah ia lakukan.


"Aku hamil? Memang nya mereka pikir aku ga datang karna memang mau?" Anna bergumam.


Rasa nya ia tak ingin kembali ke sekolah lagi, namun tentu ia juga tak bisa melakukan hal itu.


Cup!


Suara kecupan terdengar, pinggang ramping nya terasa seperti di peluk oleh seseorang. Rasa hangat dan lembut yang menyentuh lengkung leher nya, aroma mint membuat nya indera penciuman nya menjadi nyaman.


"Luc? Kamu udah pulang?" ia tak membalik tubuh nya untuk melihat ke arah seseorang yang memeluk nya.


Bagi nya sudah biasa untuk di peluk ataupun di cium oleh pria yang bahkan sudah sering melihat tubuh nya.


"Kau mau makan malam di luar? Tadi rekan ku membawa ke resto yang dia rekomendasi kan. Tempat nya bagus dan makanan dessert nya mungkin akan cocok untuk mu." ucap pria itu sembari menyandarkan dagu nya di atas kepala gadis itu.


Anna terdiam sejenak, ia ingin mengadu namun ia takut akan di salah kan kembali. Karna berada di lingkungan ketika memiliki seseorang yang akan membela nya tak pernah ia rasakan.


Dan ia pun takut pada kemungkinan pria itu juga akan bersikap sama seperti semua orang yang pernah ia temui.


Menyalahkan nya lebih dulu?


"Iya, aku mau!" Anna tersenyum, pilihan nya adalah tidak mengatakan apapun.


......................


Restoran.


Makanan utama yang tersedia sudah berada di depan mata. Steik dengan sup macaron yang lembut dan gurih dengan cita rasa sederhana namun membuat lidah tak muak.


Lucas memperhatikan raut wajah yang tampak berbeda itu, biasa nya saat ia memberikan makanan yang di sukai gadis itu maka mata biru itu akan berbinar lebih terang.


"Makanan nya tidak sesuai dengan selera mu?" tanya Lucas pada gadis yang tampak tak bersemangat itu.


"Eh? Bukan, enak kok." ucap nya yang menggelengkan kepala nya dan tersenyum ketika berbicara pada pria itu.


"Lalu? Kenapa kau terlihat tidak suka? Terjadi sesuatu?" tanya nya lagi pada gadis itu.


Anna terdiam sejenak sebelum ia tersenyum lagi.


"Tidak ada," jawab nya dengan menggelengkan kepala nya sekali lagi.


"Kau seperti ini karna aku menambah guru mu?" tanya Lucas yang tak bisa menebak apa yang terjadi di sekolah karna ia tak bisa mendengar apapun lagi dengan chip yang sudah di cabut itu.


"Ah..."


"Itu juga masalah..."


Gumam gadis itu saat ia ingat kini guru privat nya bertambah di pelajaran bahasa Inggris.

__ADS_1


Setelah bahasa ambigu yang ia ucapkan dan membuat pria yang memiliki IQ yang tinggi itu sampai bingung tentu kini ia memiliki guru baru.


"Jadi benar? Atau kau mau aku saja yang mengajari mu? Sejujurnya belajar dengan ku lebih menyenangkan, bukan?" tanya pria itu dengan percaya diri.


"Ya benar... Tapi! Aku lagi sariawan! Tadi ke gigit waktu makan!" balas Anna yang langsung mengatakan sesuatu yang pas jadi alasan begitu mendengar kata belajar bersama.


"Sariawan?" Lucas berpikir sejenak, ia tak bermaksud melakukan sesuatu malam ini atau pun berniat ingin mengajari gadis itu sekarang juga namun begitu melihat reaksi lucu yang di tunjukkan membuat nya berpikir ulang.


"Lagi pula aku kan juga suka pakai yang di bawah, rasa nya lebih hangat dan bisa menelan dengan lebih baik." ucap nya dengan nada yang tenang tanpa wajah yang merasa malu.


Mata biru itu membulat seketika saat mendengar nya. Wajah putih susu dengan pipi yang memang biasa nya memiliki rona itu langsung memerah.


"Luc! Kalau ada yang dengar bagaimana?" tanya Anna yang melihat ke arah sekitar nya.


"Mendengar kan bukan berarti mengerti, jadi nanti malam mau belajar? Kita akan belajar biologi dalam bahasa Inggris." ucap pria itu tersenyum kecil, dan memang hanya gadis itu yang bisa membuat nya tersenyum.


"Ih! Udah biologi! Pakai bahasa Inggris lagi!" ucap Anna tanpa sadar mengeluh dan mendumel.


Lucas tertawa kecil mendengar nya, "Kalau begitu kau mau kita belajar fisika dalam bahasa Arab?" tanya nya sekali lagi.


Anna semakin stres, masalah yang ia hadapi di sekolah dan sekarang ia sedang berhadapan juga dengan masalah lain.


"Bahasa Arab? Me.. memang nya kamu tau?" tanya nya yang semakin kesal dan ia memang sekarang berani untuk menunjukkan lebih banyak sisi nya setelah di kurung selama satu tahun di tempat yang tak tau siang dan malam.


"Aku pernah tinggal di Dubai selama dua tahun, jadi aku belajar bahasa mereka juga." ucap nya yang memang tinggal di sana karna pekerjaan.


"Mereka bukan nya pakai bahasa Inggris?" tanya Anna yang mengernyit dan tak begitu percaya karna ia bahkan belum pernah ke negara itu.


"Ya, tapi bahasa resmi nya Arab. Lagi pula tidak ada yang buruk dengan belajar bahasa kan?" ucap pria itu dengan tawa kecil.


"Bisa, aku tau 8 bahasa tapi aku tidak bisa menerjemahkan bahasa Inggris mu." ucap Lucas yang tampak menghela napas nya.


Anna mengerucut mendengar ejekan pria itu, ia kembali melanjutkan makan nya dan untuk sesaat ia lupa dengan masalah nya di sekolah ketika berdebat dengan pria tembok itu.


......................


Mansion Damian


"Engh..."


"Hah..."


"Hah..."


Suara napas yang berat terdengar, buku yang harus di lihat di baca kini malah kusut saat seseorang meremas nya dan bahkan sekarang tak lagi di lihat karna seseorang yang harus nya membaca buku-buku itu malah berbalik membelakangi nya.


Meja belajar yang penuh dengan ATK itu bergetar ketika terkena tubuh yang bergerak di atas kursi yang di isi oleh dua orang itu.


Plak!


Satu tepukan di b*kong kenyal yang putih dan sedang bergerak itu berbunyi nyaring namun tak mengalahkan bunyi dari kedua tubuh yang saling bersautan itu.


"Sekarang kau makin pintar? Hm?" suara yang berat itu kini tak lagi bergerak selain mel*mat Piramida kenyal yang di depan wajah nya.

__ADS_1


Anna menurunkan pandangan nya, pria itu berhenti bergerak dari bawah beberapa saat yang lalu dan tubuh nya seperti tanpa sadar bergerak sendiri.


"Hum..."


Wajah nya memerah, namun ia juga tak bisa berhenti sama sekali. Rasa nya pikiran menjadi kosong dan hanya seluruh tubuh nya yang bergerak.


Sangat cocok untuk melupakan masalah nya di sekolah.


"Ci.. cium..." gumam nya lirih dengan napas yang terengah-engah.


Pria itu tersenyum simpul, tentu ia langsung menarik tengkuk gadis yang berada di atas pangkuan nya itu dan mel*mat bibir merah muda itu sembari mengkaitkan lidah nya.


Anna tak bisa memikirkan apapun, ia membalas lum*tan agresif pria itu walau kualahan. Tangan nya memeluk punggung kekar pria itu dengan sesekali kuku tangan nya mencakar tanpa sadar.


Tangan kekar yang berdiam diri itu setelah tak bisa meremas Piramida nya lagi langsung beralih meremas peach yang tengah terguncang dan gemetar itu.


"Heuk!"


Ciuman yang panas itu terdengar berbeda saat gadis itu tersentak, sebelum nya hanya ia yang bergerak namun sekarang pria itu yang tiba-tiba bergerak lagi dan kembali membuat sensasi panas yang berbeda lagi.


"Huph!"


Tangan gadis itu kembali mencakar punggung pria yang mencium nya, ia kewalahan dan membuat bibir nya basah saat ia tak bisa menelan pertukaran saliva itu ketika ada gelombang lain yang keluar dari tubuh nya.


Lucas melambat, ia melepaskan ciuman nya dan melihat ke arah wajah gadis itu yang berantakan.


Ia tak mengatakan apapun, senyuman nya terlihat. Ia suka melihat gadis itu yang berantakan karna ulah nya. Menjadi lemas dan mengambil semua tenaga nya.


...


Selimut yang tebal itu kini menutup kedua tubuh yang polos tanpa apapun di balik nya.


"Luc?" Anna memanggil lirih ketika pria itu masih mengusap rambut pirang nya.


"Ya, kau masih belum mau tidur?" tanya Lucas yang langsung melihat ke arah gadis nya.


"Kalau misal nya aku membuat kesalahan di sekolah, kamu bakal marah?" tanya nya pada pria yang memiliki aroma tubuh yang harum itu.


"Kesalahan? Kau melempar wajah guru mu dengan kopi?" tanya Lucas mengernyit.


"Tidak, tapi kalau aku begitu kau tidak akan marah?" tanya Anna yang bahkan tak pernah berpikir untuk melempar wajah guru nya.


"Kenapa aku marah? Asalkan kau tidak berniat kabur aku tidak akan marah dan juga tidak dekat dengan para ceng*nguk yang berserakan di jalan aku tidak akan marah." jawab Lucas.


Anna diam sejenak, mata nya terdiam sejenak melihat ke arah pria itu.


Pluk!


Lucas tertawa kecil, gadis itu memeluk dengan sendiri nya tanpa ia minta atau ia arahkan.


"Kenapa manja tiba-tiba? Tidak, ini bahkan lebih bagus." ucap Lucas yang tersenyum dan merasa senang.


"Aku ngantuk..." jawab Anna lirih di balik pelukan nya.

__ADS_1


"Kalau begitu tidur lah..." ucap nya berbisik sembari mengelus punggung gadis itu hingga tertidur.


__ADS_2