Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Alone


__ADS_3

Hiddensee


Gadis itu masih setengah sadar, ia tertidur cukup lama setelah operasi karna kehilangan banyak darah.


Lebih tepat nya ia mengalami anemia selama hamil dan harus teratur meminum pil asupan untuk mensuplai darah nya.


Camilla menunggu gadis itu yang sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa, ia menatap nya dan beberapa kali mengusap keringat yang turun di dahi gadis itu.


"Kau masih belum bangun? Padahal putra mu tampan sekali," gumam Camilla saat melihat gadis itu.


Sudah berjalan hampir 8 bulan ia bertemu dengan gadis itu dan tentu dalam waktu selama itu tak mungkin ia sama sekali tak tergerak.


Gadis yang penuh senyuman dan wajah yang menunjuk kan sisi positif serta ramah. Sangat berbeda dari kebanyakan orang di tempat nya yang memang lebih dingin untuk orang lain.


......................


Mansion Damian


Lucas mengetuk jemari nya, ia tak melihat sama sekali toples yang ia berikan untuk segara di isi dengan sesuatu yang ia minta.


"To... tolong..."


"Ma.. maafkan aku..."


Wanita itu melata di lantai kamar yang masih di penuhi dengan darah yang baru keluar dan juga darah kering.


Lucas duduk di atas kursi itu sembari melihat ke arah wanita yang berada di lantai itu.


Ia melipat kaki nya dan memegang dahi nya dengan rambut yang berantakan itu dan merasa kurang suka melihat wanita itu menganggu pandangan nya.



"Entahlah, berikan aku alasan yang bagus untuk memaafkan mu..." ucap nya lirih yang memang secara spesifik wanita itu sama sekali tak memiliki salah dengan nya.


"Ma.. Maafkan aku..."


"Tolong..."


Ucap Mrs. Laura yang tampak begitu memohon hingga menciumi sepatu mengkilap yang di kenakan oleh pria tampan itu.


Lucas tak tergerak sama sekali melihat nya, wanita itu adalah seseorang yang membuat Anna kesayangan nya tinggal di panti asuhan.


"Sebenarnya aku ingin satu mata anak mu ada di sini, tapi seseorang tidak mengirimkan nya pada ku. Jadi aku akan membawa dia ke sini juga? Bagaimana?" tanya nya yang kali ini beranjak dan menatap ke arah wanita yang memohon itu.


Wajah pucat itu semakin pasi. Mrs. Laura menggeleng seketika saat mendengar putri nya akan di bawa ke sarang Monster itu.


"Jangan! Bunuh saja aku! Siksa aku! Jangan bawa anak ku!" ucap nya yang semakin menggila karna bagaimana pun ia juga lah seorang ibu.


Lucas tak mengatakan apapun, tak ada ucapan yang ia gubris dan membuat nya berbalik.


......................


Villa


Gadis itu tampak bingung, ia mencari ibu nya dan bahkan sampai sekarang pun ia masih belum menemukan nya namun seseorang malah membawa nya ke tempat yang ia sendiri tak tau.


"Kenapa aku di sini? Aku baru masuk kuliah dan ikut beasiswa, kalau aku di sini kuliah ku bagaimana? Dan lagi aku kan harus menemukan Mama," ucap nya yang mengejar pria itu.


"Memang nya kau tidak suka? Tempat nya bagus dan udara nya nyaman kan?" tanya Diego yang mengernyit melihat gadis itu.


Ia membawa ke villa nya untuk sementara waktu sampai kegilaan sepupu nya mereda.


"Sir? Kenapa anda baik pada saya? Bukan nya Anda tidak punya alasan untuk baik pada saya? Saya juga bukan wanita penghibur lagi. Lalu anda kan tidak mau punya hubungan yang merumitkan." tanya gadis itu penuh tanda tanya.


Memang tak tak begitu berharap pria itu juga menyukai nya karna ia memiliki masa lalu yang cukup buruk karna sempat melayani beberapa pria dan tentu nya bukan hanya satu atau dua pria saja.


"Itu terserah ku, kau cukup ikuti saja yang ku katakan dan lagi pula kau juga tidak akan rugi kan?" tanya pria itu yang tampak mengernyit tanpa menunjukkan senyum formalitas nya.


"Tentu saya akan rugi! Rugi perasaan!" ucap Samantha yang tak setuju dengan statement itu.


Diego tak mengatakan apapun namun ia mengernyit mendengar nya.


"Anda tau kenapa dulu saya minta berhenti kan? Itu karna saya takut kalau saya akan menyukai anda! Dan anda langsung mengakhiri nya." ucap nya Samantha yang mengingatkan.

__ADS_1


"Dan kalau anda seperti ini lagi..."


"Saya akan..."


Gadis itu tak melanjutkan kata-kata nya karna kata selanjutnya terlalu malu untuk ia ucapkan.


"Kalau begitu kau bisa menyukai ku, kau mau kita punya hubungan seperti kekasih? Sekarang kau kekasih ku, jadi ikuti apa yang ku katakan. Simpel kan?" tanya Diego yang kemudian menuruni anak tangga dari villa yang terletak di daerah danau dan hutan itu.


Samantha terdiam sejenak, pria itu terlalu mudah menyelesaikan masalah sampai ia merasa perasaan nya hanya mainan.


"Memang nya dia pikir mudah aja gitu bilang kekasih sama aku?!" ucap nya yang tentu merasa tak terima karna ia tak tau alasan mengapa di tempat kan di villa terpencil.


......................


Skip


JNN grup


Lucas menatap ke arah sepupu nya yang masih belum memberikan nya satu mata dari gadis yang ia minta.


"Menurut mu aku lebih baik menguliti kulit lembut nya saja?" tanya Lucas sembari menerima berkas yang di berikan oleh pria di depan nya.


"Apa?" Diego sempat hilang fokus mendengar nya.


"Kau masih belum bawakan mata nya pada ku," ucap Lucas sekali lagi.


"Luc? Kau tau? Kita sedang tidak bisa membuat banyak masalah! Kematian Luciana masih belum terungkap tapi setelah mayat nya di temukan kita juga akan terkena dampak nya!" ucap Diego yang berusaha mengalihkan fokus sepupu nya.


Lucas mengangguk kecil namun kemudian ia menatap ke arah pria itu.


"Tapi sayang nya aku bisa mengatasi nya, kau tau kan kenapa dia mati seperti itu? Walaupun emosi ku tidak terkontrol tapi aku tau cara nya mengontrol kerugian." ucap nya yang menatap ke arah sepupu nya dengan mata yang tajam.


"Luc?" panggil pria itu sembari menarik napas nya.


Tak ada jawaban namun mata abu-abu itu menatap ke arah pria yang memanggil nya.


"Kau masih tidak tau kenapa dia lari dari mu?" tanya Diego dengan senyuman tipis yang tampak seperti ejekan karna Lucas seperti tau mengerti apapun.


Tak ada jawaban, namun Lucas menatap dengan mata dan netra nya yang tajam itu.


"Apa?" Lucas mengernyit, sepanjang yang ia ingat sepupu nya tak pernah sekali pun mengatakan apapun pada nya.


"Dulu kau tidak bisa merasakan emosi dan sekarang kau tidak bisa melihat warna! Tidak bisa melihat wajah! Kau pikir ada orang di dunia ini yang tergila-gila dengan darah!" ucap nya dengan suara yang meninggi kali ini.


Ia tak pernah menunjukan amarah nya kecuali sikap penurut dan senyuman penuh formalitas.


Lucas diam tak mengatakan apapun, bukan ia yang mau menjadi seperti itu namun semua nya berjalan dengan sendiri nya.


"Kau itu tidak normal! Itu alasan dia meninggalkan mu." ucap Diego sekali lagi sembari menarik napas nya.


Lucas masih diam, ia tak mengatakan apapun dan mendekat ke arah sepupu nya.


"Kau pikir aku mau seperti ini? Aku juga tidak menginginkan nya. Tidak tau perasaan orang lain, tidak tau kenapa seseorang bisa tertawa atau menangis! Kau pikir itu juga mudah untuk ku?!" tanya Lucas dengan mengernyitkan dahi nya dan suara yang pelan namun mengeras.


Kali ini Diego yang terdiam, sepupu nya memang sangat sulit merasakan emosi bahkan sejak mereka masih kecil dan bahkan sebelum pria itu mengalami traumatis.


"Lalu? Kau pikir aku menyukai darah karna untuk mencari waktu luang? Diego? Kalau saja penglihatan kita di tukar, kau bahkan tidak akan tahan satu hari pun." ucap Lucas yang tentu mengatakan sesuatu yang tak akan bisa di rasakan oleh sepupu nya.


"Kau akan melihat semua orang seperti monster, kau bahkan akan melihat diri mu sendiri seperti monster. Kau tidak tau seperti apa kan rasa nya? Dan kau pikir aku juga menginginkan nya?" tanya Lucas dan masih membuat sepupu nya terdiam.


Bahkan sekarang pun di jarak yang sedekat itu ia tak mampu untuk melihat dengan jelas wajah sepupu nya.


Hening...


Tak ada yang membalas apapun sekarang, ia tau alasan mengapa sepupu nya memblokir semua wajah yang terlihat.


Karna dulu sebelum Lucas tak bisa mengenali wajah seseorang, ia selalu menangis karna teringat dengan wajah terkahir ibu nya yang mati tragis.


Tekanan yang besar dan pria yang bernama Alexander selaku ayah dari sepupu nya itu pun selalu memaksa putra nya untuk menghadapi apapun tanpa memberi jeda.


Lalu apa yang terjadi?


Sepupu nya yang malang itu jatuh sakit hampir seminggu penuh, demam tinggi bahkan bisa di katakan selalu setengah sadar.

__ADS_1


Dan ketika membaik?


Semua nya hancur, ingatan nya menjadi rusak dan banyak yang hilang. Penglihatan nya menjadi tak stabil dan terlebih lagi untuk melupakan wajah dan ekspresi ibu nya ia anak kecil yang malang membuat pengaturan di otak nya untuk memblokir setiap wajah termasuk wajah nya sendiri.


Bahkan saat ia sadar pun, ia sempat mengalami krisis identitas karna tak hanya kenangan pahit nya yang menghilang, ingatan tentang diri nya sendiri pun banyak yang terhapus.


Tak memiliki emosi dan tak bisa mempelajari nya karna tak tau membedakan ekspresi seseorang saat gambaran wajah saja sudah terblokir oleh otak sehingga mata nya tak bisa mengirimkan sinyal untuk menggali wajah.


Belum lagi masalah warna yang tak bisa di lihat juga, dan untuk beberapa hal hanya warna merah dari darah yang segar dengan anyir darah yang bisa tercium lah yang dapat ia lihat. Dan tentu cat merah pun tak akan bisa menyamai nya.


Dan tentu dulu Alexander pria yang merupakan ayah dari anak malang itu sangat mudah mendoktrin nya untuk mencintai perusahaan yang akan di warisi sehingga kini pun anak kecil itu tumbuh hanya dengan tau cara untuk mencintai perusahaan nya agar tidak bangkrut atau rugi.


Claps!


Claps!


Claps!


Suara tepukan tangan membuat Diego tersadar dari lamunan nya yang mengingatkan nya jika ia juga ikut andil mengapa sepupu nya bisa menjadi semakin tak normal itu.


Lucas masih memukul kedua telapak tangan nya satu sama lain hingga menimbulkan suara tepukan yang mengisi seisi ruangan kerja nya dengan senyuman seperti memberikan selamat.


"Tapi ku rasa kau benar, pasti sulit untuk bekerja dengan orang yang tidak normal seperti ku, kan?"


"Sedangkan kau orang yang sangat normal, kau bisa tertawa, tersenyum, menangis, marah dan kau tau cara melakukan nya. Luar biasa sekali! Oh iya kau juga tidak perlu kesulitan membedakan ekspresi seseorang atau melihat warna dari sesuatu."


Diego masih tak mengatakan apapun, walaupun sepupu nya miliki kekurangan namun ia juga tau kalau sepupu nya itu punya kelebihan di wajah dan kecerdasaan.


Sehingga ucapan sarkas seperti itu bisa keluar dengan lancar.


"Sekarang kau di pecat," sambung nya dengan senyuman tipis yang hilang bagai di telan bulan.


"Apa?" Diego mengernyit mendengar nya dan tentu ia juga terkejut.


"Terimakasih karna sudah memberi tau ku kenapa dia kabur dan..."


"Kau pasti kesulitan untuk bekerja dengan orang tidak waras yang tidak punya air mata dan tergila-gila dengan darah kan?"


"Luc! Kau memecat ku?" tanya Diego yang tentu akan menjadi masalah besar pada nya karna ia tak bisa memantau pergerakan sepupu nya untuk tau sampai dimana pencarian Anna.


"Ya, sekarang kau bisa lindungi anak itu dan kau tidak perlu lagi bekerja untuk orang gila seperti ku." ucap Lucas dengan wajah yang tegas


"Kau tau kalau ini akan jadi perpecahan saham kan?" tanya Diego yang mengingatkan jika ia dibuang maka tingkatan saham untuk mendukung Lucas pun akan berkurang.


"Aku tau, tapi gangguan seperti itu tidak akan membuat ku tumbang." jawab Lucas dengan tegas dan kembali ke meja nya sembari menelpon sekretaris lain dari telpon kantor yang berada di atas meja nya.


"Bereskan meja sekertaris Diego dan beri dia uang tunjangan serta kompensasi karna di berhentikan kerja lalu urus surat pemecatan nya dengan cepat." ucap Lucas yang tak berpikir dua kali.


Diego masih tak menyangka, ia masih membatu atas keputusan impulsif sepupu nya.


"Sekarang kau tidak kembali? Setidak nya kau harus mengecek villa mu untuk melihat anak itu masih ada atau tidak kan?" tanya Lucas dengan senyuman tipis nya.


Diego tersentak, ia pun langsung berbalik dan pergi seketika seperti mengejar sesuatu saat mendengar jika sepupu nya sudah tau di mana ia menyembunyikan Samantha.


Lucas tak mengatakan apapun, pintu ruangan nya tertutup dan ia yang masih terdiam di atas kursi kerja nya.


Ruangan yang besar itu tampak hampa dan pria itu sudah terbiasa tenggelam di laut kesunyian.


Mata nya kosong, tangan nya mengusap cincin di jemari manis karna cincin itu seakan ia memiliki seseorang yang akan kembali pada nya.


Aku sepertinya sendirian lagi?


Lagi?


Bukan lebih tepat nya aku memang sendirian sejak awal...


Orang-orang yang mengatakan akan selalu bersama ku pada akhir nya hanya akan pergi...


Tentu saja...


Mungkin karna mereka mengira aku monster nya, tapi mereka tidak tau kalau aku juga melihat mereka sebagai monster...


Kau meninggalkan ku karna melihat ku sebagai monster juga?

__ADS_1


Lalu untuk pembohong seperti mu...


Aku harus memanggil mu apa?


__ADS_2