Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Wajah mu seperti apa?


__ADS_3

Anna menatap nanar, pria di depan nya bergeming dan terlihat tanpa gerakan atau pun ekspresi yang bisa ia tebak.


"Saya kurus, kurang gizi, kecil, tidak punya daging dan hambar..." ucap nya yang langsung duduk berlutut di atas ranjang nya sembari menyatukan kedua telapak tangan nya ke atas kepala.


Lucas semakin mengernyit menatap nya dengan bingung, "Kau kenapa? Kerasukan?" tanya nya sembari melihat ke arah gadis yang memohon itu.


Anna mendongak menatap ke arah pria yang tinggi dan selalu terlihat wajah yang kaku dan tegang.


"A..anda mau memakan saya kan? Sa..saya tidak enak kalau di masak..." ucap nya lirih.


Ia benar-benar takut kalau pria itu akan benar-benar memakan nya.


"Aku memang mau memakan mu tapi aku tidak berniat memasak mu," ucap pria itu yang menatap dengan bingung.


Anna meremang mendengar nya, dan Lucas juga sudah tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk mencium aroma gadis itu.


"Eh? Sir? Tunggu!" ucap nya yang terkejut karna pakaian nya tiba-tiba di tarik oleh pria di depan nya.


Gadis itu mengenakan piyama yang berwarna putih, dan tentu sekali tarik maka pakaian nya akan terlepas.


Lucas diam sejenak, kemarin ia hanya melihat siluet tubuh gadis itu dari pakaian yang tipis dan kini lekuk tubuh kecil itu terlihat jelas.


Anna langsung berusaha ingin menarik selimut yang berada di dekat nya namun pria itu mengambil nya lebih dulu.


"Kau ini..." ucap Lucas sembari melihat dengan seksama tubuh yang hanya berbalut pakaian dalam itu.


"Kenapa kecil sekali?" sambung nya dengan wajah yang melihat keseluruhan.


Anna kesal mendengar nya, memang nya dia mau tubuh anak 17 tahun itu seperti apa?


Yang berisi montok dengan implan depan belakang?


"Sir! Anda ben- Humph!"


Mata biru itu membulat seketika, ucapan nya terpotong dan tak terselesaikan. Tangan nya perlahan di satukan dalam genggaman pria itu dan tubuh nya di dorong kembali ke tempat tidur.


Jangan bengkak lagi bibir ku, ya ampun!


Ucap nya yang takut, ke esokan hari volume bibir nya bertambah karena pria itu yang terus mengusap dan mengigit nya.


Ia bahkan tak pernah sekalipun menanggap jika pria itu sudah mengambil ciuman pertama nya karna ia tak menganggap itu adalah sebuah ciuman.


Engh?

__ADS_1


Anna tersentak pria itu memang biasa meraba dan mencium ataupun mengigit leher nya.


Namun kali ini rabaan nya menyentuh, dua benda yang menonjol yang sekalu ia lindungi.


Tu...tunggu! Tangan nya di mana itu!


Gadis itu masih tidak bisa mengatakan apapun karna bibir nya yang masih di lahap dengan pria yang memegangi kedua tangan nya yang di satukan di atas kepala itu.


Pria itu melepaskan bibir nya setelah membuat bibir gadis di depan nya memerah, mata nya turun ke arah d*da yang terbungkus dengan rapi di pelindung nya dan masih begitu ranum dari remaja yang baru tumbuh dan tak pernah tersentuh.


Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian nya, melainkan mata nya yang melihat ke arah perut yang begitu ramping dan terlihat naik turun karna masih mengambil napas itu.


"Kecil sekali?" ucap nya lirih sembari mengusap perut ramping dengan pusat yang juga tampak sempurna.


Tangan nya mengusap dengan lembut namun tidak dengan pikiran nya, "Kalau aku menusuk nya dengan garis horizontal dari ke sini sampai ke sini dengan pisau ku pasti perut mu akan terbelah." ucap nya sembari melihat wajah gadis itu dengan senyuman.


"Pisau ku pasti tembus dan usus mu akan terpotong, itu akan sangat indah kan?" sambung dengan senyuman tipis yang terlihat seperti sedang membayangkan hal yang menyenangkan.


Anna merinding mendengar nya, bagaimana pria itu bisa membayangkan hal yang sangat kejam untuk nya?


Padahal ia sudah melakukan segala cara agar pria itu bisa menyukai nya.


"Sa...saya bisa menjadi indah tanpa anda harus memotong u..usus saya..." ucap nya dengan lidah yang kelu dan suara yang gemetar.


"Bagaimana?" tanya nya sembari melihat ke arah mata biru yang bersinar itu.


Anna diam sejenak, ia tak bisa menjawab nya dengan cepat karna ia pun bingung.


Melihat tak ada reaksi pria itu mulai melepaskan genggaman nya yang membuat kedua tangan kecil itu terkekang.


Ia menunduk dan mencium perut rata yang memiliki aroma khas itu, Anna meremang.


Memang kecupan-kecupan kecil itu terasa geli di perut rata nya namun ia tak tau kapan rasa geli itu berubah menjadi sakit.


"Sir!" Anna mendorong nya dengan kuat hingga membuat pria itu tersentak dan berguling di samping tempat tidur nya.


Tanpa sadar ia malah merubah posisi nya dan duduk di atas pria yang masih mengenakan kemeja itu, tangan nya yang mendorong pun bahkan membuat kancing kemeja pria itu terlepas.


"Apa yang kau lakukan? Kau mau mati?"


Wajah Lucas tampak berubah, ia tak tau jika cumi-cumi nya akan berani mendorong nya.


"I..itu..." ucap Anna tersentak yang langsung gugup dan takut mendengar nya.

__ADS_1


Pria itu bangun dengan satu gerakan membuat Anna belum sempat bangun dan menyingkir sehingga membuat wajah tampan itu menatap nya dengan begitu dekat.


Lucas diam sejenak tanpa mengatakan apapun, iris gadis itu semakin cantik jika ia menatap nya dari jarak yang hanya beberapa Senti saja.


Ia tak membenci jika harus berdekatan dengan kondisi seperti pada seseorang jika sedang bersama gadis di depan nya.


"Aku merasa aneh," ucap nya lirih sembari melihat mata gadis itu dan meletakkan tangan nya di atas paha putih yang menjadi duduk di pangkuan nya itu.


"A..aneh?" tanya Anna dengan memaksa senyum nya walau suara nya selalu gagap dan gemetar.


"Rasa nya sedikit panas di sini..." bisik nya sembari mulai menj*lat dan mengigit teliha gadis itu.


Lagi-lagi aroma khas gadis itu memabukkan nya dan membuat nya melupakan sejenak beberapa masalah nya.


Tangan nya yang lain terus meraba punggung gadis itu, sesuatu yang kasar itu mengenai jemari nya.


Bukan bekas sayatan yang ia berikan Melikan bekas tikaman dari pisau yang harus nya cukup tajam dan karna tak pernah mendapat perawatan hingga membuat nya berbekas sampai saat ini.


"Siapa yang melakukan ini?" bisik nya sembari melepaskan telinga gadis itu yang sudah memerah karna gigitan.


Anna diam, ia tau apa yang sedang di tanya pria itu karna merasakan tangan pria itu yang menyentuh bekas luka nya.


"Sa..saya hanya terjatuh dan tanpa sengaja terluka..." ucap nya lirih.


Ia menarik napas nya dan memejam sejenak, mimpi terburuk nya akan terus datang jika seseorang menyentuh bekas luka nya.


Lucas tak mempercayai nya, ia sangat tau bekas luka yang di timbulkan dari pisau karna ia memang selalu bermain dengan benda tajam itu.


"Kau mau aku membunuh nya? Aku bisa buat boneka dari kulit nya kalau kau mau." ucap Lucas sembari menarik wajah nya dan menatap ke arah warna biru yang bersinar itu.


"Kenapa?" tanya gadis itu dengan mata yang berkedip.


Walaupun terlihat mudah dan bisa bergaul dengan siapa saja namun ia tau satu hukum yang pasti.


Tak ada satupun yang gratis di dunia ini!


"Kenapa anda mau melakukan nya? Jika memang ada yang melukai saya dulu bukan nya itu bukan masalah untuk anda." tanya gadis itu yang menatap dengan bingung.


"Aku kesal, rasa nya kesal." ucap pria itu dengan datar.


Ia tak tau dan bahkan tak bisa menjawab apapun, rasa nya ia hanya merasa kesal dan ia tak tau kenapa merasa kesal pada sesuatu yang bukan urusan nya.


"Tapi aku penasaran..."

__ADS_1


"Kau punya wajah yang seperti apa?" tanya pria itu lirih sembari mulai menyentuh wajah gadis itu dari mata, pipi, dan hidung mancung nya.


__ADS_2