
4 Hari kemudian
Mansion Damian
Mata biru itu menatap berbinar pada perhiasan yang tampak cantik dan berkilau.
"Ini untuk saya?" tanya nya yang menunjuk ke arah kalung yang terlihat dengan bentuk sederhana namun juga begitu mewah.
"Ya, selamat ulang tahun." jawab pria itu yang mengambil kotak perhiasan berisi hadiah nya dan memasangkan kalung yang begitu cantik itu.
Sudut bibir gadis itu naik, ia tersenyum dan membuat nya mengingat sesuatu di masa kecil nya.
Walaupun memiliki ibu yang selalu depresi dan terkadang menyerang nya secara fisik namun setidak nya di setiap hari ulang tahun nya ia selalu menerima hadiah dan kue.
"Kau suk-"
Lucas mengernyit, ia berbalik dan melihat mata biru itu yang berkaca.
"Kau menangis?" tanya nya saat menatap wajah gadis itu.
"Tidak, saya senang..."
"Saya hanya teringat dengan ibu saya saja," jawab Anna dengan kembali tersenyum.
Ia menunduk memegang kalung yang terpasang di leher nya, jujur ia merasa senang karna sekarang ada yang kembali mengingat ulang tahun nya dan mendapatkan hadiah lagi.
"Kau mau turun? Aku sudah belikan cake nya untuk mu, dan nanti jam 10 kita akan pergi." ucap Lucas yang mengajak gadis itu ke lantai satu.
"Cake?" Anna bertanya ulang dengan mata yang tampak semangat.
Kaki gadis itu tampak turun dari tangga dengan riang di bandingkan menggunakan lift.
Cake yang bewarna putih penuh dengan cream dan buah sebagai hiasan itu tampak sudah terpotong.
Lucas menyadarkan dagu nya dengan satu tangan saat melihat gadis itu makan dengan riang.
"Makan lagi," ucap nya yang menawarkan gadis remaja yang tampak senang bahkan sampai lupa dengan janji yang di ucapkan saat ulang tahun nya.
"Anda tidak mau Sir?" tanya Anna yang menatap ke arah pria yang hanya melihat nya tanpa menyentuh cake nya.
"Tidak," jawab Lucas singkat sembari mengusap cream yang masih berada di ujung bibir gadis itu.
"Dan hari ini jangan gunakan nada dan bicara formal pada ku, apa lagi saat malam nanti." sambung nya.
Anna memiringkan kepala nya, lalu jika bukan panggilan formal, apa yang harus ia gunakan?
"Nama?" tanya nya menatap ke arah pria tampan itu dengan mata biru nya yang terlihat bingung.
"Anak pintar," jawab Lucas dengan senyuman kecil sembari mengusap kepala gadis itu.
"Tidak apa-apa kalau saya panggil begitu?" tanya Anna sekali lagi dengan bingung karna selama ini ia sudah terbiasa berbicara formal seperti pada atasan nya ketika bersama dengan pria itu.
"Ya, Say my name." ucap pria itu dengan senyuman tipis menanti nama yang keluar dari mulut yang bulat.
Anna masih diam, ia berhenti memakan cake nya dan berpikir apakah pria itu tengah mencari kesalahan nya.
"Let me hear you, say my name." ucap Lucas sekali lagi pada gadis itu.
Bibir yang memiliki warna merah muda itu mulai terbuka, "Luc..." ucap nya lirih yang masih terasa canggung setelah selama berbulan-bulan ia berbicara formal.
"Pintar," ucap Lucas yang beranjak mengecup ujung bibir gadis itu.
Anna berkedip, ia terdiam beberapa saat namun ia tak mendorong pria itu menjauh.
......................
Hotel
"Wah!" Mata biru itu menatap dengan rasa kekaguman sekali lagi.
Kamar yang di pesan untuk nya memiliki satu privat kolam di teras nya, interior yang bagi nya mewah dengan banyak dinding kaca membuat semua sinar mentari masuk.
"Sir?" panggil nya tanpa sadar walau pria itu sudah menyuruh nya untuk memanggil informal.
"Nanti kita ke pantai nya?" tanya Anna dengan senyuman yang tampak ceria dan begitu senang.
"Setelah kau memanggil ku dengan benar," jawab Lucas yang ingin membiaskan gadis itu dari siang untuk memanggil dengan nama nya sebelum nanti ia melakukan nya.
Anna terdiam sejenak, ia menelan Saliva nya dan menatap ke arah pria itu sekali lagi.
"Luc?" panggil nya lirih yang tak membantah dengan alasan canggung dan menurut begitu saja.
"Ya? Kau mau sesuatu?" tanya pria itu dengan senyuman simpul nya dan mendekat pada gadis itu.
"Nanti kita ke pantai?" tanya nya sekali lagi dengan senyuman yang tampak begitu cerah.
Lucas mengangguk kecil dengan senyuman di wajah nya.
...
Pantai
Suara ombak yang turun dan buyar saat sampai di bibir pantai membuat gadis itu tertawa.
Ia mengatakan pakaian yang entah mengapa bisa cocok dengan suasana nya.
Dress berwarna putih yang memiliki panjang selutut dengan kedua pita tali yang terikat di bahu nya.
Kaki yang putih itu tampak dengan senang berjalan dan melompat untuk meninggalkan tapak kaki nya dan kemudian habis di sapu dengan ombak.
Wajah yang tersenyum saat merasakan air yang menyapu kaki nya dengan cahaya mentari yang hangat namun tak menyengat sama sekali dengan angin yang bertiup cukup kencang sampai membuat rambut nya yang tergerai berkibar.
"Sudah mulai sore, kita kembali?" tanya Lucas yang kali ini berjalan mendekat setelah ia menunggu dan melihat di bibir pantai yang tak tersapu ombak.
Anna menoleh, wajah nya tampak sedikit lesu seperti anak kecil yang di suruh pulang ketika tengah bermain.
"Baik, lima menit lagi." ucap nya membuang napas nya membiarkan gadis itu untuk kembali bermain.
Anna tersenyum ia mendekat pada pria yang seakan tak ingin terkena air laut itu.
"Buka sepatu nya, Luc juga main!" ucap nya yang tak perlu waktu lama untuk memanggil nama pria itu karna ia memang sering memaki nya di dalam hati.
"Aku di sini saja," jawab Lucas singkat pada gadis remaja itu.
"Sedikit saja, nanti kita main di kolam hotel juga!" ucap Anna dengan senyuman cerah tanpa memberikan maksud untuk mengundang pria itu.
Lucas menaikkan satu alis nya menatap ke arah gadis itu, senyuman yang cerah dan mata yang tampak tak memiliki n*fsu kotor seperti tak mengerti arti ucapan nya.
Ia menaikkan sudut bibir nya dengan senyuman simpul.
"Baik, tapi nanti malam kau harus mau bermain dengan ku." jawab Lucas yang menuruti gadis itu.
__ADS_1
Anna sedikit mengernyit namun ia mengangguk dan tampak setuju begitu saja karna hari ini tengah merasa bahagia.
Sekarang Lucas sudah berdiri di samping gadis itu, tangan nya menggenggam tangan kecil yang berada di samping nya.
"Kaki Luc lebih besar," ucap Anna yang tertawa kecil melihat kaki nya yang kecil dan putih itu seperti kaki anak-anak saat bersama dengan pria itu.
"Iya, kau kecil sekali ternyata." ucap Lucas lirih yang malah membayangkan hal yang lain di kepala nya.
...
Hotel
Mentari mulai tenggelam, gadis itu langsung beranjak keluar ke arah teras nya bahkan sebelum makanan nya habis.
"Kau mau bermain di kolam kan tadi?" tanya Lucas yang menarik satu tali di bahu gadis itu.
"Iya? Eh?" Anna tersentak, pria itu menarik tali di dress nya dan membuat nya menoleh.
"Luc? Tunggu, ini bukan pakaian yang pakai-" ucap nya yang terpotong saat pria itu menarik kedua tali di dress nya dan meloloskan nya hingga jatuh.
Anna memundur secara refleks sembari menutup kedua dada nya yang tak memakai pelindung itu karna memang dress yang ia kenakan sudah memiliki bantalan nya sehingga ia tak perlu lagi memakai br*.
"Kenapa? Kau bisa mandi di sana dengan seperti ini saja." ucap nya yang menarik tangan gadis remaja itu untuk mendekat.
"Tapi..." gumam nya lirih yang merasa ragu.
"Di sana juga banyak yang hanya memakai bik*ni atau membiarkan bagian atas nya terbuka, kan?" tanya nya sekali lagi karna memang pantai adalah tempat di mana banyak orang yang hanya memakai sedikit kain untuk menutupi tubuh nya.
Anna terdiam sejenak, walau pun yang di katakan pria itu benar namun ia tetap saja tak terbiasa sama sekali karna ia saja baru ke pantai dua kali.
Pertama dengan ibu nya dan kedua dengan pria yang berada di depan nya.
Lucas tersenyum tipis, ia mendekat sekali lagi dan melepaskan tangan kecil yang menutupi Piramida yang indah itu.
"Tidak apa-apa, lagi pula di sini hanya ada aku kan? Aku juga sudah melihat semua nya." ucap nya yang membuka tangan gadis itu.
"Ta..tapi tetap saja a..aku malu..." ucap Anna lirih.
Pria itu tersenyum tipis, ia mengecup lengkung leher gadis itu sekilas dan terdengar suara kecupan.
Anna menengandah menatap ke arah pria yang lebih tinggi dari nya itu.
"Kau bilang mau bermain di kolam kan? Sana masuk." ucap nya membalik tubuh gadis itu dan memukul bok*ng yang sekal itu.
Anna menoleh ke belakang, ia memang memiliki pengalaman yang buruk dengan air dan takut tenggelam karna ia tak bisa berenang.
Namun ada kala nya rasa takut akan ingatan dan kenangan buruk nya dengan air kalah dengan rasa penasaran nya.
Tangan nya memegang tangga kolam itu dan turun secara perlahan, rasa dingin masuk ke dalam tubuh nya.
Permukaan kulit nya untuk sejenak naik seperti stroberi ketika menyentuh air.
Ia tersenyum dan menoleh ke arah pria yang tadi berbicara dengan nya.
"Eh?" Mata biru nya menatap ke arah pria yang membuka pakaian nya dan hanya mengenakan cel*na dalam sama seperti nya saja.
"Kau tadi bilang bermain bersama di kolam kan?" tanya Lucas dan ikut masuk ke kolam tanpa turun dari tangga.
Byur!
Air yang jernih dan terasa dingin itu langsung berserak, gadis itu basah seketika. Ia mengusap wajah nya dan menatap ke arah pria yang sudah berada di dekat nya.
"I..itu... aku ta..takut tenggelam..." ucap Anna lirih yang tak bisa mengatakan jika dulu ia pernah di celupkan di bathtub kamar mandi saat masih kecil dan bahkan saat belum masuk sekolah dasar namun terus meninggalkan rasa takut.
Lucas tersenyum simpul, ia mendekat dan memegang kaki gadis itu.
"Kalau begitu seperti ini saja, kau tidak akan tenggelam." ucap nya yang membuat kaki gadis itu memeluk pinggang nya dan meletakan tangan kecil itu ke pundak nya.
"Ini..." Anna menatap ke arah tangga kolam yang sudah menjauh dari nya.
Tentu karna ia takut untuk menginjak dasar kolam yang akan membuat diri nya tenggelam sampai ke hidung nya itu karna ia memiliki tubuh yang pendek ia terus berusaha memanjat pria yang menjadi sandaran nya saat ini.
Lucas tersenyum, napas nya mulai terasa berat saat kulit halus gadis itu melekat dan terus bergerak.
Apalagi bagian bawah nya yang terjepit dan terus bersenggolan dengan peach yang sekal itu.
Anna tak begitu terasa saat ia membuat pria itu mulai bangkit, ia tak tau jika ada tonjolan di bawah b*kong yang semakin membesar.
"Luc?" panggil nya lirih saat pria itu membawa nya ke ujung kolam dan membuat nya bersandar di dinding nya.
Tak ada jawaban atau balasan apapun dari panggilan nya.
Humph!
Bibir ranum merah muda itu di lahap itu bahkan sebelum ia bisa protes.
Tangan pria itu mendorong bahu nya pelan menjauh agar memberikan ruang untuk dapat meremas Piramida yang lembut dan runcing itu.
Namun Anna seakan mempertahankan posisi diri nya karna takut jatuh dan tenggelam, yang membuat nya semakin menyilangkan kaki nya di pinggang pria itu.
Lucas tersentak, ia membuka mata nya sejenak saat ia tengah mel*mat bibir ranum gadis remaja itu.
Engh!
Anna tersentak, tangan besar pria itu meremas Piramida dengan kuat sampai membuat nya tersentak namun ia tak melepaskan kaki atau tangan nya sama sekali.
Lucas tersenyum dalam hati melihat gadis itu yang kesulitan namun tak bisa melepaskan tubuh nya.
Ciuman yang semakin dalam dan tangan tangan yang terus meremas Piramida yang lembut itu dengan memainkan ujung nya sesekali.
Anna mengernyit, saat ia merasa sesak dengan ciuman yang membuat nya meleleh karena pria itu sudah semakin pandai memainkan lidah dan bibir nya.
Lucas melepaskan ciuman nya, ia menundukkan tubuh nya untuk meraih leher gadis itu sembari terus memainkan ujung Piramida gadis itu.
"Kau mau naik?" tanya nya berbisik dengan suara yang berat dan tampak gemetar saat tengah menahan hasrat nya yang sudah tak sabar ingin memakan tubuh gadis itu.
Anna tanpa sadar mengangguk, Lucas pun membawa nya naik dari kolam dan menidurkan nya di kursi panjang tempat bersantai itu.
"Apa ini? Cairan kolam?" tanya nya dengan senyuman simpul saat melepaskan kain segitiga yang berwarna putih itu.
Ia sengaja tak menyentuh tubuh gadis itu sejak hari setelah datang bulan nya dan itu dua Minggu yang lalu.
Yang di inginkan nya adalah gadis itu sedikit menggila saat kembali merasakan sentuhan nya.
"Eng?" Anna menoleh, ia menatap dengan wajah nya yang memerah merasa panas walaupun kolam yang tadi ia masuki memiliki suhu yang dingin.
Lucas beranjak naik dan mengecup lengkung leher gadis itu, tangan nya bak seorang pianis handal yang menggelitik dan bermain di bawah sana.
"Ahh! S.. Sir..." ucap Anna lirih yang secara tak sadar memanggil dengan nama yang biasa ia gunakan saat pria itu mencoba menggunakan satu jari nya.
Rasa panas dan sesuatu yang membuat nya merasakan sengatan listrik dengan sedikit rasa sakit membuat bibir nya protes.
__ADS_1
Ia memang sering meringis atau merasa sedikit perih jika pria itu memasukkan jemari kekar nya.
"Apa? Kau belum belajar rupa nya?" tanya Lucas yang mendengar panggilan formal gadis itu.
Ia tersenyum simpul dan menambah satu jemari nya lagi karna ia memang perlu melonggarkan gadis itu lebih dulu agar mampu menerima nya.
Anna tersentak, tubuh nya bagai busur panah yang terkejut dan langsung memegang tangan yang bergerak bermain di bawah itu.
"Sa..sakit..." ucap nya lirih yang menatap mata yang tampak melihat nya dengan penuh hasrat yang berkobar itu.
"Tapi kenapa semakin basah?" tanya pria itu berbisik.
Anna memalingkan wajah yang memerah begitu mendengar nya, ia memang merasa sakit namun ia juga merasakan rasa yang membuat nya merasa ketagihan.
"Pe... pelan..." pinta gadis itu lirih yang tau tak bisa menyingkirkan tangan yang membuat nya merasa aneh dan perih itu.
Lucas tak mendengarkan sama sekali, ia malah beranjak turun, ia ingin sedikit mengurangi protes di bibir mungil yang bulat itu.
Cup!
"Ungh!"
Anna tersentak, ia merasakan sesuatu yang lembut dan panas tengah mel*mat hingga membuat nya merasa menggila.
Keheningan di tempat yang indah dengan suara yang indah juga saling bertemu dan memberikan perpaduan.
Tubuh gadis itu terlihat ingin menunjukkan tanda-tanda nya, ia gemetar dan seakan ingin menahan kepala pria itu.
Namun,
"Kita pindah ke dalam," ucap Lucas yang melepaskan semua nya.
"Hah..."
"Hah..."
Anna tersentak, ia ingin meraih pria itu lagi untuk menyentuh kembali karna ia barusan hampir mencapai penyelesaian nya.
Lucas tersenyum, melihat gadis itu meraih tangan nya.
"Kenapa? Kau mau coba rasa diri mu sendiri?" tanya nya yang memasukkan jemari nya ke dalam mulut gadis itu.
"Humh..." Anna menatap dengan sayu.
Ia masih gadis remaja biasa yang tak mengerti dan tau hal seperti itu sebelum bertemu dengan pria di depan nya.
"Anak pintar," ucap nya yang suka sisi gadis itu yang sedikit liar.
Ia menggendong tubuh kecil dan membawa nya ke kamar, menuangkan white wine ke dalam mulut nya dan kemudian mencium gadis itu.
Anna tersentak, ia hampir tersedak saat pria itu memberikan nya white wine di dalam ciuman.
Walaupun usia nya sudah mencapai usia dewasa namun tetap saja aturan dalam minuman beralkohol adalah usia 21 tahun.
Uhuk!
Gadis itu terbatuk begitu ciuman yang membuat white wine itu tertelan dan tumpah sebagian.
"A.. aku kan belum boleh minum..." ucap nya lirih yang menutup mulut nya sembari menatap ke arah pria itu.
"Kenapa? Kau kan hanya berciuman dengan ku? Bukan minum kan?" tanya Lucas pada gadis itu dan membuat nya tak bisa membantah.
Anna diam, ia memalingkan wajah nya dari tubuh yang penuh otot dan tampak tak mengenakan apapun itu hingga membuat nya dapat melihat permen besar yang sering ia hisap.
"Tapi..." ucap Lucas yang menoleh melihat ke arah white wine di atas meja.
Anna menengandah melihat kembali ke arah pria yang berdiri di dekat meja dengan sofa panjang itu.
"Alkohol punya pain killer kan? Kau mau?" tanya nya yang mendekat dan membawakan sebotol white wine pada gadis itu.
"Kau mau tidak mau merasa sakit?" tanya nya yang memegang rahang gadis itu dan membuat pipi yang bulat itu menggembung bagaikan ikan.
Anna menggeleng dengan sendiri nya, siapa yang mau rasa sakit?
"Kalau begitu buka mulut mu," ucap nya yang mulai memberikan white wine pada gadis itu.
Ia bermaksud baik ingin gadis itu tak begitu merasa sakit di pengalaman pertama nya, namun mencekoki anak yang belum cukup umur untuk minuman beralkohol juga sebuah kesalahan.
"Uhuk!"
Anna terbatuk, white wine itu tumpah sebagian membasahi tubuh nya.
Mata nya semakin sayu saat ia mulai setengah mabuk dengan alkohol yang berkadar rendah itu.
Lucas meletakkan botol minuman itu di nakas samping ranjang itu, ia kembali menghujani tubuh kecil itu dengan ciuman nya sekali lagi.
"Say my name?" bisik nya lirih saat gadis itu mulai metacau ketika tangan nya memainkan tubuh kecil yang masih polos itu.
"Lu..Luc... lagi..." ucap nya lirih tanpa ia sadari saat ia sudah berada di luar akal sehat nya ketika mabuk dan mendapat rangs*ngan secara bersamaan.
Lucas tersenyum, sekali lagi ia tak membiarkan gadis itu mencapai penyelesaian nya, ia menarik tubuh kecil itu dan membuat gadis itu berada di atas nya.
"Lakukan sendiri, kalau kau mau kau harus mendapatkan nya sendiri." ucap nya dengan senyuman simpul walau ia sebenarnya juga sudah sangat tidak tahan.
Anna menoleh, pria itu memberikan posisi yang tepat untuk nya. Tubuh nya bergerak sendiri mencari kepuasan yang tak di berikan hingga selesai.
Lucas memegang lampu gantung yang berdiri itu agar tetap bertahan di posisi nya.
Ia sudah berada di ambang batas nya, gadis remaja itu masih seperti gadis polos yang tak tau jika ia harus segara memasukkan walau posisi nya sudah mendukung.
Tap!
"Akh!"
Anna meringis, tangan pria itu menarik pinggang nya dengan kuat ke bawah membuat nya menelan semua lampu gantung pria itu.
Wajah cantik nya meringis menahan sakit, rasa n*kmat nya seketika hilang dan menjadi perih.
"Sa..sakit..." ucap nya lirih walau ia sudah mabuk dengan white wine yang di berikan pada nya.
Ia ingin langsung menariknya dan bangun namun pria itu menahan nya, Lucas bergetar sejenak, sengatan listrik mengalir di seluruh aliran darah nya.
Ia merasakan sesuatu yang berkali-kali lipat lebih menyenangkan di bandingkan hisapan bibir kecil itu.
Ia pun membalik gadis itu hingga berada dalam kungkungan nya.
"Sa..sakit... Le..lepas..." ucap nya yang mendorong pria itu dengan tangisan lirih yang meringis tak mampu menahan sesuatu yang besar untuk pertama kali.
Lucas tentu tak akan mendengarkan gadis itu karna ia tau tubuh seseorang akan mudah beradaptasi.
"Happy Birthday, Anna..." bisik nya lirih dengan suara gemetar merasa kenikm*tan di tubuh gadis remaja itu.
Lucas mencium buliran bening yang jatuh di ujung mata gadis itu sembari mulai bergerak secara perlahan lebih dulu.
__ADS_1