
Melihat gadis itu yang tak beranjak sama sekali membuat kesabaran pria itu ingin habis.
"Kau ini jadi tidak sih? Kalau tidak sini," ucap nya sembari menarik tangan gadis itu yang terluka karna sayatan sebelum nya.
Auch!
Anna meringis ketika pria itu tiba-tiba menarik nya, "Sa-saya kan malu..." ucap nya lirih yang tak ingin pergi karna sudah merasa seperti di ujung namun ia tak bisa buang air karna pria itu terus memperhatikan nya.
"Kenapa? Yang lain saja sampai langsung- Ck! Apa aku harus bilang dua kali?!" tanya Lucas dengan kesal.
"Sa-saya kan beda, anda sendiri yang bilang begitu kan?" tanya Anna dengan gugup.
"Jadi mau mu apa?" tanya pria itu mulai melunak sembari melepaskan tangan nya yang penuh dengan darah gadis itu.
"Jangan lihat saya..." gumam Anna lirih sembari merasakan takut.
"Ck! Cepat selesaikan dan keluar," ucap Lucas sembari menutup pintu kamar mandi tersebut.
Anna bernapas lega melihat nya, ia melihat tangan yang penuh akan polesan dari darah nya sendiri.
Wajah putih nya yang pucat ketika ia bercermin, "Membuat dia menyayangi ku sebagai peliharaan saja juga tidak cukup, aku tetap akan mati..." gumam nya yang sadar ia bisa saja kehabisan darah karna pria itu ingin menyayat nya setiap saat.
Otak nya berputar mencari cara tercepat agar ia bisa selamat. Ia tak ingin terus bersikap seperti peliharaan yang patuh namun juga tidak ingin mati lebih cepat dan parah nya lagi tersiksa sampai ujung napas terkahir nya.
"Lama sekali? Ku hitung satu sampai lima kalau tidak buka, aku masuk." ucap Lucas yang memang tak suka menunggu.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Li-
Dasar psikopat sialan!
Batin Anna sembari membuka pintu nya dengan cepat, ia bahkan belum selesai membenarkan pakaian nya dengan tepat.
"Bentuk seperti cumi-cumi kering, gerak seperti siput!" decak Lucas sembari menarik tangan gadis itu dan kembali membawa nya ke rantai sebelum nya.
__ADS_1
"Mata mu berubah lagi? Kenapa?" tanya Lucas ketika memasangkan kembali belenggu rantai di kaki gadis itu.
Wajah kesal, takut, dan cemberut menyatu menjadi padu namun pria itu tak bisa membedakan nya melainkan sorot dan tatapan mata yang terlihat berbeda.
"Itu, karna saya sed-"
"Tertawa," perintah pria itu tanpa mendengarkan jawaban dari gadis cantik yang selalu ia katai cumi kering.
Sial! Ketawa aja lah dari pada mati!
"Hehehe..." tawa kecil nya yang mulai terdengar dengan raut wajah yang berubah drastis.
"Penurut nya," gumam Lucas yang tersenyum simpul.
Walaupun biasa nya ia selalu memiliki wajah datar namun ia sudah tersenyum dua kali hari ini saat bertemu dengan gadis cantik itu.
"Hum..."
"Sir? Can I ask you one question?" tanya nya dengan ragu pada pria yang tengah duduk di depan nya sembari memperhatikan mata kesukaan nya itu.
"What is that?" ucap pria itu dengan nada acuh tak acuh.
"Kalau hanya suka darah, kenapa anda tidak pakai darah di rumah sakit saja? Sekantung darah ka-"
Anna langsung terdiam, hawa yang menekan nya membuat nya tak bisa berkata-kata.
"Sa-saya kan hanya tanya," gumam nya merasa takut.
Namun pria itu tak bergeming tatapan maut masih menatap nya dengan tajam seperti mengatakan jika hari ini adalah hari terakhir nya.
Ia pun mendekat, kembali menjatuhkan kepala nya ke paha pria itu lalu memegang tangan kekar pria itu.
"I'm sorry, don't be mad, Sir..." ucap nya dengan suara yang lebih lembut dan merayu pria itu.
Lucas pun membuang napas nya dan menetralkan rasa amarah nya.
Memang benar jika ia bisa menggunakan darah yang di siapkan di rumah sakit namun ia kurang menyukai nya karna memiliki warna yang berbeda dari darah segar yang baru keluar.
Walaupun jika di mata orang biasa tak akan ada perbedaan nya berbeda dengan mata nya yang hanya bisa melihat sebagian warna secara spesifik.
Ia pun beranjak berdiri, gadis itu langsung mengangkat kepala nya dan melihat ke arah pria itu.
__ADS_1
"Anda sudah mau pergi, Sir?" tanya Anna yang merasa senang dalam hati.
"Hm," jawab Lucas singkat dan ingin melangkah keluar.
Langkah nya terhenti, ia melihat ranjang kosong di tempat itu dan tempat di mana gadis itu terduduk di lantai tempat ia di rantai.
Ia pun berbalik dan membuka rantai gadis itu, Anna tersentak. Ia merasa takut karna setiap detik yang ia habiskan bersama pria itu bagaikan cerita horor.
Clak!
"Kau tidur di sini," ucap Lucas yang memindahkan rantai gadis itu ke pinggir ranjang yang membuat nya dapat tidur di atas kasur empuk itu.
Setelah itu pun keluar dan meninggalkan gadis itu sendiri.
Melihat pria yang tampan namun mengerikan itu sudah keluar Anna langsung mengeluarkan ekspresi meringis nya dengan bebas.
Tangan yang semakin terasa perih dan sakit, darah yang belum berhenti sama sekali membuat nya menutup dengan selimut berwarna putih di ranjang itu.
"Sakit sekali, gimana aku bisa hidup sampai besok?" gumam nya yang yang merasa takut hingga gemetar.
...
Lucas memperhatikan layar laptop di depan nya, beserta dengan hologram produk baru buatan perusahaan nya.
Produk yang bahkan belum di luncurkan namun sudah di tentang oleh hukum karna melanggar HAM.
Sebuah chip yang bisa di tanam di dalam tubuh seseorang dan bisa mengetahui lokasi serta mendengar seperti sebuah penyadap di dalam tubuh.
Walaupun mendapatkan pro dan kontra namun beberapa petinggi sudah mulai memesan nya, ia hanya perlu menjalankan tes hidup alih-alih mencoba menggunakan alat.
Dan ada beberapa fitur baru yang ingin ia tambahkan namun belum di publikasi kan hanya beberapa peneliti yang mengetahui nya.
Fitur yang dapat memberikan efek rasa sakit yang luar biasa ketika chip tersebut di aktifkan dan membuat hewan buas bahkan manusia pun langsung tunduk seketika.
Sebenarnya chip tambahan itu hanya ingin ia pasangkan pada orang-orang yang tak ia sukai agar nanti nya bisa ia kendalikan dan siksa dengan rasa sakit mengerikan.
Tangan nya mengetuk meja kerja beberapa kali hingga pikiran mengarah ke cumi kering yang ia sayangi baru-baru ini.
"Apa ke dia saja?" gumam nya lirih.
Selain menjadi percobaan tes hidup ia juga dapat mengetahui apa saja yang di lakukan gadis itu saat melepaskan nya.
__ADS_1
Menggenggam seseorang dan dapat mengawasi sekaligus membuat tunduk. Walaupun menyukai namun tetap saja pria yang bahkan tak mengenal emosi itu bisa membunuh 'Peliharaan' nya kapan saja.
"Kejutan apa lagi yang akan ku dapatkan nanti..." gumam nya sembari menarik secarik smirk tanpa sadar saat membayangkan chip yang sudah tertanam di tubuh gadis itu.