Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Ma? Sakit...


__ADS_3

Dua Minggu kemudian


Sekolah


Anak kecil itu diam, ia menatap ke arah sang guru yang menjelaskan.


Tak seperti anak lain nya yang riuh ia tak mengatakan apapun, ia hanya diam dan begitu tenang.


"Estelle? Coba lihat mana yang tadi Estelle buat?" tanya sang guru yang menatap ke arah anak tampan itu.


Estelle menunjukkan prakarya yang ia buat sesuai dengan yang di ajarkan.


"Bagus," ucap nya yang tersenyum dan kemudian kembali ke tempat nya semula.


"Nah sekarang kita coba menggambar ya, kali ini gambar tentang orang yang paling kita suka, Mengerti?" tanya sang guru dengan nada ceria.


"Mengerti!"


Anak-anak TK itu menjawab serempak kecuali salah satu anak yang hanya diam namun tentu ia juga akan mengerjakan apa yang guru nya minta nanti nya.


Sang guru pun tersenyum, ia membantu anak-anak itu untuk mengeluarkan pensil, pewarna dan buku gambar nya.


Waktu berlalu, anak-anak yang mungil dan kecil dengan penuh sifat nakal dan polos itu mulai menggambar.


"Estelle gambar apa?" tanya sang guru yang datang mendekat.


"Mama," jawab Estelle singkat yang memang tampak menggambar seorang wanita dengan rambut pirang yang panjang.


Miss Calia tersenyum sejenak mendengar ucapan dari anak kecil itu.


"Estelle? Kenapa tidak gambar Papa juga? Di sini kan bisa di isi sama Papa," tanya nya yang menatap ke arah anak kecil itu.


"Estelle ga sayang Papa," jawab nya dengan polos karna ia memang hanya terfokus pada ibu nya saja.


Dan alasan ia tak pernah meminta merengek untuk pulang lagi pun karna ia tidak ingin melihat ibu nya mengeluarkan air mata dan membuat senyuman cantik itu menghilang.


"Kenapa? Papa kan juga pasti sayang Estelle?" tanya Miss Calia yang mencoba mengatakan jika kedudukan orang tua itu sama.


"Papa juga ga sayang Estelle kok, yang sayang Estelle cuma Mama sama nenek," jawab nya dengan polos sembari terus menggambar.


Miss Calia tak mengatakan apapun lagi, ia memilih diam dari pada tau tentang kehidupan anak konglomerat yang berada di luar jangkauan nya.


"Mama Estelle cantik ya?" tanya nya yang mengubah pembicaraan.


Di antara anak-anak lain di tempat itu ia lebih sering mengajak bicara Estelle karna hanya bayi laki-laki itu lah yang begitu pendiam dari semua anak yang pernah ia temui.


"Iya, Mama cantik!" jawab nya yang langsung setuju pada ucapan wanita itu.


Miss Calia menatap sejenak ke arah gambar yang hampir selesai itu, memang tak begitu bagus karna yang membuat pun masih anak berumur 4 tahun.


"Ini apa? Tali sepatu Mama?" tanya nya yang menatap ke arah garis panjang yang baru di buat di salah satu bentuk yang harus nya menjadi kaki.


"Gelang, Mama pakai gelang di kaki bial ga kemana-mana." jawab Estelle yang menjelaskan.


Tentu anak-anak akan menggambar dan membuat apa yang biasa ia lihat.


"Gelang? Di sini? Di kaki? Panjang?" tanya wanita yang berprofesi sebagai guru itu.


Estelle mengangguk dan melihat ke arah sang guru, "Papa yang kasih Mama gelang nanti kalau Papa pulang gelang Mama balu di lepas, abis itu Mama bisa main sama Estelle."


Miss Calia masih bingung mendengar nya, entah gelang apa yang di maksud namun ia memikirkan satu hal.


Wanita tak mengatakan apapun lagi, ia hanya mengusap dan mengelus kepala anak mungil itu sebelum beranjak pergi.


Walaupun ia memikirkan sesuatu yang mengarah ke tindak kriminal namun ia tak berani melakukan apapun karna tau lawan nya siapa.


Dan tentu ia akan memilih untuk bungkam dengan sendiri nya, tak tau bagaimana kehidupan ibu dari murid nya yang tampan dan menggemaskan itu.


......................


Mansion Damian.


Anna mengusap kepala mungil putra nya yang sudah kembali dan membawakan nya beberapa foto serta gambar yang ia ambil.


"Ma? Hali ini boleh makan cake ga?" tanya nya yang menatap ke arah sang ibu.


"Estelle mau cake? Nanti kita tanya Papa ya? Boleh keluar atau engga," ucap Anna yang menjawab pertanyaan putra nya karna ia juga sebenarnya ingin keluar rumah.


"Sekalang kan gelang nya udah di lepas, kita kelual aja yuk Ma." jawab Estelle pada sang ibu.


"Sekarang? Kita main di taman belakang aja gimana? Paviliun belakang," ucap Anna sekali lagi pada putra nya karna ia tak bisa membawa keluar.

__ADS_1


"Kenapa bukan kita aja? Papa itu tadi pelgi ga halus tanya kita dulu," ucap nya yang menatap ke arah sang ibu.


Anna diam sejenak, ia hanya tersenyum dan kemudian membawa putra nya keluar.


Mansion yang besar dengan banyak bagian yang lebih mirip dengan istana.



Pria itu telah mencari ke segala arah, ia ingin pergi ke salah satu tempat namun ia ingin membawa pasangan nya dan tentu pasangan nya hanya sang istri.


"Sedang apa?" tanya nya yang menatap dengan mata tajam nya dan stelan jas yang sudah rapi.


Anna langsung menoleh, ia menatap ke arah pria itu dan melihat nya.


"Itu..."


"Kami sedang bermain, kamu mau kemana?" tanya Anna saat melihat sang suami sudah rapi.


"Aku sudah memanggil orang-orang yang akan mendandani mu, kau cepatlah bersiap." ucap Lucas yang tanpa mengatakan basa-basi sama sekali.


"Eh? Kita mau ke mana?" tanya Anna yang bingung.


"Ikut saja, lagi pula aku tidak akan membawa mu ke gunung berapi kan?" jawab Lucas yang semakin ketus dan dingin setiap kali ia melihat sang istri dengan putra nya sendiri.


Estelle diam dengan mata nya yang menatap lirih ke arah sang ibu.


"Luc? Na.. nanti kita bisa bawa Estelle keluar tidak? Dia mau makan cake, tapi di cafe nya..." ucap Anna yang memanggil ke arah putra nya.


"Kita akan belikan sewaktu pulang nanti," jawab Lucas yang hanya ingin berpergian berdua namun tak bersama putra nya.


"Ta.. tapi Estelle mau makan di cafe, dia suka kalau makan di tempat langsung..." ucap Anna yang meminta pada pria itu.


"Tidak," ucap nya yang menjawab dengan cepat.


"Sa.. sayang..."


"Boleh ya? A.. aku..." ucap Anna yang bingung harus menawarkan apa karna saat ini ia pun sedang datang bulan dan apa yang bisa ia lakukan terbatas.


Lucas diam sejenak tak bisa mengatakan apapun saat mendengar panggilan gadis itu.


"Baik, aku akan membawa nya nanti tapi kau tetap di mansion." jawab Lucas singkat.


Estelle sejak tadi diam, mendengar ia tak pergi bersama ibu nya membuat nya mulai merasa tak ingin lagi.


Namun berbeda dengan Anna yang semakin suka jika pria itu mengabiskan waktu dengan putra nya agar timbul rasa sayang.


"Ma? Estelle ga mau pel-"


"Estelle nanti pergi sama Papa ya? Makan cake nya yang banyak terus nanti bawain dua buat Mama, yang satu rasa vanila yang satu rasa stroberi ya. Jangan lupa nanti foto yang banyak buat Mana ya?" Potong Anna yang tak tau apa yang ingin putra nya katakan.


Estelle sebenarnya sudah enggan menjawab namun mendengar sang ibu ingin melihat hasil tangkapan gambar nya ia pun mengangguk.


Anna memberikan senyuman dan mungkin senyuman itu sebentar lagi akan runtuh?


......................


Dua hari kemudian


Cafe


Lucas baru bisa membawa anak kecil itu ke tempat yang di mau setelah dua hari.


Ia melihat pemesanan untuk apa yang harus ia beli sedangkan anak kecil itu berduri di samping nya.


"Kau mau apa?" tanya nya yang melihat ke arah mata polos yang dengan wajah imut itu.


"Vanilla sama selobeli," jawab Estelle pada ucapan sang ayah.


Lucas pun menunjuk nya serta membeli minuman yang akan ia gunakan nanti nya.


Ponsel nya berdering di balik jas, ia pun langsung mengangkat nya dan mencoba untuk menjawab.


Kening nya mengernyit, "Apa?" tanya nya dengan wajah yang berubah seperti menunjukkan apa yang ia bicarakan saat ini begitu penting.


Ia pun berjalan sedikit menjauh dari tempat yang ramai sedangkan anak kecil itu hanya berdiri dan menatap nya menjauh.


Estelle diam sampai tubuh nya memutar dan melihat ke arah hewan lucu yang tampak seperti boneka itu melihat nya dan di masukkan ke dalam tas.


Untuk sesaat ia mengira itu adalah boneka sampai hewan menggemaskan itu bergerak.


"Eh?" Mata nya bersinar menatap anak anjing yang hanya sebesar botol cup dan begitu menggemaskan.

__ADS_1


Camera nya mulai beranjak, ia ingin memotret namun seseorang yang memiliki hewan peliharaan itu sudah ingin pergi.


"Tante? Tunggu," ucap nya lirih yang mengikuti hal yang bagi nya menarik tanpa sadar.


Langkah kecil dan mungil nya kesulitan mengejar langkah wanita dewasa yang tinggi itu, tak tau tentang rambu-rambu lalu lintas saat bertepatan jika tempat tersebut berada di persimpangan.


Estelle mencoba mengambil beberapa gambar yang bisa ia ambil walau tentu hasil nya tak akan bisa di lihat.


Sedangkan Lucas masih menelepon, ia membicarakan beberapa hal yang membuat nya menghabiskan sedikit waktu nya.


BRAK!!!


Suara yang keras membuat nya menghentikan telpon nya, ia menoleh.


Tampak beberapa orang mulai berkerumun dan menutupi sesuatu.


Namun ia tak mempedulikan nya karna menganggap itu bukan urusan nya lalu melanjutkan telpon nya hingga selesai lalu menutup nya.


"Anak yang tadi di sini di mana?" tanya nya yang baru sadar jika putra nya tak ada lagi.


Kasir cafe itu tampak bingung namun ia tentu mengatakan tak tau apapun.


"Ck! Menyusahkan!" gumam Lucas yang kesal dan mulai mencari keluar hingga menerobos orang-orang yang terlihat berkerumun dan mulai mendekati ke arah objek yang di tengah nya.


Deg!


Cairan merah kental itu merembes keluar dari tubuh mungil di atas aspal hitam dengan garis putih itu.


Langkah nya terhenti, ia mematung sejenak seperti orang-orang yang berada di sana.


"Kenapa anak itu tiba-tiba menyebarang saat lampu hijau? Astaga! Kasihan sekali? Tapi dia masih sadar kan itu?"


"Sudah ada yang menelpon ambulance! Ya ampun..."


Orang-orang yang berada di sana tampak mendekati nya namun masih belum berani berbuat apapun selain menelpon pihak yang bersangkutan untuk memberikan pertolongan pertama karna mereka takut membuat tubuh mungil itu semakin remuk.


Lucas diam sejenak, ia tak mendekat ataupun mengatakan jika ia adalah ayah dari anak yang terbaring di atas aspal dengan tubuh mungil yang tampak terluka di seluruh tubuh.


*Kalau dia mati tidak akan membuat Anna melihat nya lagi kan?


Aku tidak perlu menyingkirkan nya lagi...


Dia pergi dengan sendiri nya*...


Sedangkan mata abu-abu yang jernih itu menatap ke arah orang-orang yang mengerumuni nya walau ia tak lagi bisa bergerak.


Seluruh tubuh nya merasakan rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan karna rasa sakit nya memnag sedikit hambar dan mungkin jika anak biasa mendapati kejadian yang sama seperti nya saat ini sudah tak akan sadar lagi.


Pendengaran yang samar tak bisa mendengar orang-orang yang mencoba memanggil nya saat rasa fokus nya beralih ke rasa sakit.


Ia menatap seseorang yang ia kenali berdiri di antara kerumunan, tak mendekat ke arah nya dan hanya menatap nya dengan wajah datar dan mata yang dingin.


Bibir nya terkunci tak bisa mengatakan apapun, wajah yang mulai pucat karna darah yang terus menerus keluar.


Embun bening mulai terlihat di mata abu-abu itu beriringan dengan rasa sakit nya yang mulai hambar saat satu persatu anggota tubuh nya mulai kebas.


Mama?


Mama di mana?


Estelle sakit...


Tangan Estelle ga bisa di gerakin, kaki juga...


Kok rasa nya Estelle ga bisa napas ya Ma?


Ma? Kenapa sakit sekali ya Ma? Padahal biasanya Estelle ga rasa in apa-apa kok?


Tadi ada boneka lucu, nanti Mama lihat ya...


Papa di sana Ma, kenapa dia ga kesini ya Ma?


Papa lihat Estelle Ma...


Ma...


Sakit...


Estelle ga bisa napas Ma...


Mau tidur tapi mau dengel Mama baca buku lagi...

__ADS_1


__ADS_2