Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Serangan panik


__ADS_3

Mansion Damian.


Gadis itu diam dan menatap lirih pada pria di depan nya. Tentu ia harus mengatakan sesuatu tentang kelompok nya sebelum pria itu tau dengan sendiri nya dan ia malah mendapatkan hukuman.


"Ada apa? Kau melihat ku terus dari dua jam yang lalu?" tanya Lucas yang menutup laptop nya dan menatap ke arah gadis yang menunggu nya di sofa.


Anna berdiri, ia beranjak mendekat ke arah pria yang masih duduk di meja nya sembari melihat nya itu.


"Kamu udah selesai?" tanya Anna yang beranjak duduk di pangkuan pria tampan itu.


"Kenapa? Kau sudah mengantuk?" tanya Lucas yang mengusap wajah gadis nya dan menatap nya dengan nanar.


"Hum? Belum..." jawab Anna lirih yang sedikit gugup untuk mengatakan tentang kelompok nya yang hanya dua orang dengan pria.


"Lalu? Ada yang ingin kau katakan?" tanya Lucas sekali lagi sembari mengecup ringan pipi gadis itu.


"Aku..."


"Di kampus kan ada pembagian kelompok, terus aku dapat nya sama laki-laki terus juga ga bisa di ganti..."


"Ja.. jadi biar kamu ga salah paham aku ka.. kasih tau duluan..."


Lucas diam tak memberikan reaksi apapun untuk beberapa saat, memang ia bisa membebaskan selagi tak ada sentuhan fisik yang berlebihan atau kebohongan yang membuat nya seperti alasan.


Maka dari itu ia sebelum nya masih setuju untuk menjadi kan gadis itu sebagai bintang.


"Ya, tidak apa. Kerjakan tugas mu di tempat yang ramai dan jangan lakukan sentuhan apapun." jawab Lucas setelah berpikir sejenak.


"Kamu ga marah? Beneran?" tanya Anna dengan mata biru yang bersinar.


Lucas tersenyum kecil, ia mengusap wajah gadis nya dan mengecup bibir nya sejenak.


"Kau khawatir karena itu?" tanya nya yang melihat ke arah gadis bertubuh kecil, berkulit putih susu, dan berambut pirang itu.


Anna menangguk seketika, "Ka.. kalau kamu marah tuh seram..." ucap Anna lirih.


"Padahal aku tidak memakan mu tapi kenapa kau takut?" tanya Lucas dengan wajah yang sama sekali tak merasa pernah melakukan kesalahan setiap kali ia menyiksa gadis itu.


"Ka.. karna seram..." ucap Anna lirih yang tak bisa menjelaskan secara rinci.


"Seram? Padahal aku tidak mengigit mu?" tanya Lucas yang menatap dengan senyuman kecil sembari mulai meraba punggung gadis itu.


"Eh? I.. iya..." jawab Anna lirih yang tersentak saat tangan nakal pria itu.


"Kenapa? Kita lanjutkan di kamar saja?" tanya Lucas sembari menghirup aroma tubuh gadis itu.


Anna meremang, ia dapat merasakan napas hangat pria yang berhembus di leher nya itu.


"Eh?" Ia tersentak, tubuh nya sekaan melayang seketika saya ia merasakan seseorang yang mulai mengangkat nya.


Mata biru itu tampak tersentak dan memandang lirih, ia menatap ke arah pria yang membawa nya ke kamar dan tentu ia tau apa yang ingin di lakukan.


"Ka.. kamu ga lelah? Kan baru siap kerja?" tanya Anna yang mencoba mengelak dengan cara halus saat pria itu menggendong nya.


"Ya, tapi aku tidak bisa tidur nyenyak kalau belum melihat mu memohon," jawab pria itu dengan smirk nya.


Iris biru itu bergetar, wajah nya mulai memerah seperti cumi-cumi rebus karna ia tau pria itu ingin ia memohon seperti apa.


Lucas hanya tersenyum, ia selalu menatap gemas ke arah gadis yang terus saja memberikan nya sesuatu yang baru itu.


......................


Universitas


Perpustakaan


"Kok bisa ada hitung-hitungan nya sih? Kan kita jurusan seni? Bukan seni matematika," ucap gadis itu lirih dengan napas yang di buang kesal.


"Kan memang begini Ann," ucap Gevan yang tertawa kecil melihat keluhan gadis itu.


"Huh..." Anna tampak lesu dan ternyata jurusan yang ia kira mudah pun memiliki penghalang juga.


Kerja kelompok itu mulai berhenti, memang belum selesai secara keseluruhan tapi bagian yang ingin di buat dan di diskusikan sudah selesai.

__ADS_1


Langkah kaki itu melangkah turun dari tangga perpustakaan, Gevan menghentikan sejenak langkah nya ketika ia melihat selembaran festival yang di adakan di universitas nya.


Greb!


"Anna?"


Gevan menyusul dengan cepat dan langsung meraih tangan gadis itu seketika.


"Ya?" Gadis itu berbalik, mata nya yang polos dan wajah yang cantik itu menoleh.


"Kau mau ke sini?" tanya Gevan menawarkan festival itu.


Anna tampak tertarik, seperti godaan yang sulit ia tolak namun seketika bayangan mengerikan datang dan mencegah nya.


"Mau- Eh? Engga!" jawab nya yang awal nya menerima kemudian menolak.


"Ini kan masih berhubungan sama tugas kita? Lagi pula juga masih di kampus kan?" tanya Gevan yang berusaha membujuk.


Anna terdiam beberapa saat, ia pun berbalik dan membuka ponsel nya.


Tentu ia mengabarkan sesuatu pada seseorang dan ingin meminta izin nya.


"Ga di balas?" gumam nya lirih yang melihat pesan nya sudah di baca namun tak kunjung di balas.


Satu menit...


Dua menit...


lima menit...


"Ann? Sudah?" Gevan mulai menyentuh bahu gadis yang membelakangi nya itu saat ia menunggu jawaban.


"Eh? belum- Su.. sudah maksud nya! Aku ga bisa pergi!" ucap nya yang menolak padahal ia ingin pergi.


Walaupun ia pernah sekali datang ke festival bersama dengan Lucas namun ia belum pernah datang ke festival lain nya dan dengan wahana yang berbeda pula.


Gevan sedikit terkejut karna mendengar gadis itu tak mau bermain dengan nya, padahal ia tau sifat yang sangat penasaran dengan hal baru itu.


Langkah nya mengikuti gadis itu dari belakang, gestur tubuh yang menunjukkan ketertarikan tentang ingin mengunjungi suatu tempat dapat di lihat dari mata yang berulang kali menoleh pada arah di mana banyak permainan tersebut.


Greb!


"Kita harus ke sana, ini kan kepentingan tugas kita." ucap nya yang beranjak menyeret gadis itu.


"Eh? Gevan!" Anna memekik lirih dan terkejut saat pria itu dengan enteng nya membawa nya begitu saja.


......................


Sementara itu.


Wanita itu tersenyum sembari melihat ke arah pria di depan nya.


"Kalian juga di sini?" tanya nya dengan senyuman tipis namun tampak formal.


Tak ada jawaban, hanya satu anggukan dengan tatapan yang dingin.


"Selamat siang," ucap wanita cantik itu dan berlalu tanpa menawarkan makan bersama atau pun menunjukkan ketertarikan pada pria di depan nya.


"Ya, selamat siang." ucap Lucas yang membalas sapaan wanita yang merupakan kolega bisnis nya yang tak bisa ia anggap enteng itu.


Tak ada interaksi lain nya lagi, ia berlaku tanpa melihat wanita itu untuk sekali lagi.


Deg!


Deg!


Deg!


Adrenalin wanita itu, mulai melaju cepat. Sikap dingin yang tidak mengejar nya membuat nya semakin penasaran dan semakin tertarik.


"Pesan kamar untuk ku nanti malam," ucap nya yang memesan pada sekertaris nya.


"Baik nona," jawab pria itu dengan cepat.

__ADS_1


Luciana Casandra wanita cantik yang berumur 28 tahun itu merasa bersemangat dan tentu ia harus mengabadikan momen nya dan keinginan nya itu bersama peliharaan nya yang lain.


"Padahal dia hanya berbicara singkat, tapi aku merasa bersemangat." ucap nya lirih yang merasakan sensasi baru.


......................


Universitas


Festival, rumah hantu.


Akh!


Gadis itu terkejut setengah mati, wajah hancur yang datang dengan gergaji itu tentu ingin membuat ruh nya melayang ke langit apalagi ia sudah lihat versi asli nya.


Secara refleks tubuh nya sontak memeluk seseorang yang menarik nya.


Bukan!


Bukan pelukan namun lebih tepat nya, ia yang begitu terkejut itu langsung naik seperti bayi koala di tubuh pria itu.


Gevan tersenyum puas, awal nya hantu itu menakuti nya lebih dulu saat gadis itu mencari kunci keluar namun hantu itu datang dan menganggu nya.


Ia tak takut namun malah memikirkan hal lain dan malah berkerja sama pada hantu itu untuk datang lagi.


"Kerja bagus!" ucap nya tanpa suara yang mengancungkan jempol nya pada hantu jadi-jadian itu.


Ia memeluk tubuh yang meloncat pada nya, "Sst..."


"Kita mau pergi?" tanya nya yang tersenyum pada gadis yang gemetar itu, ia memegang dan menangkap tubuh nya dan tentu ia bisa bebas memeluk atau mendekap tubuh yang ketakutan itu.


"I.. iya..."


Jawab Anna lirih dengan wajah yang pucat seketika saat semua isi kepala nya mengingat kembali rupa orang-orang yang pernah mati di depan nya.


"Hah..."


"Hah..."


Gevan awal nya tersenyum, karna ia bisa bebas memeluk dan mendekap tubuh gadis itu namun ia kini mendengar suara napas yang berbeda.


"Anna? Kau baik-baik saja?" tanya nya saat ia mendengar napas yang berat seperti sulit menghirup udara itu.


"Ki.. kita harus keluar..."


"Ka.. kamu bi.. bisa mati..."


Ucap nya yang begitu ketakutan, bukan nya berpura-pura untuk mendapat kan perhatian namun lebih tepat nya kondisi yang mirip dengan serangan panik tiba-tiba.


"Anna?" Gevan tersentak, ia melepaskan tubuh gadis itu agar bisa melihat wajah nya.


Deg!


"Ann? Kau pucat sekali?" tanya nya yang terkejut saat melihat wajah yang pucat dengan keringat dingin itu.


"Kita..."


"Kita keluar..."


"Di.. dia bisa tau..."


Gumam nya yang terlihat ketakutan dan tak bisa melihat ke arah seseorang yang berbicara dengan nya.


Gevan tampak kebingungan, padahal baru lima menit yang lalu gadis itu baik-baik saja.


"Ann? Kau kena-"


"Akh! Ja.. jangan! Jangan!"


Ucapan pria itu terpotong, saat gadis itu menjerit seketika.


"Ya, kita keluar." ucap nya yang menggendong gadis itu dan membawa nya keluar, bukan nya berlebihan namun tubuh gadis itu seperti kaku dan pernapasan nya pun tak baik.


Anna tak menunjukkan penolakan saat ia di bawa keluar.

__ADS_1


Trauma terburuk ketika ia sendiri bahkan tak tau jika mengalami trauma itu sendiri dan kondisi mental yang sesungguh nya sudah tak sehat.


__ADS_2