
Wanita itu menarik napas nya, seluruh tubuh nya gemetar dan ia hanya bisa berdiri di tempat yang sama.
Rumah sakit yang besar itu membuat langkah nya linglung.
"A.. aku harus nya senang..."
"A.. aku..."
Anna menutup wajah nya dengan kedua tangan nya dan kemudian menarik napas nya yang berat, suara nya mulai merasa berat.
Perasaan yang kacau dan suasana hati yang kacau membuat nya kehilangan semua pikiran yang ada di kepala nya.
...
Diego membawa surat hasil pemeriksaan klinis sepupu nya.
"Anna mana?" tanya nya yang melihat ke arah tempat yang tak ada siapapun yang menjaga sepupu nya.
"Dia keluar," jawab Lucas singkat sembari melihat ke arah ponsel nya yang menunjukkan foto di mana sang istri.
"Ini, kerusakaan hati." ucap Diego yang memberikan kertas yang berisi keterangan nya.
"Kita bisa mencari penyebab nya, dan sebelum itu kita masih bisa mengobati nya." ucap Diego yang harus nya istri dari pria itu lah yang mendengarkan semua penjelasan dokter.
Lucas tak menjawab sama sekali, ia tau jika zat kimia yang di beli oleh istri nya membuat kerusakaan pada hati dan bisa menyebabkan kanker atau tumor yang tumbuh.
"Luc? Kit-"
Brak!
Suara pintu yang terdengar terbuka secara terburu-buru itu membuka dengan cepat.
"Kau dari mana? Aku sudah membawa hasil nya, hasil nya sangat tidak bagus." ucap Diego yang menunjukkan nya.
"Kemungkinan karna dia banyak meminum alkohol tapi gaya hidup nya juga tidak terlalu buruk, jadi kita bisa mencari tau le-"
"Luc? Kita..."
Anna memotong nya, ia takut untuk ketahuan walaupun tanpa ia sadari sang suami sudah mengetahui segala nya.
"Dari mana?" tanya nya yang meraih tangan wanita itu.
"Ki... kita pulang ya?" tanya Anna sangat suara yang gemetar dan tangan yang dingin saat meminta pada sang suami.
Lucas diam sejenak, ia melihat ke arah tangan yang gemetar saat menggenggam nya dengan erat itu dan kemudian menatap ke arah sang istri sekali lagi.
"Kau meminta dia untuk pulang? Kondisi nya tidak baik dan dia harus menjalani pengobatan!" ucap Diego yang bukan nya tak ingin melihat adegan romantis namun memang bukan waktu nya demikian.
"Luc..."
"Kita pulang..." ucap Anna sekali lagi yang meminta pada sang suami.
Mendengar mencari penyebab tentang penyakit yang di alami membuat Anna merasa begitu takut.
__ADS_1
Memang seseorang yang berbuat salah akan mudah menjadi takut.
"Luc?" Anna memanggil lagi pada sang suami yang terus menerus diam saja sejak tadi.
"Ya, kita akan pulang." jawab Lucas pada sang istri yang mulai menggenggam tangan kecil itu.
"Luc? Are you Crazy?" tanya Diego yang menatap dengan tak percaya.
"Shut your f**k*ng mouth," jawab pria itu dengan wajah yang datar pada sepupu nya.
Diego menggeleng dan kemudian beranjak pergi seketika keluar dari ruangan tempat ia berada saat ini.
......................
Dua hari kemudian.
Mansion Damian.
Anna melihat ke arah kertas pemeriksaan yang terakhir kali, ia menatap dengan takut dan khawatir.
"Bagaimana kalau dia tau?" gumam nya yang merasa ketakutan dan mungkin saja pria itu akan murka pada nya.
Klek!
Anna tersentak, suara yang pelan bisa bisa menjadi kuat untuk nya dan tentu mata yang biru dan indah itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu udah pulang?" tanya Anna yang bisa mendekat dan bergerak dengan bebas tanpa ada rantai di kaki nya lagi.
Karna Lucas tau jika wanita itu tak akan kabur tanpa anak nya yang bahkan tak bisa bangun atau hidup jika tidak mendapatkan perawatan dari nya.
"Ka.. kamu ke rumah sakit tadi?" tanya Anna lirih yang menatap ke arah pria itu dengan gugup.
"Tidak, bukan nya kau tidak mau kalau aku ke sana?" tanya Lucas ketika sang istri tengah melepaskan kemeja nya karna ia ingin segera pergi mandi.
Deg!
Anna tersentak, ia merasa pria itu sedang menyindir nya.
Apa yang dia katakan? Kenapa dia bilang seperti itu? Dia sudah tau?
"Anna?"
Wanita itu menoleh, ia tampak terkejut saat suami nya memegang tangan kecil nya dan langsung menatap dengan mata yang goyah.
"Kenapa kau diam saja? Kau melamun?" tanya Lucas pada wanita yang saat ini sedang bersama dengan nya.
"Ti.. tidak! Aku hanya..." ucap Anna yang kesulitan untuk mecari alasan.
"Tapi Luc? Kamu kan kalau sakit ha.. harus di obati kan? Siapa bilang aku ga mau kamu ke sana?" tanya Anna yang berusaha menyembunyikan kegugupan nya.
"Bukan nya kau membenci ku? Kalau begitu kau akan senang kalau aku mati kan?" tanya Lucas yang menatap ke wanita itu.
Anna diam tak menjawab untuk beberapa saat, "Kenapa? Aku suka kok kalau ada kamu."
__ADS_1
"A.. aku ga benci kamu..." ucap nya lirih.
Pria itu tak menjawab namun ia hanya tersenyum tipis, tangan nya yang besar dan bisa membuat wajah kecil itu tertutup kini memegang pipi nya dengan erat.
"Ya, kau mencintai ku kan?" tanya Lucas dengan memiliki jawaban yang ia ingin dengar.
"Ya..."
"Aku mencintai mu..."
Anna menjawab lirih, ia menatap ke arah pria yang berada di depan nya dan memiliki tinggi lebih dari dirinya.
"Ya, apapun perasaan yang kau miliki untuk ku aku hanya mau menjadi yang pertama di pikiran mu dan aku tidak mau kau lupa dengan ku." ucap nya yang kemudian beranjak pergi.
Anna berdiri mematung di tempat yang sama, ia semakin bingung dan terkadang merasa takut.
...
Skip
Satu Minggu kemudian.
Tangan nya masih mengusap kepala pria yang berada di atas paha nya itu.
"Luc? Kamu tidur?" tanya Anna lirih yang menatap nya.
"Ya, seperti nya aku mengantuk lagi..." jawab Lucas lirih sembari memejamkan mata nya.
Anna tak menjawab, ia melirik ke arah gelas teh nya yang sudah di minum setengah oleh pria yang tidur di pangkuan nya saat ini.
"Kalau gitu kamu tidur aja, aku tungguin." ucap Anna lirih.
Lucas membuka mata nya, tangan yang mengusap kepala nya itu tangkap dan menggenggam nya.
"Dari pada menunggu ku kenapa kau tidak katakan akan mengingat ku? Aku membayangkan beberapa hal buruk, salah satu nya..."
"Kau melupakan ku," ucap Lucas pada sang istri.
Anna diam sejenak, "Kenapa aku lupa? Kamu bukan orang mudah untuk di lupain," ucap Anna yang menatap ke arah pria itu.
"Sudah ku bilang ini hanya kekhawatiran dari mimpi buruk ku kan?" ucap Lucas yang menatap ke arah mata yang bersinar itu.
"Luc? Aku..."
Anna menggantung kalimat nya, ia tak bisa mengatakan apapun ketika semua pikiran nya terasa melayang.
"Apa? Katakan," ucap Lucas yang menatap ke arah wanita yang menunduk melihat nya itu.
"Tidak, aku hanya mau kita berkencan saja, ke taman hiburan?" tanya Anna dengan tersenyum.
Lucas tak menjawab, rasa nya ia mulai sering mengantuk dan mengalami muntah untuk beberapa kali dalam sehari.
Pembawaan tubuh yang mulai terasa berat membuat nya tak ingin keluar.
__ADS_1
"Ya, kita bisa pergi." jawab Lucas dengan singkat.