Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Pertemuan


__ADS_3

Hiddensee


Anna mengobati luka lecet di lutut kecil putra nya yang tak mengatakan apapun, wajah yang diam dan terkadang terlihat tengah menahan ringisan nya.


"Estelle? Sakit nak?" tanya nya dengan lembut sembari melihat ke arah wajah putra nya.


"Kalau sakit bilang aja 'sakit' kalau Estelle diam aja, Mama kan ga tau." ucap Anna pada putra nya yang masih tak mengeluarkan suara sama sekali dan hanya melihat ke arah nya.


Ia meletakkan kotak sterilnya dan menatap ke arah putra nya, mata yang jernih dan bulat itu tak memandang ke arah lain selain diri nya.


Ia beranjak duduk dan mulai memangku anak semata wayang yang sangat ia sayangi itu.


"Estelle? Coba ulangi yang Mama bilang?" ucap nya dengan pelan.


"Ma.. Ma..." ucapnya yang mengajari putra nya.


"Mama..." ulang anak lelaki itu yang menatap lurus ke arah sang ibu sangat berbeda dari anak lainnya.


Anna tersenyum tipis dan memeluk putranya dengan erat, "Iya, kamu ga akan apa-apa..." ucap nya yang mengecup rambut yang berwarna kecoklatan gelap itu karna perpaduan antara rambut hitam dan rambut blonde yang ia miliki.


......................


Berlin


JNN Grup


Perkembangan dari perusahaan itu besar itu semakin meluas, tak hanya berada di dalam negeri namun mulai keluar dari luar negeri.


Mengakusisi beberapa brand ternama dan menjadikan nya di dalam naungan dari perusahaan nya.


"Luc? Mungkin sebentar lagi kau akan menduduki pria yang paling kaya di dunia dan juga yang paling muda," ucap Diego yang menatap ke arah sepupu nya.


Karna sekarang pun bahkan hukum bisa ia beli berapapun yang ia mau.


Tak ada jawaban, pria itu hanya diam tak mengatakan apapun.


"Priksa ini," ucap nya yang memberikan rancangan proyek baru lagi.


"Hiddensee? Kau ingin membangun resort dan taman bermain di sana?" tanya Diego mengernyit.


"Penduduk nya tidak terlalu banyak tapi di sana juga di kunjungi turis. Kalau membangun wilayah seperti itu bisa menjadi ikon dari tempat itu sendiri." jawab Lucas dengan datar.


Diego diam sejenak, dua tahun yang lalu pria itu memberikan nya kesempatan lagi dan ia bisa meningkatkan harga saham sebanyak 0.34 % dalam kurung waktu dua bulan dan pria itu menerima kembali.


Dan dalam kurung waktu itu pula ia juga selalu membuat pengalihan yang akan membuat sepupu nya semakin sulit menemukan gadis yang sudah mengganti nama dan identitas nya itu walau secara ilegal.


"Ya, mereka punya pantai yang bagus tapi kalau taman bermain bukan nya terlalu memakan resiko? Bagaimana kalau ada tsunami?" tanya Diego yang menatap ke arah sepupu nya.


"Kalau begitu kenapa kau tidak takut air yang berada di San Fransisco naik?" tanya Lucas yang membuat pria itu terdiam.


Diego terdiam, "Ya, tapi ku pikir lebih baik melakukan pembangunan resort lebih dulu." ucap nya yang mengalah dan mengatakan sesuatu dari pandangan bisnis.


"Sebaik nya kau baca dulu baru komentar," jawab Lucas singkat dan beranjak pergi.


......................


Hiddensee


Camilla menatap ke arah anak lelaki yang begitu pendiam itu, tak membuat mainan nya berantakan dan hanya duduk dengan tenang sembari meminum susu buatan ibunya karna ia pun sudah mulai lepas dari asi.


"Varsha? Kau tidak membawa putra mu untuk di priksa? Sepertinya ada yang bermasalah, dia tidak memainkan ponsel atau apapun tapi kenapa dia sangat lambat bicara?" ucap Camilla yang menatap ke arah gadis yang masih berusia 23 tahun itu.


Anna menoleh, ia menatap ke arah putranya yang tampak tak memberikan respon bahkan untuk kartun dan mainan yang berada di depannya.



"Ya, aku juga berniat seperti itu." ucap Anna lirih.


"Kau membuat apa? Yogurt? Bagaimana dengan study mu?" tanya Camilla pada gadis itu.


Anna menghela napas nya, banyak yang harus ia lakukan. Walaupun ia tetap mendapatkan uang bulanan yang terus datang setiap bulan namun ia juga merasa harus memiliki sumber penghasilan sendiri.


Agar nanti jika Diego tak lagi mengeringkan uang ia sudah memiliki pegangan untuk kehidupan nya dan putranya.


Dan tentang study nya, kini ia juga melanjutkan nya dengan jurusan lain dan tentu sekarang ia harus fokus belajar bahasa asing karena Camilla mendesak nya untuk itu.


Dan tentu Camilla menyuruh gadis itu untuk fasih berbahasa inggris karna Diego yang menyuruh nya agar memudahkan nya untuk kabur ke beberapa negara nanti.


"Semua nya baik-baik saja," ucap nya yang juga merasa lelah namun ia masih tak bisa berhenti.


...


Pukul 08.34 pm


Prang!


Anna tersentak, bola kecil yang menggelinding di dekat meja nya dan secangkir teh yang jatuh karna tersenggol tangan kecil yang ingin mengambil mainan itu.


"Estelle! Kan Mama bilang jangan main di sini! Kamu ga lihat Mama lagi apa?" tanya nya yang terkadang meninggikan suara nya pada putra nya itu.


Ia tak bermaksud demikian namun saat bayi nya berusia kurang lebih dari dua bulan ia mengalami baby blues dan seiring bertambah nya waktu ia hanya berpikir jika ia sudah baik-baik saja sekarang.


Tak ada jawaban, anak kecil itu hanya menunduk dan mengatakan apapun.


"Estelle!" bentak nya sekali lagi sembari meraih tangan kecil itu untuk melihat nya.


Mata yang jernih dan bulat itu menatap nya, Anna tersentak dan kembali tersadar jika ia memarahi putra nya yang mungkin melakukan kesalahan yang tidak sengaja.


"Uhh!" Anna membuang napas nya dengan kasar sembari memejam.


Plak!


"Ck! Bodoh! Kenapa memarahi putra mu?!" decak nya yang memukul pipi nya sendiri.


Memang selama ia membesarkan putra nya itu, ia berulang kali melakukan hal seperti itu.


Setiap kali merasa frustasi dan lelah namun ia tak bisa memukul bayi nya karna kewarasan nya masih bekerja untuk itu.


Tapi sebagai ganti nya, ia memukul diri nya sendiri.


Bayi tampan itu menoleh ke arah sang ibu saat mendengar pukulan yang kuat itu, ia masih diam namun menggenggam jemari tangan ibu nya.


"Maaf..."


"Sayang Mama pasti takut ya tadi? Kamu terkejut?"


Anna berjongkok dan meraih tubuh mungil itu lalu memeluk nya dengan erat. Usapan tangan nya begitu lembut saat mengusap punggung putra nya yang tak bicara sepatah kata pun.


......................


Satu Minggu kemudian


Klinik anak


Kali ini Anna membawa putra nya untuk menemui seseorang yang ahli di bidang nya, ia mengatakan semua keluhan yang ia alami.


Dan sekarang, psikolog anak itu tengah berhadapan dengan anak kecil yang tampak sangat pendiam itu.


Ia menyuruh ibu nya untuk keluar lebih dulu namun tentu ada rekaman suara dan video yang merekam semua aktivitas bayi nya itu.

__ADS_1


"Hay? Aku Ally, bisa beri tau nama kamu juga?" ucap wanita itu yang mulai pendekatan ramah nya.


Tak ada jawaban, anak kecil itu tampak melihat ke arah sekeliling untuk mencari keberadaan ibu nya.


"Kalau kamu kasih tau nama kamu nanti Ally kasih tau di mana Mama kamu." ucap nya sekali lagi.


"Estelle..." Kali ini anak lelaki itu memberikan respon dengan suara yang teramat pelan.


Psikolog wanita itu hanya tersenyum, ia pun mencoba beberapa pendekatan lain nya sekaligus memeriksa motorik anak itu untuk tau apa kah ada masalah kesehatan yang terkait.


40 Menit kemudian.


Secara garis besar Ally kini tau jika tak ada masalah kesehatan apapun pada anak usia dua tahun itu namun ada masalah di bagian kontrol emosi dan sosial nya.


"Estelle sayang Mama?" tanya nya yang menatap ke arah anak yang bagi nya cukup pintar karna bisa menjawab nya dengan baik walau masih berusia dua tahun.


Satu anggukan terlihat, mata yang bulat dan jernih itu menatap ke arah nya.


"Mama ukul..."


"Mama telak..."


"Mama peyuk..."


Jawab nya yang masih ambigu dengan suku kata yang terbatas.


"Mama pukul? Mama sering mukul Estelle?" tanya Ally pada anak kecil itu.


Tak ada jawaban untuk sementara namun anak lelaki itu mulai menggeleng dan memperagakan apa yang sering ia lihat.


Plak!


Plak!


Ally tersentak dan langsung meraih tangan mungil yang memukul pipi nya sendiri itu.


"Mama pukul pipi kalau malah..." ucap nya dengan wajah yang datar pada wanita yang berada di depan nya.


"Ail..." ucap nya yang menunjuk mata bulat nya sebagai isyarat memberi tau jika ibu nya akan menangis setelah nya.


Ally hanya menarik napas nya dan melihat ke arah bayi dua tahun itu.


...


Setelah sesi konsultasi yang pertama selesai, Anna kembali masuk dan menatap ke arah wanita yang baru saja berbicara pada putra itu.


"Coba dengarkan ini lebih dulu," ucap Ally yang memberikan rekaman konsultasi pertama nya.


Anna menurut, ia melihat nya dan sesekali menatap ke arah putra nya yang duduk di sudut ruangan itu sembari memperhatikan mainan di depan nya namun tak menyentuh nya sama sekali.


"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Ally yang juga perlu tau bagaimana cara sang ibu mendidik putra nya di rumah.


Anna diam sejenak dan ia mulai mengatakan tentang baby blues yang ia alami atau bagaimana ia memarahi putra nya dan maksud dari 'Pukul Mama' yang di bicarakan oleh putra nya.


Ally menarik napas nya dan mengangguk tanda ia mengerti.


"Seperti nya putra anda sangat cerdas, memang untuk tes IQ dan EQ sendiri lebih baik di lakukan saat berumur lima tahun untuk mendapatkan hasil yang tepat."


"Namun untuk putra anda sendiri seperti nya dia tau bagaimana cara nya menyerap dan memperhatikan emosi ibu nya."


Anna mengernyit mendengar nya, "Emosi ku?"


"Ya, sekarang anda lihat putra anda, apa dia memainkan mainan yang berada di depan nya? Dia bahkan tidak menyentuh nya sama sekali, anda tau kenapa?" tanya dr. Ally pada gadis yang terdiam melihat putra nya itu.


"Dia takut anda marah karna membuat tempat nya berantakan," sambung nya dan membuat Anna menoleh.


"Dia memang pendiam tapi dia tidak punya masalah apapun untuk menghalangi bicara, mungkin lebih tepat nya dia merasa takut untuk mengeluarkan suara nya." ucap dr. Ally sekali lagi.


dr. Ally tersenyum mendengar nya, "Nona? Saya sarankan anda juga ikut bimbingan dan konsultasi untuk orang tua. Karna seperti nya anda juga membutuhkan nya."


"Dia tumbuh dan selalu melihat ibu nya menyakiti diri sendiri ketika marah dan kemudian menangis, mungkin kita merasa anak-anak tidak akan mengerti tapi anak-anak juga makhluk yang sensitif."


"Dan beberapa anak-anak memiliki tingkat yang lebih sensitif dari anak lain nya, dan mungkin itu adalah putra anda." ucap dr. Ally pada gadis yang masih terlihat seperti anak remaja itu.


Anna terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun atau membantah nya.


"Alasan dia tidak bicara bukan karna tidak bisa tapi karna takut nanti nya menganggu anda, dia memiliki kepekaan untuk memperhatikan emosi ibu nya." ucap dr. Ally sekali lagi.


"Dia sangat menyayangi anda, dia tidak mau melihat anda menangis lagi atau melukai tubuh anda sendiri."


Anna masih tak mengatakan apapun, konseling hari ini berakhir.


......................


Berlin


Mansion Damian


Pria itu menatap kosong ke arah genangan darah di bawah kaki nya.


Ya!


Seseorang telah kembali meregang nyawa lagi kali ini, korban yang semakin banyak dan untuk mencari jalan aman ia sekarang 'membeli peliharaan' nya itu dari pada menculik nya satu-satu dan malah masuk ke dalam orang hilang di negara nya.


Tap!


Pria itu meletakkan toples yang berisi beberapa bagian tubuh manusia itu, di mulai dari mata yang di awetkan, rambut dan beserta kulit kepala nya, beberapa hidup dan bibir.


"Lihat? Aku punya banyak hadiah untuk mu, kau masih tidak mau kembali?" gumam nya lirih ketika melihat apa yang ia kumpulkan namun tak berwarna itu.


Ia frustasi selama di tinggalkan oleh gadis nya, dan rasa frustasi nya di lampiaskan pada pekerjaan yang membuat perusahaan nya semakin berkembang pesat.


"Anna? Saat bertemu dengan mu lagi aku akan juga akan memotong kepala mu dan mengawetkan nya..." ucap nya lirih yang melihat ke arah beberapa toples kosong.


Ia berjalan keluar, jejak darah di sepatu nya membekas di lantai yang ia jalani sampai ke kamar nya.


Sreg!


Tangan nya menggeser ke arah pakaian yang di gantung di lemari yang berada di ruang ganti itu.


Ia tersenyum tipis, melihat ke arah bayangan seseorang yang biasa memberikan senyuman untuk nya.


Pria itu masuk kedalam lemari pakaian dan tertidur di sana lagi.


"Gadis nakal..."


"Aku akan mengawetkan mu juga nanti, dengan begitu kau tidak akan pernah bisa lari dari ku lagi..."


Gumam nya di sepanjang malam yang selalu merasakan kerinduan dan amarah serta rasa frustasi yang begitu mendalam menjadi satu.


......................


Hiddensee


Anna memeluk ke arah putra nya. Kali ini ia tak pindah ke kamar nya.


"Estelle? Maaf sayang, Maafin Mamah..." ucap nya lirih yang terus memeluk putra nya yang tak mengatakan apapun itu.


Ia melepaskan pelukan nya sejenak dan melihat ke arah putra nya sekali lagi.

__ADS_1


"Mama sayang sekali sama Estelle, Estelle itu dunia nya Mama, bintang nya Mama..."


"Maaf ya nak..."


Ucap nya lirih dengan suara yang tercekat dan air mata yang tak bisa di hentikan.


Tangan mungil itu mengusap air mata yang jatuh dari mata ibu nya itu.


"Nyang Mama..."


"Ngan ail..." (Jangan air)


Mata yang bulat dan jernih itu melihat ke arah sang ibu yang terus menangis dan meminta maaf pada nya.


Anna menumpahkan air mata nya, ia tak pernah bermaksud ingin melukai putra nya dalam hal fisik mau maupun psikologis nya.


Karna sesungguhnya ia memang begitu menyayangi satu-satu nya bintang yang tumbuh di dalam rahim nya itu.


......................


Satu Bulan kemudian


Anna menatap ke arah pria yang sudah sangat lama tak ia temui itu.


"Anna? Bagaimana kabar mu? Aku bisa di sini karna perjalanan bisnis jadi dia tidak akan curiga," ucap Diego yang tersenyum seperti biasa nya dan duduk di meja yang berada di restoran mewah itu.


"Tidak apa-apa, lagi pula ini juga sudah lama. Dia tidak mungkin masih mencari ku." ucap Anna tersenyum tipis, "Dan seperti nya sudah lama aku tidak mendengar nama 'Anna' untuk panggilan ku."


Diego hanya menatap dengan tersenyum, ia ingin mengatakan pemikiran gadis itu salah namun ia juga tak bisa berbohong untuk menambah suasana.


"Sebaiknya kau pindah, tapi kali ini keluar negeri. Aku punya beberapa tujuan yang bisa kau datangi seperti Malta dan Ceko tapi kalau kau punya destinasi lain kau bisa ke sana kecuali Amerika, Inggris, Spanyol karna anak dari JNN grup berkembang pesat di sana dah kemungkinan kau bertemu dengan dia pun menjadi lebih kuat." terang Diego.


Anna diam sejenak, ia sudah mulai menyukai tempat tinggal nya yang sekarang.


"Dia masih mencari ku?" tanya Anna heran karna di setiap wawancara ia selalu melihat pria itu memakai cincin yang mirip dengan cincin pernikahan.


"Ya," jawab Diego singkat namun tak mengatakan tentang status 'Anna Maurenne' yang sebenarnya sudah menjadi nyonya Damian secara hukum.


Anna terdiam, untuk beberapa saat.


"Dan sebaiknya nama belakang anak mu juga di ganti, dia memiliki nama yang bagus tapi Maurenne terlalu tidak umum dan sebaik nya dia memakai nama belakang Arsene seperti nama mu yang sekarang." ucap Diego yang memberi saran.


"Ya, aku akan mengganti nya sebagai Estelle Arsene nanti." ucap nya yang kali ini setuju.


"Pembangunan resort akan berjalan segara, dan mungkin sekitar dua bulan lagi, jadi kau harus pikirkan tempat mana yang ingin kau tuju." ucap Diego sekali lagi.


Anna menangguk, ia menarik napas nya, "Sir? Sekarang saya pikir saya sudah baik-baik saja, anda tidak perlu mengirimkan saya uang lagi." ucap nya yang ingin mengatakan itu sejak lama.


"Aku akan tetap mengirim nya, kau bisa gunakan itu untuk Estelle kan?" tanya Diego yang tak menerima penolakan bantuan untuk gadis itu.


"Bibi Camilla akan ikut juga?" tanya Anna lirih yang sudah merasa dekat dengan wanita itu.


"Aku akan meminta nya ikut kalau kau mau." ucap Diego.


"Apa aku tidak bisa sembunyi di sini lebih lama?" tanya Anna lirih.


"Kau mau tetap di sini?" Diego membuang napas nya, ia pun diam sejenak dan menangguk perlahan.


"Baik, kalau begitu hindari tempat di sekitar ini," ucap nya yang menyebutkan nama tempat yang kemungkinan nanti di datangi oleh sepupu nya.


"Aku juga akan memberi tau mu jika nanti dia akan datang," ucap nya sekali lagi.


......................


Skip


Satu tahun kemudian


Hiddensee


Anna tak pergi meninggalkan tempat itu bahkan setelah satu tahun pembangunan resort dari JNN grup juga merayap ke pulau kecil itu.


Ia seperti tikus yang bersembunyi dan tak keluar sama sekali kecuali jika sangat di perlukan.


"Mama!"


Suara anak lelaki itu kini sudah mulai lantang, terapi tetap di jalankan selama satu tahun terakhir dan kali ini berhasil membuat bayi tampan itu bicara.


"Ya sayang?" jawab Anna pada putranya dan memeluknya sembari melihat ke arah berita di televisi.


"Ini tidak mungkin peringatan untuk ku kan? Atau hanya sekedar?" gumam nya lirih yang melihat ke berita tentang penculikan wanita dengan karakteristik mata biru dan rambut pirang.


"Tidak! Jangan pikirkan hal aneh!" ucapnya yang menepis pikiran anehnya.


Dalam 5 bulan terakhir, sudah ada 4 wanita dengan karakteristik yang sama menghilang dan kemudian di temukan mati tanpa mata dan kulit kepala.


Pembunuhan berantai tanpa jejak yang menjadi misteri dan mulai menebarkan rasa takut.


"Varsha?"


"Kita harus pindah, kau sudah lihat berita nya kan?" ucap Camilla yang entah kapan ia datang.


"Lalu? Itu hanya berita, dan lagi..."


"Semua karakteristik itu menunjuk pada mu dan usia wanita muda yang mati itu juga seusia dengan mu." ucap Camilla sekali lagi.


"Kalau itu memang dia, dia pasti akan tertangkap! Dia tidak bisa bisa sembunyi selamanya kan?" tanya Anna sekali lagi.


"Dia punya segalanya bahkan untuk seseorang yang akan jadi kambing hitam, kau masih ingin melindungi Estelle mu kan?" tanya Camilla yang kali ini mengajak pindah karna ia takut sesuatu terjadi pada gadis itu.


Apalagi kini Diego yang sudah memberikan peringatan untuk segara pindah.


"Ya," jawab Anna singkat sembari melihat ke arah putra nya yang walau tak tersenyum atau menangis namun setidaknya mulai bermain seperti anak normal.


......................


Bandara Internasional Frankfurt


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung gadis itu seakan ingin keluar, wajah nya pucat pasi dan tak bisa mendekat sama sekali ke putranya yang menatap dan mendongak ke arah pria di depan nya sedangkan ia tanpa sadar bersembunyi di balik pondasi bandara itu.


Kubik kecil itu menggelinding dan jatuh hingga berhenti di bawah kaki seseorang.


"Kaki awas," ucap bayi tampan itu yang menunjuk ke arah kubiknya.


Lucas diam dan kemudian menendang kecil kubik itu ke arah anak lelaki yang menyuruhnya untuk menggeser kaki nya, "Ck!" decaknya yang tak suka di perintah anak kecil walau hanya sekedar bantuan.


"Estelle?" panggil Camilla yang langsung meraih tubuh anak kecil itu.


"Maaf tuan," ucapnya yang segara membawa Estelle menjauh.


Lucas tak mengatakan apapun, ia kembali berjalan dan melanjutkan langkahnya untuk ke Spanyol hari ini.


Dan tentu semua wajah yang ia lihat tak ada yang memiliki bentuk termasuk wajah anak lelaki yang baru ia temui tadi.

__ADS_1


"Harus ku pelintir lehernya tadi," decaknya yang memang tak suka anak-anak dan lagi lebih tak suka melihat anak-anak yang berkeliaran sendirian.


__ADS_2