
Wegen, Swiss
Estelle menatap ke arah sang ibu, binar dan jernih di mata nya membuat wajah tampan itu semakin menggemaskan.
"Kenapa?" tanya Anna yang tau putra nya ingin bertanya namun selalu saja diam lebih dulu karna takut menganggu nya.
Anak tampan menggemaskan itu masih diam saja, sampai sang ibu mengangkat tubuh mungil nya dan memangku nya.
"Papa kenapa ga pulang sama kita Ma?" tanya nya yang memang berpikir jika pria yang baru siang tadi ia temui adalah sang ayah.
Anna diam sejenak, ia ingin mengatakan yang sejujurnya namun mata binar yang jernih itu membuat nya tak sanggup untuk mengecewakan nya.
"Estelle suka punya Papa?" tanya Anna yang mengusap wajah bulat putra nya dengan lembut.
Satu anggukan menjadi jawaban di wajah yang datar itu.
"Kalau Estelle cuma bisa pilih satu, Estelle mau sama Mama atau Papa?" tanya Anna sekali lagi.
"Mama," jawab Estelle yang tanpa ragu.
"Estelle sayang Mama?" tanya Anna yang menatap lurus ke arah putra nya.
Sekali lagi anggukan di wajah bulat itu terjadi, Anna diam untuk beberapa saat. Tangan nya merengkuh tubuh mungil putra nya dan memeluk nya dengan erat.
"Mama juga sayang sekali dengan Estelle," ucap nya lirih yang memeluk tubuh mungil itu.
"Mama mau kita tinggal berdua aja, kalau ga ada Papa ga apa-apa kan?" ucap nya yang kemudian melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah putra nya.
Estelle tak mengangguk kali ini, ia melihat wajah sang ibu untuk sesaat.
"Mama benci Papa?" tanya nya dengan bingung.
"Benci? Estelle tau dari mana kata itu?" tanya Anna yang mengernyit pada putra polos nya.
"Bibi Camilla bilang kalau olang itu bisa malah, bisa benci, bisa sayang, bisa cinta, bisa nangis, bisa telkejut. Jadi Estelle belajal." ucap nya yang memang harus mendapat pelajaran untuk mengetahui perasaan seseorang.
Pencapaian emosi nya lebih lambat, seseorang yang menjadi pusat dari perhatian nya hanyalah sang ibu namun anak kecil itu tak tau cara membaca perasaan nya sendiri.
Itu sebabnya ia tak lagi menangis atau tertawa seperti anak seumuran nya yang lain.
Anna diam sejenak, putra yang ia lahirkan begitu pintar. Tak seperti diri nya yang sangat sulit untuk menerima pelajaran atau pun hal baru.
"Mama ga benci Papa, Mama cuma terlalu sayang aja sama Estelle maka nya Mama mau tinggal sama Estelle." ucap nya yang mengecup pipi lembut putra nya.
Tentu ia tak bisa membiarkan putra nya memanggil orang lain dengan sebutan 'Papa' dan berharap.
Apalagi pria itu merupakan publik figur yang akan mendapat banyak perhatian dan ia sedang bersembunyi dari perhatian yang ramai itu.
"Mama ga nangis lagi kan? Kalau sama Estelle Mama ga akan nangis lagi?" tanya nya dengan polos.
Anna lagi-lagi terdiam, ia memperhatikan putra nya dengan nanar sampai menggelengkan kepala nya dan tersenyum tipis.
"Estelle harus tau, kalau walaupun Mama nangis. Estelle tetap jadi kesayangan Mama. Estelle kan bintang Mama." ucap nya dengan senyuman tipis.
Bintang terang yang sekaan memberikan kehidupan kedua untuk nya.
Estelle tak lagi bertanya, ia duduk dan menyandarkan diri nya di atas pangkuan sang ibu dengan begitu tenang.
...
Dua hari kemudian.
Camilla melihat ke arah gadis yang dandan dengan rapi itu.
"Bi? Lihat? Apa aku terlihat seperti anak-anak?" tanya Anna yang mengubah gaya make up dan rambut nya agar terlihat lebih dewasa.
"Kau itu memang selalu cantik," ucap nya yang menatap ke arah gadis yang masih berumur 24 tahun itu.
"Ih bukan cantik tapi kelihatan dewasa," ucap Anna yang sudah berusaha semaksimal mungkin pada pengaruh make up nya.
"Iya! Jika ada yang melihat mu kau pasti di kira adalah wanita dewasa yang memiliki karir!" ucap Camilla yang menambah semangat gadis itu.
Anna tersenyum, ia pun beranjak pergi. "Estelle! Mama mau pergi ini? Kamu ga kiss Mama dulu?" teriak nya yang memanggil putra kesayangan nya.
Anak lelaki itu datang dengan langkah yang menggemaskan, ia menatap ke arah sang ibu dengan mata jernih nya dan menunggu sebuah kecupan.
Muach!
Ciuman menggemaskan itu mendarat di pipi Anna, ia tersenyum kecil dan kemudian mengusap kepala putra nya.
"Mama bawain permen nanti," ucap nya dengan senyuman kecil sembari menatap ke arah putra nya.
Estelle mengangguk dengan wajah yang datar dan hanya diam itu saat memandang sang ibu.
......................
Anna terdiam sejenak, ia memang mendapat pekerjaan namun ia tak tau bekerja sebagai apa karna lamaran nya adalah asisten desain yang membantu tata letak.
"Kau di sini?"
Gadis itu tersentak, dunia begitu sempit untuk nya sampai ia bertemu lagi dengan seseorang yang ingin ia hindari.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Anna yang terkejut.
"Aku penyanyi nya, dan sekarang akan membuat video klip untuk lagu ku yang terbaru." ucap Gevan dengan full senyuman.
Anna tampak canggung, ia memegang tangan nya dan menarik napas nya dengan panjang.
"Kau cantik," ucap Gevan tanpa sadar saat melihat ke arah gadis itu.
"Ya?" Anna tersentak, ia membutuhkan pengulangan kata itu.
"Ya? Bukan maksud ku..." ucap Gevan yang tersadar dengan kata-kata nya.
Lama tak jumpa membuat ketertarikan nya kian kuat dan ia pun mulai menyukai gadis itu sampai terkadang lupa bagaimana mengontrol diri nya sendiri.
"Gevan? Ke sini, kau belum mengganti pakaian mu."
Salah satu kru mulai memanggil nya dan tentu pria itu langsung menoleh.
"Ada yang memanggil ku, aku harus pergi." ucap nya yang mendapat alasan yang tepat.
Anna menangguk. Tak lama kemudian ia pun di panggil untuk membantu sesuai dengan pekerjaan nya.
__ADS_1
...
Skip
Pukul 01.23 pm
"Anna? Maksud ku Varsha?" panggil pria itu lirih agar tak semua orang melihat nya.
Anna menoleh, ia menatap ke arah pria yang memakai masker dan topi itu.
"Mau makan siang di luar?" tanya Gevan yang tak menunggu lama dan langsung menarik tangan gadis itu agar bisa makan siang bersama di luar.
"Tung-"
Anna tak sempat menyelesaikan kalimat nya karna pria itu menarik nya segera tanpa basa-basi.
"Gevan? Bagaimana kalau ada yang lihat?" tanya nya saat di tempat yang mulai sunyi dan menepis tangan pria itu.
"Sekarang kita berada di tempat yang tidak terlihat," ucap nya dengan senyuman tipis.
Anna mengernyit sejenak, ia memutar mata nya sampai pikiran nya menuju sesuatu.
"Astaga! Apa yang mau kamu buat?!" tanya nya dengan begitu terkejut sembari menutup kedua dada nya secara spontan.
"Kau? Kau pikir aku akan melakukan apa? Kalau aku melakukan hal yang buruk lagu baru ku bisa di banned," ucap Gevan yang menatap rasa kekhawatiran di mata biru itu.
"Soal nya kamu bilang di tempat sunyi," cicit Anna yang menatap ke arah pria itu.
"Kau berpikiran apa di tempat sunyi?" Gevan mendekat dan memojokkan gadis itu ke dinding, memberi nya godaan kecil yang membuat nya tersenyum.
"Aku berpikir kau mungkin mau membunuh ku?" tanya Anna dengan mata jernih nya yang tampak lebih indah itu.
"Aku bukan pembunuh, walaupun aku juga bukan orang baik." ucap Gevan yang mengaku dan sadar kalau ia juga seorang pembully dulu nya.
"Kalau ada yang tau kelakuan mu saat SMA menurut mu akan jadi seperti apa?" tanya Anna yang meloloskan diri nya dan kemudian berjalan dengan langkah kecil sehingga pria itu bisa berjalan di samping nya secara perlahan.
"Mungkin aku akan menerima hujatan?" tanya Gevan yang bingung memikirkan masa depan nya jika perbuatan nya saat SMA terbongkar.
Anak nakal yang playboy dan suka menganggu orang lain apa lagi pernah melempar siswa lain nya dari jendela.
"Tapi tenang saja, kau tau kan? Perhatian publik bisa di alihkan." ucap nya dengan senyuman kecil yang kemudian berjalan lagi.
Anna hanya menggeleng mendengar nya dengan senyuman lirih.
"Bibi ku penggemar mu, kau mau menemui nya? Maksud ku kalau kau juga sibuk bisa berikan aku tanda tangan mu?" tanya Anna yang ingat jika Camilla menyukai penyanyi muda itu.
"Tanda tangan ku? Aku bisa datang ke rumah mu." ucap Gevan yang begitu bersemangat.
"Untuk apa ke rumah ku?" tanya Anna mengernyit yang tak mengerti mengapa tiba-tiba pembahasan nya menjadi ke rumah nya.
"Menemui Bibi mu dan..."
"Estelle? Dia kan pasti bingung kenapa Papa nya tidak datang atau tinggal dengan ibu nya kan?" ucap Gevan yang menemukan alasan yang begitu tepat.
"Jangan memberikan harapan pada anak ku, bagaimana kalau dia tau kau bukan Papa nya." ucap Anna lirih yang tentu sebagai ibu ia tak ingin putra nya terluka.
"Kalau begitu kita bisa menikah dan aku menjadi Papa sungguhan kan? Jujur aku tidak suka anak-anak tapi kalau dia anak mu aku akan mencoba menyukai nya juga." ucap Gevan yang berterus terang.
Anna menghentikan langkah nya dan terdiam, ia melihat ke arah pria yang terus menerus mengatakan rasa suka pada nya.
"Jangan terlalu dekat dengan ku. Yang akan terluka itu kamu." ucap Anna yang tentu terkadang merasa tak tenang sama sekali.
......................
Rumah.
Camilla mematung, ia tak percaya dengan seseorang yang berada di depan nya.
"Ini sungguhan? Kau memang mengenal nya?" tanya Camilla yang tampak terheran-heran dan kagum di saat yang bersamaan.
"Anda ingin berfoto bersama? Atau berpelukan?" tawar Gevan yang melihat wanita yang sudah berusia 60 tahun lebih itu tersenyum cerah.
"Oh God! Sure!" ucap Camilla yang langsung memeluk pria yang selalu ia putar musik nya.
Gevan tersenyum, ia memeluk dan menepuk punggung wanita itu lalu melepaskan nya sejenak.
"Papa?"
Suara anak kecil itu tampak membuat Camilla terkejut.
"Papa?" ulang nya dan menatap ke arah Anna dan Gevan bergantian karna ia tau siapa ayah dari anak tampan itu.
Anna mendekat dan tau wajah bingung dari wanita itu.
"Estelle salah mengira kalau dia adalah Papa nya, aku tidak tega untuk memberi tau yang sebenarnya." ucap Anna yang berbisik pada Camilla.
"Estelle? Anak tampan dengan wajah masam sini Papa peluk," ucap Gevan yang sebenarnya ingin memberikan pujian namun malah menjadi absurd.
"Kau sedang mengejek putra ku?" tanya Anna yang menatap ke arah pria yang tampak gemas dengan dan terus menciumi pipi bulat putra itu.
"Kenapa gen dari dia terlalu banyak pada mu? Tapi aku akan mencium mu sampai gen nya luntur!" ucap Gevan yang ternyata anak tampan itu begitu menggemaskan dan tak rewel seperti anak lain nya.
Estelle diam dan membiarkan seseorang terus mencium pipi nya dengan gemas.
"Ma? Kata bibi kalau ada tindakan yang tidak bisa di endalikan belalti gila? Papa gila Ma?" tanya Estelle dengan wajah datar nya saat merasa pria itu terus menyerang nya dengan ciuman yang bertubi.
"Astaga! Anak nakal," ucap Gevan yang berhenti mencium nya saat mendengar anak kecil itu mengatakan nya gila.
"Egel Ma, pipi Estelle." ucap nya sembari menatap sang ibu.
"Pegel sayang? Mama buatkan susu ya?" tanya Anna dengan usapan lembut di kepala putra nya.
"Hey? Kau mau melakukan hal yang menyenangkan kalau punya Papa?" tanya Gevan dengan senyuman nya dan kemudian mengangkat tubuh mungil itu dan menaikkan nya ke pundak.
Ini adalah salah satu yang ingin ia lakukan dengan sang ayah dulu namun pada akhirnya ia tak pernah bisa melakukan nya sampai dewasa.
"Hum?" Estelle tampak bingung namun wajah nya menunjukkan kalau ia menyukai nya.
Anna tak melarang begitu melihat putra nya senang walau wajah itu masih tak menunjukkan senyuman.
......................
Dua bulan kemudian
Pembuatan video klip itu memang cukup lama karna di ambil di beberapa musim yang tentunya harus menunggu waktu tertentu.
__ADS_1
Dan selama itu pula Gevan terus mengejar gadis itu tanpa memikirkan jika ia adalah publik figur yang bisa menarik perhatian.
Ckrek!
Ckrek!
Potret tanpa suara itu berusaha mengambil gambar dari penyanyi yang berkencan di luar negeri itu.
......................
Satu Minggu kemudian.
JNN Grup
Diego terkejut, ia terus menggeser artikel berita yang menayangkan tentang skandal kencan salah satu penyanyi pria yang cukup terkenal dengan seorang gadis.
Bukan gadis biasa namun gadis yang ia kenali.
"Kenapa Anna ada di sini?" gumam nya yang tentu takut sepupu nya langsung menyadari nya.
"Tidak, ini bukan pertemuan langsung. Dia tidak akan bisa melihat wajah itu." Diego berusaha untuk meyakinkan diri nya sendiri.
Ia baru saja kembali dari San Fransisco dan tentu untuk menemui gadis nya. Setelah dua atau tiga hari ia akan kembali lagi.
"Lucas di mana?" tanya nya yang terkejut melihat ruangan sepupu nya yang kosong.
"Tentu ia pun langsung bertanya ke sekertaris lain yang menjadi pengganti selama ia tak ada.
"Presdir sedang pergi ke Swiss untuk proyek kerja sama dengan hotel Frasoft." ucap pria itu yang menjawab.
"Swiss? Tiba-tiba? Kau tau kemana tujuan nya?" tanya Diego yang sama sekali tak tau jika sepupu nya pergi sendiri dan ia kecolongan untuk itu.
"Bern, Presdir sudah pergi dari kemarin." ucap nya yang memberi tau.
Diego diam sejenak, ia segera menelpon Lucas dan tentu untuk menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan berita yang baru di liris itu.
"Kau menelpon itu untuk bertanya tentang gosip artis? Isi kepala mu sudah kosong karna terlalu banyak tidur dengan wanita?"
"Oh maksud ku, aku hanya bertanya tentang basa-basi. Seperti nya aku merindukan mu karna lama tidak berjumpa, Haha!" ucap Diego yang merasa sedikit tenang karna sepupu nya memang bukan tipe yang mengikuti berita artis.
Tak ada jawaban namun panggilan telpon nya langsung terputus.
"Aku harus memberi tau kalau dia tidak boleh ke Bern untuk saat ini." gumam Diego yang langsung menelpon Anna.
......................
Bern, Swiss
"Estelle!"
Pria itu menghentikan langkah nya, ia mendengar suara yang begitu familiar namun kali ini bukan suara dari ilusi di telinga nya.
Anna mendengus kesal pada putra nya yang sudah ia bilang untuk tunggu namun malah berlari saat melihat sesuatu yang menarik.
"Kena kamu!" ucap nya yang langsung mengangkat putra nya yang terkadang sedikit nakal itu.
"Untuk Mama," ucap Estelle yang memberikan bunga dari rumput yang tampak indah pada sang ibu.
Anna menarik napas nya, ia tersenyum ketika kemarahan nya tak jadi meluap saat melihat ke arah rumput bunga yang di berikan putra nya.
Senyuman nya terlihat, namun menghilang tiba-tiba saat ia mengangkat wajah nya dan melihat ke arah pria yang memiliki jarak yang cukup jauh melihat nya.
Deg!
"Hah...?!"
Jantung nya terasa terhenti, pelukan dan gendongan nya berubah menjadi gemetar seketika.
"Mama?" panggil Estelle yang melihat raut wajah yang ibu yang tak pernah ia lihat sebelum nya.
Ketakutan yang luar biasa!
Deg!
Deg!
Deg!
Pria itu memperhatikan, sesuatu yang berwarna dan jelas di tengah objek yang tak memiliki wajah dan warna.
Walaupun rambut yang harus nya berwarna pirang keemasan namun kini berwarna lebih gelap namun mata dan wajah yang jelas tak bisa di bohongi.
Anna berbalik seketika ia tak sempat membatu terlalu lama saat melihat pria itu mulai mengejar nya.
Langkah nya lebih menjadi berat, kaki nya gemetar dengan rasa takut yang melahap nya sembari menggendong putra nya yang tak tau apapun.
Deg!
Deg!
Deg!
Degupan jantung nya terasa ingin keluar, ia berlari dan memasuki wilayah yang sering di kunjungi wisatawan agar tempat yang ramai bisa membuat nya bersembunyi di balik orang lain.
Lucas mengentikan langkah nya, terlalu banyak orang yang tak berwajah, membuat warna dari objek yang jelas itu menghilang.
"Hah!"
"Hah!"
Tarikan napas nya terdengar berat karna ia berlari dari jauh untuk mengejar seseorang yang bisa ia kenali langsung sampai melupakan klien nya..
Mata nya melirik dan melihat ke segala toko yang berada di jalanan yang penuh dengan wisatawan itu karna tentu yang ia cari adalah cctv nya.
Tangan nya mengepal hingga gemetar dengan perasaan yang meluap, entah amarah, rasa senang dan juga frustrasi karna kehilangan tepat di depan mata nya sendiri.
Aku menemukan mu!
Kali ini kau tidak bisa bersembunyi lagi!
Tapi siapa anak itu?!
Kau bersama dengan orang lain saat kabur dari ku?!
Aku membunuh nya dan memotong leher kecil itu di depan mata mu sendiri!
__ADS_1
Akan ku pastikan itu!
Kau tidak akan bisa lari dari ku lagi!