Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Hitam Putih


__ADS_3

Deruan napas yang terdengar berat itu menyatu dengan degupan jantung yang seakan ingin meledak.


Langkah kaki yang tergesa itu seperti mengetakan untuk segera lari begitu ia turun dari mobil yang memiliki plat palsu.


Mata nya menengadah melihat ke arah langit, awan hitam yang tampak menghiasi nya. Gadis itu diam beberapa saat sampai seseorang menepuk pundak nya.


"Nona? Kita tidak memiliki banyak waktu lagi." ucap pria dengan wajah yang tak ramah dan penuh dengan tato di seluruh bagian tangan yang terlihat.


"Apa tidak akan baik-baik saja?" tanya gadis itu khawatir.


Kapal yang berada di depan nya cukup besar namun ombak yang terombang-ambing itu pun mulai pasang hingga membuat nyali nya sedikit menciut.


"Waktu anda terbatas dan kami akan menjaga anda sebaik yang kami bisa." ucap pria yang entah siapa nama nya itu namun ia terlihat seperti pemimpin dari kelompok yang tampak mirip dengan preman itu.


Gadis itu menutup mata nya sejenak dan menarik napas nya.


"Ya," jawab singkat.


Tak ada tempat untuk kembali lagi, kini taruhan hanya tetap pada misi nya atau mati.


Langkah nya sedikit gemetar namun ia mencoba tetap maju dan berjalan. Kapal itu sedikit goyah akibat air laut yang tampak ingin mengamuk.


Seseorang membantu nya dan membawa nya masuk.


"Kita akan tetap berangkat? Kita bisa mati!"


"Kalau kita kembali kita yang akan mati lebih dulu! Setidak nya jika kita tetap pergi ada kemungkinan untuk hidup!"


Anna tak mengatakan apapun, ia memegang perut rata nya dengan degupan jantung yang sekaan ingin keluar.


Pembicaraan itu terdengar oleh nya, bukan di sengaja namun ia yang memang keluar dari kamar nya.


Selama di perjalanan ia di beri tau kemana ia akan pergi dan siapa yang akan di temui nya nanti.


"Tidak apa-apa, kita akan selamat..." gumam nya lirih yang mengusap perut rata nya dengan tangis yang gemetar dan wajah yang pucat itu.


......................


Sementara itu.


Mansion Damian.


Kekacauan mulai mereda, tak ada lagi bahan yang meledak namun kini kemarahan pemilik tempat megah itu lah yang sedang meledak.


Prang!


"Bodoh! Menjaga satu gadis saja kalian tidak bisa?!" tanya nya yang kali ini terlihat begitu marah.


Wajah yang biasa tenang itu kini tak mampu menahan ekspresi nya, kemarahan nya memuncak.


Cctv yang terkahir kali terlihat adalah saat gadis nya melewati pintu gerbang dan lari dengan kaki nya.


"Dia tidak sekuat itu untuk lari, ada yang membantu nya." ucap Lucas dengan mata tajam yang tampak memerah dan begitu murka.


Semua pengawal yang berdiri itu tetap diam di posisi semula bahkan saat tuan nya itu melempar vas yang melukai nya.


"Cari semua mobil yang masuk dan keluar dari jalan utama menuju mansion," ucap nya memberikan perintah.


"Baik Sir!"


Semua pria yang berbaris rapi itu menjawab nya dengan cepat dan langsung berpencar setelah nya.


Lucas berdecak, ia kesal dan begitu marah. Perasaan yang sangat tak nyaman dan membuat nya ingin menusuk perut seseorang sekarang juga.


"Kenapa kau kabur? Aku juga memperlakukan mu dengan baik, aku bahkan akan menikahi mu sesuai permintaan mu..." ucap nya yang tampak tak bisa menerima nya sama sekali.


"Luc?"


Suara bariton itu terdengar memanggil nya, Lucas menoleh menatap ke arah pria yang berbicara pada nya itu.


"Aku temukan ini, seperti nya dia memesan taksi di persimpangan jalan."


Lucas menoleh, ia mengambil kertas yang di bawa oleh sepupu nya.


Tentu pria itu pun datang karna pekerjaan nya yang merupakan Sekertaris Lucas.


"Dia mengambil ponsel dari pengawal? Sengat listrik?" tanya Lucas yang tak percaya.


"Ya, ku rasa dia mencuri nya." jawab Diego.


"Anak itu bodoh, bukan maksud ku tidak akan sepintar itu." gumam Lucas yang tak percaya karna ia tau memang kecerdasan gadis itu sedikit di bawah rata-rata dan memang sekarang pun gadis itu terlihat penakut hingga tak mungkin bagi nya memiliki keberanian yang sedemikian.


"Mungkin dia terlalu stres karena mu jadi-"


"Oh ya? Bukan nya karna kau?" ucap Lucas yang memotong dan langsung mendekat ke arah sepupu nya.


Deg!


Diego tersentak, ia tau sepupu nya itu bukan lah seseorang yang bodoh apa lagi bisa di bodohi.


"Apa maksud mu?" tanya nya dengan wajah yang tak panik sedikit pun walau jantung nya berdegup begitu kencang.


"Kau membawa nya ke psikiater selama beberapa hari," ucap nya pada sepupu nya.


Diego diam sejenak namun ia tampak sedikit lega karna bukan untuk masalah hari ini.


"Ya, karna dia terlalu gelisah dan mungkin dia akan segera gila jika tidak di obati." ucap Diego yang mengatakan alasan nya.


"Lebih baik dia gila dari pada waras lalu kabur dari ku!" ucap Lucas yang tampak begitu murka kali ini.


Diego tak mengatakan apapun, ia hanya diam dan sesekali melihat ke arah jam nya.

__ADS_1


Mata nya menelisik tak tenang, langit seakan tak menyetujui pelarian hari itu.


Begitu gelap dan hitam, bahkan beberapa Kilauan di langit itu tampak mengintip keluar.


"Berikan catatan pemeriksaan nya," ucap Lucas yang menatap ke arah sepupu nya.


"Ya, akan ku bawakan." jawab Diego yang kembali fokus pada sepupu nya.


"Lalu cari siapa yang menyerang mansion ku hari ini, taksi apa yang dia gunakan dan tentu cari dia." ucap Lucas dengan tatapan nya yang tajam.


"Ya," jawab Diego singkat.


Rencana nya sudah cukup matang tapi tentu yang di suruh melakukan pencarian bukan hanya diri nya namun seluruh bawahan pria itu.


...


GLEDARR!!!


Suara guntur yang terdengar memecah telinga, sedangkan pria yang masih berdiri di balkon kamar nya itu tampak diam saja seperti tak takut sama sekali.


Bias hujan yang memiliki curah tinggi membuat tubuh nya terkena biasan namun ia ia seakan tak peduli.


Mata nya menelisik pada pada halaman mansion nya yang tampak berantakan, beberapa patung dan hiasan hancur terutama air mancur yang kini hanya menjadi tumpukan batu tak berharga.


Tapi ia pun tak begitu memperdulikan nya, mata yang berwarna abu-abu itu tampak menoleh kembali ke arah langit yang terlihat sedang mengamuk itu.


Tak ada bulan yang terlihat, apa lagi bintang?


Malam yang tampak kosong tanpa hiasan namun terlihat menangis dengan deras.


"Apa yang kau lakukan di luar sana? Di sana juga hujan kan?" gumam nya lirih yang kali ini bisa sedikit lebih tenang walau ia terus gelisah.


"Aku akan segera menemukan mu, lalu setelah itu aku akan memotong kaki dan tangan mu." sambung nya dengan mata yang tajam dan terlihat jika ia sungguh akan melakukan nya.


......................


Sementara itu


Laut terlihat pasang, ombak besar terus membuat haluan goyah berulang kali hingga keluar dari jalur yang seharus nya.


Para awak kapal dan nahkoda terus berteriak seperti berusaha untuk menyelematkan kapal nya karna jika mati pun tak akan terlihat.


Sedangkan gadis itu tetap diam di tempat nya, ia mencakar tangan nya sendiri karna kini itu lah yang menjadi kebiasaan ketika sedang duduk.


Perut nya terasa mual, namun ia tak bisa mengatakan apapun. Gadis itu tak memiliki hak untuk mengeluh karna kesulitan saat ini bukan hanya diri nya sendiri.


"Ku mohon..."


"Aku harus lebih cepat sampai..."


"Kali ini saja..."


Gadis itu bergumam, ia terus berdoa di setiap menit.


......................


Pria itu berdiri di depan dinding kaca yang memantulkan kota yang berada di bawah bangunan besar itu.


Hujan yang deras membuat pandangan nya sedikit buram, air yang jatuh dan meleleh dari langit sedang begitu menghiasi dinding apartemen nya.


"Kenapa harus hujan sekarang?"


Gumam nya lirih, ia tak tau. Dari sekian banyak hari tapi hanya hari ini lah yang tiba-tiba begitu berangin dan begitu gelap.


"Ck!"


Pria itu berdecak sesaat, ia berjalan ke kamar nya namun langkah nya terhenti sejenak untuk mematikan televisi nya.


"Di perkirakan akan terjadi badai karna curah hujan yang tertinggi. Hal ini bisa di sebut badai hujan pertama yang melewati di tahun ini."


Pria itu diam sejenak, mata nya terpaku. Ia tak bisa berkata-kata untuk beberapa saat.


"Apa-apaan ini? Curah hujan yang tinggi? Walaupun sudah tanggal 16 September? Apa langit memang tidak mendukung pelarian nya?" ucap pria itu tak percaya saat ia melihat ke arah televisi yang menampilkan berita cuaca.


Ia kembali melihat ke arah ponsel nya, jika rencana nya kali ini berjalan mulus maka sepupu nya akan berpikir kalau Anna pergi ke luar negeri menggunakan pesawat karna tiket yang di pesan.


......................


Skip


Ke esokkan hari nya.


Mentari mulai kembali terlihat, langit yang sebelum nya begitu gelap kini berwarna biru kembali dengan awan yang berwarna putih.


Sinar yang terasa hangat dengan angin yang sejuk itu masuk ke dalam kamar pria yang masih tak bisa tidur sama sekali.


"Ini sudah pagi, apa kau masih sedang berlari?"


Lucas bangkit dari duduk nya, sepanjang malam hanya sebotol alkohol yang menemani nya.


Ia tak bisa tidur atau pun melakukan sesuatu. Ia merasa begitu marah, teramat marah sampai membuat nya merasa bingung bagaimana cara mengatasi nya.


Namun keseharian nya tetap harus berlanjut. Ia memilih untuk tetap bersikap seperti biasa nya. Ia masih belum sadar.


Jika seseorang yang kecanduan mungkin akan masih baik-baik saja di hari pertama dan kedua tapi bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?


Drrtt... drrtt... drrtt...


Ponsel nya berdering, suara shower masih terdengar di dalam kamar mandi itu hingga menenggelamkan panggilan yang masuk ke dalam benda pipih itu.


Panggilan itu terlewat, dan bersamaan dengan itu suara air pun menghilang sebelum pintu itu terbuka.

__ADS_1


Namun ponsel itu kembali berdering lagi, Lucas kali ini mendengar nya. Ia tentu mengangkat nya.


"Kalian sudah menemukan nya?" tanya nya yang langsung menjawab.


"Kami menemukan catatan jika nona Anna pergi ke Malta, ada catatan dari pembelian tiket dan ada catatan keberangkatan nya."


"Malta? Kirim seseorang untuk mencari ke sana-"


"Tapi Sir, pesawat ke Malta yang berangkat pukul 06.30 pm kemarin mengalami kecelakaan karna mesin yang tiba-tiba mati, di perkirakan karna cuaca."


Lucas tersentak, ia segera membuka televisi nya karna tak mungkin berita kecelakaan besar seperti itu tak di tampilkan.


Dan benar saja!


Semua isi berita yang tayang saat ini hanya melaporkan tentang badai hujan dan kecelakaan yang di timbulkan nya.


Dari mulai mobil hingga pesawat karna curah hujan yang turun tiba-tiba tinggi tanpa pemberitahuan.


Ukh!


Pria itu memejam sejenak, tiba-tiba kepala nya menjadi begitu sakit. Pandangan nya gamang dan berubah menjadi berbayang.


Semburat warna yang sudah ia lihat itu kini seperti gambaran yang pecah. Warna nya menyatu dan memisah kemudian berputar tidak berada di tempat yang seharusnya.


"Sir! Anda tidak apa-apa?!"


Suara yang berisik memanggil nya karna tak ada jawaban sama sekali.


"Cari tau di apa dia benar-benar menaiki pesawat itu, dan jika sudah ada korban nya cari- Ukh!"


"Cari tau, bahkan jika hanya sampel dari satu jari nya."


Ucap Lucas yang kemudian menutup ponsel nya.


Tak!


Ponsel mahal itu jatuh ke lantai, kepala nya tiba-tiba terasa begitu sakit hingga membuat nya tak bisa melakukan apapun.


"Hah..."


"Hahaha!"


Tawa nya terdengar, berbaring dengan kepala nya yang begitu sakit luar biasa ia tak menangis melainkan tertawa.


"Kau lebih memilih mati seperti itu? Tidak! Aku yang akan membunuh mu, kau tidak mati sebelum aku yang melakukan nya!"


Ia tertawa, meringis, marah. Semua nya menyatu campur aduk.


Ia bahkan tak bisa mengindentifikasi perasaan nya saat ini, dan apa yang ia rasakan.


Tentu, untuk beberapa saat tadi malam ia berulang kali mendapati pikiran yang ingin membunuh gadis nya dan mengawetkan nya untuk tetap bersama nya.


Namun itu hanya bisa di lakukan jika tubuh gadis itu masih utuh dan terjaga, tapi jika kecelakaan pesawat?


Mungkinkah?


Saat semua nya hancur tak bersisa atau mungkin terbakar hingga tak lagi terbentuk.


Ia tak akan bisa melakukan nya, ia tak bisa hanya sekedar mengawetkan seonggok daging yang tidak akan mirip dengan gadis nya.


Tes...


Tes...


Tes...


Satu persatu, tetesan darah segar itu mengalir dari dalam hidung mancung nya. Lucas merasakan sesuatu yang basah melewati hidung dan kemudian mengusap nya.


"Heh!" tawa kecil nya terlihat.


Diantara semua warna yang gamang dan tampak tak beraturan warna merah itu kembali begitu menyala dan jelas di depan nya.


Ia masuk terduduk di lantai, pandangan nya tengah menatap dan meluruh ke seluruh kamar nya.


Seharus nya ia tau ada beberapa titik yang berwarna karna sebelum nya Anna sempat mengubah struktur kamar nya dengan beberapa hiasan namun kini semua terlihat tak jelas.


Hanya semburat-semburat yang tampak seperti sketsa tak jadi.


Bukankah pandangan ini lebih buruk dari sebelum nya?


"Ukh!"


Rasa sakit yang menusuk di kepala nya, mata yang terasa begitu tak nyaman.


Lucas memejam, entah kenapa sangat sulit membuka mata nya saat ini karna begitu ia melakukan nya maka akan ada tak nyaman dan sakit.


"Si*l!"


Decak nya yang tak bisa mengontrol rasa sakit yang ia alami saat ini sedangkan darah segar itu mengalir dengan lancar dari hidung nya hingga membuat kemeja yang ia kenakan kotor.


Namun tentu pria itu tak hanya duduk diam atau melata, ia perlahan bangun dan berulang kali membuka mata nya yang terasa sakit untuk tetap bisa berjalan dan tak menabrak isi kamar nya walaupun pandangan nya begitu gamang.


Langkah nya menuju salah satu nakas dan membuka nya dengan cepat, ia mengambil semua pil yang di resep kan untuk nya dan meminum nya.


"Hah..."


"Hah..."


"Hah..."


Suara napas itu terdengar berat, rasa sakit nya sedikit tenang. Perdarahan di hidung nya berhenti namun pandangan yang masih gamang itu sedang menari di penglihatan nya.

__ADS_1


"Aku akan menemukan mu..."


"Aku bersumpah untuk itu..."


__ADS_2