
Mansion Keluarga Damian
Auch!
Sekali lagi gadis itu meringis, pria itu memukul nya dengan tongkat setiap kali ia kalah bermain catur.
"Kau curang kan?" tanya Mr. Ehrlich pada gadis remaja itu.
"Curang apa nya?" tanya Anna yang mengusap kepala nya.
Ia bahkan tak mengerti bagaimana cara nya memainkan catur tapi ia bisa menang?
Setelah pembicaraan menginginkan cicit, Mr. Ehrlich masih belum membiarkan gadis remaja itu untuk kembali.
Alih-alih nya mengirim nya pulang ia malah menahan nya untuk bermain catur.
"Sudahlah! Aku tidak mau main lagi!" ucap pria tua itu yang terlihat tak akan memainkan nya lagi karna ia sudah terlanjur kesal karna terus kalah.
"Iya! Saya juga ga mau main sama kakek!" jawab Anna pada pria yang setiap kali kalah tak akan mengakui nya itu.
Klek!
"Papa!"
Suara seorang wanita yang masuk ke ruangan nya tanpa mengetuk terlebih dahulu, hingga membuat pria tua itu terkejut.
"Apa kau sekarang tidak lagi belajar sopan santun?" tanya nya pada putri pertama nya itu.
Veronica langsung mengernyit, walaupun tak suka ia harus tetap menunduk sampai rencana nya berhasil, "Maafkan ketidaksopanan saya."
"Ada yang ingin saya katakan," sambung nya menatap sang ayah sembari melirik tajam ke arah gadis remaja yang tampak terlihat tak nyaman.
Anna merasakan jika wanita itu menginginkan pergi dari tempat itu segera.
"Sa..saya pergi dulu." ucap Anna yang ingin langsung undur diri.
"Tidak perlu, kau di sini saja." jawab Mr. Ehrlich yang tak mau lawan pemain catur nya pergi begitu saja.
"Pa? Saya ingin berbicara." ucap Veronica pada sang ayah.
"Bicara saja, aku tidak menutup mulut mu." ucap nya pada putri nya itu.
"Tapi tidak apa-apa kalau di dengar oleh orang luar?" tanya sekali lagi agar sang ayah mengusir gadis yang bahkan tak memiliki derajat yang sama dengan mereka itu.
"Tidak perlu, lagi pula nanti dia juga akan masuk ke keluarga ini kan?" tanya Mr. Ehrlich yang sekarang sudah tak begitu memperdulikan level seseorang lagi saat ia sudah semakin menua.
Veronica mengernyit, "Maksud nya Pa?" tanya nya dengan bingung karna seharusnya sang ayah membenci gadis yang berada dari kalangan rendah atau biasa itu sama seperti wanita yang pernah masuk ke keluarga mereka dulu.
__ADS_1
"Dia bentar lagi melahirkan cicit ku," jawab Mr. Ehrlich dengan santai.
Sedangkan Anna dan wanita yang berdiri di dekat meja mereka pun terkejut.
"Kau hamil?" tanya nya pada gadis remaja itu.
Anna langsung menggeleng dan menyanggah nya. "Ti..tidak! Sa.. saya tidak hamil!" jawab Anna dengan jujur.
Mana mungkin bisa hamil kalau ia saja belum di sentuh sejauh itu pada pria yang membuat nya terkurung dalam sangkar emas itu.
Veronica memandang sinis, ia geram dan semakin marah namun ia tetap harus melakukan tujuan nya lebih dulu.
"Pa? Apa anda bisa memindahkan Jane ke perusahaan pusat? Sama seperti Diego dan Lucas?" tanya nya yang ingin memindahkan putri nya.
"Bukan nya kalian sudah memiliki perusahaan sendiri?" tanya Mr. Ehrlich.
Karna walaupun cucu-cucu pertama nya yang memegang kendali pusat namun bukan berarti anak dan cucu nya yang lain tau mendapatkan apapun.
Semua mendapatkan dan tentu menerima harum nya dari uang yang ia miliki.
"Benar, tapi saya rasa dia bisa lebih banyak belajar di perusahaan pusat." ucap nya pada sang ayah.
"Saya mohon untuk membimbing putri saya Pa," sambung nya yang kali ini memohon pada sang ayah.
Mr. Ehrlich memikirkan nya sejenak dan pada akhirnya menyetujui nya.
Veronica tersenyum puas dalam hati kara satu langkah nya semakin dekat, tentu ia tak semata-mata menginginkan putri nya untuk belajar.
Sekarang tinggal menyingkirkan jal*ng kecil ini dulu
Ucap nya tersenyum namun memandang begitu sinis pada gadis yang terlihat canggung dan bingung itu.
......................
Mansion Damian.
Lucas menatap ke arah gadis yang siang tadi menghilang saat sang kakek mengambil gadis nya tanpa permisi.
Dan kali ini ia tak menanyakan apapun karna sudah tau apa yang terjadi dan apa yang di bicarakan sang kakek.
"Kau benar, dia tidak membenci mu." ucap nya yang mendekat ke arah gadis remaja itu.
"Hum?" Anna menoleh, menatap ke arah pria yang mendekati nya.
"Besok guru bahasa mu akan datang, belajar lah dengan baik, nanti aku akan memeriksa nya setiap satu Minggu sekali." ucap nya pada gadis itu.
"Guru bahasa?" tanya Anna yang tampak bingung.
__ADS_1
"Ya, sekarang kau tidak akan punya alasan tidak tau apa arti nya lagi saat ada yang berbicara pada mu kan?" tanya Lucas pada gadis itu.
Anna mengerti sekarang, ia mengangguk mendengar nya. Tak ada penolakan sama sekali karna ia memang harus menjadi anak penurut pada pria itu.
Lucas tersenyum melihat nya, ia suka sikap penurut yang mudah ia kendalikan.
Tubuh nya membungkuk saat ingin mengatakan sesuatu, "Sekarang tinggal 5 bulan 2 Minggu lagi kan?" bisik nya yang tentu menghitung tanggal ulang tahun gadis remaja itu.
"Sir?" panggil Anna pada pria yang sudah duduk di samping nya.
"Sini, buka dulu. Kau harus mempersiapkan hal seperti itu." ucap nya yang membuka piyama tidur gadis itu.
"A..apa yang memang perlu di siapkan?" tanya Anna yang tak bisa mengelak selain membiarkan pria itu melucuti nya lagi.
"Tentu yang di bawah sana, kau pikir dia bisa masuk dengan mudah? Aku tidak akan memasukkan jari ku saja lagi nanti." bisik nya pada gadis itu.
Mata biru itu langsung membulat, wajah nya memanas dan memerah seperti kepiting rebus.
Terlalu sering di 'jamah' sampai membuat nya mulai memiliki pemikiran kotor yang sama dengan pria di samping nya.
"Dan seperti nya tadi kau membawakan teh yang membuat ku merasa semangat." ucap Lucas dengan senyuman kecil.
Tentu ia tau teh yang di bawa pulang oleh gadis itu berasal dari sang kakek, dan ia tau fungsi teh itu untuk apa.
"Ya, kata nya itu supaya anda bisa kuat!" ucap Anna yang mengatakan nya tanpa tau arti kata yang ia ucapkan.
"Benarkah? Kau mau mencoba kekuatan nya sekarang?" tanya nya sembari mendorong tubuh kecil itu ke ranjang.
"Hum?" Anna tampak bingung, gadis remaja yang hanya tau kerja part time itu tentu tak nyambung dengan hal seperti itu.
Kenapa saat ingin mencoba kekuatan malah mendorong nya ke ranjang?
"La.. lagi pula anda tidak akan berubah menjadi hijau kan?" tanya Anna yang merasa pria itu tak perlu mendorong nya ke ranjang.
"Hijau? Maksud mu?" tanya Lucas mengernyit.
"Hulk? Dia menjadi hijau saat jadi kuat," ucap Anna yang memperlihat kan otot lengan nya yang begitu ramping.
"Seperti nya memang ada yang salah di otak mu? Kau terbentur?" tanya Lucas yang malah memegang kedua sisi wajah gadis itu dan melihat nya dengan seksama.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja sekarang?" tanya Anna pada pria yang selalu berbicara ketus pada nya padahal kali ini ia yakin tak salah bicara.
"Rumah sakit?" tanya Lucas yang langsung berpikir untuk benar-benar memanggil dokter.
"Ya, rumah sakit jiwa Sir. Kita bisa di rawat bersama." jawab nya dengan senyuman pada pria itu.
Karna aku juga sudah ikut gila gara-gara kau.
__ADS_1
Lucas langsung menatap datar, "Kau mau mati?" tanya nya yang langsung membuat gadis itu terdiam.
"Te..tentu saya mau hidup, sa.. saya kan ingin terus bersama anda..." jawab Anna seketika dengan senyuman nya.