Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Ketahuan


__ADS_3

Tangan gadis itu gemetar, punggung yang terasa hangat dan keras masih menunduk seperti tengah menyantap nya dengan nikmat.


"S..Sir..." panggil nya lirih yang membuat pria itu mengangkat wajah nya.


Tak ada jawaban, mata yang gelap, rambut hitam yang jatuh menutup dahi nya dan wajah yang terlihat sempurna di bawah siluet lampu.


Lucas diam, ia melihat bekas kemerahan yang ia tinggal di tubuh gadis itu karna memakan cream yang sebelum nya di atas roti cantik itu.


Anna membuang wajah nya, entah kapan pria itu membuka kemeja nya dan entah kapan juga piyama tidur nya sudah jatuh ke lantai.


"Ternyata aku juga suka makanan seperti ini," ucap nya sembari mendekat lagi ke arah gadis itu.


Dan kini ia tak lagi mengambil cream yang berada di atas cake itu melainkan nya menjatuhkan nya ke atas tubuh polos gadis itu.


"Uhm! Sir..."


Tubuh gadis itu tersentak, ia berusaha mendorong pria yang terasa begitu keras karena otot-otot yang terbentuk di tubuh nya.


Lucas tak mengatakan apapun, perpaduan daging yang lembut dengan cream cake yang manis membuat nya candu.


Tangan nya mencoba mencari sesuatu kali ini dengan mengusap bagian yang lain.


"S..sir ja...jangan..." gadis itu merasa aneh, seluruh tubuh nya seakan tersetrum membuat nya menggeliat bahkan tanpa ia inginkan.


Lucas tak mengatakan apapun, namun ia merasa gemas dengan Piramida yang tengah ia lahap itu sampai menghisap nya dengan gemas.


"Ja..jangan di..." ucapan gadis itu terbata tak bisa melanjutkan kalimat nya.


Sedangkan pria itu mengangkat tangan nya, ia mengernyit melihat jemari nya yang terlihat berwarna merah.


"Tunggu, kau terluka?" tanya nya yang bingung karena ia sudah pernah melakukan seperti itu sebelum nya namun tak pernah melukai bagian privasi gadis itu.


"Hum?" Anna mengernyit dan melihat ke arah tangan pria itu.


Mata biru nya membulat sempurna, ia tak merasakan sakit seperti terluka tapi darah?


"Astaga!" ucap nya yang melupakan sesuatu.


"I..itu! A..anda harus mencuci nya!" ucap nya seketika yang langsung mengusap jemari pria itu dengan tissue.


Lucas mengernyit mendengar nya, kenapa gadis itu begitu panik?


"Dia keluar lagi? Kau benar-benar terluka di dalam?" tanya nya yang menunduk melihat ke arah bagian bawah gadis itu yang masih tak terhalangi apapun.


Anna tersentak ia langsung menutup mata pria itu dengan tangan kecil nya walau ia tau tak akan mungkin bisa tertutupi mata pria itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya nya yang mengernyit melihat tingkah gadis itu yang begitu aneh.


"Mana tadi kemeja anda Sir? Ini pakai lagi!" ucap nya yang langsung berlari dengan cepat dan memungut piyama nya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Lucas terdiam, ia ditinggalkan saat baru saja ingin mulai. Pria itu membuang napas nya dan memakai kemeja nya lagi karna ia memang hanya masih melepas kemeja nya saja tadi.


Ia diam dan melihat ke arah noda darah yang masih tertinggal di atas sofa nya itu.


...


Anna segera mencuci tangan nya, ia gelisah dan takut keluar dari kamar mandi itu.


"Kenapa harus keluar nya sekarang? Astaga!" gumam nya yang lupa dengan tanggal periode nya.


Tok!


Gadis itu langsung tersentak, ia langsung menoleh ke arah pintu.


"Kau kenapa? Mau ku panggilkan dokter?"


Ucap Lucas yang mengetuk dari luar, sedangkan Anna terlihat bingung.


"Ti..tidak apa-apa Sir! Sa..saya baik-baik saja..." jawab nya lirih dari dalam.


Tak berselang lama ia pun keluar karna memang harus kembali dan mengambil pembalut nya.


"Kau lama di dalam," jawab Lucas dengan wajah datar nya dan kini terlihat seorang dokter yang tengah berdiri di samping nya.


"Di bagian itu berdarah waktu ku pegang, cuma satu jari." ucap nya yang menunjuk ke arah bagian yang tadi nya sempat mengeluarkan darah.


Mata Anna langsung membulat, untung nya kali ini adalah dokter wanita jadi ia tak begitu terlalu malu.


"Ja..jangan! I..itu cuma..." jawab nya yang kebingungan melihat pria itu yang benar-benar memanggil dokter.


Wanita yang memegang tas besar berisi peralatan siap tempur nya itu pun mendekat.


"Akan saya priksa dulu nona," ucap nya yang mendekat.


Anna langsung menarik tangan sang dokter dan mendekat ke telinga nya.


"A..aku datang bulan..." ucap nya pada dokter wanita itu.


"Kenapa kalian berbisik?" tanya Lucas mengernyit yang tak dapat mendengar.


Dokter wanita itu pun berbalik menatap ke arah pria yang membayar nya dengan gaji yang tinggi itu.


"Nona Anna hanya tengah mengalami datang bulan, saya rasa itu bukan sesuatu yang harus di khawatirkan tapi saya akan menuliskan resep apabila nona mengalami nyeri perut," ucap sang dokter.


Sedangkan Anna mematung mendengar nya, ia sudah ketakutan setengah mati karna mengotori tangan pria itu dengan darah bulanan nya sedangkan sang dokter itu malah tanpa beban mengatakan nya.


"Oh," jawab Lucas begitu singkat dan datar.


"Kau bisa keluar," sambung nya pada dokter tersebut.


Anna terdiam, ia masih berdiri tak berani bergerak dan takut akan kemarahan pria itu.


"Ma..maaf Sir..." ucap nya lirih.


"Untuk?" tanya Lucas dengan datar dan memiringkan kepala nya melihat ke arah gadis yang ketakutan itu.


"Ta..tangan anda..." jawab nya pada pria itu dengan gugup.


"Ini? Lagi pula darah nya sudah hilang tadi sudah kau bersihkan." ucap Lucas melihat ke arah jemari nya.


"Lalu kau minta maaf untuk apa lagi?" tanya nya menunggu gadis itu untuk menyebutkan kesalahan karna meninggalkan nya saat tongkat sakti yang berada di tubuh nya sudah bangun.


"Hum?" Anna menatap bingung, ia berusaha mencari kesalahan nya lagi sampai melihat ke arah sofa yang terkena darah nya.


"Sa..saya mengotori sofa anda.." ucap nya lirih.


Walaupun sofa itu berada di kamar nya namun tetap saja kamar nya pun adalah milik pria itu.


"Yang lain? Kalau kau tidak bisa menemukan jawaban nya aku akan menyayat tangan mu." ucap Lucas menatap dengan tajam.

__ADS_1


Anna tersentak, ia panik dan kebingungan menjawab apa yang harus nya ia ucapkan.


"Ma..maaf sa..saya..." jawab nya yang tidak tau jika pria itu kesal karna ia tinggalkan begitu saja tadi.


Tetesan darah yang belum di halangi dengan bendungan itu menetes ke paha nya, membuat piyama yang berwarna putih itu langsung terlihat memberikan corak lain.


Lucas lambung menoleh, warna merah yang di hasilkan dari darah sangat sensitif di mata nya.


"Kau tidak pakai sesuatu untuk mengehentikan nya?" tanya Lucas yang menunduk melihat ke arah tetesan yang merembes itu tanpa mendapatkan jawaban yang ia inginkan untuk permintaan maaf yang lain.


"I..iya Sir! Sa..saya permisi sebentar!" jawab Anna cepat yang langsung beranjak ke lemari nya dan mengambil apa yang ia butuhkan.


15 menit kemudian.


Anna keluar dari kamar mandi dengan mengganti pakaian nya.


Namun ia masih melihat pria itu yang duduk di pinggir ranjang nya dengan raut yang masih kesal.


"A..anda masih marah Sir?" tanya nya pada pada pria yang masih menunggu nya itu.


"Kau belum menyebutkan kesalahan mu," ucap Lucas yang gigih pada gadis itu.


Anna memutar kepala nya, ia mencari kesalahan nya yang lain sampai ia menemukan satu lagi yang bisa jadi kesalahan nya.


"Sa..saya salah karna da..datang bulan.. dan membuat a..anda me..merasa jijik..." ucap nya yang terbata dan gugup.


Lucas membuang napas nya dengan kasar, ia mengarahkan tangan nya untuk memanggil gadis itu mendekat.


"Apa yang salah dengan datang bulan? Setiap wanita normal memang datang bulan kan?" tanya nya pada gadis itu saat Anna melangkah mendekat.


"La..lalu kesalahan saya apa?" tanya Anna lirih yang benar-benar tak tau.


Lucas tak menjawab dengan kata-kata melainkan meraih tangan gadis itu dan mengarahkan pada sesuatu di tubuh nya yang saat ini sedang membengkak.


"Kau meninggalkan dia sendirian," ucap nya pada gadis itu.


Mata biru itu membulat, ia menatap ke arah tengah yang menonjol itu lalu kemudian membuang wajah nya.


"A..apa yang?!" ucap nya yang kehabisan kata-kata.


"Lakukan seperti biasa," ucap nya yang mengatakan hal itu tanpa basa basi.


"Tapi kan saya sedang datang bulan," ucap Anna pada pria itu.


"Memang nya mulut mu yang mengeluarkan darah?" tanya pria itu yang langsung membuat Anna terdiam.


Gadis remaja itu pun berlutut di atas lantai, ia sudah sering melakukan nya sampai tau tanpa harus di ajari lagi.


...


Anna meringkuk, kini datang bulan nya mulai terasa sakit. Tapi untung nya pria psikopat yang menjengkelkan itu sudah pergi dari kamar nya setelah memberikan nya asupan vanila panas.


"Padahal kan sudah minum obat," gumam nya lirih yang masih merasakan begitu sakit di perut nya berbeda dengan sakit datang bulan yang biasa nya.


Anna mencoba untuk tidur sampai waktu yang tidak ia ketahui sama sekali. Ia mencoba menahan nya sebisa mungkin.


Waktu terus berjalan, antara kantuk dan tidur nya yang tengah menahan sakit membuat nya setengah sadar.


Sesuatu yang terasa hangat mengusap perut nya, ia merasakan seseorang yang datang namun tak bisa begitu dengan jelas merasakan nya.


Hangat...


"Ma..mama..."


Gumam nya lirih, sesuatu yang mirip dengan jemari yang besar membuat nya kembali ke ingatan nya saat memegang tangan sang ibu yang tentu memiliki ukuran yang lebih besar dari jari-jari mungil nya dulu.


Usapan yang lembut masih terasa di perut nya yang rata dan langsing itu walaupun timbangan nya sudah naik.


Kini gadis itu sudah tertidur pulas, walau masih terlihat meringkuk.


"Anak nakal! Kau pikir aku ibu mu?"


Suara yang terdengar pelan sembari menarik pipi bulat gadis itu namun tak mencubit nya.


....


Ke esokkan pagi nya.


Anna memulai sarapan nya, kini ia bisa kembali ke sekolah nya lagi ketika semua perawatan nya sudah di katakan pulih dan stabil.


Lucas melihat gadis yang tampak baik-baik saja pagi ini berbeda dengan malam sebelumnya.


"Kau sering seperti itu?" tanya Lucas yang membuat Anna menghentikan sarapan nya.


"Seperti apa Sir?" tabya gadis remaja bermata coklat itu tak mengerti.


"Kesakitan tengah malam?" tanya Lucas memperjelas.


Anna tertawa canggung mendengar nya, "Itu karna saya sedang datang bulan." jawab nya lirih.


"Aku tidak pernah melihat mu kesakitan seperti itu waktu datang bulan," tanya nya sekali lagi.


"Iya, kan biasa nya anda pergi dinas keluar Sir." jawab Anna pada pria yang tampak tak mengetahui apapun itu.


Lucas tak menjawab atau pun bertanya lagi, ia hanya melanjutkan sarapan nya.


"Aku akan pergi ke Roma nanti siang," ucap nya yang memberi tau jika ia akan pergi keluar lagi karna memang ia adalah orang yang sangat sibuk.


Anna mengangguk ia tersenyum tanpa sadar saat mendengar pria itu akan bekerja di luar lagi.


"Jadi telpon aku jam 8 malam nanti, dan harus panggilan video." ucap nya pada gadis itu mengingatkan.


"Kalau kau lupa aku akan menghukum mu saat kembali." sambung nya yang membuat Anna kehilangan kata-kata.


"Loh? Berarti sama aja?" tanya Anna yang terkejut mendengar nya karna ia tau mengapa pria itu meminta nya untuk melakukan panggilan video.


"Apa nya yang sama saja?" tanya Lucas mengernyit.


Gadis yang kini tampak lesu itu menggeleng, namun pria itu tak suka tampilan yang lesu.


"Tertawa," perintah nya yang langsung membuat gadis itu tertawa walau tak mau.


"Hehe," Anna langsung menurut tanpa membantah dan memberikan senyuman palsu yang tampak cerah.


......................


Sekolah


Samantha menunggu teman nya itu untuk datang lagi.

__ADS_1


"Anna?" panggil nya yang langsung berdiri mendekat melihat teman nya yang memasuki kelas.


Anna diam, ia mencoba membuang pandangan nya dan tak melihat ke arah teman nya itu.


Samantha tak bisa mengatakan apapun lagi karna tak lama kemudian bel sudah berbunyi dan membuat seluruh siswa harus masuk lebih dulu memulai pelajaran.


...


Jam istirahat


Kali ini gadis remaja yang centil itu mendekat lagi.


"Ini! Aku buatin!" ucap nya memberikan kotak bekal yang sudah ia siapkan bahkan ia tak pernah memperlakukan kekasih nya seistimewa itu.


Anna menoleh, ia membuka mata nya dan melihat ke arah gadis yang menyusul nya di taman itu.


"Aku ga lapar," jawab Anna singkat berbalik ingin pergi.


Samantha mengernyit, ia sudah melakukan semua upaya agar berbaikan dengan teman nya lagi.


Greb!


Kali ini ia mencegah agar gadis itu pergi.


"Aku udah minta maaf Ann..."


"Kamu mau aku gimana lagi biar bisa kamu maafin?" tanya nya yang pada gadis itu.


Anna menepis nya dengan kuat sampai membuat kotak bekal yang di pegang oleh Samantha ikut terjatuh.


Mata biru itu menatap ke arah makanan yang terbuang di atas tanah itu.


"Sekarang udah marah nya?" tanya Samantha yang menatap ke arah teman nya itu.


"Aku bukan marah Sam! Aku cuma..." ucap nya yang tak bisa mengatakan nya.


"Kalau kamu ga marah kenapa kamu menghindar? Aku kayak kotoran yang harus di jauhi!" ucap Samantha pada teman nya.


Anna terdiam, ia memang baru kali ini punya teman yang dekat namun sekarang ia malah sulit untuk berteman dengan nya lagi.


"Kamu tau aku dari panti asuhan?" tanya nya pada teman nya.


"Lalu?" Samantha bingung, apa yang salah jika dari panti asuhan?


"Aku masih punya orang tua yang masih hidup," ucap nya lirih.


Samantha tak menjawab namun ia mendengarkan walau masih bingung mengapa teman nya itu berkata demikian.


"Ayah ku masih hidup, dia punya kehidupan yang sangat baik." sambung gadis itu dengan senyuman pahit.


"Terus kenapa dia ga cari kamu? Kenapa malah..." ucap Samantha yang merasa heran.


Jika teman nya itu masih memiliki ayah setidak nya, ayah nya harus datang atau paling tidak memberikan biaya hidup untuk putri nya kan?


Dia beranggapan semua ayah sama seperti ayah nya yang selalu ia pandang sebagai ayah yang sempurna dan baik untuk nya.


Anna diam sejenak saat teman nya bertanya demikian.


"Tidak tau, dia tinggal dengan keluarga baru nya." jawab Anna dengan senyuman getir.


"Setelah selingkuh dari ibu ku dan meninggalkan kami lalu dia sangat bahagia dengan keluarga baru nya itu." sambung Anna sekali lagi.


"Jahat banget! Kamu tau orang nya?" tanya nya Samantha yang melihat ke arah gadis itu.


"Kenapa?" tanya Anna


"Kalau tau biar aku bantuin untuk di maki!" jawab Samantha yang tampak memang benar-benar kesal juga.


"Itu alasan nya kenapa aku tidak bisa berteman dengan mu lagi." sambung Anna lirih.


Samantha mengernyit, memang nya apa hubungan nya dengan diri nya?


"Kenapa?" tanya nya yang tak tau apapun dan memang tak akan menyangka jika yang di sebutkan adalah keluarga nya.


"Setiap lihat kamu, aku jadi ingat sama ayah ku, Sam." jawab Anna sembari merogoh salah satu kantung seragam nya dah mencari plester luka yang tadi ia baru ia beli karna terkena bahan saat di kelas seni.


"Ini," ucap nya yang memberikan pada Samantha saat ia tau jemari gadis itu pun terlihat terluka dan kemudian ia pun berbalik pergi.


Samantha bingung, "Apa wajah ku mirip sama Papa nya Anna?" tanya nya lirih yang masih tak menyangka jika ia lah yang sedang di bicarakan.


......................


Perusahaan


Wanita itu tersentak, ia mendengar ucapan atasan nya yang baru saja memecat nya tanpa pemberitahuan lebih dulu.


"Tapi saya melakukan apa? Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan?" tanya Mrs. Laura yang tak terima dengan pemecatan sepihak nya itu.


"Yang tadi aku katakan itu tidak jelas? Sekarang kamu keluar!" ucap pria itu yang tak mau ambil pusing.


Ia juga hanya menerima perintah untuk memecat wanita itu dengan alasan apapun maka dari itu ia memilih beragam alasan dari permasalahan kecil.


"Pak! Tunggu Pak!" ucap Mrs. Laura yang di dorong keluar dari ruangan atasan nya.


"Apa-apaan ini!" ucap nya yang tak terima dengan perlakuan yang baru saja ia dapatkan.


Wanita itu tak tau jika kini hanya akan ada kemalangan dan kesialan yang akan di dapatkan kelurga yang sangat ia cintai itu.


......................


Italia, Roma


Lucas melihat ke arah data yang menunjukkan semua yang ingin ia cari tau.


Pintu nya di ketuk dan ia pun mengizinkan yang mengetuk pintu nya untuk masuk.


"Ada apa?" tanya Diego yang saat sudah berdiri melihat ke arah sepupu sekaligus atasan nya itu.


"Kau sedang jatuh cinta? Manis sekali?" tanya Lucas yang menatap dengan senyuman tipis dan mata yang tajam.


Diego mengernyit, jika pria itu biasa nya sangat jarang berekspresi namun kali ini tersenyum tipis dengan mata yang menusuk itu berarti sedang sangat marah.


"Apa yang kau katakan?" tanya nya mengapa dengan bingung.


Lucas memberikan kertas yang berisi check in hotel yang di lakukan beberapa kali.


"Kau sudah tau kalau dia punya anak kan? Siapa nama nya Samantha? Nama yang mirip dengan gadis yang kau bawa ke hotel?" tanya nya dengan senyuman.


"Ini..." Diego memiringkan kepala nya bingung menjawab pertanyaan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2