
Flashback 2 tahun yang lalu.
"Astaga! Jangan yang ini! Ini bukan Alkohol Varsha!"
Wanita itu menatap ke arah gadis yang tampak bingung mengambil di gudang obat nya.
"Tapi ini juga ga ada warna nya," jawab gadis itu yang meletakkan nya kembali.
"Alkohol kan punya bau? Itu tidak ada bau juga kan?" tanya Camilla yang menatap ke arah gadis itu dan kembali menyimpan nya.
"Ini untuk apa?" tanya gadis itu yang mengikuti ke arah wanita yang sudah cukup berumur itu.
"Kau ini, terlalu banyak pertanyaan nya. Kalau ada seseorang yang di berikan ini dia bisa mati." ucap nya yang ketus dan memang seperti itulah cara bicara nya.
Gadis itu tak mendengarkan karna ia hanya berpikir jika wanita itu hanya mengikuti nya.
"Jadi ini tuh racun? Bibi bilang begitu biar aku ga tanya-tanya kan?" tanya nya yang memang terkadang menjengkelkan.
"Kau ini! Bukan! Etionin tidak berbau dan tidak berasa, dulu pernah ada pasien yang datang dengan kerusakan hati karna anak nya salah memberi nya obat untuk di campur ke minuman nya." ucap nya yang menjelaskan karna ia dulu memang mantan perawat di rumah sakit.
"Dia meracuni orang tua nya?" tanya nya dengan penasaran.
"Ku rasa tidak, pasien itu memang memiliki obat yang di campur ke minuman nya namun anak nya salah memberi, terlalu terlambat untuk mengetahui nya." ucap Camilla menerangkan.
"Sekarang ini, obati kaki Estelle dulu, walaupun dia tidak menangis pasti rasa nya tetap akan sakit." ucap nya yang memberikan obat-obatan yang sudah ia siapkan.
"Iya, nanti aku belikan bibi kotak P3K biar ga di racik di gudang lagi." ucap nya yang tersenyum manis pada wanita tua itu.
"Aku tidak perlu uang mu!" ucap nya yang memang selalu ketus walaupun ia sayang dengan gadis itu dan menganggap nya sebagai putri nya sendiri.
Flashback off
......................
Satu Minggu kemudian
Mansion Damian.
Wanita itu duduk di taman yang besar itu sendirian, kini ia lebih suka di rantai dan menunggu putra nya untuk datang dari pada bisa berjalan dengan bebas namun ia memiliki seseorang menjadi rantai untuk nya.
"Dia akan membunuh Estelle..."
"Tidak! Tidak bisa! Aku harus melindungi Estelle! Estelle ku tidak boleh terluka!"
Wanita itu bergumam sembari memandang ke arah foto-foto absurd yang sudah ia cetak dari card di kamera putra nya.
Ia takut dan ketakutan yang terlalu besar akan menjadi sesuatu yang meledak hingga bisa membuat nya melakukan sesuatu yang berada di luar dari keinginan nya.
"Aku harus membunuh nya lebih dulu..."
"Estelle ku harus hidup..."
Anna terus bergumam sendirian, kuku yang cantik itu mencakar tangan nya sendiri, kalut dalam pikiran yang bahkan seharusnya tak berani ia pikirkan.
"Bagaimana?"
"Apa yang har-"
Deg!
"Etionin..." gumam nya lirih yang mengingat sesuatu.
Sesuatu yang pernah ia dengar dari seseorang jika benda itu dapat membahayakan seseorang.
"A.. aku bisa menggunakan nya..."
Anna bergumam, ia gugup dan semakin takut namun isi kepala yang sudah ingin keluar itu perlahan membuat rasa takut itu tertelan dengan sendiri nya.
Anna bergumam, ia memang tak bisa keluar namun ia di beri kebebasan untuk bisa berbelanja sebanyak apapun yang ia inginkan.
Namun jika ia membeli sendiri akan ketahuan, bukan?
...
Seorang pelayan yang tengah menyiapkan dan membersihkan semua debu tak terlihat yang ada di tempat itu.
Ekor mata biru yang cantik itu melirik ke arah nya dan menatap nya sesaat.
Pelayan tersebut mulai gugup, biasa nya wanita dari istri pemilik mansion itu tak pernah memperhatikan nya atau pun pelayan lain nya.
Dan ia masih tergolong pelayan baru di tempat dengan gaji yang tinggi itu.
Prang!
Vas yang terbilang mahal itu berhambur pecah di atas lantai.
Gadis itu tersentak, ia langsung membersihkan nya dan menatap dengan takut lalu kembali menunduk lagi.
"Ma.. maafkan saya nyonya..." ucap nya lirih yang sembari membersihkan pecahan vas itu.
Tak ada jawaban, Anna diam tak menjawab nya sama sekali dan menatap ke arah pelayan yang jarang ia temui atau mungkin ia yang memang tak begitu memperhatikan semua pelayan di mansion megah itu.
"Siapa nama mu?" tanya nya dengan nada yang tenang pada gadis itu.
"I.. Ivana nyonya..." jawab gadis itu dengan begitu gugup.
Anna mengangguk, tak menanyakan apapun lagi pada gadis yang masih berusia 21 tahun itu.
"Kau harus mengganti nya, harga nya sangat mahal." ucap Anna yang menatap ke arah pelayan yang kebetulan membuat kesalahan di depan nya itu.
Ivana tersentak, ia semakin takut dan tentu gugup saat mendengar mengganti nya.
"Kenapa? Tidak sanggup? Kalau kau tidak bisa melakukan nya kau bisa melakukan hal lain dan aku akan menutup mata soal masalah ini." ucap Anna yang menatap ke arah pelayan muda itu.
"Eh? A.. apa yang harus saya lakukan?" tanya nya dengan gugup sembari memandang ke arah gadis yang tampak tengah menatap nya itu.
"Aku akan memberi tau nya, kau perlu melakukan sesiatu tapi Lucas tidak boleh tau." ucap nya yang menatap ke arah pelayan tersebut.
__ADS_1
Ivana semakin terkejut, saya ia berkerja di tempat itu tentu ia sudah tau apa yang terjadi dan semua pelayan sudah di berikan sesiatu yang tidak akan mungkin membuat mereka bisa mengatakan sesuatu.
"Yang tidak boleh tu.. tuan tau?" tanya nya gugup karna ia tau tuan yang di maksud lebih mengerikan di bandingkan nyonya nya yang masih muda dan cantik itu.
"Ya, kau tidak berani?" tanya Anna sekali lagi yang menatap ke arah pelayan yang takut dan gugup itu.
"Ta.. tapi saya..." Ivana tentu merasa takut.
Ia takut jika nyonya nya menyuruh melakukan sesuatu yang tak di sukai tuan nya dan pada akhirnya ia lah yang terkena imbas nya.
"Ma.. maafkan saya! Ta.. tapi saya tidak bisa membantu nyonya untuk keluar!" ucap nya yang berlutut karna mengira Anna ingin meminta nya untuk membantu nya keluar padahal bukan itu yang di inginkan.
"Ya, aku tau." jawab Anna membuang napas nya lirih saat menyadari ketakutan pelayan tersebut.
"Kau takut?" tanya Anna mengulang.
Tak ada jawaban sama sekali namun tangan yang bergetar itu menjadi jawaban tanpa suara.
"Kau lebih memilih mati sekarang? Bukan nya lebih baik mati nanti? Berikan jawaban mu sampai besok." ucap Anna yang kemudian menatap ke arah pelayan tersebut.
"Letakkan serpihan vas itu di dalam nakas yang berada di samping meja baca ku sampai jam 2 siang dan jika tidak ada maka ku anggap kau akan mengganti nya dan..."
"Aku akan melaporkan pada suami ku kalau kau melakukan kelalaian tugas." sambung Anna.
Ia tak bisa membujuk nya karna tak akan memberikan kesan intimidasi dan tentu ia mempelajari hal tersebut dari seseorang.
Ivana terdiam, ia sungguh takut dengan apa yang di katakan oleh nyonya yang menjadi istri pemilik mansion besar yang ia bersihkan.
Jika tuan nya tau maka ia bisa saja bernasib sial dan jika ia menurut mungkin saja akan mendapati ujung yang sama.
"Mati sekarang atau mati nanti? Aku ga mau mati!" ucap Ivana yang frustasi.
...
Pukul 10.35 pm
Mata biru itu menatap nanar, wajah nya mulai pucat dan juga rambut yang basah karna keringat.
"Uhh!"
Suara yang terdengar berat itu berada di telinga nya, napas yang hangat dan juga hentakan yang kuat.
Tangan dari kuku yang cantik itu perlahan mengendur tak lagi mencakar lengan pria di depan nya.
Cup!
Suara kecupan yang lekat terdengar setelah deritan ranjang yang berisik, leher yang jenjang itu menjadi pusat dari sasaran ciuman yang ringan itu.
"Apa kita bisa istirahat?" tanya Anna lirih yang menatap ke arah langit-langit kamar nya.
Lucas beranjak, ia berguling ke samping wanita nya dan kemudian menoleh.
"Kau lelah?" tanya nya dengan suara yang lebih rendah sembari mengusap anak rambut di wajah yang berkeringat itu.
Anna tak menjawab, ia membuang tatapan nya. Ia tak tau harus benar-benar membenci pria itu atau tidak.
Perasaan traumatis yang membuat nya bergantung pada pria itu masih ada, hubungan toxic yang belum selesai pun masih terjalin.
"Luc? Aku mau tanya..." ucap Anna lirih yang kemudian menatap ke arah sang suami.
Lucas tak menjawab namun ia menatap ke arah wanita nya, ia tidur di samping sang istri dan menghadap dengan menyandarkan kepala nya pada satu tangan.
"Kamu mencintai ku?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
"Ya, aku mencintai mu." jawab Lucas dengan cepat tanpa berpikir dua kali.
"Aku menikahi mu dan menyentuh mu padahal aku biasa nya selalu muntah dengan sentuhan orang lain," sambung pria itu yang menatap ke arah wanita di depan nya.
"Tapi tidak bisa mencintai Estelle?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
Tangan yang mengusap kepala wanita itu berhenti seperti sedang di pause.
Tatapan yang tadi nya mulai melembut dan hangat kini kembali dingin.
"Ya, aku tidak bisa mencintai anak itu."
"Walaupun mungkin dia bagian dari mu atau dari ku," jawab Lucas yang sama sekali tak menyangkal.
"Karna itu kau mau dia mati? Untuk mendominasi ku? Karna aku milik mu, dan tidak boleh ada yang dekat dengan ku, siapapun itu..." ucap nya lirih yang menatap ke arah sang suami.
"Ya, aku sudah mengatakan nya sejak awal. Aku tau aku akan jadi orang tua yang buruk maka dari itu aku tidak mau dia lahir dulu." jawab Lucas yang sama sekali tak ada menyangkal apapun.
Anna diam sejenak, ia menatap ke arah pria itu dan melihat nya lirih.
"Kamu punya orang tua yang buruk? Aku dengar anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang buruk akan ada perasaan traumatis yang kemudian menolak anak saat mereka dewasa." ucap Anna yang menatap ke arah sang suami.
"Tidak, aku tidak punya traumatis seperti itu." sanggah Lucas yang memang tak tau jika masa kecil nya sendiri lah yang membuat nya terjebak di tempat yang sama.
Perasaan yang sebenarnya takut dan simpati kasat mata untuk keturunan nya, cara nya melindungi diri nya sendiri dan juga 'anak' yang ia miliki dan ia tolak.
Anna tak lagi menayangkan apapun, ia diam hingga keheningan malam itu mulai menelan nya.
Lucas pun mengatakan apapun lagi, ia mengecup dahi sang istri dan kemudian beranjak memeluk tubuh kecil itu.
"Bukan nya kau mengantuk? Kita tidur saja? Jangan bahas orang lain saat sedang bersama." ucap Lucas yang bisa menjadi lembut asalkan tak ada bahasan orang ketiga termasuk putra nya.
Anna diam sejenak, mata nya tampak kosong dan ia merasakan pelukan yang hangat dengan wangi mint dan juga aroma tubuh yang menyatu masuk ke indera penciuman nya serta tepukan lembut di punggung nya.
"Luc? Aku tidak mencintai mu, aku membenci mu..." ucap Anna lirih yang terdengar seperti sedang bergumam namun suara itu sampai kepada pria yang sedang memeluk nya.
Lucas mengehentikan tangan nya sejenak, ia terdiam dengan pikiran yang tak siapapun bisa membaca nya.
"Tidak apa kalau kau membenci ku, kau hanya tinggal berbohong dan mengatakan mencintai ku." jawab nya dengan suara berbisik walau ia tau gadis itu tak memberikan pertanyaan melainkan pernyataan.
...
Ke esokkan hari nya.
__ADS_1
Pukul 01.34 pm
Anna membuka nakas nya, dan kini ia sudah melihat pecahan vas yang kemarin berada di tempat yang ia katakan bahkan sebelum jam dua siang.
Tidak apa kalau kau membenci ku, kau hanya tinggal berbohong dan mengatakan mencintai ku.
"Ya..."
"Kamu yang bilang seperti itu lebih dulu, aku..."
"Aku tidak melakukan hal yang salah, aku hanya mau melindungi Estelle ku..."
Anna bergumam dengan bibir yang hanya terbuka sedikit saat mengatakan nya. Ia gugup dan takut dengan keputusan nya namun saat memikirkan tentang putra nya ia tak bisa memikirkan sesuatu dengan waras.
......................
Tiga hari kemudian
Ruang konsultasi.
dr. Dave tampak menarik napas nya, ia tau penyakit yang tak terlihat lebih sulit di sembuhkan dari pada penyakit yang terlihat.
Dan kasus yang bahkan tak pernah terjadi akan membuat pengobatan yang lebih sulit juga.
"Ku rasa ini bisa menjadi konseling terkahir ku. Aku sudah baik-baik saja." jawab Lucas pada pertanyaan yang dengar terakhir kali.
"Merasa baik-baik saja bukan berarti anda memang baik-baik saja." jawab nya yang menatap ke arah pria di depan nya.
"Sir? Apa bisa saya mengatakan sesuatu?" tanya dr. Dave yang melihat ke arah catatan nya.
Lucas tak menjawab namun ia tak menyanggah atau membantah nya yang dalam artian lain membiarkan psikiater yang menangani nya itu bicara.
"Apa anda bisa membawa istri anda untuk melakukan konseling bersama?" tanya dr. Dave pada pria itu.
Lucas diam sejenak, ia ingat terkahir kali catatan medis mental sang istri yang sangat buruk lima tahun yang lalu.
"Tidak, aku tidak mau membawa nya keluar." ucap Lucas yang menjawab dengan cepat.
dr. Dave tak lagi mengatakan apapun, ia tak lagi bertanya dan hanya membiarkan klien nya itu untuk kembali.
Selama masa pernikahan hingga sekarang tak ada satu pun orang lagi yang di kuliti ataupun mati.
Pria itu seperti sudah menemukan apa yang di cari nya dan kini hanya fokus pada hal itu saja tanpa memperdulikan yang lain.
"Walaupun anda tidak ingin menjalani tetapi lagi tapi saya harap anda akan tetap datang," ucap nya yang mengatakan kata pengharapan.
Lucas tak menjawab, ia hanya menoleh sejenak dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun.
dr. Dave menarik napas nya, pria yang tidak memiliki emosi namun terobsesi dengan seseorang.
Menginginkan semua perhatian dan rasa cinta nya, ingin menjadi satu-satu nya pusat seperti ia memusatkan wanita itu di dalam hidup nya juga.
Tanpa ada penghalang dan tanpa ada seseorang yang bisa memasuki nya.
......................
Mansion Damian.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung wanita itu berdegup kencang, ia menatap ke arah pria yang duduk di meja kerja nya itu ketika sudah pukul 10.34 pm dan masih terjaga.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Lucas yang menatap ke arah sang istri yang melihat nya dengan tatapan yang berbeda.
"Tidak..."
"Kamu tidak lelah?" tanya Anna dengan senyuman canggung.
Mata biru nya sesekali melirik ke arah teh yang ia buat dan ia berikan barusan.
"Tidak, kalau kau di sini." jawab Lucas singkat karna ia memang menyukai jika wanita itu datang dan bersama nya.
"Aku tidak membantu apapun di sini," ucap Anna yang walaupun seperti itu tak beranjak dari sofa di ruangan kerja itu.
"Tidak apa, kau di sini pun sudah membantu ku." jawab Lucas sembari meminum teh hanga yang di buat oleh sang istri.
Anna diam sejenak, pria itu mulai meminum teh yang ia berikan dan ia campurkan bahan tambahan yang bisa merusak salah satu organ vital jika di konsumsi secara berkala.
Dan tentu ia meminta seseorang untuk membeli nya walaupun mungkin sang suami akan menyadari nya cepat atau lambat nanti nya.
"Kamu ga takut aku kasih racun di teh nya?'' tanya Anna lirih dan gugup karna pria itu meminum nya tanpa curiga.
"Kau mau membunuh ku? Oh iya, kau sudah pernah bilang kau mau melakukan nya." jawab Lucas sembari menyelesaikan dokumen di depan nya.
"Bagiamana kalau aku mau bunuh kamu? Kamu..." ucap Anna lirih.
"Kalau begitu perhatikan aku, terus lihat aku dan jangan memusatkan perhatian mu pada hal lain," ucap Lucas yang menoleh dan menatap ke arah sang istri.
"Hanya aku..." sambung nya.
Anna diam sejenak, sejak awal pria itu hanya menginginkan nya, tapi tak menginginkan seseorang yang sangat ia cintai dan sayangi melebihi apapun di dunia ini.
"Ya..."
"Aku akan terus memperhatikan mu," jawab Anna dengan pita suara yang sedikit gemetar.
Lucas tersenyum tipis dan kemudian menatap ke arah dokumen nya lagi.
Ia tau apa yang di masukkan dan di berikan pada nya bahkan di percobaan pertama kali karna sang istri tak bisa menyembunyikan apapun dengan baik.
Dan tentu zat itu sudah ia temukan lebih dulu sebelum di berikan pada nya, ia tau dan ia tetap meminum nya.
Karna seperti yang ia katakan, ia menyukai semua waktu, semua perhatian dan ia suka jika pikiran wanita itu hanya tertuju pada nya.
__ADS_1
Entah itu salah atau benar, ia tak terlalu kecewa karna sejak awal ia memang berpikir jika wanita itu tak pernah mencintai nya.
Dari pada kejujuran yang terasa pahit ia lebih ingin percaya pada kebohongan yang terasa manis.