
Satu Minggu kemudian.
Mata berwarna abu-abu gelap itu menatap ke arah wanita yang menempel pada nya sejak pagi bahkan melarang nya untuk pergi bekerja hari ini.
"Ada apa?" tanya Lucas pada wanita yang duduk di atas pangkuan nya dan memeluk dada bidang nya dengan erat.
"Terapi nya gimana? Masih sakit?" tanya Anna yang tengah memeluk erat pria itu.
"Tidak, aku sudah baik-baik saja." jawab Lucas singkat pada wanita yang tampak begitu manja hari ini.
Anna diam sejenak, ia tau pria itu tak mungkin bisa baik-baik saja jika ia terus memberi nya sesuatu sekaligus memberi kan pengobatan.
"Tidak apa-apa, nanti kamu juga ga akan sakit lagi kok..." ucap Anna lirih yang berada di dalam pelukan pria itu.
Lucas tak menjawab, namun ia menarik napas nya dan semakin memeluk wanita yang duduk pangkuan nya itu.
Kini Anna tak menemui putra nya lagi setelah ia membisikkan sesuatu di telinga mungil itu.
Tak mendengar kabar apapun dan tak berniat mendengarkan apapun.
Keputusan bisa jadi salah atau benar namun ia tetap ingin melakukan nya.
Sampai batas di mana ia harus berhenti.
"Luc? Nanti malam pergi yuk? Kamu ingat kan? Pernah mau ajak aku liburan? Tapi waktu itu aku mau nya sama Estelle?" tanya Anna yang kini senyuman cantik itu usai.
Lucas mengangguk karna ia memang pernah mengatakan nya.
"Aku mau kita bulan madu, ketunda berapa lama ya?" tanya Anna yang mengangkat wajah nya dan dengan senyuman.
"Kita akan cari yang dek-"
"Swiss, Wegen." potong Anna dengan cepat.
Lucas berhenti sejenak saat ia mengusap punggung kecil sang istri.
"Kenapa?" pria itu tak langsung mengiyakan namun ia malah bertanya akan sesuatu.
"Dulu aku punya rumah di sana, tempat nya bagus. Tidak sebesar mansion kamu tapi cukup besar untuk ku. Udara dingin dan setiap hari aku melihat langit yang cantik."
"Aku juga pernah buat yogurt, nanti aku buatin untuk kamu waktu kita di sana." sambung Anna dengan senyuman cerah.
Lucas tak menjawab, di antara semua tempat wanita itu meminta tempat terakhir sebelum ia menemukan nya.
"Luc? Boleh kan? Aku ga akan lari lagi, aku ga akan kabur..." ucap Anna yang seakan mengiba.
"Kenapa dengan tempat itu? Bukan nya itu akan jadi kenangan buruk untuk mu? Orang normal setidak nya berpikir seperti itu kan?" tanya Lucas yang bingung.
Walau ia tak mengerti emosi orang lain namun logika nya tetap berada di depan.
Anna menaikan senyuman kosong nya, tangan yang lembut itu membelai wajah tampan pria yang menatap nya itu.
"Luc? Kamu tau?"
"Kata nya semua orang akan punya pasangan yang mirip dan ku rasa aku cukup gila maka nya aku yang menjadi pasangan mu." jawab Anna dengan senyuman tipis.
Lucas tak mengatakan apapun, ia diam tak menjawab nya.
"Boleh kan? Aku mau tempat itu..." sambung Anna lirih dengan nada yang terdengar memohon.
Lucas tak menjawab nya untuk beberapa saat namun bujukan wanita itu terdengar seperti sihir untuk nya.
"Ya, hanya dua hari dan setelah itu kita akan kembali." jawab Lucas yang memberikan apa yang di mau sang istri.
Anna tersenyum ia memberikan pelukan nya pada pria itu.
...
Pukul 11.34 pm
Wanita itu menatap ke arah tubuh mungil yang hanya tampak tertidur itu.
Ia tersenyum dan kemudian menggapai nya, mengambil tubuh yang kali ini tak di beri alat penunjang medis karena memang berada di dalam kondisi vegetatif yang memungkinkan untuk bernapas layak nya orang normal.
"Estelle kangen Mama? Kita pulang ya nak?" tanya nya menggendong dan membawa tubuh mungil yang tak sadar sama sekali itu.
Ia membawa nya ke balkon, tubuh putra nya yang dingin berada di dalam gendongan nya.
Tangan yang mengusap punggung mungil itu bergerak dengan lembut dan kemudian menggendong nya dengan pelan.
"Maaf..."
"Mama tau kok Mama itu egois, tapi kali ini..."
"Mama mohon supaya kamu tetap jadi bintang yang bersinar, jangan redup..."
"Kamu boleh ambil semua cahaya Mama..."
__ADS_1
Bisik nya di telinga mungil putra nya yang untuk pertama kali nya setelah kecelakaan ia bawa dan kembali ia gendong.
Tentu tak ada reaksi apapun, tubuh mungil itu tak akan bisa bergerak atau suara menggemaskan yang mungkin tak akan bisa terdengar.
......................
Tiga Minggu Kemudian.
Swiss, Wegen
Butuh waktu beberapa minggu untuk membuat rumah yang cukup mewah dengan design minimalis itu kembali ke bentuk semula.
Anna tersenyum, kenangan manis dan mengerikan bercampur seperti teh yang di beri garam.
"Bagus kan di sini?" tanya Anna yang mendekati pria yang berdiri di balkon rumah yang pernah ia tempati.
"Kau tinggal di sini selama tiga tahun? Bukan mungkin lebih." ucap Lucas karna wanita itu kabur di usia awal kehamilan nya.
Anna tersenyum, "Hiddensee, aku tinggal di sana dan pindah saat semakin banyak wanita yang mirip dengan ku mati." jawab Anna tersenyum.
Lucas mengangguk namun ia tak menyangkal atau pun mengatakan sesuatu.
"Luc? Aku udah buat yogurt nya, nanti kamu makan ya? Aku juga fermentasi anggur."
"Memang masih belajar sih tapi kamu coba deh nanti sama Estelle, Estelle suka anggur tapi kan dia ga boleh minum yang fermentasi nya." ucap Anna dangan tawa kecil.
Lucas tak menjawab, ia melirik sejenak ke arah sang istri yang tampak tersenyum begitu cerah.
...
Pukul 07.45 pm
Makanan yang tersaji mulai habis, wanita itu itu menatap ke arah pria dan wine yang berada samping nya.
"Kamu ga minum?" tanya Anna yang tersenyum menatap ke arah pria itu.
"Kau memang menaruh nya hanya di gelas? Bahkan tidak ada botol nya di sini." ucap Lucas yang menatap ke arah sang istri yang hanya memberikan dua gelas wine namun tak meletakkan botol nya di atas meja tempat mereka makan.
Anna tak menjawab, ia hanya tersenyum menatap ke arah pria itu.
"Cheers?" tanya nya yang mengangkat gelas nya lebih dulu.
Lucas diam sejenak namun ia ikut mengangkat gelas nya juga.
Ting!
Kedua gelas itu saling beradu, pria itu mendekatkan wine dengan aroma yang menyengat itu ke bibir nya.
Namun ia tak meletakkan nya sama sekali, bibir nya menyentuh ujung gelas itu dan meminum anggur dengan aroma yang menyengat itu.
Wanita dengan mata biru yang cantik itu juga meminum anggur nya sembari melirik ke arah suami nya.
"Gimana rasa nya? Kamu suka?" tanya Anna yang setelah meminum dan menatap ke arah pria itu dengan senyuman tipis.
Lucas tak menjawab sampai ia meneguk sisa wine di dalam mulut nya.
"Ya, kau yang membuat nya?" tanya Lucas yang meletakkan gelas kosong nya di atas meja.
"Kamu ga takut aku kasih racun? Mungkin bukan zat kimia yang bekerja perlahan tapi racun yang bisa buat kamu langsung mati?" tanya Anna dengan senyuman tipis.
Pria itu diam sejenak dan kemudian menatap wanita yang tampak ingin menakuti nya itu.
"Racun? Jenis apa? Apa itu juga jenis yang sama dengan foxglove? Atau ada yang lain? Ethionine?" tanya Lucas yang masih menatap ke arah wanita di depan nya.
Anna tersentak senyuman tipis di wajah nya menghilang sejenak saat mendengar pertanyaan dari sang suami.
"Kamu..." suara yang terdengar tercekat karna terkejut itu menatap dengan mata nya yang membulat.
"Aku tau kau membeli nya, aku tau kau juga menginginkan aku yang pergi kan? Bukan kau atau pun anak itu." sambung Lucas sekali lagi.
Anna diam tak menjawab, pria itu memegang tangan nya. Tangan yang hangat untuk sesuatu yang dingin dan kecil seperti nya.
"Kalau kamu tau kenapa masih pura-pura ga tau?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
"Aku suka kalau kau memperhatikan ku, tidak ada siapapun dan hanya aku."
"Kau gelisah dan kemudian tersenyum, kau takut tapi merayu ku, kau merasa bersalah setiap hari dan pada akhirnya tidak bisa menolak ku."
"Aku jadi satu-satu nya yang kau lihat, aku mau perhatian yang seperti itu."
Anna tak menjawab apapun ia diam dan kemudian memejam.
Mata nya yang biru itu menjatuhkan bulir bening nya dan kemudian membuka sekali lagi lalu menatap ke arah sang suami.
Ia berbalik menggenggam tangan yang tadi nya memegang nya.
"Luc? Aku pernah bilang bakal ajari semua rasa untuk kamu kan? Sekarang masih sama."
__ADS_1
"Kamu tau kalau aku yang buat kamu sakit tapi kamu mirip anak kecil yang takut di tinggal, rasa nya aneh waktu dengar itu." ucap Anna dengan tawa kecil yang di iringi dengan tangisan.
Sekarang sudah terlalu terlambat untuk memutar waktu atau mungkin beberapa menit yang sudah di lewati.
"Kamu mau tau? Apa yang aku rasain waktu lihat Estelle di sini? Atau waktu lihat wanita yang meninggal di depan pintu masuk rumah ini?" tanya Anna dengan suara tercekat.
Namun tak ada balasan, pria itu tampak tak memiliki ekspresi sama sekali saat mengatakan nya.
"Luc? Kamu salah..."
"Kamu? Ga kenal aku, kamu ga tau aku segila apa Luc..." ucap Anna lirih.
Heuk!
Rasa terbakar mulai menjalar di tenggorokan nya, sesuatu yang membuat nya sesak dan tak bisa bernapas.
Deg!
Mata berwarna abu-abu gelap itu tersentak dan kemudian menatap ke arah sang istri.
"Anna?" Panggil nya dengan mata yang terkejut melihat semua darah yang keluar seperti air yang deras dari mulut wanita itu.
"Kali ini aku yang menang kan? Aku..."
"Aku bisa ajari kamu perasaan yang belum kamu bisa kamu rasain kan? Takut? Khawatir? Atau kehilangan?" senyuman tipis terukir di wajah cantik itu.
Perut dan tenggorokan nya terasa terbakar, mata dan kepala nya seperti ingin pecah dan keluar namun ia malah tersenyum lega melihat wajah yang terkejut itu.
"Luc? Sampai sekarang aku masih belum tau aku itu benar-benar cinta sama kamu atau tidak tapi..."
"Kamu orang pertama aku yang aku punya..."
"Sebelum Estelle kita, kamu orang itu Luc. Aku ga bisa ubah kamu dan aku mau kita berhenti..."
"Berhenti untuk saling menyakiti..."
"Ann! Anna?! Kau gila?!" Pria itu tak bisa mendengar apa yang di katakan wanita di depan nya.
Ia malah sibuk menggendong nya dan membawa nya keluar untuk melarikan nya ke rumah sakit.
Kesadaran wanita itu tak hilang sepenuh nya, ia masih melihat wajah panik pria yang bahkan tak pernah ia lihat sebelum nya.
"Luc..."
"Aku minta kamu buat lepasin aja aku kali ini, aku mau kita berhenti untuk sakit..."
Bisikan lemah yang terdengar di suara yang berat itu dan tangan yang tak lagi menopang punggung nya.
Deg!
"Ann? Anna?"
Langkah pria itu terhenti, ia seperti orang bodoh sejenak dan kemudian menatap ke arah wanita nya yang terlihat tertidur dengan wajah yang pucat itu.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung nya berdegup kencang, seperti sesuatu yang putus dari dalam diri nya namun ia tak mengetahui apa itu.
Tak ada lagi napas pada wanita cantik itu, detak dan debar jantung pun hanya terdengar dari nya saja.
Tes...
Mata abu-abu gelap itu berair tanpa ia sadari, rasa yang dingin dan buliran yang jatuh tanpa sadar membuat nya membeku.
"Ann? Anna?" panggil nya seperti memastikan akan sesuatu.
Tak ada jawaban lagi, sebanyak apapun ia memanggil.
"Kau mengantuk? Mau tidur? Akan ku biarkan kali ini, aku akan mengambil selimut untuk mu..."
Lucas berhenti, langkah nya seperti berat dan akal di kepala nya seperti putus untuk sesaat. Ia tak lagi berlari keluar melainkan kembali masuk dan membawa sang istri ke kamar.
"Tidur, besok bangunlah lebih pagi..."
"Kita belum menyelesaikan bulan madu kita kan?"
Ucap nya lirih dengan suara dan tangan yang gemetar sembari membersihkan darah yang tadi di muntahkan.
"Apa yang terjadi? Ada apa dengan ku?" suara yang bergetar itu seperti kebingungan.
Ia tak bisa bernapas dengan dada yang terasa sesak walaupun ia sama sekali tak tenggelam atau berada di tempat tanpa oksigen.
"ARRGHH!!!"
__ADS_1
Teriakan suara bariton itu menggema seperti seseorang yang sedang frustasi dengan ledakan emosi.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku seperti ini?" gumam pria itu lirih dengan tangan dan tubuh yang gemetar hebat dan buliran bening yang terus jatuh dengan luapan emosi yang tak ia kenali namun begitu menyiksa nya.