
Ruangan yang terasa panas dengan udara yang tadi nya mencekik dan berisik kini telah hilang bagai di telan oleh keheningan.
Gadis itu memeluk selimut nya yang menutupi tubuh polos, ia masih gemetar. Walaupun jujur saja ia tadi menikmati permainan nya namun setelah itu rasa menyesal dan perasaan malu menelan nya begitu kuat.
"Ini," ucap pria itu yang mengeluarkan semua uang tunai yang berada di dompet nya dan memberikan pada gadis itu sebagai tip dari pelayanan nya.
Samantha masih diam, ia melihat nya dan tampak membatu.
"Kalau aku memberikan kartu juga percuma kan? Kau lebih suka orang-orang itu memasuki mu dari pada menggunakan nya." ucap nya yang tertawa getir.
"Tentu, karna kau memang semurah-"
"Cukup! Memang nya kamu tau apa?! Kamu tau apa tentang aku?!" tanya nya tak tahan lagi pria itu terus melontarkan kalimat hinaan.
Ia sendiri sadar pekerjaan yang ia lakukan memang hina, namun bukan berarti ia juga ingin mendengar nya terus menerus apa lagi berasal dari pria yang ia kenal.
Pria itu tersenyum miring mendengar nya, "Lalu? Katakan apa alasan nya yang cukup masuk akal atas tindakan mu," ucap nya pada gadis itu.
Samantha diam sejenak, untuk apa ia menjelaskan?
Pria itu tak memiliki hubungan apapun dengan nya dan ia juga tak berniat memiliki hubungan dengan pria itu.
Tubuh nya gemetar, ia menelan Saliva nya dengan susah payah karna tenggorokan yang seakan tersangkut di tepat lain itu.
"Terimaksih uang nya, saya harap anda senang tuan..." ucap nya lirih dengan tangan yang mengambil setumpuk uang di atas selimut nya.
Mata pria itu datar melihat nya, ia tak bisa mengatakan apapun dan terdiam untuk beberapa saat.
Melihat gadis itu yang berpura-pura kuat dan berusaha menyembunyikan tangis nya dengan tubuh gemetar itu membuat nya berbalik dan pergi setelah merapikan kemeja nya.
"Hiks..."
"Memang nya dia siapa? Dia tau apa?"
Tangis nya lirih dengan mata yang berair dan menutup diri nya dengan selimut tebal itu.
Tangan nya penuh dengan uang namun hati nya kosong, ia tak senang walau tujuan nya memang untuk kertas yang memiliki nilai itu.
...
Pria paruh baya yang tampak masih memiliki otot yang baik itu melihat dengan senyuman dan cerutu di tangan nya.
"Jadi kau mau anak itu hanya akan melayani mu?" tanya nya yang sebenarnya senang jika ada yang menyewa hanya untuk satu orang.
"Ya, bahkan jangan mengirim nya untuk menemani minum sekalipun, sampai aku datang jangan keluarkan dia pada siapapun." ucap Diego yang saat ini mungkin sedang dalam hari yang beruntung karena pemilik club' itu jarang datang dan sering keluar negeri.
"Baik, tapi bayaran nya cukup mahal karna banyak yang menginginkan pelayanan nya." ucap nya yang memberikan penawaran.
"Aku akan bayar sesuai harga nya dan besok akan ada yang mengirimkan perjanjian nya," ucap pria itu yang bangun tanpa menambahkan sepatah kata pun yang lain.
Pria paruh baya itu menghisap cerutu nya, ia adalah pemilik club' sekaligus penyalur untuk wanita atau pria yang melakukan pekerjaan untuk memuaskan h*srat seseorang itu.
......................
Lima hari kemudian.
JNN grup
Greb!
Pria itu tersentak, seseorang tiba-tiba memeluk tangan nya seperti berpegangan agar tak jatuh.
"Hati-hati," ucap nya yang membantu gadis itu.
Walaupun ia di pindahkan ke perusahan utama ketika sang kakek masih hidup namun nyata nya ia masih bekerja hingga saat ini bahkan ketika ibu nya telah tiada.
Dan setelah sang ibu pergi, ia semakin berusaha untuk merayu salah satu dari sepupu nya.
"Terimaksih, kau mau makan siang bersama nanti?" tanya Jane pada pria itu yang menatap dengan mata yang berbinar.
"Tidak, aku sibuk." jawab Diego yang menolak dengan ketus karna ia juga sebenarnya jengah dengan gadis yang selalu bertingkah itu.
"Tapi kan-"
"Kalau kau bekerja di sini lebih lama jaga sikap mu," ucap nya yang berbalik dan pergi karna memang saat ini tengah berada di dalam suasana hati yang buruk.
__ADS_1
"Tapi tadi aku lihat makanan ya-"
Pria itu pergi bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimat nya dan bahkan tak menoleh sama sekali pada nya.
"Ck! Apa aku harus ke ruangan pria itu hari ini?" gumam nya yang menarik napas kesal namun ia tetap tak mengurungkan niat nya untuk menggoda salah satu sepupu nya itu.
...
Sementara gadis dengan mata biru itu tampak sedikit berbinar hari ini, ia menyisir rambut ikal nya dan mengikat nya menunjukkan bentuk lengkung leher yang terlihat jenjang itu.
Wajah nya pucat, ia menatap ke arah cermin nya namun ia hanya menarik napas nya.
"Sekarang aku pakai yang..." ucap nya yang baru ingin mencoba lipstick, lip tint, lip math, lip glos, lip balm yang di berikan untuk nya.
Ia sedikit bingung, karna walaupun ia wanita ia tak pernah memiliki yang untuk memberi pruduk lengkap seperti itu.
"Yang ini aja," gumam nya yang mengambil salah satu lip tint bewarna merah marun dan mengoleskan di bibir bulat nya.
Mata biru nya melihat ke arah wajah pucat yang setidak nya kini sudah lebih baik dengan lip tint yang ia pakai. Memang wajah nya masih pucat namun bisa sedikit di tutupi.
Kaki nya melangkah ke arah pintu, jantung nya berdegup kencang untuk beberapa saat ketika ingin membuka penghalang yang menutupi nya dari luar itu.
Selama beberapa bulan ia di kurung di ruangan tanpa jendela yang membuat nya tak tau kapan siang dan malam, kapan matahari terbit dan kapan hujan turun. Ruangan yang besar dan mewah namun tetap saja tak bisa menghilangkan ciri khas pengobatan atau rumah sakit itu.
Klek!
Deg!
Perasaan nya menjadi lebih baik. Tak ada pengawal yang menjaga nya, tak ada juga para dokter yang memakai jas putih dan masker yang menghalangi nya.
Tidak ada siapapun dan lorong itu tampak sunyi sehingga suara langkah nya pun dapat menggema setiap kali ia menginjak kan kaki nya untuk berjalan.
Ia tersenyum tipis bagai kebebasan yang di berikan ketika ia keluar dari penjara.
Langkah nya berjalan dengan ragu dan bingung karna ia memang tak tau struktur tempat tersebut.
Suara langkah lain terdengar mendekat, ia tersentak dan takut jika ia kembali di bawa ke ruangan nya walau kali ini Lucas memang sudah memberikan nya izin sejak awal untuk keluar.
"Anna?"
"Aku tidak mau kembali ke sana lagi!" ucap Anna yang langsung menepis tangan yang memegang bahu nya dari belakang dan menutup mata nya.
"Ha? Apa?" tanya Anna yang sedikit kesulitan karna ia belum begitu fasih dengan bahasa asing.
Diego mengambil napas nya, ia memang sedikit sering mencampur bahasa nya dan ia lupa jika gadis itu tidak mendapatkan pendidikan yang sama dengan orang-orang seperti nya.
"Tidak apa, aku tidak berniat membawa masuk ke dalam sana." ucap nya yang memberikan senyuman nya seperti biasa.
"Oh iya iya..." jawab Anna yang mengangguk kecil.
Ia tak begitu merasa takut ketika pria itu yang mendatangi nya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Diego yang juga tak pernah mengatakan apapun tentang penyakit gadis itu.
Memang penyakit nya di rahasiakan dari pemilik itu sendiri karna jika ia salah menyebut nya mungkin tentang chip yang di tanam diam-diam dan ia yang sempat di manfaatkan untuk percobaan produk baru akan terungkap.
"Sudah! Saya sebenarnya tidak pernah sakit!" ucap Anna yang tampak berusaha meyakinkan pria itu jika ia baik-baik saja.
Diego tersenyum kecil mendengar nya, "Soal tawaran ku sudah kau pikirkan?" tanya yang berjalan keluar dari lab perusahan itu dan menuju ruangan sepupu nya.
Karna tanpa ia bilang atau minta pun gadis itu tetap akan mengikuti langkah nya karna buta arah di tempat yang tak pernah di lihat karna biasa nya ia selalu datang dan pergi dalam keadaan tak sadar.
Anna terdiam sejenak, ia menghentikan langkah nya dan berdiri seakan tengah mematung.
"Itu..." ucap nya lirih yang bingung bagaimana menjelaskan nya.
Masalah nya kawat duri dan racun manis pria itu sudah tertanam pada nya, ia seperti sudah merasa kebal dan merasa jika rasa sakit dan kegelisahan itu adalah sebuah kenyamanan dan sudah membuat nya bergantung.
Diego melihat ke arah reaksi yang tampak bingung dan takut itu.
"Yasudah, jangan pikirkan apapun lagi tapi tawaran itu akan terus berlalu sampai kapanpun kau mau." ucap nya yang tak membatalkan atau menarik ucapan nya.
Anna mengangguk, mungkin bukan sekarang namun suatu saat janji itu yang akan menjadi harapan hidup terakhir nya.
Langkah kaki itu terus berjalan dan naik ke lantai turun ke lantai satu. Seperti itu lah yang memang terlihat di angka lift tersebut namun Anna mengernyit.
__ADS_1
"Kita kan dari lantai 13 ke lantai 1 tapi kenapa rasa nya seperti naik? Bukan nya turun?" tanya nya yang bingung.
Diego tak menjawab dan hanya tersenyum, memang lab dan penelitian perusahaan itu di lakukan di lantai "13" namun bukan lantai 13 sesungguh nya karna sebenarnya angka itu tak ada lift yang berhenti di sana.
Tempat yang saat ini mereka tempati sekarang adakah di bawah tanah dan di dasar perusahaan itu.
Maka dari itu lift pun di buat untuk mengelabui nya dan hanya bisa di akses dengan kartu dan tentu saja tak semua lift sama.
"Nah, sekarang kita sudah di sini. Kau tau kan di mana ruangan nya." ucap Diego yang sudah selesai membawa gadis itu keluar dari laboratorium perusahaan besar itu.
Anna mengangguk, ia tau ruangan mana yang ingin ia tuju dan ia pun memiliki akses untuk itu.
Para pekerja yang berada di lantai yang sama dengan ruangan Presdir sudah mengenal gadis itu karna ia sudah sering ke sana.
Tanpa halangan ia bisa langsung ke ruangan yang ia tuju.
"Luc? Seperti nya aku kedinginan..."
Deg!
Anna tersentak, suara seorang wanita terdengar di balik pintu dan membuat nya langsung membuka.
Langkah nya terhenti, ia melihat gadis yang memiliki tubuh dan wajah yang cantik itu tengah terjatuh dengan kemeja yang basah dan menunjukkan bayangan dari dalaman yang tengah ia pakai.
"Luc? Bantu- Ack!"
Jane tersentak, seseorang menarik nya namun bukan pria dingin itu yang membatu nya.
"Kalau kedinginan buat apa duduk di lantai? Kaki nya sakit?" tanya Anna yang menarik nya seketika saat ia tanpa sadar masuk begitu saja.
Lucas tersentak, mata nya tampak membesar dan suka melihat gadis itu yang mendatangi nya.
Jane bersungut kesal, ia sudah berusaha menggoda pria itu dengan menjadi gadis yang lemah namun pandangan pria itu malah langsung tertuju dengan gadis remaja yang baru datang itu.
"Kau ke sini?" tanya Lucas tersenyum dan tak peduli lagi dengan gadis yang tadi menggoda nya, lebih tepat nya sejak awal ia memang tak peduli.
Anna mengangguk, namun Jane masih belum menyerah.
"Auch! Luc aku-"
Greb!
"Hati-hati, masa mau jatuh dua kali padahal baru bangun." ucap Anna yang langsung meraih nya padahal pria di depan nya tanpa menghindar dan tak ingin membantu nya.
"Anna? Lepas," ucap Lucas yang malah menepis tangan gadis nya karna ia tak suka gadis itu memberikan perhatian pada orang lain.
"Eh?" Jane tersentak, ia malah terjatuh dengan sendiri nya tanpa ada yang membantu ketika Lucas bahkan tak mengizinkan gadis nya untuk membantu.
Bruk!
Ia menatap kesal dan melihat ke arah pria yang malah khawatir dengan tangan gadis remaja itu.
"Sekarang kau keluar, kenapa hanya menganggu saja?" tanya Lucas dengan dinding dan mata yang tajam berbeda dengan saat ia menatap gadis nya.
Aura yang di pancarkan tak sama walau mata itu dan wajah itu masih mirip dengan air yang membeku.
Jane tak mengatakan apapun lagi, ia bangun dan beranjak keluar dengan kesal.
Melihat gadis itu yang sudah pergi Anna langsung menoleh ke arah pria di depan nya.
Untuk sesaat ia merasa kesal, ia merasa tak suka pria itu bersama dengan wanita lain dan ia merasa aneh ketika ia takut jika ia akan sendirian lagi.
"Mau makan siang dengan ku? Kau belum makan kan?" tanya Lucas sembari mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
"Aku tidak suka dia..." ucap Anna lirih.
"Ya?" Lucas mengernyit mendengar nya.
"Dia..."
"Dia mencoba merayu Luc..."
Anna mencicit saat mengatakan nya, sedangkan pria itu menaikkan senyum simpul nya ketika mendengar nya.
Ia menarik dagu gadis itu dan langsung mengecup bibir manis dan lembut itu.
__ADS_1
"Baik, aku akan singkirkan kalau kau tidak suka." bisik nya saat ia melepaskan ciuman nya dan memeluk gadis itu.
Tak ada hasil yang sia-sia ketika ia berhasil menanamkan pikiran jika gadis itu membutuhkan nya, walaupun terlihat masih berusaha menolak namun alam bawah sadar nya sudah menerima nya perlahan.