
Bern, Swiss
Lucas menarik napas nya, hasil tes DNA nya sudah keluar dan menunjukkan kecocokan 99 % persen yang berarti anak itu adalah murni dari darah daging nya sendiri.
"Si*l! Kenapa dia tidak mati?" gumam yang meremas kertas itu karna ia memang masih tak menginginkan anak nya namun ia menginginkan gadis itu.
"Sir?," panggil seseorang yang mengetuk pintu ruangan nya dan membuat nya menoleh.
"Sir? Diego meminta pertemuan," ucap salah satu penjaga yang berserakan di apart yang ia tinggali saat itu.
"Jangan biarkan dia masuk, katakan kalau aku akan bertemu dengan nya di luar nanti." ucap Lucas yang menarik napas nya dan kemudian beranjak bangun.
Tak boleh ada siapapun yang mengunjungi apart nya dan tentu gadis nya tak boleh di temui siapapun kecuali pelayan dan juga penjaga.
"Sir? Ada yang perlu saya sampaikan, tuan muda Estelle seperti nya sakit, dia tidak menyentuh makanan nya selama beberapa hari." ucap penjaga yang seperti mengasuh anak kecil yang juga tak boleh keluar dari kamar nya itu dan hanya menunggu melihat ke arah pintu.
"Kalau begitu biarkan, itu kesalahan nya sendiri." ucap Lucas yang kemudian beranjak pergi.
...
Restoran
"Kau menemukan Anna?" tanya Diego yang langsung menanyai sepupu nya.
"Ya, aku menemukan nya tapi aku belum menemukan yang membantu nya, dia tidak mungkin bisa sampai ke sini sendirian." Jawab Lucas pada sepupu nya yang terdiam.
"Kau menembak kaki nya? Lalu kata nya dia punya anak kan? Aku bisa menemui mereka?" tanya Diego lirih.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan nya menemui siapapun." jawab Lucas singkat yang memang sekarang ia sama sekali tak mempercayai Anna hingga membuat nya lebih mengekang.
"Ya," Diego diam sejenak, ia tak bisa mengatakan apapun lagi dan memang saat ini yang harus ia lakukan adalah berpura-pura tidak tau apapun dan mencari sela.
......................
Apart.
Lucas kembali, tentu yang menjadi tujuan langkah nya adalah kamar istri kesayangan nya itu.
Kamar nya begitu hening, tak ada lagi suara tangisan dan juga tidak ada suara apapun.
Gadis itu diam dan menatap ke arah dinding kaca tebal yang menampilkan kota di bawah nya, duduk di kursi yang sama tanpa pernah protes sama sekali.
"Cuaca nya cerah bukan?" tanya Lucas yang mendekat dan memeluk gadis yang duduk itu dari belakang.
Anna tak menjawab, ia seperti patung yang tak bisa mengatakan apapun.
"Kau makan sedikit hari ini? Sedang diet? Ku dengar wanita sangat suka melakukan diet," ucap Lucas sekali lagi yang beranjak mendekat dan berjongkok di depan gadis itu.
Anna tak menjawab, tentu ia tak ingin menjawab pertanyaan apapun saat pertanyaan tentang putra nya yang bahkan sampai sekarang tak bisa ia temui.
Jangan menemui nya, keluar dari kamar yang mewah itu saja ia tak pernah.
"Estelle..."
__ADS_1
"Kembalikan Estelle ku..."
Ucap Anna memohon yang menatap ke arah pria itu sekali lagi menginginkan putra nya, entah hidup atau mati namun ia ingin memeluk tubuh mungil itu.
Lucas diam sejenak, ia tak menjawab apapun dan menghapus air mata yang terus jatuh jika menginginkan anak kecil yang bahkan tak ada di rencana dan keinginan hidup nya.
"Kalau kau mau anak itu, bersikap lah dengan baik, aku akan memberikan nya." ucap Lucas yang tau bagaimana mengontrol gadis di depan nya.
Anna terperanjat, begitu mendengar nya ia langsung memegang tangan yang mengusap kepala nya.
"Estelle! Di mana Estelle?" tanya Anna dengan tatapan yang sangat teramat menginginkan nya.
Lucas tak menjawab, wajah nya datar saat melihat gadis itu bersemangat tentang putra nya. Ia tak bisa merasakan ikatan apapun.
Tentang ayah dan anak dan hubungan kandung sedarah.
Entahlah mungkin karna ia yang memang sulit merasakan perasaan seseorang dan bahkan untuk rasa cinta nya sekarang pun ia tau setelah banyak konsultasi dengan psikiater nya.
"Kalau begitu berikan aku sesuatu yang membuat mu pantas mendapat hadia- Humph!"
Lucas tersentak, pundak nya di tarik dan secepat kilat gadis itu langsung memeluk nya erat dan memangut bibir nya dengan segera.
Pria itu memang terkejut namun ia tak menolak nya sama sekali, ia merengkuh pinggang ramping itu dan menahan leher nya lalu membalas ciuman itu dengan panas.
Ketika napas itu mulai habis, Anna melepaskan ciuman nya sesaat.
Napas nya tampak terengah-engah, Anna menunduk mengusap rahang pria itu dan terlihat mata yang sendu.
"Apapun yang kamu mau, aku akan lakukan..."
"Kembalikan Estelle ku..."
Ucap Anna lirih dengan tarikan napas yang terdengar berat dan sendu.
Lucas masih diam, ia melihat dan memperhatikan wajah cantik gadis nya yang memang tampak pucat.
"Kalau begitu jangan tunjukan ketertarikan yang kuat untuk anak itu, sudah ku bilang aku tidak suka berbagi, itu dulu, sekarang dan masa depan." ucap Lucas yang masih tetap mengatakan hal yang sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Tapi dia anak kamu juga, dia ga lahir sendiri..." ucap Anna lirih yang menatap ke arah pria yang terlihat sangat tak menyukai anak nya sendiri.
"Dia kesalahan yang ku buat, seharusnya kita tetap memakai pengaman atau aku yang melakukan vasektomi lebih cepat." jawab Lucas dengan datar namun perkataan itu seperti menyakiti hati gadis di depan nya.
Lucas menarik napas nya, ia mencium dahi pucat itu dan tersenyum tipis.
Anna tak mengatakan apapun, tak lama kemudian pria itu bangun dan beranjak pergi sedangkan ia tak bisa berjalan jika tak ada yang membantu nya karna luka nya.
"Mama!"
Deg!
Anna tersentak, suara mungil yang terdengar itu langsung membuat hati nya bergetar dan menoleh.
"Estelle?"
__ADS_1
Gumam nya yang langsung menoleh dan menunggu putra kecil nya mendatangi nya.
"Mama?" mata bulat yang gelap itu melihat sang ibu yang terus memeluk nya dan menangis.
"Estelle? Estelle kenapa pucat sayang? Sakit?" tanya Anna yang langsung dengan lembut bicara pada putra nya.
Estelle diam tak menjawab, "Mama..."
"Kita pelgi yuk dali sini, Estelle ga mau sama Paman jahat Ma..." ucap nya yang menarik sang ibu dan meminta pergi.
"Pulang yuk Ma, nanti minta nenek masak sup jamul sama blotoli, Estelle lapel..." sambung nya pada sang ibu dengan mata polos yang tak mengerti apapun.
Anna mengusap kepala putra nya dengan lembut, bagiamana ia mengatakan jika paman jahat itu adalah ayah nya?
Sedangkan Lucas memandang dengan tajam dan memperhatikan nya dengan lekat ke arah anak kecil yang menatap sang istri.
"Estelle kenapa lapar? Belum makan?" tanya Anna yang menatap ke arah putra nya.
Estelle menggeleng mendengar nya, Anna diam sejenak dan tentu ia langsung menoleh ke arah Lucas karna mengira putra nya tak di beri makan.
"Kenapa melihat ku? Aku sudah memberikan nya makan, dia yang tidak mau." ucap Lucas yang merasa gadis itu seperti ingin menyalahkan nya.
Anna kembali melihat ke arah putra nya lagi, "Benar itu? Estelle ga mau makan?" tanya Anna dengan lembut.
"Kan Mama bilang ga boleh makan dali olang yang ga di kenal..." jawab Estelle yang memang ia hanya meminum air mineral karna tak bewarna.
Anna terdiam lagi, putra nya menuruti semua yang ia katakan.
"Estelle? Sekarang ini rumah kita, terus dia bukan Paman jahat dia Papa Estelle..." ucap Anna yang mengusap kepala putra nya.
Putra nya pintar dan ia tau itu hingga ia mengatakan nya lebih cepat di bandingkan nanti menimbulkan masalah di kemudian hari.
Estelle menggeleng mendengar nya, "Ma..."
"Estelle ga mau di sini..."
"Kita pulang, Estelle ga mau dia Papa..."
Ucap nya yang menarik tangan sang ibu dan ingin ibu nya berdiri tapi ia tak tau di balik selimut yang menutup kaki itu terdapat luka.
"Kau pikir aku mau punya anak seperti mu? Kalau kau tidak suka kau saja yang keluar," ucap Lucas yang menatap tajam ke arah anak kecil itu.
Estelle tak menjawab, ia berkedip dan tentu perasaan sensitif nya tau mana yang menyukai nya dan mana yang tidak.
"Mama pulang yuk? Ada paman jahat Ma..." ucap nya lagi pada sang ibu.
Ia tak pernah merengek akan sesuatu atau meminta secara berulang seperti ini.
Anna tak menjawab apapun, ia memeluk putra nya sekali lagi dan mengusap air mata nya karna merasa begitu senang setidaknya bintang kecil nya masih hidup.
"Estelle mau makan sama Mama? Lapar kan?" tanya nya yang tak menjawab ajakan pulang itu.
Estelle diam, ibu nya tak menyanggupi permintaan nya dan tampak terus mengeluarkan buliran bening itu. Ia tak suka namun ia mengangguk kecil agar membuat mata cantik sang ibu berhenti berair.
__ADS_1