
Lucas menatap ke arah sang istri, ia tak suka mendengar wanita itu terus bertanya tentang orang lain.
"Dimana? Katakan?!"
Anna mulai meninggikan suara nya, ia semakin takut dan gelisah.
Tak tau bagaimana keadaan dari putra nya yang sekarang entah masih hidup atau tidak.
Greb!
Lucas memegang erat kedua sisi lengan wanita yang mulai tampak menggila itu, "Perhatikan sikap mu kalau kau mau menemui anak itu!"
Deg!
Deg!
Deg!
Anna terdiam, seluruh tubuh nya seperti membeku untuk menunggu seseorang.
"A... aku bakal nurut sama kamu..."
"Ma.. maaf tadi ngebentak kamu..."
Lucas diam, ia menarik tangan sang istri dan langsung membawa nya ke kamar. Anna kali ini diam.
Ia tak bisa memikirkan apapun dan hanya mengikuti apa yang pria itu katakan dan lakukan.
Lucas menatap ke arah pipi yang memerah itu, ia tak mengatakan apapun. Masih diam dan menatap ke arah wajah yang tampak sangat terkejut itu.
Tak ada tangisan, tak ada rengekan dan hanya wajah yang tampak diam dengan tatapan yang kosong.
"Jangan melakukan apapun, aku sudah bilang kan? Semua yang ada pada mu itu milik ku bahkan setiap gerakan mu." ucap Lucas yang mengusap pipi yang memerah itu.
Anna diam, ia merasa begitu blank tak bisa memikirkan apapun atau memberi respon pada seseorang di depan nya.
Humph!
Anna diam sejenak, ia seperti manekin yang kini hanya terdiam. Entah mengapa tak ada tangisan sama sekali.
Tangan dan tubuh nya mulai tenang tak ada satupun yang gemetar dan hanya diam, tampak begitu tenang namun wajah dan ekspresi itu seperti sedang melayang.
Lucas melepaskan ciuman nya, ia menatap ke arah wanita tak memberikan respon apapun.
"Tidur, ini sudah malam." ucap pria itu yang kemudian menidurkan tubuh kecil itu perlahan dan menarik selimut nya.
Lagi-lagi Lucas tak mengatakan apapun, ia melihat wanita yang hanya menurut dangan nya saja tanpa ada penolakan sama sekali.
Anna menatap ke arah seseorang yang meninggalkan nya setelah menidurkan nya.
Wajah yang memucat itu menatap ke arah bantal tanpa penghuni yang berada di samping nya, suara pintu yang tertutup dah keheningan yang ingin menelan rasa khawatir nya.
Tes...
Mata biru itu terbuka, tak bisa tidur sama sekali dan buliran bening yang lewat dari hidung yang mancung itu dengan tatapan terlihat kosong.
"Estelle..."
"Tunggu Mama..."
Gumam nya lirih yang sangat ingin menemui putra yang bahkan sama sekali tak ia ketahui di mana dan apa yang terjadi.
......................
Rumah sakit
Langkah yang terdengar berat seperti tak ingin mengetahui apa yang terjadi, takut dengan apa yang ada di depan nya dan berharap jika saat ini hanya mimpi dan ia bisa bangun saat kenyataan begitu sulit.
Deg!
Deg!
Deg!
Anna mematung, tubuh mungil dengan berbagai alat medis yang tak ia ketahui, ia mendekat perlahan dengan jantung yang semakin berdegup kencang.
Tangan yang gemetar itu mulai terangkat perlahan dan memegang ke arah tubuh mungil putra nya.
"Estelle? Nak? Kamu kenapa?" gumam Anna dengan suara gemetar saat melihat putra nya.
Lucas diam sejenak, ia sama sekali tak bisa merasakan apa yang di rasakan oleh sang istri.
Anna gemetaran, berbeda dengan kemarin malam ia tak bisa menunjukkan tangis nya dan hanya membatu seperti tak bisa melakukan apapun.
Kini semua luruh, buliran bening itu mulai jatuh tak bisa ia kendalikan.
Lucas mendekat ia menatap ke arah wanita yang bahkan tak bisa berkata apa-apa itu.
__ADS_1
"Bukan nya itu bagus? Kalau dia mati tidak akan ada yang menyusahkan mu lagi kan? Bukan nya dia menyebalkan?" tanya Lucas yang menatap datar ke arah putra nya.
Ia memang tak begitu bisa merasakan perasaan orang lain, apa lagi empati dan simpati, sama sekali tak memiliki nya.
Masalah mental dan memang neuron di otak nya yang tak senormal orang pada umum nya sangat sulit di obati apalagi di tambah dengan traumatis yang membekas.
Anna terdiam, ia menoleh dan melirik ke arah pria yang berbicara dengan wajah yang dingin itu.
"Kamu bilang begitu? Padahal dia anak kamu?" tanya Anna yang menatap tak percaya.
Mungkin tiga tahun anak kecil itu tumbuh tanpa menemui ayah nya ia bisa memahami jika tak ada ikatan emosional namun kini?
Ia sudah menikah setahun lebih dan semua itu tak ada arti nya? Pria di depan nya bahkan masih tak menganggap anak kecil itu.
"Dia anak yang tidak ku rencanakan, bahkan aku sudah menyuruh mu untuk mengugurkan nya kan? Kau sendiri yang bahkan lari membawa anak itu." jawab Lucas dengan berdecak kesal.
Anna terdiam, tak ada satu pun ikatan untuk pria itu.
Dan jujur saja untuk seorang ibu yang menyayangi anak nya ia merasa begitu terluka mendengar hal itu.
"Kalau kamu cinta sama aku, kamu kan bisa cinta sama dia juga? Dia juga bagian dari aku, dari kamu! Dia ada bukan karna mau dia lahir ke dunia ini juga!" ucap Anna yang menatap ke arah pria yang dingin itu.
"Aku mencintai mu maka dari itu aku tidak suka kau dekat dengan orang lain, kau bicara atau tersenyum. Aku membenci nya,"
"Aku lebih suka menghilangkan mata dan tangan mu agar kau terus melihat ku," ucap Lucas yang menatap ke arah sang istri.
Anna terdiam, mau selama apapun ia mendengar nya ia tak akan bisa memahami nya.
"Kalau dari awal kamu tidak mau harus nya kamu juga jangan lakuin itu sama aku kan? Aku tidak akan hamil kalau kamu-"
"Kau juga suka kan? Maksud ku dari semua yang kau lakukan tidak setiap saat kau membenci nya kan?" potong Lucas yang membuat wanita itu terdiam.
Anna tersenyum getir, ia membatu dan tak bisa melakukan apapun seperti biasa.
"Jaga sikap mu, aku sudah mengatakan nya berulang kali kan?" tanya Lucas sembari mengusap wajah yang basah dari wanita di depan nya.
Anna tak menjawab, dunia nya seperti akan hancur jika satu-satu nya 'bintang' yang ia miliki menghilang atau terluka.
"Kenapa tidak menjawab, kau tau nyawa anak ini ada di tangan ku kan?" tanya Lucas sembari menunjuk dengan dagu ke arah putra nya sendiri.
Anna diam, mata nya mengikuti arah yang di tunjuk namun bibir nya masih terkunci seperti tak bisa mengatakan apapun.
"Kamu mau bunuh dia?" tanya Anna dengan mata yang sendu dan menatap ke arah pria itu yang di iringi dengan senyuman pahit.
"Kalau kau tanya apa yang ku inginkan, jawaban nya 'Ya' tapi kalau kau bersikap dengan baik aku akan memberikan perawatan untuk nya." jawab Lucas pada Anna.
Anna terdiam, ia seperti tak bisa berkata apa-apa lagi, ia terkejut dan hanya diam melihat ke arah pria itu.
Ia membutuhkan uang dan juga membutuhkan semua hal yang di luar dugaan nya untuk membuat putra kecil nya selamat.
"Kau bisa tepati janji mu?" tanya Anna lirih yang bahkan tak bisa melakukan apapun.
"Ya," jawab Lucas singkat.
Ia akan menjawab apapun yang saat ini menguntungkan nya, dan jika jujur ia tak berkeinginan untuk menyelamat kan anak kecil itu.
"Jika kondisi pasca operasi nya buruk dia kemungkinan koma dan jika tidak dia kemungkinan mengalami kondisi vegetatif." jawab Lucas yang memberikan penjelasan.
Anna terdiam, ia menarik napas nya dengan lirih dan buliran bening yang semakin jatuh.
Seluruh tubuh nya terasa lemas dan ia pun terasa seperti begitu kesulitan untuk saat ini.
"Ini," ucap Lucas yang memberikan kamera yang rusak dan masih penuh dengan bercak darah itu.
"Mungkin kau menyukai nya jadi aku tidak membuang nya," ucap Lucas yang tentu membawa barang-barang dari anak yang menggemaskan itu.
Anna menerima nya dengan tangan gemetar dan menatap ke arah pria itu.
Ia seperti remuk tanpa sisa, tak ingin melihat benda yang membuat nya pilu namun tak ingin membuang nya juga.
"Ya..."
"Aku menyukai nya," Ucap nya lirih yang mengambil nya dengan suara yang serak dan mata yang tampak berair.
......................
Tiga bulan kemudian
Mansion Damian
Anna diam menatap setelah membersihkan tubuh mungil putra nya dengan handuk hangat.
Rantai di kaki nya di kini di lepaskan karna Lucas tau ia tak akan bisa lari kemana pun dan akan tetap bertahan karna anak yang sangat di sayangi wanita itu tak bisa di bawa kabur.
Dan selama waktu berlalu pun kini sudah di pindahkan rawatan ke rumah dengan semua peralatan yang memadai.
"Estelle? Maaf yah..."
__ADS_1
"Mama ga bisa lindungi kamu, kamu bangun yah? Nanti Mama yang bawa kamu ke cafe, bukan! Mama sendiri yang buatin cake nya."
"Mama janji bakal lindungi kamu, kamu bisa dengar Mama kan? Mama mau kamu tau kalau Mama itu sayang sekali sama kamu..."
"Kamu itu bintang Mama, tapi Mama ga mau kamu jadi bintang buat Mama di langit." ucap Anna lirih sembari menahan tangis nya dan senyuman kecil lalu beranjak mengecup pipi putra nya.
Anna tak ingin pergi sampai ia melupakan panggilan yang di perintahkan seseorang untuk turun.
Dan memang ia selalu melupakan banyak hal jika ia berada dan tengah bersama dengan putra kesayangan nya yang masih belum tersadar hingga sekarang.
Sementara itu seseorang sudah menunggu di ruang makan, meja yang tersaji penuh makanan itu tak di sentuh sama sekali.
"Sudah panggil dia?" tanya Lucas yang masih duduk di tempat yang sama.
"Sudah, tapi nyonya masih berada di kamar tuan Estelle," Ucap salah satu pelayan yang tadi memanggil Anna
Lucas mengangguk, tangan nya mengepal. Ini sudah ke sekian kali nya sang istri tak mendengarkan nya hanya karna tengah menganggu anak nya yang tak sadarkan diri itu.
Pria tampan membuang napas nya dengan kasar dan kemudian menatap ke arah makanan nya sekali lagi.
Ia berjalan menuju ke arah kamar putra nya karna sangat mudah untuk mencari sang istri.
"Si*l!" gumam nya yang berdecak kesal melihat wanita itu hanya memperhatikan putra nya saja.
Ia memang tak membenci anak itu namun juga tak menyayangi nya dan mungkin lebih tepat nya ia merasa begitu terganggu.
...
Pukul 03.45 am
Pria itu berdiri di samping tubuh mungil putra nya, kini anak kecil itu jatuh ke status koma setalah dua bulan mengalami kondisi vegetatif.
"Kau masih belum mati juga? Kenapa kau tidak mati saja?" gumam nya lirih yang menatap ke arah putra kecil nya.
Sedangkan sang istri tentu sudah tidur di kamar mereka.
Tangan pria itu beranjak mendekat dan kemudian memegang tabung oksigen yang berhembus itu.
Ia menarik nya, tak memasang nya lagi dan membiarkan semua alat monitoring berbunyi dan bersahutan sama sekali.
Lucas menatap datar, ia hanya menginginkan istri nya, dan walaupun ia selalu di liputi perasaan dengan kecurigaan namun tetap saja menginginkan perhatian istri nya.
Suara berisik mulai terdengar, tubuh anak kecil itu mulai memberikan respon berupa kejang namun tentu masih tak sadar.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Suara yang berteriak dengan panik itu langsung mendekat dan kembali memasangkan tabung oksigen untuk menunjang pernapasan putra nya.
PLAK!
"Kamu bilang kamu ga bakal bunuh dia! Kamu itu udah janji!" ucap Anna yang langsung berteriak.
Wajah tampan itu bergerak, sesuatu yang panas mendarat di pipi nya di sertai dengan suara yang meninggi.
"Kau juga tidak tepati janji mu? Aku membiarkan nya hidup karna aku mau kau tetap dengan ku! Tapi kau melalaikan apa yang harus kau lakukan!" ucap Lucas yang menarik bahu Anna.
Anna diam sejenak, amarah yang terlihat dan nyawa putra nya hampir melayang.
"Ini bukan sekali kan?"
"Kamu..."
"Terus bilang kalau kamu berharap dia mati..."
Gumam Anna lirih dengan wajah yang mulai tampak kosong dan amarah yang perlahan menghilang.
"Ya, aku berharap dia mati." jawab Lucas tanpa memikirkan perasaan yang sudah seperti kaca yang ingin remuk itu.
Anna diam, pria di depan nya benar-benar hidup dengan hati yang sekeras batu dan tak memiliki air mata sama sekali.
Rasa takut nya mulai menjalar, kecurigaan dan juga rasa gelisah yang menjalar ke seluruh tubuh nya memenuhi isi kepala nya.
Ia tak bisa memikirkan hal lain selain putra nya, dan rasa takut akan pria yang ingin menghabisi putra nya.
"Hah..."
Suara tarikan napas yang terdengar lirih dengan senyuman tipis.
"Hahaha!"
Lucas mengernyit, wanita di depan nya tertawa dengan keras seperti mendapati sesuatu yang lucu.
"Luc..."
"Ku rasa aku sudah gila..."
"Bagaimana ini? Aku..."
__ADS_1
"Aku ingin membunuh mu..."
Anna mengatakan dengan suara yang lirih dan tatapan mata yang kosong.