
Mansion Damian.
Tak ada satu pun suara yang terdengar, keheningan yang mencekam dan mencekik seperti membuat seluruh tubuh membeku.
Degupan jantung berdetak lebih cepat, napas yang terdengar berat di setiap helaian nya, lidah yang kelu dan suara yang hanya sampai di tenggorokan.
Tatapan mata yang tertuju membuat nya hanya seperti mangsa yang di tinggal di hutan yang luas.
Gadis itu menelan Saliva nya dengan sulit, ia menatap dan berusaha untuk tersenyum dengan wajah yang menjadi kaku.
Tatapan yang awal nya begitu marah membuat nya tak berani melakukan apapun, melawan bahkan saat tangan nya di rantai bagai sandera yang akan segara di hukum mati.
Deg!
"Ukh!"
Anna memejam, ia memalingkan wajah nya saat tangan yang besar itu bergerak menuju kepala nya.
Tap!
Satu tepukan yang lembut mendarat di kepala kecil nya dengan sempurna, mata biru itu membuka perlahan.
Iris yang indah itu menatap perlahan dengan tatapan yang takut pada pria yang tersenyum simpul melihat ke arah nya.
Tepukan yang lembut dan belaian yang halus terasa di wajah nya, tubuh nya meremang bagai kucing yang tersengat kabel listrik.
Pisau yang masih berada di tangan pria itu membuat nya merinding namun ia tak berani mengatakan apapun.
"Do you love me?"
Suara bariton yang berat itu terdengar lebih lembut menatap nya dengan mata yang tersenyum namun membuat nya tak bisa mengatakan apapun.
"Y.. Ya, I love you! Sir!" ucap Anna yang tersenyum dengan suara yang terdengar gemetar itu.
Lucas diam tak mengatakan apapun, ia menarik dagu kecil itu dan mencium nya dengan agresif agar hanya ia yang bisa meninggalkan jejak pada gadis nya.
Tangan nya masih tak menanggalkan pisau nya sama sekali, ia mengusap pelan dan meraba tangan yang masih tergantung dengan penuh rantai yang ia sisipi dengan lonceng yang gemerincing.
Set!
Humph!
Mata biru itu terbuka, suara lonceng itu berbunyi beradu dengan rantai yang menjadi satu dalam gerakan yang memberontak itu.
Aroma anyir semakin kuat, aliran cairan merah kental yang memiliki warna yang indah itu mengalir di tangan seputih susu itu.
Ujung mata pisau yang tajam sudah menggores nya, jeritan yang tertahan dan tenggelam begitu saja dalam ciuman nya.
Pria itu melepaskan ciuman nya, namun ia memasukkan ibu jari nya yang ke dalam mulut kecil gadis itu agar tetap terbuka.
Mata biru yang berair dan menatap sayup, alis yang mengernyit menahan sakit dan ekspresi yang bisa memuaskan nya.
"My bad princess, I love you too." ucap nya yang menjatuhkan pisau nya dan mengusap darah di tangan kanan gadis itu yang masih tergantung.
Anna tak mengatakan apapun, tubuh nya gemetar hebat merasakan rasa takut yang menusuk hingga tulang.
Hawa yang begitu menekan nya membuat nya terasa sesak, pria itu menoleh ke arah tangan yang terluka dengan goresan yang kecil namun sedikit dalam itu.
Ia menarik tangan nya, seluruh telapak tangan yang besar itu terlihat begitu bewarna dengan sesuatu yang indah.
"Manis," ucap nya yang mencoba dengan ujung lidah nya saat merasakan darah yang berada di telapak tangan nya.
Lucas melepaskan tangan nya, dan membuat mulut gadis itu tertutup lagi.
Ia senang saat mendengar gadis itu mengatakan jika mencintai diri nya. Memang ia terlihat memiliki segala nya dan tak peduli dengan kata-kata murahan seperti itu.
Tapi kenapa kata-kata itu mampu memberikan kepuasan untuk nya?
Humph!
Tak ada kata apapun, yang di ucapkan. Keheningan yang di pecah dengan suara kecupan yang membakar.
Tangan yang penuh dengan darah itu melepas kancing seragam yang masih di kenakan dan membuat nya terlihat kotor dengan noda merah.
Cup!
Kecupan itu turun membuat bekas kemerahan di kulit yang putih bersih tanpa frekless di tubuh nya kecuali di bagian wajah yang memiliki sedikit frekless.
"Ukh!"
__ADS_1
Anna meringis, setiap kali ia bergerak suara ratai yang berpadu dalam lonceng itu memenuhi telinga nya.
Tangan yang meremas nya dan menanggalkan kain yang di rancang dengan bentuk segitiga itu sebelum meloloskan rok pendek itu ke lantai.
Suara nya terkunci rapat, ia merasa takut namun ia tak bisa mengatakan apapun.
Pria itu berlutut dengan satu kaki nya dan menatap ke arah area yang halus dan tampak bersih itu.
Bahkan saat ia pertama kali melihat nya area itu pun terlihat bersih.
Cup!
Anna tersentak, tubuh yang gemetar itu sontak langsung melengkung ke belakang.
Pria itu memberikan senyuman simpul nya ia menahan peach yang sekal itu dengan tangan nya dan membenamkan ciuman nya.
Ia tak akan menyalahi janji yang ia buat untuk menunggu gadis itu mencapai usia dewasa yang hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Namun ia juga tak bisa melepaskan kepuasan nya yang ia dapat, sensasi yang membuat nya panas dan bersemangat.
Suara lantai dan lonceng itu kembali bersatu, rasa takut, sakit, dan sensasi panas yang di berikan secara bersamaan membuat tubuh kecil yang gemetar itu tak bisa melakukan apapun.
Ia hanya gadis biasa dan memiliki batas manusia normal lain nya dalam mencerna semua situasi dalam satu waktu.
Ugh!
Suara yang tertahan di tenggorokan nya, bibir yang tergigit dan air mata yang menetes.
Ia takut dan merasa sakit, namun tubuh nya gemetaran itu tetap tak bisa menolak rangsangan di bagian bawah nya.
Lidah pria itu masuk semakin dalam, mengacak nya dan membuat nya menggila dengan menahan satu kaki nya di atas pundak kekar nya itu agar ia mampu menghisap dengan lebih leluasa dan intens.
Tubuh yang gemetar itu tampak berhenti sejenak, pria itu melepaskan nya perlahan dan mengusap bibir nya.
Ia bangun dengan senyuman yang tampak puas dan mata yang menatap dengan memburu sesuatu.
Wajah yang memerah, mata yang berair dan sembab serta buliran bening yang masih jatuh di pipi yang terasa dingin itu.
"Ya, aku percaya..."
"Kau mencintai ku..." ucap nya yang mengecup pipi basah gadis itu dengan lembut.
Lucas memeluk tubuh kecil yang gemetar itu sebelum melepaskan rantai nya saat ia sudah merasa lebih tenang.
Bruk!
Kaki gadis remaja itu merasa lemas, entah karna takut atau karna pencapaian yang baru saja ia alami barusan.
"Heuk..."
"Hiks..."
Tangisan yang terdengar samar, tak ada yang tau apa yang di pikirkan di dalam kepala kecil itu atau bagaimana yang di rasakan nya sampai tangis samat itu terdengar menyedihkan.
Tak ada tatapan iba, senyuman kecil terpancar di wajah tampan itu.
Ia menarik dagu gadis yang tertunduk ke lantai hingga menatap ke arah nya.
Mata biru yang selalu tampak indah dan membuat candu, wajah yang tampak memerah memberikan semua bentuk yang begitu jelas dan begitu bewarna.
"Jangan mencoba mengkhianati atau membohongi ku, kau tau kenapa?" tanya nya dengan mata yang memandang penuh seperti melihat ke arah objek yang menjadi milik nya.
"Kau milik ku, kau juga yang memberikan diri mu lebih dulu." ucap pria yang mengingatkan nya.
Deg!
Tubuh gemetar itu membatu sejenak, sesaat ia lupa siapa yang membuat pria itu memiliki obsesi pada nya.
Dan itu adalah diri nya sendiri!
Menatap reaksi yang tampak begitu terkejut itu membuat Lucas tersenyum.
Ia malah merasa guncangan mental gadis itu sebagai sesuatu yang menggemaskan untuk nya.
....
Pukul 03.45 am
Gadis itu kini tampak memejamkan mata nya, tangan kanan nya yang di tutup dengan perban yang tampak rapi saat dokter profesional yang datang langsung mengobati nya.
__ADS_1
Kriet...
Set...
Suara seretan yang terdengar memasuki kamar gadis itu.
"Hah..."
"Akh..."
Suara napas yang berat, aroma anyir yang kuat menusuk indera penciuman sampai membuat tidur gadis itu terusik bahkan setelah ia di berikan oleh obat penenang.
"AKH!"
Jeritan yang sontak terdengar melengking itu memenuhi seisi kamar yang hening itu.
Ia tak tau siapa itu, namun seseorang yang tak lagi memiliki kulit di wajah nya, gigi dan gusi yang tampak langsung dengan tulang hidung dan mata yang bulat mendelik.
Bahkan orang yang tak lagi memiliki wajah tak masih belum mati.
Duk!
Sesuatu yang lembut dan lembab bau amis anyir itu di lempar pada nya.
"Akh!"
Gadis itu langsung gemetar dan melepaskan tangan nya.
Kulit wajah yang tampak utuh ada di depan nya dan ia tau milik siapa itu.
Pria yang tak memiliki wajah di depan nya karna kini ia menyentuh nya secara terpisah. Rasa takut menjalar seperti semua nya hanya sebuah mimpi yang mengerikan.
"Hadiah,"
Suara yang ia kenali terdengar dari sisi yang melemparkan kulit wajah yang utuh penuh darah itu sampai membuat selimut nya memiliki corak lain.
Ia menoleh dengan wajah nya yang kembali bergetar hebat.
"Dia ternyata menjadikan mu taruhan, tapi kalian berciuman sangat panas." ucap pria yang tampak kesal saat membicarakan nya.
Mata biru itu menetaskan satu lagi buliran bening nya saat ia merasa begitu takut, wajah yang terkejut dan tak bisa mengentikan tubuh nya yang bergerak gemetar sendiri.
"Tapi karna kau mencintai ku, pasti tidak apa-apa kan kalau aku mengambil wajah brandal itu? Aku bahkan memberikan nya untuk mu." ucap nya dengan senyuman yang tampak menginginkan apresiasi yang besar.
Anna membatu, ia tak mengatakan apapun kecuali buliran bening yang meleleh dan tubuh yang gemetar.
"Kau? Apa ini? Aku memberikan sesuatu untuk menghibur mu tapi kau terlihat tidak suka?" wajah tampan yang sebelum nya tampak senang itu kini langsung berubah.
Karna ia melukai gadis itu sore tadi ia memberikan wajah kakak kelas yang mencium nya paksa siang tadi dengan sayatan yang rapi untuk menghibur gadis itu.
Ia saat ini tengah menunjukkan rasa cinta nya, dengan menghibur gadis itu.
Dan tentu cara menghibur nya sama seperti sesuatu yang bagi nya menghibur karna ia tak memiliki pemikiran seperti orang normal lain nya.
"Kau lupa apa yang kau katakan sore tadi? Katakan sesuatu," ucap nya yang sekali lagi mengingatkan tentang pengakuan cinta gadis itu.
Anna masih terdiam membatu tak bisa mengatakan apapun.
"Anna?" suara yang terdengar dengan nada yang rendah namun seperti sebuah peringatan.
Tangan yang gemetar itu beranjak memegang wajah tampan dengan rahang yang kekar itu.
"Te..terimakasih..."
"Ha.. hadiah nya.. su.. sungguh..
"I.. indah..."
Ucap nya yang terbata dengan senyuman yang di paksa di wajah yang kembali sembab itu.
Lucas tersenyum, ia menarik tubuh gadis itu dan memeluk nya dengan erat tanpa peduli seseorang yang tengah meregang nyawa di depan nya.
"Anna..."
"Anna..."
"Gadis ku..."
Ucap nya lirih yang menyebutkan nama gadis itu, dan memeluk tubuh kecil yang gemetar itu.
__ADS_1
Sesuatu yang mampu membuat nya kecanduan dengan rasa nyaman yang membuat nya akan gila jika sampai hilang.