
Satu Minggu kemudian.
Universitas
Pria itu membuang napas nya dengan kesal, sudah beberapa kali ia mencoba masuk ke ruang dosen untuk melihat nomor yang tertera guna menghubungi Anna yang sudah bolos mata kuliah lebih dari satu Minggu.
Namun sayang usaha nya tak membuahkan hasil sama sekali, ia tak bisa melihat nya dan bahkan sampai sekarang tak bisa menghubungi gadis itu.
Walaupun sudah bertanya ke beberapa mahasiswa namun tak ada yang memiliki nomor nya.
"Harus nya aku curi saja nomor nya, dia kemana sih?" gumam nya yang tau dari beberapa waktu lalu pun gadis itu menolak untuk memberikan nomor nya pada siapapun.
Kelas pun berlanjut, pelajaran mulai di buka dan di terangkan.
Sedangkan itu, gadis yang sudah perlahan pulih dan hanya tinggal menutupi sedikit bekas luka dan memar di dahi nya menggunakan rambut sudah bisa masuk kembali.
Ia tau dan melihat ke arah pria yang ia kenal itu namun ia tak beranjak mendekat dan memilih duduk di belakang nya agar tak di datangi.
...
Setelah pelajaran berakhir, tentu gadis itu langsung beranjak pergi karna ketika pelajaran di mulai maka sang dosen akan mengabsen nama setiap mahasiswa dan tentu nama gadis itu pun terpanggil juga.
Greb!
"Anna!"
Pria itu langsung mencekal tangan yang gadis yang bergegas keluar itu.
"Bicara sebentar dengan ku," ucap Gevan sebelum gadis itu mengatakan kata pemberontakan atau ingin pergi.
"Ih! Lepas!"
Anna menepis kuat dengan memutar tangan nya agar cengkraman pria itu terlepas.
"Kau ini dari man-" Gevan terhenti, melihat ke arah luka yang mulai mengering di dahi yang tak bisa di tutupi make up itu membuat nya terdiam.
"Kau kenapa? Kau tidak datang karna terluka?" ucap nya yang tak jadi menanyakan apapun dan malah mengkhawatirkan gadis itu.
Anna menepis dengan kuat dan mundur, bukan nya ia yang ingin bersikap kasar namun juga tak kuat kalau ada hukuman lagi.
"Bisa tidak jangan penasaran terus! Mau aku datang mau tidak juga bukan urusan kamu!" sentak Anna yang tampak begitu kesal dan melampiaskan amarah yang tak bisa ia keluarkan pada seseorang.
Gevan terdiam sejenak mendengar nya, "Iya! Aku penasaran karna aku kahwatir! Kau juga tidak pernah kasih kabar kan?"
"Buat apa? Memang nya kamu siapa? Kita punya hubungan apa? Khawatir? Memang nya kamu punya hak untuk khawatir?" ucap gadis itu dengan suara lantang.
__ADS_1
Gevan tak bisa mengatakan apapun lagi, lebih tepat nya ia kehabisan semua kata yang bisa ia keluarkan.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" sambung Anna dengan suara rendah namun terlihat penekanan di intonasi nya seperti benar-benar tak menginginkan pria itu.
Gevan masih tak mengatakan apapun, ia membuang napas nya dan menenangkan diri nya sejenak, "Okey, mungkin kau lebih sensitif saat ini. Jaga diri mu." ucap nya yang berbalik dan mengikuti ke inginan gadis itu.
......................
Sementara itu.
"Kau terlihat lebih kurus?"
Suara yang pertama kali terdengar di suasana yang tampak canggung itu.
Samantha bergeming, ia tak menunjukkan reaksi apapun.
"Kenapa mengindari ku? Kau tau kan? Aku sudah membeli mu?" tanya pria itu dengan nada penuh penekanan.
Makanan yang tersedia tak tersentuh sama sekali di restoran dengan ruang privat itu.
Gadis itu kehilangan semua keinginan nya, ia bahkan tak bisa mengatakan apapun tentang bayi yang hilang sebelum melihat dunia itu.
Tak tau harus senang atau sedih namun saat ia merasa tertekan untuk beberapa hal yang sulit ia jelaskan.
"Sir? Bagaimana kalau kesepakatan nya kita akhiri saja? Saya sudah memberikan surat pengunduran diri di club' dan saya juga ingin berhenti dari pekerjaan ini." ucap nya lirih yang kali ini menatap ke arah pria itu.
Gadis itu memejam sejenak mendengar nya, wajar pria itu tak mempercayai nya, dan bahkan jika ia hamil mungkin pria itu juga tak akan percaya karna beberapa kali ia ketahuan melayani pelanggan lain walau tak sampai berhubungan ranjang.
Dan memang selama setahun lebih hanya pria itu yang terus menyewa nya di atas ranjang.
"Bukan," ucap nya yang menatap ke arah pria itu.
"Lalu? Katakan alasan yang masuk akal dan aku akan menghentikan ini," ucap Diego pada gadis itu.
"Saya takut..." ucap nya lirih.
Tak ada balasan karna pria itu tau kalimat yang di ucapkan belum selesai.
"Saya takut kalau saya akhirnya akan menyukai anda, saya mungkin memiliki perasaan untuk anda lebih dari hanya seorang pelanggan kan?" jawab nya yang menatap ke arah mata pria itu.
Alasan yang ia utarakan tak sepenuh nya kebohongan karna ia memang mulai menyukai pria itu secara perlahan.
Diego terdiam sejenak, "Baik, kita hentikan." ucap nya yang setuju untuk mengakhiri hubungan give and take itu.
Samantha menarik napas nya dengan tangan yang gemetar.
__ADS_1
"Ya..." ucap nya tersenyum getir.
Pria itu diam sejenak, ia mengambil uang tunai di dompet nya dan mengeluarkan kartu yang ia miliki juga.
"Anggap ini sebagai uang perpisahan, ku harap kau punya hidup yang lebih baik." ucap nya yang mengakhiri hubungan yang sejak awal memang memiliki dinding itu.
"Ya, terimaksih..." jawab Samantha dengan senyuman tipis yang ia usahakan di wajah nya.
Diego tak mengatakan apapun lagi dan beranjak pergi keluar meninggalkan gadis itu.
Samantha tak mengatakan apapun, tangis tertahan nya pecah ketika pria itu keluar.
Ia tau ia seharusnya tak melibatkan perasaan namun hati nya sendiri yang tak ingin ia atur.
......................
Satu bulan kemudian
Mansion Damian.
Tangan gadis itu masih dalam genggaman nya, ia baru saja kembali dari membawa nya ke tempat yang memiliki udara yang bagus.
"Kau suka tadi? Nanti kita menginap di luar lagi kalau kuliah mu libur," ucap Lucas yang melepaskan genggaman tangan nya dan beranjak melakukan aktivitas lain.
Ia memilih mengikuti saran dokter nya untuk membawa gadis nya jalan-jalan dan tentu hasil yang sesuai yang inginkan karna melihat senyuman cerah di wajah cantik itu.
"Anna?"
"Heh?"
Gadis itu tersentak saat suara pria itu tiba-tiba mengejutkan nya padahal baru saja pergi.
"Kau mau mandi? Tadi kata nya kau mau pulang dan berendam air hangat? Aku sudah siapkan untuk mu," ucap pria itu yang menatap ke arah gadis yang terdiam itu.
"Oh? I.. iya..." ucap nya yang terbata untuk beberapa saat.
Pria itu tak mengatakan apapun namun ia berbalik ingin pergi lagi.
Greb!
Sweter lengan panjang berwarna abu-abu itu tertarik dan membuat langkah nya terhenti.
"Ada apa?" tanya nya yang menatap ke arah wajah cantik yang ingin ia gigit itu.
"Ma.. mau mandi bersama?" tanya nya lirih dengan nada yang begitu pelan.
__ADS_1
Pria itu menaikkan sudut bibir nya tanpa sadar saat mendengar suara lirih itu.