
Sekolah
Samantha melirik ke arah teman sebangku nya yang tampak lebih diam semenjak bel masuk setelah istirahat.
"Ann? Ada apa?" tanya nya menatap ke arah teman nya itu.
"Ga apa-apa Sam, kayak nya gula darah ku turun aja." jawab Anna yang tersentak dan langsung membalas dengan candaan.
"Mau ku traktir minum?" tanya Samantha pada gadis itu.
Anna menoleh, sebenarnya ada saat di mana ia tak ingin tersenyum dan tak bisa bersikap cerah.
Namun hal itu harus sudah menjadi bagian dari diri nya dan tanpa sadar topeng senyum itu sudah melekat di wajah nya.
"Mau!" jawab nya dengan senyuman cerah.
Samantha hanya tersenyum tipis dan menyundul bahu gadis itu dengan kepala nya.
"Cemberut terus? Kenapa sih tadi? Penasaran," ucap nya yang menganggu teman nya itu.
"Ih, guru uda mau masuk Sam," ucap Anna yang mengelak dan bertepatan dengan masuk nya pengajar ke dalam ruangan itu.
Kegiatan belajar mengajar pun kembali di laksanakan hingga waktu nya kembali.
...
Cafetaria
"Enak, Sam! Makasih yah," jawab Anna dengan tersenyum sembari meminum milkshake mangga yang penuh dengan cream di atas nya.
"Ann? Ini," ucap Samantha sembari memberikan boneka miniatur berbentuk beruang yang memakai seragam jendral.
"Ih? Apa ini? Lucu!" ucap Anna yang langsung memegang mainan miniatur kecil itu.
"Kan aku udah bilang, kalau kamu belajar di ujian ini nanti ku kasih hadiah." jawab Samantha tersenyum, "Aku juga punya satu," ucap Samantha sembari mengeluarkan miniatur yang berbentuk sama itu tapi hanya berbeda warna.
"Imut banget Sam, Makasih yah." ucap gadis itu dengan semangat karna mendapat hadiah dari teman nya.
"Sam?" panggil Anna pada teman nya itu.
"Hm?"
"Kenapa sih mau temenan sama aku? Padahal aku gak pinter, lama mikir, terus kamu bilang nyebelin lagi terus gak kaya juga." tanya gadis sembari menyeruput cream yang berada di atas milkshake nya.
"Karna cuma kamu yang bilang aku seru, dari SD sampai sekarang aku baru ketemu sama orang kayak kamu." ucap Samantha tertawa.
"Kenapa?" tanya Anna dengan bingung.
"Mereka bilang aku kaku," jawab Samantha lirih.
Ia dulu memang tak banyak bermain, sang ibu yang menuntut nya terus menjadi peringkat pertama membuat nya tak memiliki waktu berteman ataupun mengikuti tren untuk bisa bergaul dalam pertemanan.
"Kaku apa nya? Kamu tuh cerewet banget malah," sanggah Anna pada teman nya itu.
Jika bicara tentang tren atau sesuatu yang biasanya di sukai remaja, Anna pun tidak tau apa-apa.
Sewaktu di panti ia tak memiliki teman dan setelah keluar dari panti sibuk mencari uang dan melalukan semua pekerjaan paruh waktu sampai membuat nya tak seperti anak remaja seusia nya karna sibuk mencari uang.
"Makanya kita cocok kalau temenan," jawab Samantha tersenyum.
Anna membalas dengan senyuman yang sama, suasana yang memang ia butuhkan untuk melupakan sejenak masalah nya.
......................
Mansion Damian
Anna meletakkan miniatur yang baru ia dapatkan di atas nakas samping tempat tidur nya.
Ia suka dan senang dengan hadiah pertama yang ia dapat dari teman nya itu.
Suara pintu kamar nya terbuka, gadis itu langsung menoleh.
"Tuan meminta anda untuk turun dan makan bersama," ucap pria yang mengenakan jas rapi dan bertubuh tinggi itu.
Anna hanya mengernyitkan dahi nya, harusnya sekarang pria itu masih berada di perusahaan nya namun kenapa sekarang sudah ada di sini?
Hening
Keheningan di antara meja yang panjang dan besar itu dengan hanya memiliki dua orang yang makan di atas nya.
"Sir?" panggil Anna lirih.
"Bagaimana tadi? Di sekolah?" tanya pria itu sembari memakan makanan nya.
"Baik-baik saja," jawab Anna lirih.
Lucas mengentikan sendok nya dan melirik ke arah gadis yang terlihat menunduk itu, ia pun kembali melanjutkan makanan nya sembari mengangguk satu kali.
Ia memang bisa mendengar semua nya kalau ia mau, namun hal itu juga bukan berarti ia mendengarkan setiap hari dan setiap saat. Karna ia juga memiliki pekerjaan dan tanggung jawab sendiri.
"Anda sudah pulang Sir? Anda tidak bekerja?" tanya Anna membuka suara dan mencari topik lain.
"Kau pikir aku pengangguran? Aku bekerja di rumah," jawab nya dengan wajah yang tampak kaku.
__ADS_1
"Saya pikir anda ke perusahaan setiap hari," jawab Anna lirih yang canggung karna pria itu menjawab dengan ketus.
"Tidak, aku ke sana kalau ada rapat atau pertemuan saja." jawab Lucas pada gadis itu.
Tak lama kemudian makanan yang lain datang, Anna mengernyit melihat sesuatu yang berwarna coklat kemerahan yang tampak segar dengan minyak dan biji wijen di atas nya.
"Kau suka hati sapi?" tanya ptia itu sembari mengambil makanan yang menurut gadis itu cukup ekstrem.
"Mentah?" tanya Anna dengan wajah yang geli enggan untuk memakan nya.
"Ya, coba. Ini enak." ucap Lucas yang menyodorkan piring dengan potongan hati sapi segar berkualitas dan tentu sudah melewati QC untuk bisa ia makan dalam keadaan mentah.
Anna menatap dengan tatapan geli, ia menggeleng pelan, "Tidak Sir, anda saja..." jawab nya menolak dengan halus.
"Cobalah," satu kata lagi yang membuat gadis itu jadi enggan untuk menolak nya dua kali.
Anna menarik napas nya dan mukai mengambil satu suapan dari hati sapi mentah yang tak di masak sedikitpun itu.
Begitu ia memasukkan nya rasa amis yang luar biasa ia rasakan sampai ingin membuat nya muntah seketika.
"Heuk!"
Anna lambung menutup mulut nya agar tidak muntah seketika.
"Kenapa? Enak kan?" tanya Lucas menatap ke arah gadis yang terlihat menahan muntah itu sedangkan ia biasa saja.
Anna mengangguk, rasa amis memenuhi mulut nya namun ia tak berani memuntahkan nya dan tetap mengunyahnya walaupun menahan rasa yang baginya tak enak itu setengah mati.
Mata nya mendelik dan berair untuk menghabiskan satu suapan itu dan berulang kali menahan muntah nya.
"Kau menangis?" tanya Lucas yang menatap mata yang berair itu.
Anna hanya tersenyum dan menggeleng, ia berusaha untuk bersikap seperti biasa.
Setelah makan ia pun memuntahkan semua yang masuk ke mulut nya tadi sampai benar-benar kosong dan ia kehilangan semua selera nya.
...
6 Hari kemudian
Lucas memperhatikan gadis itu yang terus membawa dan melihat ke arah mainan kecil yang ada di tangan nya.
"Itu apa?" tanya nya dengan wajah tak suka karna merasa perhatian gadis itu hanya sering tertuju pada mainan yang tak berarti bagi nya.
"Miniatur," jawab Anna tersenyum pada pria itu.
"Berikan pada ku," ucap nya yang ingin menyingkirkan mainan yang menarik perhatian gadis itu.
"Ta..tapi ini milik saya Sir," jawab Anna lirih yang enggan memberikan nya.
Anna tampak diam dan enggan memberikan nya pada pria itu.
"Kenapa kau sangat suka dengan benda murahan itu?" tanya Lucas yang mulai kesal.
"Ini hadiah pertama yang saya dapatkan," ucap nya lirih sembari menggenggam miniatur kecil nya itu.
"Hadiah? Aku juga pernah memberikan mu sesuatu kan?" tanya Lucas yang tampak semakin kesal.
Ia ingat jika ia pernah memberikan gadis itu itu kartu hitam beserta dengan sandi pin nya namun tak pernah di pakai.
"Ta..tapi kan itu bukan hadiah..." jawab Anna lirih.
"Kau mau hadiah rupanya, baik akan ku berikan juga." ucap nya yang beranjak pergi.
Anna tersentak, "Dia tidak akan memberi hadiah pemakaman untuk ku, kan?" tanya Anna mengernyit.
......................
Lucas menghentikan mobil nya tepat di toko yang memanjangkan mainan empuk berbulu itu.
"Kenapa Luc?" tanya Diego saat mobil yang membawa mereka tak melanjutkan jalan nya padahal rapat mereka di depan mata.
"Aku mau memberi hadiah untuk anak itu," ucap nya sembari menoleh ke arah Diego sekilas.
"Kau tidak mau aku saja yang pilihkan?" tanya Diego yang tau taraf cantik dan indah sepupu nya sangat berbeda dengan orang normal.
"Tak perlu, aku bisa melakukan nya sendiri." jawab Lucas dengan senyuman kecil.
......................
Tiga hari kemudian
Mansion Damian
Anna tak merasa pria itu mengganggunya nya lagi untuk meminta miniatur nya, dan ia pun merasa tenang.
Sedangkan di tempat lain di sisi mansion itu tampak penuh dengan cairan merah yang anyir dan kental.
Bau amis yang menyeruak masuk dan memenuhi ruangan.
ARRGHH
Suara teriakan dan ringisan lirih terdengar di tengah malam.
__ADS_1
Pria tampan yang tersenyum dangan boneka dan benang jahit di tangan nya.
"Apa aku harus ganti mata nya juga?" gumam nya yang mendekat ke arah seseorang yang di rantai menyilang itu.
Tusk,
Suara tangan yang terdengar tengah mengambil mata seseorang secara langsung itu membuat gemerincing lonceng ia uang berikan di tangan dan kaki nya berbunyi sehingga memecah keheningan di tengah malam itu.
"Padahal aku memotong lidah mu dulu tapi kenapa berisik sekali?" gumam nya yang melihat ke arah pria yang tak lagi memiliki kulit di tubuh nya berserta dengan satu mata yang bolong.
Suara gemerincing dan gadis yang tak bisa tidur itu pun akhirnya memilih keluar dan mencari udara segar di taman mansion pria itu.
Namun langkah nya terhenti tepat di kamar yang ia tempati pertama kali. Suara gemerincing lonceng yang terdengar dengan nyaring sampai membuat nya penasaran.
Ia membuka perlahan namun,
Deg!
Langkah gadis itu terhenti, tubuh nya membatu dan tak bisa bergerak dengan kaki yang terasa lemas.
"Kau belum tidur?"
Pertanyaan yang di lontarkan pada pria yang memiliki wajah tampan dan kaku itu sembari memegang boneka beruang yang di jahit dengan kulit manusia.
Anna melirik ke arah seseorang yang di rantai dengan seluruh tubuh yang hampir kehilangan kulit nya itu, tengkorak wajah nya tampak jelas dengan gigi yang belum kurang.
Rusuk nya pun mungkin terlihat, namun perut orang yang ia tak tau wanita atau pria itu karna sudah tak berbentuk tampak masih baik turun berusaha menarik oksigen.
"Indah kan?" tanya Lucas dengan senyuman tipis.
Bruk!
Anna terjatuh, ia ingin berbalik dan berlari namun kaki nya terasa lemas.
Lidah nya kelu hingga membuat nya tak bisa mengeluarkan suara apapun selain tarikan napas yang begitu gemetar sama seperti tubuh nya.
"Dia tadi berisik jadi aku potong lidah nya dulu, di mana tadi aku lempar?" gumam Lucas yang mencari lidah yang tadi nya baru ia potong.
"Ini dia," ucap nya berjongkok menyamai tinggi nya dengan gadis yang duduk di lantai itu. sembari memberikan pada Anna yang semakin gemetar hingga mulai menangis.
Hoek!
Anna merasa mual melihat benda kenyal yang penuh darah itu.
"Kenapa? Oh iya, aku sampai lupa hadiah mu." tanya Lucas yang kembali melirik ke arah boneka yang ada di tangan nya.
"Kau datang di waktu yang tepat," ucap nya pada gadis itu setelah ia selesai menganggu kulit bulu boneka itu dengan kulit manusia.
"Ambil, cepat." ucap nya sembari menyodorkan boneka tersebut.
Anna memegang boneka dengan kulit lembek dan seperti mengeluarkan darah itu. Mata yang tampak seperti mata manusia sungguhan dan di berikan satu berlian di tengah nya.
"Aku menambahkan sesuatu yang lain juga," ucap nya sembari menunjuk ke arah berlipat berwarna biru itu.
Ia memilih warna yang sama dengan mata gadis itu walaupun sebenarnya ia tak bisa melihat warna berlian yang bagi nya sama semua itu.
Tangan Anna gemetar, bibir nya terkunci rapat dan hanya menangis dengan tubuh yang bahkan tak bisa bangun karna sangat terkejut.
Boneka yang harus nya lucu kini terlihat sangat menyeramkan untuk nya.
"Kau suka? Ini hadiah dari ku jadi jangan terus memegang hadiah murahan itu," ucap Lucas yang menatap dengan tajam.
Anna memanggul mengangguk dalam tangisan nya, tubuh nya bergetar hebat sampai membuat tangan nya yang memegang boneka itu pun gemetar juga.
Lucas tersenyum, ia merasa gadis itu sangat menyukai hadiah nya sampai kehilangan kata-kata.
"Mr. Teddy is coming..." ucap nya yang menggerakkan kepala boneka itu dari belakang seperti sedang memainkan nya.
Akh!
Anna terkejut dan tanpa sadar mengeluarkan suara teriakan nya.
Sedangkan Lucas mulai menatap nya dengan tajam, "Kenapa? Kau tidak suka? Padahal aku yang membuat nya sendiri khusus untuk mu." ucap nya yang berdiri.
Anna menegang, seluruh tubuh nya gemetar hebat terlebih lagi melihat gunting tajam penuh darah yang masih di pegang oleh pria itu.
"Sa..saya suka! Sa..saya suka boneka nya!" ucap nya yang gemetar ketakutan sembari memeluk dan mengambil boneka mengerikan itu.
Lucas tersenyum, ia menyentuh pipi yang basah karna tangisan itu dengan tangan nya yang penuh darah.
"Sudah ku duga kau beda," ucap nya lirih sembari mendekat ke arah wajah yang gemetar itu.
Anna terdiam, dengan tubuh yang terus bergerak getar dengan sendiri nya.
Bau amis dan anyir memenuhi pria itu, Anna hanya terdiam. Ia dapat merasakan hidung mancung pria yang mengenai pipi nya dan tangan yang mengusap bagian belakang leher nya.
...****************...
Lucas Alessandro Damian 🔪🔪🔪🔪
__ADS_1
Maurenne Arianna 🐙🐙🦑🦑