
5 Bulan kemudian.
Sekolah
Waktu berlalu dan tentu ujian kelulusan sudah di depan mata saat ini, sekolah yang sekarang di tempati tak ada satu pun yang mengenal gadis itu di sekolah lama nya.
Dan tentu semua anak-anak yang berada di tempat itu pun sama. Di antar dan jemput dengan mobil mewah, memakai barang-barang yang bermerek serta uang saku yang banyak.
Sekolah swasta yang menunjukkan tingkat sosial yang tinggi.
"Ih! Aku juga mau punya yang ini..."
"Kamu kenapa cepet banget sih Ann dapat nya?" tanya Jody yang merupakan teman sekelas Anna di sekolah yang baru.
"Eh? I.. iya.. kan bentuk nya lucu." jawab Anna lirih yang mencoba menyesuaikan.
Ia bahkan tak tau jika tas yang ia miliki merupakan tas keluaran terbaru di merek yang harus di pesan secara pribadi lebih dulu.
Karna semua barang-barang yang ia miliki sudah di atur dan berikan pada nya secara berkala.
"Ujian tadi gimana? Lancar?" tanya Jody pada anak baru itu.
Tak sulit untuk nya dan teman-teman sekelas nya yang lain untuk menerima anak baru itu, karna dari bawah hingga atas siswi yang baru masuk itu sudah memenuhi kriteria dalam pertemanan nya.
"Gak! Macet semua! Padahal tuh waktu les kayak nya ada yang masuk tapi malah..." ucap Anna lirih yang ingat soal ujian nya yang begitu cetar membahana.
Jody tertawa kecil mendengar nya, memang nya ada ujian yang mudah?
"Ga apa-apa yang penting lulus!" sahut gadis itu yang tertawa.
Anna tersenyum tipis, karna ucapan Diego yang mengatakan jika ia bisa memiliki setidaknya pertemanan yang normal maka ia pun kembali mencoba mengembalikan kehidupan sosial nya seperti sebelum ia bertemu dengan pria yang memiliki obsesi pada nya itu.
......................
Mansion Damian
Pria itu melihat ke arah gadis yang sedang duduk di pangkuan nya, tangan nya mengusap dan mengelus punggung gadis itu.
"Kau sudah pilih universitas nya? Dan jurusan yang mau kau ambil?" tanya Lucas pada gadis itu.
"Seni? Kamu ingat kan? Aku bilang aku mau jadi artis!" jawab Anna yang tersenyum pada pria itu.
Lucas terdiam sejenak, ia tentu ingat jika ia pernah membuat gadis itu menjadi model iklan produk nya dan kemudian membawa guru les vokal.
"Kau mau aku bawa kembali guru les vokal mu? Aku ingat dulu dia pernah bilang kau cukup berbakat." ucap nya yang menatap ke arah gadis nya.
"Beneran? Dia bilang begitu? Mau!" ucap Anna yang bersemangat, sangat berbeda dan lain cerita jika itu bukan lah guru vokal melainkan matematika.
"Kalau begitu kau akan ambil jurusan seni dan ingin menjadi bintang?" tanya pria itu menaikkan smirk nya.
Anna menangguk pada pria itu dengan mata biru nya yang bersinar.
Lucas tak mengatakan apapun untuk beberapa saat ketika pandangan mata nya hanya terkunci menatap ke arah gadis nya.
"Kalau begitu kau tau kan? Aku bisa senang dengan cara yang mudah." ucap nya sembari mulai melepaskan kancing piyama tidur gadis itu satu persatu.
Anna menarik napas nya, ia tau apa yang di minta oleh pria yang tengah memangku nya saat ini.
Tangan nya mendekat, mengalungkan rangkulan nya di punggung tegap pria itu.
"Dua kali aja ya? Besok aku ujian..." ucap nya pada pria itu.
"Kau mencoba membuat negosiasi?" tanya Lucas yang tak menjawab dan malah menarik tengkuk gadis itu untuk mengesap bibir nya.
Anna terbungkam, ia memberikan pria itu mengesap habis bibir nya dan menyentuh seluruh tubuh nya dari balik pakaian.
...
Usapan pria itu terasa lembut di punggung gadis yang berbaring di samping nya.
"Luc? Aku bingung deh," ucap Anna yang kali ini belum tertidur walaupun baru saja di tiduri oleh pria tampan itu.
"Bingung kenapa?" tanya Lucas mengernyit dan menatap ke arah gadis nya.
"Kamu ga pernah ulang tahun ya? Aku kenapa ga pernah tau?" ucap Anna yang bahkan sudah melewati dua tahun bersama pria itu dan sudah melewati dua kali ulang tahun.
__ADS_1
"Oh? Memang nya itu penting?" tanya Lucas yang benar-benar tak tau jika hal seperti itu penting.
Selama ini ketika ia ulang tahun, paling ia hanya akan minum dengan sepupu nya di bar.
"Penting!" ucap Anna pada pria itu.
"Okey, lain kali aku akan memberi tau mu." ucap Lucas yang mengecup dahi gadis nya.
"Tapi Luc? Umur kamu berapa sih? Boleh kan aku tanya?" ucap Anna yang bahkan tak tau betapa usia pria yang menculik dan sering meniduri nya itu.
"Tahun ini 32," jawab Lucas pada gadis itu.
Mata biru itu membulat seketika, ia langsung bangun dan beranjak menatap ke arah pria yang berada di samping nya.
Lucas menatap dengan datar, "Kenapa terkejut? Usia kita memang beda 13 tahun." ucap pria itu dengan wajah yang datar.
"Kamu tua juga ya? Berati kalau kamu mati duluan aku bisa cari pacar baru ya? Eh? Kita pacaran ga sih?" Anna berbicara sendiri dalam kebingungan.
Tap!
Lucas menarik gadis itu agar tidur di samping nya lagi, "Kau mau cari pria lain? Bahkan kalau aku mati aku juga tidak akan melepaskan mu, dan menurut mu hubungan kita seperti apa?" tanya nya yang menatap ke arah gadis itu.
Anna menggeleng, ia tak tau hubungan apa yang ia miliki, tak ada kata-kata 'Ayo, pacaran atau Apa kau mau jadi pacar ku?' namun hubungan yang ia miliki bahkan sudah lebih untuk hal itu.
"Tunggu! Kamu ga jadiin aku teman tidur aja kan?" tanya Anna yang tersentak saat ia memikirkan hubungan ambigu itu.
Ack!
Anna tersentak saat pria itu tiba-tiba mengigit pipi nya.
"Kau itu lebih dari hanya sekedar 'pacar' atau 'teman tidur'..." ucap pria itu lirih sembari memeluk gadis nya dengan erat.
"Terus aku apa?" tanya Anna dari dalam pelukan pria itu.
"Wanita ku? Pasangan ku? Sesuatu seperti itu." jawab Lucas pada gadis yang berada di pelukan nya.
Ia memang tak berniat memiliki anak bahkan kalaupun ia tau ia butuh pewaris, namun ia tentu memiliki niat untuk menikahi gadis itu dan hidup bersama nya.
Anna tak mengatakan apapun lagi, aroma harum tercium di hidung nya. Tubuh yang tegap dan hangat itu memeluk nya.
......................
Dua bulan kemudian
Sekolah
Aula
Siswa dan siswi yang tengah lulus saat itu mulai tertawa saat pidato terkahir di ucapkan. Mereka keluar dari aula dan tentu ada beberapa orang tua atau pun teman yang datang untuk mengunjungi nya.
"Selamat untuk kelulusan mu,"
Mata biru itu berbinar menatap ke arah pria yang datang untuk nya.
"Makasih," ucap nya yang tersenyum dan mengambil buket bunga yang di berikan untuk nya.
Sekolah menengah atas nya telah berakhir, ia melewati masa-masa muda anak SMA bersama dengan pria yang membuat nya jatuh bangun karna kegilaan nya.
Namun dari semua itu, ia masih hidup dan bahkan bisa berfoto untuk album kelulusan nya.
......................
Satu bulan kemudian.
Universitas
Para mahasiswa baru yang pertama kali menginjakkan kaki nya di dunia perkuliahan yang tampak mudah dan menyenangkan dari luar namun penuh dengan rasa stres di dalam nya.
Perkenalan dan orientasi saat ini tengah di laksanakan.
"Maurenne Arianna,"
Sepenggal nama yang membuat salah satu kakak kelas yang merasa bosan karena mengikuti orientasi mahasiswa baru itu langsung menaikkan telinga nya.
"Anna?" Mata hijau nya langsung menoleh dan menatap ke segala arah mencoba mencari nama yang ia dengar.
__ADS_1
Senyuman naik di wajah nya, "Dia benar-benar mengambil jurusan seni?" gumam nya lirih.
Ia tau jika jurusan seni memiliki banyak bidang dan juga banyak universitas yang menyediakan nya. Namun di antara semua nya ia berada di tempat yang sama dengan gadis itu.
Acara pun berlangsung, berbagai permainan dan juga cara yang di gunakan untuk mahasiswa baru pun berkahir.
Anna tertawa kecil mengikuti suasana tempat baru nya yang saat itu ramai dan ceria.
Kini semua mahasiswa baru itu beserta dengan mahasiswa yang lain nya meninggalkan aula jurusan.
Greb!
Pats!
Anna tersentak, seseorang menarik tangan nya ke salah satu ruangan yang kosong saat ia melewati lorong yang berada di jurusan nya dan kemudian mengambil topi nya.
"Eh?"
"Lama tidak bertemu," senyuman yang cerah itu menatap ke arah gadis yang memang tak lagi ia temui saat ia sudah lulus sekolah.
"Gevan? Eh? Kak Gevan maksud nya!" ucap Anna yang merevisi panggilan nya.
"Panggil apapun yang nyaman untuk mu," ucap Gevan yang menatap ke arah gadis itu.
"Dulu mau nya aku panggil yang sopan?" tanya Anna tersenyum.
Masa remaja telah usai untuk laki-laki itu karna kini ia bahkan sudah memasuki usia nya yang ke 21 tahun.
Gevan tersenyum, ia menarik helaian rambut gadis itu yang kali ini di mode dengan sedikit berbeda.
"Kau meluruskan rambut mu?" tanya nya pada gadis yang biasa nya memiliki rambut ikal berwarna pirang itu.
"Iya, sama aku warnain coklat sedikit biar agak gelap." jawab Anna yang menunduk melihat ke arah rambut nya.
"Aneh ya?" tanya Anna yang merasa penampilan nya akan tampak lucu.
"Tidak! Ini cantik," ucap pria itu yang mendekat dan berbisik di telinga gadis yang yang baru saja memasuki kehidupan kuliah itu.
"Eh? Iya? Makasih..." ucap Anna yang tersentak ketika merasakan helaian napas yang berada di daun telinga nya.
"Ta.. tapi kita harus keluar kan? Anak-anak yang lain udah pada keluar." ucap Anna yang kali ini ingin beranjak keluar dari ruangan yang gelap itu.
"Kau tidak takut pada ku? Bagaimana kalau aku mengunci mu di sini?" tanya Gevan yang menatap ke arah gadis yang memiliki kewaspadaan yang sangat rendah pada nya.
"Memang nya kamu mau buat apa? Lagi pula kan kita tuh udah damai! Aku ga mau tuh jadi pesuruh mu lagi!" ucap Anna yang ingat bagaimana pria itu memperlakukan nya dulu, namun ia lebih baik dari pada Bulian yang ya dapatkan di tahun terakhir sekolah nya.
Gevan tertawa mendengar nya, "Kau yakin? Aku juga bukan anak-anak lagi." ucap nya yang mendekat secara tiba-tiba ke bibir gadis itu.
"Heuk!" Anna tersentak, secara refleks tentu tangan nya langsung menutup bibir nya.
Pria itu tersenyum kecil saat melihat wajah yang tampak semakin cantik setelah lama tak bertemu.
Cup!
Satu kecupan mendarat di tangan yang menutup bibir mungil itu.
"Selamat datang di jurusan seni Anna," ucap nya tersenyum yang mengatakan kalimat yang sama seperti Kakak tingkat lain nya ketika tadi waktu orientasi.
Anna melepaskan tangan nya, ia membuka mata nya dan menatap ke arah pria itu.
Entah itu keberuntungan atau kesialan yang akan menimpa nya saat ia bertemu dengan seorang 'teman lama' di tempat yang baru.
...****************...
Lucas Alessandro Demian
Maurenne Arianna
Gevan Scout Walker
__ADS_1