
Lautan biru yang tampak dalam dan cerah dengan ombak yang baik dan turun dengan irama sedang menampilkan kilau nya di bawah mentari.
Suara air yang tberisik ketika tangan dan kaki itu bergerak berusaha untuk menghirup udara itu tenggelam dengan bunyi ombak lain nya.
Gelembung warna putih bagaikan buih laut itu tampak hilang setiap kali ombak menyapu di atas nya.
Pria yang tampak seperti pengawas pantai itu menatap datar, ia membuka ponsel nya dan melihat ke arah nomor yang ia tuju.
"Dia sudah mati," ucap nya yang menelpon dan memberikan kabar lalu meninggalkan seseorang yang mulai kehilangan kesadaran nya atau bisa di bilang mulai kehilangan nyawa nya.
......................
Satu Minggu kemudian.
JNN grup.
Lucas melihat ke arah hasil dari pengobatan yang sudah di lakukan dan perkembangan nya sudah sampai sejauh mana.
"Seperti nya hasil nya mulai membaik, dia bisa sembuh tahun ini?" tanya nya dan mengembalikan kertas yang di berikan nya tadi.
"Ya, Masih ada kemungkinan jika nona Anna bisa di sembuhkan tahun ini." ucap nya yang menjawab pria yang membayar nya dengan upah yang tinggi itu.
Lucas mengangguk, ia diam sejenak sembari berpikir jika memang selama ini pengobatan yang di berikan berjalan dengan lancar.
Semua yang terjadi selalu berjalan dengan keinginan nya, awal nya hanya memiliki rasa ingin tau dengan warna selain merah, hitam dan putih yang ia lihat.
Kemudian ketertarikan nya membawa nya pada seseorang yang memiliki warna yang ia cari, sesuatu yang berkilau indah terletak di mata itu.
Ia juga mendapatkan nya, ia mendapatkan mata yang memiliki warna indah itu sekaligus seseorang yang membuat nya merasakan sesuatu yang baru juga.
Dan kali ini seseorang sudah mengambil seluruh hati nya, seluruh rasa suka dan ketertarikan nya hingga ketika ia sudah bisa melihat apapun dengan jelas ia masih terpaku dengan satu keindahan nya.
....
Greb!
Tangan kecil itu memeluk erat ke arah tubuh bidang pria yang ingin beranjak keluar dari kamar nya lagi.
"Mau ke mana? Kenapa ga di sini aja?" tanya nya yang memeluk pria itu dari belakang seperti tak ingin agar pria itu keluar dari ruangan nya.
"Aku akan kembali nanti malam," ucap Lucas yang berbalik sembari melepaskan pelukan dari tangan yang melingkar di dada bidang nya itu.
__ADS_1
"Tapi aku belum habiskan makanan ku! Kita harus makan bersama lagi!" ucap nya yang mulai bersikap kekanakan dan tak ingin lagi di tinggal di ruangan yang membuat nya selalu tenggelam dengan kesepian yang mencekik nya.
"Anna? Kenapa?" tanya nya yang menyelipkan rambut di balik telinga gadis itu.
"Kamu mau makan siang sama dia kan? Eh bukan mungkin malam? Aku aja ga tau ini malam atau siang..." cicit nya lirih dengan menunduk melihat ke arah lantai.
"Dia? Siapa?" Lucas mengernyit mencoba mengingat, karna walaupun ia membunuh seseorang pun ia akan lupa karna kematian bukan lah sesuatu yang berkesan untuk nya.
"Itu! Gadis cantik yang di ruangan kamu!" ucap Anna yang terus mengingat nya.
Di kurung dan di batasi dalam semua hal membuat nya menjadi hanya tertuju pada seseorang yang datang bagaikan penyelamat nya.
Walaupun pahlawan atau pun penyelamat itu tak ada sama sekali!
Dan tentu rasa stress dan depresi nya yang menumpuk dengan rasa kesepian nya mencari pelabuhan dengan seseorang yang memiliki interaksi yang cukup banyak dengan nya.
"Oh dia? Kau bilang kau tidak mau melihat dia lagi? Padahal kalau kau aku bisa mengubah nya jadi lebih menyenangkan," ucap nya yang bisa membuat sepupu dari bibi pertama nya seperti peliharaan atau pun boneka yang cantik.
"Iya! Aku ga mau lihat dia! Memang nya sekarang dia di mana?" Anna menjawab sekaligus memberikan pertanyaan nya.
"Di laut," jawab Lucas singkat dengan senyuman tipis yang merasa jika gadis itu akan menyukai nya.
"Luc! Aku ga bercanda!" ucap Anna yang tentu saja menganggap jika hal itu adalah sebuah kebohongan.
"Tu.. tunggu! La.. lalu bagaimana dengan sekolah ku? A.. aku ga pernah masuk sekolah..." ucap nya lirih.
"Sekolah? Kau akan ikut ujian paket jadi tidak perlu ke sekolah lagi," jawab Lucas pada gadis itu dan beranjak keluar serta tak lupa kembali mengunci gadis itu lagi.
......................
Rumah sakit.
Pria itu menunggu hasil yang ia tunggu dan tentu saja ingin ia lakukan sejak ia menemui gadis itu lagi.
"Untung saja hasil nya negatif," ucap nya sembari melihat ke arah data yang memberikan keterangan jika gadis itu tak memiliki penyakit menular apapun.
"Sudah kan? Aku mau kembali!" ucap yang kesal dan ingin langsung pergi namun pria itu menahan nya.
"Kau belum memberikan pelayanan mu," ucap nya yang beranjak menarik tangan gadis itu dan tentu tujuan selanjut nya setelah rumah sakit adalah hotel.
......................
__ADS_1
Skip
Apart
Gadis itu kembali memasuki apartermen termurah dan bahkan memiliki udara yang lembab itu.
Sebelum nya ia tak mau pulang dan ingin tetap berada di hotel yang memiliki tempat tidur yang nyaman bukan seperti milik nya yang beralaskan matras.
Samantha menarik napas nya, ia membuka laci nya ketika ingin menyimpan uang yang ia dapatkan.
"Loh?" mata nya membulat, ia bergumam dan bingung melihat uang tabungan nya yang habis tak bersisa berserta dengan beberapa kartu tanpa limit yang juga ia simpan di tempat yang lama.
Langkah nya langsung bangun dan memanggil sang ibu.
"Ma? Mama lihat uang aku ya-"
Ucapan nya terpotong, ia tak membatu untuk beberapa saat. Uang yang ia kumpulkan dengan memiliki rencana untuk mengambil ujian paket agar bisa setidak nya memiliki kualifikasi setelah SMA kini sedang berada di tangan kiri ibu nya, dan memang ibu nya sekarang hanya memiliki satu tangan.
"Ma? Balikin uang Sam Ma..." ucap nya lirih pada sang ibu yang ingin meminta nya dengan cara yang baik.
"Selama ini kamu kasih Mama makanan seperti rumput padahal punya uang sebanyak ini?!" ucap yang selalu tak senang dengan makanan yang di berikan oleh putri nya.
"Sam?"
Suara seorang pria membuat gadis itu berbalik, kini sang ayah datang walaupun kedua orang tua nya sudah bercerai.
"Ini apa sandi nya? Papa butuh uang," ucap nya yang menunjukkan black card di tangan nya.
Gadis itu membelalak, sejak awal ia menyimpan nya agar tak di gunakan oleh orang tua nya jika tau ia punya sokongan dana.
"Sam, ga tau Pa." jawab nya lirih karna tau sang ayah akan menggunakan nya untuk judi karna pria itu sudah kecanduan.
"Kamu punya kartu begitu? Apa sandi nya? Kalau kita pakai kita bisa hidup seperti dulu." ucap wanita
"Pa? Balikin Pa, itu punya temen Sam." ucap nya pada sang ayah, "Dan Mama Sam boleh minta uang nya lagi buat sekolah Sam..." sambung nya pada ibu nya.
"Kau itu tidak tau terimaksih ya? Papa sudah besarkan kamu dari kecil sampai sekarang malah kamu sombong!" ucap Mr. Harris yang kini sudah berubah sepenuh nya semanjak ia kecanduan dengan judi.
"Benar! Yang kamu kasih itu masih belum seberapa! Tapi malah sudah mah lebih pintar dari orang tua!" ucap wanita itu pada putri nya.
Amarah dan luapan rasa frustasi akan kehidupan yang pahit itu di tumpahkan pada putri tunggal keluarga itu.
__ADS_1
Buliran bening jatuh ke lantai yang kusam itu saat ia hanya melihat ke bawah, ia tau hal ini akan terjadi dan maka dari itu jika waktu dan keadaan di ulang pun ia tetap akan memilih untuk tidak menggunakan kartu ataupun meminjam uang dari siapapun.