
Mansion Damian.
Wajah gadis itu setidak nya sekarang terlihat lebih segar. Bukan karna membaik namun karna make up yang menghias wajah itu.
Pria itu menarik napas nya, ia melihat ke arah gadis yang tampak hanya berdiam diri di atas sofa tunggal itu.
"Anna?"
Suara bariton itu memanggil nya hingga membuat wajah nya menoleh.
Lucas hanya menarik napas nya melihat ke arah wajah yang tampak datar itu. Ia mendekat dan berjongkok dengan satu lutut nya di depan gadis yang masih duduk di atas sofa itu.
Setelah seseorang memeriksa gadis nya dan sang dokter menyatakan jika bayi yang berada di dalam kandungan gadis itu sudah tiada ia merasa lega.
Tangan yang besar dan hangat itu memegang jemari kecil gadis nya.
"Aku hanya ingin kita saja, aku dan kau..."
"Aku tidak minta kau untuk memahami ku, tapi aku ingin kau menuruti ku." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.
Suara nya melembut namun itu masih belum cukup untuk mengobati luka di hati nya.
Anna tak mengatakan apapun, tangan dan tubuh nya gemetar. Wajah nya mulai berubah sendu dengan lelehan buliran bening yang terjatuh.
"Kamu cemburu sama anak kamu sendiri?" tanya Anna dengan suara parau.
Lucas tak mengatakan apapun, mungkin itu salah satu alasan nya. Ia tak ingin membagi gadis nya untuk siapapun bahkan untuk anak-anak nya kelak.
Pria itu menarik napas nya, ia berdiri dan kemudian setengah membungkuk agar bisa memeluk gadis itu dan menepuk pundak nya.
Bibir Anna tak bisa mengatakan apapun, pelukan pria itu masih terasa hangat namun hati nya terasa membeku.
Tapi Luc? Anak itu berharga untuk ku...
Anna tak bisa mengatakan apapun selain menurut sekarang.
......................
Universitas.
Gevan melihat ke arah kelas yang harus nya di datangi Anna namun sudah lebih dari satu Minggu gadis itu hilang tanpa kabar sama sekali.
"Kenapa dia melewatkan kelas nya? Dia sudah tidak mau kuliah lagi? Atau dia mau mengulang kelas?" tanya nya lirih.
Ia membuka ponsel nya. Kini ia sudah mendapatkan nomor gadis itu dan tentu ia terus mengirim pesan tanpa tau kini ponsel itu sudah tak di gunakan lagi dan dalam keadaan mati serta tersimpan di dalam laci.
"Astaga Anna! Kata nya mau cepat lulus," ucap nya lirih yang kemudian mematikan ponsel nya saat kelas pelajaran akan segara di mulai.
......................
Skip
JNN Grup
"Ada yang ingin menemui mu," ucap Diego yang datang dan mengetuk pintu atasan sekaligus sepupu nya itu.
"Siapa?" tanya Lucas mengernyit.
"De Levita." jawab pria itu yang juga sebenarnya tau siapa yang datang.
"Suruh dia masuk," ucap Lucas yang tampak sedikit berseri.
Pria itu kini sudah masuk ke ruangan Presdir yang besar itu dan membawa sampel gambar gaun untuk gadis yang akan ia nikahi.
"Saya butuh ukuran nya," ucap pria yang tampak memiliki janggut putih itu.
"Aku akan kirim ukuran tubuh nya, dia juga punya beberapa catatan untuk pakaian nya dulu." ucap Lucas yang tak satu kali membuat pesanan pada designer untuk pakaian gadis nya.
"Gaun yang ini mungkin cocok, bisa di bagian punggung nya di buat sedikit terbuka? Dan untuk ikrar aku akan pakai yang ini." ucap Lucas yang menunjuk gaun yang bagi nya tampak indah.
"Baik, akan saya perbaiki dan untuk bahan nya apa anda dan nona akan memilih nya?" tanya designer tersebut.
"Tidak, aku akan mempercayai mu. Ku harap tidak mengecewakan." ucap Lucas yang tak sabar akan hari yang ia nantikan itu.
"Baik, terimaksih tuan." ucap Levita yang kemudian keluar.
...
Dokumen itu tampak di periksa, semua yang berada di dalam nya di saring dengan teliti.
"Setelah kejadian itu kau sudah tenangkan anak itu? Dia mungkin salah paham tentang hubungan mu," ucap Diego yang menatap ke arah pria di depan nya.
Ia tak bisa menemui Anna walaupun ia masih butuh untuk pertemuan lanjutan karna ia memberikan perawatan psikiater secara diam-diam.
"Menenangkan? Aku sudah memberi tau nya kalau kami tidak punya hubungan apapun," jawab Lucas yang masih melihat ke arah dokumen nya.
"Kau akan benar-benar menikahi nya? Tanpa tes lebih dulu?" tanya Diego sekali lagi.
"Untuk apa tes itu? Lagi pula tidak akan ada yang berubah kan? Kelainan genetik juga tidak akan terjadi karna kami tidak berniat memiliki anak." ucap Lucas karna ia mengira anak yang berada di perut gadis itu telah tiada.
Memang yang mendasari nya tak ingin memiliki anak bukan karna ada nya kemungkinan kelainan genetik namun ia memang tak ingin memiliki nya sejak awal.
"Luc? Waktu itu dia pernah bilang mau mencoba jajanan yang berada di jalan xx tapi itu di hari kau sedang sibuk. Aku bisa membawa nya?" tanya Diego yang mencoba mendapatkan izin agar gadis itu bisa keluar.
"Tidak, kau sendiri tau kalau dia punya perselisihan dengan wanita itu kan? Catatan yang terlalu bersih juga akan bermasalah." ucap Lucas yang langsung menolak.
Luciana memiliki catatan kriminal yang bersih, mendapat penghargaan dan tak ada satu pun cela.
Dan itu mirip dengan nya, walau pun sudah banyak yang mati di tangan nya tapi tak pernah ada satupun yang tau.
Malah catatan tentang diri nya di penuhi dengan hal yang positif. Sangat jauh berbeda dengan yang ia lakukan.
......................
5 Hari kemudian.
Mansion Damian.
Tangan yang sebelum nya halus dan cantik itu kini tampak terluka karna gadis itu terus mencakar tangan nya sendiri tanpa sadar.
Ia tak bisa keluar dari mansion itu karna setiap pintu di jaga ketat. Bahkan karna beberapa hari yang lalu ia terus mendekati gerbang Lucas mulai menyuruh pengawal untuk mengikuti gadis itu walau berada di mansion nya.
"Nona? Anda menyakiti tangan anda lagi," ucap sang pengawal yang kemudian mengambilkan sarung tangan agar gadis tuan nya tak lagi terluka.
Anna tak mengatakan apapun, ia takut dan masih begitu ketakutan jika ia ketahuan masih hamil sedangkan ia masih terkurung.
Bagaimana cara ku untuk keluar? Aku harus keluar tapi bagaimana?!
Batin gadis itu yang tak bisa bersuara, ia tak bisa memikirkan nya sampai.
"Nona? Saya akan mengganti bunga nya? Apa anda ingin memesan secara khusus?" tanya salah seorang pelayan yang datang karna ia bertugas untuk membuat gadis itu nyaman.
"Bunga?" gumam Anna yang mengernyit.
Kau seperti adik ku, dia seperti bunga di musim gugur.
"Nona?"
Deg!
Anna tersentak, ia menatap ke arah pelayan itu dan memegang tangan nya.
"Terimakasih!" ucap nya yang merasa menemukan titik untuk membawa nya keluar.
"Ya?" pelayan tersebut bingung namun ia memilih untuk tersenyum.
Tapi sekarang bagaimana cara menghubungi nya?
Ia tak memiliki ponsel dan tak bisa menggunakan telpon rumah. Tak ada yang bisa ia lakukan.
...
Pukul 09.25 pm
Layar yang masih menyala, gadis yang terdiam dan duduk dengan tenang di pangkuan nya.
"Berat mu turun lagi? Kau semakin ringan," ucap Lucas yang menoleh ke arah tulang selangka yang tampak lebih menonjol itu.
Anna tak menjawab, ia tak bisa mengatur ekspresi nya untuk tetap tersenyum seperti dulu lagi.
"Anna?" panggil Lucas yang kali ini meninggalkan pandangan nya pada laptop dan kemudian menatap ke arah gadis itu.
"Entahlah, aku juga tidak tau..." jawab Anna saat tau pria itu mulai melihat nya karna ia terus diam.
"Habiskan makanan mu, aku sudah memasukkan ahli gizi untuk koki yang bekerja di sini." ucap Lucas yang menatap ke arah gadis itu.
"Baik," Anna memilih menurut kali ini.
__ADS_1
Pria itu terus memangku nya sampai pekerjaan nya selesai, "Aku boleh bangun? Ku rasa aku keram jika harus tetap berada di posisi yang sama terus." pinta Anna.
Lucas diam sejenak dan kemudian melepaskan gadis itu.
Anna berjalan di sekitar, dokumen dan buku yang tersusun rapi dan juga meja yang tampak menyendiri namun bersih.
Tek!
Tanpa sadar ia menekan tombol nya, visualisasi dan bentuk hologram itu pun menyala dan kemudian menampilkan isi nya.
"Chip? Uji coba? Subjek?" gumam Anna lirih yang kemudian menggeser hologram yang bisa di sentuh itu.
Deg!
Maurenne Arianna
Usia 17 tahun
Golongan darah A negatif
"Apa yang kau lakukan!"
Lucas langsung mematikan hologram itu dan kemudian menarik tangan gadis nya.
Anna masih terdiam, ia melihat biodata singkat nya yang berada di layar pria itu.
"Apa itu? Uji coba? Aku dulu di jadikan kelinci percobaan?" tanya Anna yang menatap ke arah pria di depan nya.
Lucas sempat diam sejenak, tak menjawab apapun.
"Kamu pasang benda seperti itu di tubuh aku?" tanya Anna mengulang.
"Sekarang sudah tidak, jangan pikirkan apapun. Kau tidak punya benda seperti itu lagi di tubuh mu." jawab Lucas dengan wajah yang dingin itu.
Anna menggelengkan kepala nya, ia bahkan tak pernah tau jika di jadikan uji coba untuk suatu produk.
"Kapan? Kamu mulai ambil nya? Waktu kamu mulai suka aku?" tanya Anna sekali lagi.
"Ya," jawab Lucas yang kali ini berbohong.
Alasan chip itu tak di pasang lagi karna Anna sudah mengalami efek radiasi dengan terkena leukimia.
"Luc..."
"Aku boleh istirahat?"
Tanya Anna lirih, ia seperti tak ingin melanjutkan pembicaraan yang di luar muatan kapasitas 20kb itu.
Lucas mengangguk, ia mengecup sekilas dahi gadis itu dan mengusap belakang kepala nya.
"Ya, kau bisa ke kamar lebih dulu." ucap nya yang menatap ke arah wajah yang tampak pucat jika tak mengenakan make up.
......................
Tiga hari kemudian
Skip
Stone Craft Grup.
Luciana menatap ke arah laporan yang berada di tangan nya.
"Kenapa bisa kalian tidak temukan dia? Kalau bertemu dengan anak itu ambil dia tapi tidak boleh terluka." ucap nya yang memberi perintah.
Ia masih kesal, rasa nya seperti di tantang oleh seseorang yang tak sebanding dan ia anggap tak layak.
"Tenangkan diri mu Lucy..."
"Kau orang yang baik dan bijaksana, jangan mengotori tangan mu dengan darah..."
"Oh..."
"Si*lan, Br*ngsek, anak jal*ng, anak set*n, kotoran b*bi, b*ngsat..."
Wanita itu mencoba menenangkan diri dengan suara yang lembut namun bibir cantik nya juga mengeluarkan bahasa yang kasar tanpa filter dan tentu ucapan kasar itu juga dengan nada yang lemah gemulai.
......................
Mansion Damian.
"Pinjamkan ponsel mu," ucap Anna yang meminta ponsel pada salah satu pengawal nya.
"Maaf Nona, itu tidak bisa." ucap sang pengawal yang mengikuti arahan atasan.
"Kalau kau tidak memberikan nya kau akan mati," ucap Anna sembari menatap ke arah pengawal yang masih muda dan cakap dengan tubuh dan wajah yang bagus itu.
"Ya?" ia bingung apa yang di katakan gadis muda di depan nya.
"Kau akan mati, pria itu akan membunuh mu. Jadi berikan ponsel mu," ucap Anna sekali lagi.
Pengawal tersebut bingung dan tentu ia tak memberikan nya karna ia akan mati kalau menuruti gadis itu.
Anna menatap ke arah pria yang tampak tak akan memberikan nya pinjaman itu.
...
Pukul 05.45 pm
Lucas kembali kali ini, karna perubahan musim sekarang sudah begitu gelap seperti layak nya malam.
Dan tentu yang ia cari adalah gadis nya begitu ia kembali tapi,
Deg!
Mata nya membulat sempurna, apa yang ia lihat sekarang?!
"Nona kenapa an-"
Pria yang memakai jas itu mendorong tubuh kecil yang tiba-tiba mencium bibir nya itu.
Gadis itu tersenyum miring, ekor mata nya melirik ke arah seseorang yang terlihat terbakar.
Mungkin dulu saat pensi sekolah tak masalah Lucas melihat gadis itu berciuman dengan orang lain karna ia juga dulu belum begitu menyukai nya. Tapi sekarang?
Prang!
Vas keramik itu langsung terhempas di kepala pria yang baru saja berciuman dengan gadis nya itu.
"Tuan tungg-"
Bruk!
Ukh!
Tak ada waktu untuk sempat menjelaskan, tubuhnya di pukul secara membabi buta tanpa ampun dan tanpa pembelaan.
Anna menutup mata dan menunduk, seluruh tubuh nya gemetar walaupun ia tau akan seperti ini jadi nya.
Bugh!
Bugh!
Genangan darah mulai menjalar ke bawah kaki nya di atas lantai marmer putih yang tampak indah itu.
Jantung nya berdetak dengan kencang namun ia memilih diam.
Ia tak peduli untuk nyawa orang lain saat ini karna nyawa ia dan bayi nya juga terancam.
Ukh!
Anna tersentak, tangan yang berbau anyir itu mulai mencekik nya. Darah yang masih menempel di tangan itu pun menodai pakaian dan leher nya.
Langkah gadis itu memundur sampai ia jatuh ke sofa dan pria itu pun masih mencekik nya dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya pria itu dengan intimidasi.
Karna cekikan yang begitu kuat itu sampai membuat tangan nya gemetar sedangkan wajah yang tadi nya pucat itu kini membiru.
"Bu..."
"Bu.. bunuh saj.. ja.."
Lucas menatap dengan tajam dan kemudian ia melepas cekikan itu dengan kasar.
"Puah! Hah..."
Anna langsung mencoba menghirup udara sebanyak mungkin begitu pria itu melepaskan cekikan nya, namun tak lama kemudian.
__ADS_1
Humph!
Ciuman yang begitu agresif itu menyambar nya seketika sampai membuat nya tak bisa bernapas.
Ukh!
Ringisan terdengar saat ada tangan yang meremas Piramida nya dengan begitu kuat sampai membuat nya merasa nyeri.
Namun ia tak mencoba memberontak kali ini karna takut pria itu semakin berbuat kasar di atas tubuh nya dan pada akhirnya benar-benar membuat anak nya melayang ke langit.
40 Menit kemudian.
Gadis itu masih berada di atas sofa, tubuh polos nya tampak tak memiliki tenaga.
Dari leher hingga ujung kaki semua nya tersebar bekas kepemilikan dan beberapa terluka akibat gigitan.
"Jangan di ulangi lagi," ucap Lucas yang menutup tubuh gadis itu dengan jas nya yang tadi ia kenakan dan kemudian menggendong nya ke kamar.
Anna tak mengatakan apapun, buliran bening di wajah nya mulai terjatuh.
Kamu ga apa-apa kan di sana? Maaf...
Maafin Mamah...
Bibir nya tak mampu berucap namun tentu ia bisa mengatakan semau nya di dalam hati.
...
Dua hari kemudian.
Ada nya pengawal baru yang berjaga, namun kali ini seorang wanita.
"Pinjamkan ponsel mu, kalau kau tidak mau kau bisa mati. Seperti pengawal ku yang sebelum nya." ucap Anna yang kali ini tak ada basa basi lagi karna ia harus keluar dari tempat itu secepat nya.
Pengawal tersebut pun terdiam, ia ingat akan rekan nya yang mati dengan kepala yang hancur.
"Anda akan menggunakan nya untuk apa?" tanya wanita itu yang melihat dengan was-was.
"Hanya menghubungi teman dan kalau kau tutup mulut mu dengan rapat kita berdua akan baik-baik saja." ucap Anna sekali lagi.
Wanita itu pun tampak sedikit gelisah namun ia mengeluarkan ponsel nya dan memberikan nya.
Anna langsung mengambil nya dan menekan nomor yang ia hapal itu karna memang tak banyak nomor yang ia simpan di ponsel nya.
Sambungan telpon masih berjalan sampai ada suara yang akan menjawab.
"Halo?"
"Ini Anna! Soal tawaran itu aku terima! Jadi..."
"Aku ingin lihat, bunga yang mekar di musim gugur itu.."
Ucap nya yang tak menunggu balasan dan kemudian mematikan ponsel nya.
Anna terdiam beberapa saat, dan kali ini ia hanya mencoba menunggu.
......................
JNN Grup
Karna masih berada di waktu kerja tentu ia masih berada di kantor.
"Anna? Tawaran? Anak itu mau kabur?" gumam nya lirih setelah panggilan nya mati.
"Aku harus menemui nya lebih dulu." gumam nya yang kemudian beranjak.
......................
Dua hari kemudian
Mansion Damian
Ia tak bisa mengunjungi secara langsung dan kalo ini ia baru bisa datang. Terkejut?
Tentu!
"Kenapa kau bisa sampai seperti ini?!" tanya yang melihat ke arah gadis yang tampak pucat dan kurus itu.
"Bantu aku keluar, ku mohon..."
"Aku ingin keluar."
Ucap Anna yang mulai menangis saat bertemu pria itu.
"Sekarang situasi nya sedikit sulit, tapi akan ku coba. Aku akan mengirim mu-"
"Tapi aku hamil, aku tetap bisa baik pesawat?" tanya Anna lirih.
"Apa? Bagaimana bisa? Astaga!" ucap Diego yang menatap ke arah gadis itu, "Dia tau?" tanya nya lagi.
Anna menangguk, "Maka nya sebelum dia membunuh anak ku lagi aku harus pergi..." ucap Anna lirih.
Diego diam sejenak, ia menatap ke arah gadis itu. "Anna? Mungkin ini akan sedikit mengejutkan tapi coba dengarkan sampai habis." ucap Diego yang mencoba mengatakan tentang kecurigaan jika ada nya hubungan sedarah.
Anna termangu mendengar nya, pria itu menjelaskan semua nya bahkan apa yang terjadi jika kecurigaan itu benar.
Kaki nya terasa goyah, jika ia memang memiliki hubungan sedarah kandung seibu dengan pria itu maka kemungkinan besar anak nya akan terlahir cacat karna kelainan genetik.
Anna tak bisa mengatakan apapun, tangan nya hanya memeluk perut ratanya. Ia takut dan tak bisa mengatakan apapun untuk saat ini.
"Tapi itu mungkin saja tidak, seharusnya di lakukan tes DNA untuk tau tapi dia tidak mau." ucap Diego.
Anna mengusap air mata nya, mau cacat atau tidak anak itu akan tetap anak nya kan? Dan lagi mungkin anak nya akan terlahir sehat.
"Tidak apa-apa, anak ku tidak salah apapun. Jadi bantu aku keluar dari sini Sir..." ucap nya tegas walaupun dengan suara parau.
"Dua atau tiga Minggu, aku akan membantu keluar dan mencarikan tempat yang cocok untuk mu tapi..."
"Mungkin dalam perjalanan nya tetap akan berbahaya atau mungkin resiko ketahuan juga tetap ada. Kau tak masalah?" tanya Diego memastikan.
Anna menangguk, ia tak tau bahaya seperti apa yang akan ia temui nanti tapi yang jelas harus menghindar dari bahaya di depan mata lebih dulu.
...
Skip
16 Hari kemudian
Pukul 10.23 pm
Pria itu mengelus dan mengusap punggung yang masih belum kembali berisi itu namun ia masih mencoba untuk mengembalikan berat gadis itu.
"Luc? Menurut mu aku berharga?"
Lucas menoleh sekilas ke arah gadis yang berada di dalam dekapan nya, "Tentu."
"Tapi saham mu juga berharga kan?"
"Ya, kau dan juga perusahaan ku, kalian sangat berharga." jawab Lucas.
Anna menengandah sembari melihat ke arah pria itu, "Anak ku juga berharga Luc, kamu pernah merasa sesuatu yang berharga dari kamu di rebut paksa dan kamu kehilangan?"
Lucas tak menjawab namun ia hanya melihat ke arah gadis itu.
"Aku mau kamu terluka juga walupun luka tidak bisa menggores sekalipun." ucap Anna sembari mengusap pipi pria itu.
Lucas tak mengatakan apapun, sekarang ia sudah terbiasa mendengar gadis itu berbicara aneh.
......................
Skip
Mobil mewah itu melaju kencang saat kembali ke mansion nya, ia mendapatkan kabar jika mansion nya di serang dengan bom.
Memang tampak seperti perampokan tapi perampok mana yang memakai ledakan?
Tak berselang lama ia pun sampai, mansion mewah itu tampak berantakan walau tak runtuh.
"Di mana Anna?" tanya nya yang langsung menanyakan gadis nya lebih dulu di bandingkan mansion nya yang berantakan.
Tak ada yang menjawab untuk beberapa saat.
"Nona menghilang tuan," jawab salah satu nya dengan begitu gugup dan takut.
Lucas tersentak tapi kemudian ia tersenyum, senyuman yang menyimpan murka yang begitu besar.
"Cari dia! Bahkan kalau pun kalian tidak bisa menemukan nya cari bangkai nya dan bawa ke sini!" ucap nya yang begitu marah.
__ADS_1