Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Kekacauan


__ADS_3

Dua hari kemudian


Sekolah


Gadis itu tampak murung, ia yang biasa nya ceria kini mulai terdiam.


Anna melihat dari jauh, ia tak mendekat atau pun bertanya. Namun ia memilih mengabaikan nya.


Sampai saat pelajaran di mulai dan salah satu guru bahasa membuat nya berada dalam satu kelompok yang sama dengan gadis itu.


"Sam?"


"Sam!"


Samantha tersentak, teman nya yang lain memanggil nya karna ia terlihat tak fokus sama sekali saat di terangkan pembagian kelompok nya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Stefany pada teman satu kelompok nya itu.


"Engga, ga apa-apa." jawab Samantha yang mencoba tersenyum dan kembali bersikap seperti biasa.


Anna tak mengatakan apapun, ia tak ikut berkomentar dan hanya melihat ke arah gadis itu saja.


Ia mendengarkan pembagian tugas nya dan apa yang harus ia lakukan karna ia memang bukan termasuk anak yang pintar di akademik.


...


"Hm?"


Samantha tersentak, sesuatu yang dingin menyentuh pipi nya dan membuat nya langsung menoleh.


"Tadi aku beli satu gratis satu," ucap Anna yang bersikap tak ingin peduli dengan teman nya itu lalu kembali duduk di bangku nya setelah memberikan es krim.


Samantha tak mengatakan apapun, ia membuka bungkus es krim tersebut dan memakan nya.


"Terimakasih," jawab nya lirih saat memakan nya dan tampak memikirkan hal lain.


Kehidupan keluarga nya mulai kacau, kedua orang tua yang saling bertengkar dan kehilangan pekerjaan.


Belum lagi sang ayah yang kecanduan bermain judi sampai mengadaikan rumah nya dan sekarang malah memperburuk dengan menjual barang-barang di rumah nya.


......................


Tiga hari kemudian


Mall


Lucas membawa gadis itu ke salah satu mall besar untuk membelikan nya perhiasan.


Anna tak mengatakan apapun, ia menurut tanpa bertanya mengapa perhiasan kali ini ia ikut di bawa karna biasa nya ia akan langsung di berikan sendiri dengan model yang bahkan tak pernah ia pilih.


"Bagaimana yang ini? Kau suka?" tanya Lucas yang menoleh ke arah gadis yang berdiri di samping nya.


"Hum? Ya..." jawab Anna lirih dengan mata yang berusaha mencari bandrol harga nya.


"Seperti nya keponakan anda akan sangat cantik saat memakai nya." ucap salah satu pegawai toko dengan senyuman ramah.

__ADS_1


Lucas langsung menatap tajam, memang benar usia mereka terpaut jauh namun ia tetap saja tak suka mendengar nya.


"Apa aku seperti paman nya?" tanya nya dengan mata yang tajam membuat pegawai tersebut tersentak.


"Dia adik anda?" tanya pegawai toko sekali lagi yang mencoba mencarikan suasana.


"Apa wajah kami mirip?" sekali lagi pria bertanya dengan tajam.


"Ma..maafkan kelancangan saya, tapi saya ras nona juga cantik saat memakai ini." ucap nya yang langsung mengalihkan perhatian.


"Kau harus nya tau bat-"


"Sir?" panggil Anna yang membuat pria itu diam dan lambung menoleh.


"Ka..Kalung yang ini bagaimana?" tanya Anna mengalihkan pembicaraan agar tak memancing kemarahan pria itu.


"Yang ini?" tanya Lucas yang ternyata berhasil teralihkan dan langsung menatap serta fokus ke wajah gadis remaja itu.


Anna mengangguk, pria itu pun mengambil kalung tersebut dan mencoba memasangkan nya untuk melihat kecocokan nya.


Sementara itu seorang wanita paruh baya yang tampak sangat kesal itu tanpa sadar melihat nya.


Ia saja sekarang saja sangat sulit untuk membeli barang bermerek yang biasa ia beli dulu dan sekarang mencoba mencari barang yang paling murah.


Ia merasa marah dan iri, melihat gadis remaja itu baik-baik saja dan tampak senang dengan seorang pria dewasa saat memilih perhiasan yang mahal.


"Anak pel*cur itu hidup dengan baik rupa nya!" ucap nya yang tak terima.


Memang gadis remaja itu tak pernah melakukan apapun pada nya, bahkan bisa di katakan bahwa gadis itu adalah korban dari perbuatan nya.


Sesuatu yang membuat nya marah.


Sama seperti saat ia dulu melihat kemesraan sahabat nya dengan sang suami dan membuat nya iri serta ingin merusak nya.


"Cantik," ucap Lucas dengan senyuman tipis melihat ke arah leher jenjang gadis itu.


Anna tak menjawab pujian itu tapi ia tersenyum saat mendengar nya.


Drtt.. drtt... drtt...


Ponsel nya bergetar, Lucas pun langsung menoleh dan melihat ke arah seseorang yang memanggil nya.


"Tunggu di sini, kau bisa pilih mana yang kau inginkan." ucap nya sembari berbalik dan beranjak pergi untuk menerima panggilan telpon nya.


Anna melihat ke arah pria itu pergi dan menatap ke arah sang pegawai.


"Ini kalau di jual lagi harga nya sama?" tanya nya pada sang pegawai.


"Akan turun 30 persen," jawab sang pegawai tersebut yang mencoba tersenyum ramah.


Anna berpikir sejenak, tak masalah turun karna ia pun masih tetap akan untung saat menjual nya karna bukan ia yang beli terlebih lagi ia perlu modal jika pria itu tiba-tiba meninggalkan nya.


"Yauda deh, cari yang paling mahal yah..." jawab nya tertawa kecil cengengesan khas tawa nya.


"Baik nona," jawab sang pegawai.

__ADS_1


Anna menunggu tanpa ia sadari seseorang sudah panas ke ubun-ubun saat melihat nya dan tak tahan ingin langsung mendatangi nya.


"Anak-anak sekarang memang mengerikan,"


Suara seorang wanita yang mendekat dengan sikap seperti ingin membeli perhiasan juga dan berdiri di samping gadis itu.


Anna menoleh, ia tak tau jika wanita itu tengah menyindir nya. Yang ia tau itu adalah wanita yang sama seperti ibu teman nya yang pernah ia lihat dan tak lain adalah ibu tiri nya dari seorang ayah yang tak peduli pada nya.


"Tinggal jual diri atau jadi peliharaan orang-orang kaya sudah bisa memberi semua nya..." ucap Mrs. Laura sekali lagi.


Anna masih diam, ia tak begitu menanggapi ucapan wanita itu.


"Iya kan?" tanya Mrs. Laura yang kini menyentuh lengan gadis itu.


Anna mengernyit, ia menatap ke arah sekarang wanita yang memberikan nya tatapan rendah dan hina.


"Maksud anda?" tanya nya dengan tak suka dan ia pun memang tak menyukai wanita itu.


"Maksud ku? Anak-anak sekarang benar-benar hanya tau menggoyangkan ekor nya di atas ATM panas lalu menjadi pel*cur kotor?" tanya Mrs. Laura yang dengan terang-terangan mengatakan hinaan nya.


"Lalu maksud anda mengatakan hal itu pada saya?" tanya Anna yang menatap dengan tak suka.


"Entahlah, aku cuma kasihan dengan anak-anak yang menggunakan tubuh nya tubuh dengan orang lain." ucap nya sekali lagi yang ingin menghina gadis yang menjadi peliharaan orang kaya itu.


Anna tersentak, ia merasa marah akan hinaan yang ia dapat.


"Tapi itu lebih baik dari pada mengambil suami orang lain kan? Setidak nya menjadi peliharaan pria kaya yang belum punya ISTRI lebih baik dari pada pel*cur yang tidak di bayar dan hanya mendapatkan bekas wanita lain." sambung nya dengan tersenyum pura-pura bodoh.


"Apa?" tanya Mrs. Laura yang langsung berubah.


"Eh tapi? Bukan nya itu cocok yah? Manusia SAMPAH sama SAMPAH yang lain pasti cocok! Nanti kan bakal ketemu di tempat SAMPAH!" ucap Anna tersenyum yang menekan kan di beberapa kalimat.


"Apa yang kau katakan dengan mulut kotor mu?" tanya Mrs. Laura.


"Memang nya saya bilang apa? Oh! Jangan-jangan Anda pernah menjadi kaum SAMPAH yang mencoba mengambil milik orang lain?" tanya Anna dengan wajah yang tampak tersenyum walaupun hati nya tak karuan.


Ada untung nya nya selalu berpura-pura saat berhadapan dengan pria psikopat itu karna akhirnya ia bisa bisa menggunakan kemampuan tersembunyi nya ini.


Plak!


Satu tamparan keras membuat pipi gadis itu perih, pegawai toko pun langsung tersentak dan terkejut melihat nya.


Ia ingin kembali memukul gadis remaja itu yang mengatakan sesuatu yang begitu sensitif bagi nya, tangan nya terangkat dan siap untuk memukul lagi.


"Dasar tidak tau sopan san-"


Greb!


PLAK!


Tangan yang tadi nya melayang ingin memukul tertahan dan di sambut dengan tamparan yang begitu keras yang belum pernah ia rasakan sampai darah nya mengalir di ujung bibir yang terasa akan pecah.


"Siapa wanita gila ini?"


Suara bariton itu terdengar begitu jelas dan dingin, tatapan yang tajam bagai ujung pisau lancip itu membuat nyali seseorang menjadi ciut seketika.

__ADS_1


__ADS_2