
Tiga hari kemudian.
Mansion Damian
Lucas memberikan surat kepemilikan mansion yang di miliki oleh gadis itu itu.
Ia baru memberi tau nya sekarang saat suasana sudah mulai sedikit reda.
"Kenapa saya juga dapat?" tanya Anna yang bingung sembari melihat surat sertifikat kepemilikan mansion mewah beserta isi nya itu.
"Karna dia mau memberikan nya untuk mu," jawab Lucas pada gadis yang masih tampak bersedih itu.
Anna tak mengatakan apapun, ia diam dan tak menunjukan kebahagiaan saat pria itu memberi nya mansion.
"Tapi kakek meninggal..." ucap nya lirih yang mengingat jika ia mendapat sesuatu dari seseorang yang telah tiada.
"Kenapa kau sangat cengeng? Hm?" tanya Lucas yang menarik dagu gadis itu.
Anna menggeleng, ia berusaha tersenyum walau masih berat.
"Kau mau melihat mansion nya? Karna sekarang itu sudah milik mu kau bisa melihat semua ruangan." ucap Lucas pada gadis itu yang tak berniat merebut mansion yang sudah di wariskan untuk Anna.
Anna menoleh, ia malah berpikir lebih baik tinggal sendirian di tempat yang besar dan bebas dari pada tinggal dengan pria yang harus ia sesuaikan mood nya setiap saat.
"Tapi kau tetap akan tinggal di sini dengan ku, itu juga demi keamanan mu." sambung Lucas yang tau jika gadis itu akan menjadi incaran sanak saudara nya yang lain.
"Kalau mansion yang besar dan di jaga tetap ada rampok?" tanya nya yang mengira keamanan yang di maksud adalah rumah yang di rampok.
Lucas diam sejenak, pikiran gadis biasa dengan pikiran seseorang yang bertarung hidup dengan memperebutkan kekuasaan dan harta sangat berbeda.
"Ya, tapi yang di rampok nyawa mu. Kau mau?" tanya nya dengan wajah datar yang tampak serius.
Anna langsung menggeleng, siapa yang mau di rampok nyawa nya?
Itu berarti ia akan segera mati!
"Sudah lah, lagi pula aku kan dengan mu? Kau lupa? Kalau aku adalah pemilik mu?" tanya Lucas pada gadis itu.
Anna diam sejenak namun ia mengangguk kecil mendengar nya.
......................
Satu Minggu kemudian.
JNN grup
Diego memberikan beberapa data dari pekerja yang saat itu berada di mansion kakek nya.
"Priscilia? Ku kira Veronica?" ucap Lucas yang mengernyit melihat koki yang memasak untuk kakek nya saat itu bekerja pada bibi ke tiga nya.
"Ya, ku kira juga sama." ucap Diego menangguk.
Lucas menarik napas nya sejenak, ternyata begitu banyak yang menginginkan kakek nya untuk mati dan begitu banyak yang menginginkan tempat nya.
"Aku ingin menguliti mereka..." gumam pria itu yang menarik napas nya.
"Luc!" Diego langsung memanggil dengan nada yang tak menyetujui nya sama sekali karna ia tau konsekuensi yang di hadapi lebih banyak dan kerugian lebih besar dari keuntungan.
"Ya, aku tau." ucap nya yang terlihat menatap dengan kesal ke arah sepupu nya.
"Sekarang kita rebut milik mereka dulu, dan kemudian buat mereka masuk penjara." ucap nya yang harus memikirkan cara untuk mengambil kembali beberapa hak yang harus nya menjadi milik nya namun diam-diam di curi.
__ADS_1
"Penjara? Kau menggunakan hukum legal kali ini?" tanya Diego yang terlihat mengernyit melihat sikap sepupu nya yang tiba-tiba taat hukum.
"Penjara ku maksud nya," jawab Lucas sembari memandang dengan mata yang menyimpan hasrat akan suatu kepuasan yang hanya bisa di rasakan oleh orang seperti nya.
"Oh, okey..." jawab Diego yang tak bisa mengatakan apapun lagi.
"Tapi kau tidak akan membunuh satu keluarga kan? Mereka ada tiga keluarga," ucap nya pada pria itu.
"Membunuh? Aku mana pernah membunuh orang lain?" tanya pria itu yang tampak tak pernah memiliki rasa bersalah.
"Lalu orang-orang yang mati di tangan mu itu apa?" tanya Diego pada pria yang tampak tak memiliki rasa bersalah itu.
"Aku hanya mengantar mereka lebih cepat pada kedamaian abadi," jawab Lucas dengan memperindah bahasa nya.
"Kau mengantar orang-orang pada kematian," gumam Diego sembari melihat ke arah sepupu nya.
"Lalu soal Jane?" tanya Diego yang ingat jika ada sepupu yang lain yang saat itu bekerja bersama di perusahan inti.
"Terserah mu, lagi pula anak itu tidak terlalu menganggu ku." jawab Lucas yang bahkan lupa jika sepupu perempuan nya bekerja di perusahaan yang sama.
"Kau langsung mengusir nya jadi dia menganggu ku," ucap Diego pada sepupu nya.
"Kau kan juga bisa usir langsung," ucap Lucas.
"Aku sudah melakukan nya tapi dia tidak mengerti," ucap Diego pada sepupu nya karna ia memang sudah sering mengusir secara halus tidak seperti Lucas yang mengusir dan memperlakukan nya seperti hama sehingga harga diri gadis itu tercoreng.
......................
Sekolah.
Sekolah itu kini kedatangan tamu yang kemungkinan besar akan menjadi sponsor untuk beberapa keperluan pembangunan nya.
"Bisakah saya berjalan berkeliling sendiri?" tanya nya dengan senyuman yang tampak jelas di wajah pria itu.
Hugo Barnet, cucu laki-laki ke tiga putra dari Tiffany Maria Damian putri ke tiga dari Mr. Ehrlich
Tentu ia tak memiliki nama belakang Damian juga karna ia mengikuti nama belakang yang di bawa lalu sang ayah dan bukan nya ibu nya.
Dan kali ini ia datang ke tempat yang membuat nya begitu penasaran pada siapa yang membuat ibu nya selalu marah setiap hari.
"Lab bahasa?" gumam nya yang mendengar nama seseorang yang ia cari.
Tentu ia pun langsung mendatangi lab tersebut sekalian menelusuri sekolah yang akan ia sponsori.
...
Anna menggerutu, sudah selesai ia berduka dan kembali bersekolah ia malah mendapat hukuman untuk membersihkan lab bahasa sendirian.
"Dasar! Guru kapitalis cinta uang!" ucap nya yang kesal karna selalu ia mendapatkan hukuman sedangkan anak-anak dari keluarga kaya tak pernah mendapatkan hukuman apapun.
"Kau nama nya Maurenne Arianna?"
Anna menoleh, suara seorang pria yang menyebut nama lengkap nya.
"Ya? Anda siapa?" tanya nya mengernyit.
"Oh? Jadi ini lalat yang membuat telinga ku sakit setiap hari?" ucap nya yang mendekat memperhatikan gadis yang memegang pel tersebut.
"Kenapa bicara anda tidak sopan? Ini kan pertemuan pertama?" tanya Anna yang tak terima pada pria yang mengatai nya di pertemuan pertama padahal ia tak kenal.
Hugo hanya tersenyum, ini bukan lah pertemuan pertama namun pertemuan kedua.
__ADS_1
"Kenapa aku harus bicara dengan sopan pada mainan murahan?" tanya nya yang melihat dengan mata yang tentu memandang rendah gadis di depan nya.
Anna mengernyit, ia meletakan pel nya dan ingin keluar tak peduli ia sedang menjalani hukuman.
Greb!
"Aku belum selesai bicara," ucap nya yang memegang dan menahan tangan gadis itu.
"Apa yang anda inginkan? Saya tidak kenal anda!" ucap Anna yang ingin melepaskan tangan yang memegang nya begitu kuat.
"Aku butuh tanda tangan," jawab nya yang ingin tanda tangan gadis itu untuk menyerahkan kepemilikan mansion dari warisan yang di terima agar menjadi milik nya.
"Tanda tangan apa? Lepas!" ucap Anna yang berusaha melepaskan nya.
"Oy! Lama sekali? Ayo makan sia-"
Remaja pria itu berhenti menatap ke arah pria dewasa yang tampak tengah menahan tangan adik kelas nya itu.
"Ada apa ini?" tanya nya yang mendekat.
Remaja nakal yang tidak takut dengan peraturan sekolah dan merupakan pembuat onar di urutan pertama.
"Pergi saja, bukan urusan mu." ucap Hugo yang menahan tangan gadis itu.
"Lepas!" ucap Gevan yang menatap ke arah pria di depan nya.
"Berhenti bersikap pahlawan bocah! Kau terlihat menyedihkan," ucap nya yang menatap kesal pada seseorang yang ikut campur urusan nya.
"Kak..." Anna menatap dengan memelas pada kakak kelas nya itu.
"Si*l! Yang boleh bully kan cuma aku!" ucap nya yang menatap kesal pada seseorang yang mengambil tugas nya untuk menganggu gadis itu di sekolah.
"Apa yang kau bica-"
Bruk!
PRANGG!!!
"Akh!"
Anna tersentak, ia langsung terjatuh saat tangan nya di lepas ketika kakak kelas nya menyeruduk pria tak sopan itu dan mendorong nya ke jendela.
Brak!
Gevan menatap dari jendela lantai dua yang melihat ke arah pria yang jatuh dari lab bahasa itu dan mendarat di atas pagar tanaman.
"A.. apa yang kau lakukan?" tanya Anna yang melihat langsung tak hanya dari rumor.
Ia memang pernah mendengar rumor si pembuat onar itu melempar seseorang dari ruang musik dan kali ini melihat kakak kelas nya itu melempar seseorang dari lab bahasa.
Terlalu sering bermain dengan seorang penindas sampai ia lupa jika remaja pria itu pun tak normal.
"Ups! Sorry..." ucap Gevan yang menutup tirai dari jendela yang pecah itu dan melihat siswa siswi yang berada dekat Hugo jatuh mulai mendatangi untuk menolong.
"Yuk? Makan siang," ucap Gevan yang menarik tangan gadis yang tampak terkejut itu.
"Kita bisa di tuduh percobaan pembunuhan!" ucap nya yang tampak khawatir.
"Tenang, ga mati itu. Paling cuma patah tulang." ucap Gevan yang tampak tak begitu peduli.
"Kakak bisa masuk penjara!" ucap Anna pada kakak kelas nya yang dengan tanpa dosa menarik tangan nya ke kantin sekolah untuk makan siang.
__ADS_1
"Halah! Paling cuma di skors," jawab Gevan yang sudah berpengalaman dalam membuat masalah.