
Mansion Damian
Setelah lima hari semua kegiatan nya mulai monoton, sekolah diantar lalu di jemput tepat waktu dan kembali ke mansion mewah itu lagi.
Seperti hewan peliharaan kesayangan dari pemilik yang kaya, ia mendapatkan semua yang ia inginkan dengan mudah.
Makanan dan minuman yang langsung di antar dan di berikan pada nya.
"Hm.."
"Anda membutuhkan sesuatu nona?" salah satu pelayan bertanya pada nya dengan bahasa yang formal karna ia termasuk tamu dari pria pemilik tempat mewah itu.
"Tidak perlu panggil nona, panggil nama aja!" ucap Anna sembari mengibaskan kedua tangan nya dan menatap ke arah pelayan tersebut.
Tak ada jawaban, wajah kaku yang seperti robot dan hanya bergerak sesuai pekerjaan nya.
"Sudah lama bekerja di sini?" tanya nya yang mencoba mengajak bicara.
Tak ada yang berbicara pada nya selain teman-teman nya di sekolah dan sambungan telpon dari Samantha saat ia sudah kembali.
Sedangkan sebelum nya ia sudah banyak berbicara dengan orang lain karna pekerjaan paruh waktu nya.
"Hum? Kamu pakai pewarna bibir baru? Cantik sekali..." ucap Anna sekali lagi saat pelayan tersebut ingin pergi setelah menuangkan susu vanila di gelas nya.
Pelayan tersebut langsung menoleh dan tersenyum mendengar nya, "Be..benarkah?" tanya nya lirih sembari melihat ke arah wajah gadis cantik itu.
Anna mengangguk dan tersenyum, tentu wajar jika ia mulai merasa bosan saat tak ada yang bisa ia ajak bersosialisasi sekarang.
"Jangan panggil nona lagi, panggil Anna, oh lupa..."
"Nama?" tanya nya pada pelayan tersebut.
"Ceryn," jawab pelayan tersebut lirih.
Gadis itu tersenyum, setidak nya sekarang ia mendapatkan teman bicara baru saat sendirian.
......................
Keesokan hari nya kemudian
Sekolah
Siswa akhir semester itu memainkan kuku nya sembari melirik sesekali ke arah ke kelompok kegiatan tari itu.
"Kenapa harus aku?" tanya nya dengan iris biru yang mencolok saat terkena sinar mentari itu.
"Karna kamu kan yang paling pandai..." bujuk nya lagi.
"Memang nya aku dapat apa?" tanya Gevan dengan wajah yang seperti ingin dan tidak.
"Kami akan beri bayaran," jawab salah satu anak dari kelompok tari itu.
"Aku punya banyak uang," jawab nya singkat dengan wajah yang tak tertarik dengan tawaran tersebut.
"Kak..."
"Kami mohon..."
Jawab yang lain serempak, alasan mereka ingin remaja bermasalah itu tampil mewakili kelompok ekstrakulikuler nya adalah agar kelompok itu tak di tutup.
Acara festival yang nanti nya akan banyak di kunjungi dan di buka umum membuat sekelompok anak kesenian itu berharap sekali lagi.
Gevan menatap ke arah anak-anak remaja yang memohon pada nya, "Aku mau ikut tanpa bayaran juga tapi ada syarat nya."
Semua yang mendengar langsung memasang telinga dengan lebar.
"Bawa siswi kelas satu yang sering bersama ku setiap istirahat," jawab nya tersenyum dan meninggalkan tempat duduk nya.
"Siswi kelas satu? Siapa?" sekelompok itu langsung bertanya-tanya dengan mengernyit satu sama lain.
"Aku tau! Itu yang siapa nama nya? Hanna! Iya kan?" tebak salah satu nya yang menyebutkan nama yang hampir sama namun mirip.
Sementara itu
Anna dan Samantha masih memakan es lilin nya dengan tenang, terkadang tawa di wajah kedua gadis cantik itu terlihat.
"Hanna kan?"
Anna tersentak, seseorang memegang bahu nya tiba-tiba membuat nya terkejut.
"Bukan," jawab nya menggeleng sembari memakan es lilin nya lagi.
"Aku gak salah kok! Hanna kan?" tanya siswi berkaca mata itu sekali lagi.
"Tapi nama ku bukan Hanna!" selak Anna dengan kesal.
"Terus siapa?" tanya nya dengan bingung.
"Anna," jawab gadis itu santai sembari mengulurkan tangan nya.
__ADS_1
"Iya! Anna!" ucap siswi tersebut langsung kuat seperti menemukan sesuatu yang berharga.
"Eh?! Astaga!"
Samantha tersentak, ia memegang es lilin nya dengan kuat dan meremas nya karna mendengar suara yang tiba-tiba meninggi itu.
"Sam..."
Panggil Anna yang mengusap seragam nya yang kotor dengan cairan manis yang dingin itu.
"Mau ga? Kalau ikut nari di kelas kami dan ikut festival nanti-"
"Tunggu! Aku gak punya bakat nari? Mau nati apa? Senam zumba?" potong Anna langsung.
"Kami ajari! Bakal kami ajari sebayak mungkin!" ucap nya dengan semangat.
"Kenapa ajak aku? Kayak nya banyak yang mau ikut juga deh," ucap Anna dengan bingung.
"Nanti penipuan Ann," tambah Samantha yang mengompori sembari memakan es lilin nya.
"Tidak! Soal nya kak Gevan mau ikut kalau kamu ikut!" jawab siswi tersebut.
Anna lambung membuang wajah nya mendengar nya, "Gak mau lah, ada dia lagi!" jawab Anna pada gadis itu.
"Tapi kami bisa beri bayaran 5000 euro!" ucap nya sembari menampilkan senyuman.
Anna kembali menoleh mendengar nominal uang, "Gak percaya! Nanti tipuan!" jawab nya sembari memalingkan wajah nya.
Siswi tersebut pun mulai gusar, ia mengeluarkan 2000 euro lebih dulu dan memberikan nya pada gadis itu.
"Sisa nya nanti setelah tampil di festival!" ucap nya yang membujuk dengan benda yang di sukai semua orang itu.
"Sam? Aku ikut ga nih?" tanya Anna pada teman nya.
"Tanya dulu gak ada pengembalian kalau gak berhasil tarian nya," jawab Samantha dengan suara berbisik.
"Mau berhasil atau tidak aku tetap dapat bayaran kan?" tanya Anna menatap ke arah siswi tersebut.
Siswi berkaca mata itu pun tersenyum mendengar nya, "Tentu!" jawab nya dengan semangat karna gadis itu sudah terayu.
Walaupun tinggal beberapa hari lagi namun tak masalah karna mereka akan mengajari nya dengan giat.
......................
New York
Tak!
Diego langsung memanggil pria itu ketika melihat pensil panjang itu patah seketika, "Kau kenapa lagi?" tanya nya sembari membuang napas nya kasar.
"Anak nakal itu! Dia terayu dengan 5000 euro?! Dengan uang sekecil itu?! Tapi tidak pernah pakai kartu yang ku berikan?!" ucap pria tampan itu dengan wajah kesal dan tak percaya.
"Apa? Anak siapa? Lima? Lima apa?" tanya Diego yang tak bisa mendengar keseluruhan karna atasan sekaligus sepupu nya itu seperti rapper yang berbicara sangat cepat.
"Peringkat berapa dia? Kenapa dia tidak bisa pakai otak nya dengan baik?!" tanya yang begitu kesal karna gadis remaja itu sangat mudah terkena bujukan uang namun tidak dengan uang nya.
"Peringkat siapa?" tanya Diego semakin heran karna pria itu keluar dari konsep pekerjaan yang di lakukan.
"Siapa lagi yang masih sekolah?" jawab Lucas dengan kesal.
Kali ini Diego dapat menangkap maksud siapa yang di bicarakan.
"Anna? Peringkat ke 35 dari 37 orang di kelas nya," jawab Diego berdasarkan riwayat yang ia ambil.
Lucas memejam mendengar nya, sejauh ia menempuh pendidikan ia bahkan tak tau rasanya menjadi peringkat ke dua tapi gadis itu?!
"Peringkat umum?" tanya nya mengatur napas nya.
"Kau yakin mau dengar?" tanya Diego pada pria itu.
"Jawab saja," ucap Lucas mengernyitkan dahi nya.
"Peringkat 86 dari 103 siswa," jawab Diego pada pria itu.
Lucas memejam lagi mendengar nya, "Me..memang ada peringkat seperti itu?" tanya nya yang hampir kehabisan kata-kata.
"Anak peringkat pertama seperti mu tau apa?" ucap Diego dengan bergumam.
"Ck!" Lucas mematikan chip yang ia berikan di tubuh gadis itu, semakin mendengar semakin banyak kejutan yang ia dapatkan.
......................
4 Hari kemudian.
Sekolah.
Tak!
Set!
__ADS_1
Plak!
"Astaga! Sial! Kau sengaja kan?!"
Tarian itu di hentikan, Gevan sudah menatap kesal dengan kaki yang berdenyut dan pipi yang memerah.
"Aku kan gak sengaja! Beneran!" ucap Anna yang jujur.
Ia yang tak pernah menari tentu memiliki tubuh yang sangat kaku dan sulit untuk mengikuti gerakan yang di ajarkan.
"Ganti konsep!" ucap Gevan yang kesal sembari meminum air mineral nya.
Ingin mengerjai gadis itu malah ia yang di kerjain tanpa sadar.
Sedangkan Anna menatap nya dengan polos, "Maaf gak sengaja..." ucap nya sembari memberikan handuk untuk keringat.
Para penari itu pun berunding dan kembali lagi mendekat memberikan konsep baru.
Namun Gevan kembali menolak, "Jangan buat dia melangkah dua kali dari tempat dia berdiri, dan gerakan nya di buat sedikit memakai gerakan yang sedikit dewasa saja, seperti memeluk atau hampir ciuman, itu lebih meminimalisir kesalahan dari tubuh kaku itu aku akan jadi penari utama." ucap nya memberikan arahan.
Tarian pun di ulang dengan konsep baru dan benar saja tak ada satupun kaki yang terinjak atau wajah yang tertampar.
"Tu..tunggu!"
Anna berhenti, ia merasa geli setiap kali bagian akhir dari tarian itu maka kakak kelas nya akan menarik tangan nya ke belakang dan seperti akan memeluk nya lalu melepaskan nya dan membuat nya menghadap depan lalu mengendus bahu ke leher nya dan setelah itu menarik dagu nya ke kanan agar seperti menoleh ke belakang pada pria yang ada di balik tubuh nya.
"Memang seperti itu," jawab Gevan dan beranjak pergi.
Anna tak mengatakan apapun lagi ketika kakak kelas nya pergi lebih dulu.
......................
Satu Minggu kemudian.
New York
"Kau yakin mau kembali hari ini?" tanya Diego saat melihat sepupu nya itu ingin cepat kembali walaupun pekerjaan nya baru selesai dan masih tidur selama tiga jam.
"Kau tidak istirahat?" tanya nya lagi.
"Ya, di pesawat." jawab Lucas tak mendengarkan dan bergegas kembali malam itu juga yang berarti ia akan sampai pagi di Jerman nanti nya.
......................
Keesokkan hari nya.
Sekolah
Hari festival
Sementara itu hari festival yang di nanti sudah datang, Anna melihat ke arah anak-anak yang sudah berkumpul di seni pentas sekolah nya itu karna anak dari kelompok tari benar-benar mempromosikan pertunjukan mereka.
"Banyak orang kak..." keluh Anna pada Kakak kelas di samping nya.
Gevan hanya tersenyum, sekarang gadis itu memang bicara lebih sopan sesuai janji nya tempo hari lalu.
Sambutan pun terdengar, tepuk tangan sebelum tarian di mulai dan musik yang mulai berbunyi.
Hah...
Hah...
Anna menarik napas nya, antara gugup dan juga gerakan yang membuat tubuh nya berolahraga.
Dan seperti pelatihan yang di lakukan, Gevan menarik dagu gadis itu di akhir tarian.
Mata biru yang jernih itu menatap nya dari dekat, ia tersenyum simpul melihat nya sembari menarik napas nya dengan dalam karna baru saja menari.
Anna mengernyit melihat kakak kelas nya itu tersenyum, dan...
Humph!
Mata biru nya membulat, sorakan yang terdengar begitu bibit merah muda nya yang bulat dan lembut itu tertaut.
Ia mendorong tubuh kakak kelas nya dengan kuat sampai tautan nya terlepas.
"Apa-apaan!" ucap Anna dengan mata marah dan menutup bibir nya dengan punggung tangan nya.
"Your sugar here," jawab Gevan tersenyum yang membungkuk ke arah penonton dan berjalan ke balik panggung.
Anna mengernyit mendengar nya, ia langsung berbalik dan menatap ke arah penonton.
Deg!
Mata biru nya membulat seketika melihat nya, wajah suram yang mengerikan dan duduk sendiri di belakang membuat nya langsung merinding.
"Mampus aku!" ucap nya yang langsung turun dengan cepat dari panggung.
Sedangkan mata tajam itu tak mengatakan apapun dan berbalik keluar dari aula pentas itu.
__ADS_1
Rasanya ia kesal dan seluruh darah nya mendidih dengan hati yang merasa panas.
"S**t!" ucap nya yang tanpa sadar mengumpat dan melonggarkan dasi yang ia yang ia kenakan.