
Mansion Damian.
Lucas melirik sesekali ke arah gadis yang tersenyum pada nya sejak bangun pagi itu.
Tak ada protes saat ia meminta untuk makan sarapan hanya berdua tanpa ada anak yang di sayangi gadis itu.
"Kau menginginkan sesuatu?" tanya Lucas mengernyit.
Anna tersenyum, ia menyadarkan dagu nya dan menatap ke arah pria itu dengan mata biru nya.
"Hum? Ada!" jawab Anna dengan senyuman kecil.
Lucas meletakkan sendok nya dan kemudian melihat ke arah Anna menunggu jawaban nya.
"Kau pernah tanya apa aku mau mengadakan pesta kan? Jawaban ku mau, aku mau kita menikah lalu pergi bulan ma-"
"Kita tidak akan bulan madu, tidak untuk sekarang." potong Lucas segera.
Bukan nya ia tak mau namun ia masih belum percaya untuk membawa gadis itu kembali keluar.
Anna terdiam sejenak saat mendengar nya, ia mengangguk kecil dan kemudian tersenyum tipis.
"Baik, tidak perlu bulan madu tapi kita menikah." jawab Anna dengan senyuman tipis.
"Pesta pernikahan!" sambung Anna lagi dengan nada semangat.
Lucas diam sejenak, ia merasa sikap gadis itu palsu namun biarpun begitu ia tetap menyukai nya dan ia tak bisa menyangkal nya sama sekali.
"Ya, aku sudah pilihkan gedung nya dan semua undangan dari yang aku atur." ucap Lucas yang menatap ke arah gadis itu.
Anna menangguk menunjukkan tanda setuju nya, senyuman dan mata yang cerah membuat pria di depan nya lebih lunak.
"Kamu bakal pulang cepat kan?" tanya Anna yang menatap ke arah Lucas yang beranjak pergi.
Lucas berhenti sejenak, ia menatap ke arah gadis itu dan berjalan mendekat lalu menundukkan tubuh nya.
Cup!
Kecupan singkat yang mendarat di atas bibir lembut itu membuat Anna tersentak dan memejam sesaat.
"Hm, aku akan pulang lebih cepat." jawab Lucas singkat dan beranjak pergi.
Anna tersenyum sampai pria itu menghilang di balik pintu kamar nya dan kemudian senyuman cerah itu perlahan turun.
Suara napas terdengar lirih, tak ada senyuman dan mata yang tampak berbinar itu redup saat ia tak harus berpura-pura untuk melakukan nya lagi.
......................
San Fransisco
Gadis itu berulang kali menelpon seseorang, ia semakin sering gugup dan cemburu karna merasa kurang percaya diri dan tentu ia merasa kurang pantas sehingga rasa takut dan kecurigaan nya semakin terasa.
"Diego angkat..." ucap nya lirih yang menatap ke arah ponsel nya.
Dalam satu hari ia terus menelpon ke Diego padahal ia tau setiap satu bulan sekali pria itu sekali datang ke tempat nya selama dua sampai tiga hari sebelum kembali ke Jerman.
"Dia ke mana? Dia sama siapa? Sama orang lain?" gumam nya yang merasa gugup dan takut.
__ADS_1
Ia tampak tak bisa mengatakan apapun, perasaan gugup yang meluap membuat nya terus tak tenang apa lagi ia merasa jika ia tak lagi bisa sempurna.
......................
Berlin.
JNN Grup
Pembicaraan tentang saham dan produk baru saat ini telah di lakukan, Diego menatap terus menerus menutup ponsel nya agar panggilan telpon itu tak menganggu perasaan nya.
"Kau bisa angkat," ucap Lucas yang tau jika ponsel sepupu nya terus bergetar.
Diego beranjak, ia menjauh sejenak dan mengangkat nya dengan cepat.
"Ada apa Sam?" jawab nya segera.
"Eh? Bu.. Bukan..."
"Kamu lagi apa?"
Diego memejam, bukan sesuatu yang harus menunjukkan sebuah kemalangan atau kekhawatiran.
"Kau menelpon ku hanya mau tanya itu? Aku sedang sibuk Sam, aku akan menelpon mu lagi nanti." ucap Diego yang dengan cepat mematikan panggilan nya.
Ia membuang napas nya lirih dan segara kembali ke ruang rapat.
Pria itu tak bermaksud apapun, ia tak membalas dan tak menunjukkan perhatian nya untuk basa basi seperti itu saat ia sendiri sedang sibuk.
......................
Mansion Damian
Tentu ia memiliki kebebasan untuk ke sisi manapun di mansion mewah itu namun ia selalu hanya di kamar mewah tempat sang ibu berada.
"Estelle? Ini lihat?" ucap Anna yang menunjukkan dinosaurus baru saat mainan yang baru tiba.
Walau anak kecil itu tak di inginkan dan tak di akui namun ia di berikan semua hak nya sebagai anak tunggal dari seseorang yang konglomerat.
Mainan, makanan, perawatan, kamar dan kebutuhan. Semua nya namun tidak ada kasih sayang ayah yang akan di berikan.
"Boneka Mama?" tanya Estelle yang menatap ke arah sang ibu.
Anna mengangguk, ia menatap ke arah putra nya yang polos itu dan tangan kecil itu beranjak mengambil nya.
"Mama yang jadi dinosaurus nya, Estelle yang jadi robot nya." ucap Anna yang bermain dengan putra nya.
Estelle menangguk ia menatap ke arah sang ibu dan beberapa kali mencoba kembali tersenyum cantik namun wajah nya masih begitu kaku.
Entah kaku atau ia yang tak bisa mencoba nya karna perasaan nya masih minim.
...
Pukul 05.56 pm
Bruk!
Gadis itu terjatuh ke atas lantai yang keras dan dingin itu.
__ADS_1
Ukh!
Anna meringis, ia mencoba kembali bangun namun ia merasa begitu sulit. Kaki nya masih terasa sakit dan ia masih tak bisa untuk bangun.
Mencoba berjalan sendiri dan mencoba untuk bisa pulih sendiri di tengah luka yang belum sembuh dan juga obat yang di gunakan untuk melupakan syaraf kaki nya.
"Kau sedang apa?"
Anna tersentak, ia langsung memutar wajah nya dan menatap ke arah pria yang datang dari balik kamar itu.
"Mencoba untuk berjalan, bukan nya kita akan menikah nanti? Aku mau berjalan di atas altar ku, aku tidak mau di dorong dengan kursi roda." ucap Anna yang langsung tersenyum.
Namun pria yang datang ke kamar itu tampak memikirkan hal yang berbeda.
Greb!
Anna tersentak, tangan pria itu mencengkram rahang nya dan menatap ke arah pria di depan nya.
"Kau mau kabur kan?" tuduh Lucas yang memang sekarang ia tak lagi bisa percaya.
"Luc? Aku cuma mau jalan, aku ga mau lihat cacat sama orang lain..." ucap Anna lirih yang mencoba mengatakan walau ia sulit untuk bicara karna cengkraman pria itu.
Lucas melepaskan cengkraman nya dengan paksa dan kemudian menatap ke arah Anna dengan mata tajam nya.
"Jangan mencoba bisa berjalan, aku tau kau mau kabur kan?" tanya Lucas yang masih menuduh apa yang di pikiran nya.
"Luc? Menurut kamu aku bisa kabur? Estelle sama kamu, kamu tau aku ga akan bisa pergi kalau tidak ada dia kan?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu.
Lucas tak mengatakan apapun, ia menatap dengan menundukkan kepala nya karna gadis itu berada di lantai.
Tak ada percakapan apapun sampai ia mulai berjongkok dan menatap ke arah gadis itu.
"Luc? Aku ga minta kabur, aku cuma mau bisa jalan lagi Luc..." ucap Anna lirih dengan melembutkan suara nya.
Ia meraih tangan pria itu, tak ada jawaban atau tepisan di tangan nya.
"Bagaimana setelah pernikahan kita, setelah itu kamu bisa tembak aku lagi. Aku ga akan minta buat bisa jalan lagi..." sambung nya pada pria itu.
"Kamu mau kan nikah sama aku? Nikah kan cuma sekali, mengucap janji juga cuma sekali..." ucap Anna yang tetap mencoba membujuk pria itu.
Lucas masih diam, ia tau gadis itu mencoba merayu nya namun tetap saja ia menyukai nya.
"Aku akan panggilkan dokter," jawab Lucas yang kemudian mengangkat tubuh gadis itu dan kemudian memindahkan nya ke ranjang.
Anna tak mengatakan apapun tangan, yang selalu di penuhi oleh urat yang menonjol dan otot itu ia pengang perlahan sampai menahan jemari nya.
"Luc..." panggil nya lirih yang menatap ke arah pria itu dan mencoba menarik nya pelan.
Humph!
Satu lum*tan kecil mendarat di bibir pria itu, Lucas diam sejenak namun ia menikmati setiap hisapan kecil yang tidak terlalu agresif itu.
Anna melepaskan nya pelan, ia menatap ke arah pria di depan nya yang tampak masih terdiam.
"Bukan nya kau lelah? Kau bisa istirahat," ucap Lucas singkat yang mengusap kepala gadis itu.
"Ya?" Anna bingung sejenak, pria itu menyuruhnya istirahat setelah terkena gempa susulan setiap malam kecuali saat ia sedang datang bulan.
__ADS_1
"Atau kau mau makan? Belum makan malam kan?" tanya Lucas yang menatap ke arah gadis itu.
"Ya? I.. iya! Aku menunggu mu." jawab Anna yang terbata namun ia tak boleh melupakan senyum nya.