
Teh yang hangat dengan kepulan asap kecil di atas nya.
Aroma yang harum dan bunyi yang berdenting ketika gelas itu menyentuh piring pelapis nya.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya wanita itu yang tersenyum.
Wajah yang cantik dan tampak dewasa, rambut panjang yang ikal dengan sinar yang terang dan juga mata biru yang begitu cerah seperti langit dengan kulit seputih susu.
"Aku hamil," jawab seseorang dengan singkat.
Wanita itu tersentak sejenak namun ia masih tersenyum, "Kau punya pacar? Selamat." ucap nya yang ikut senang dengan kabar bahagia teman nya sebelum ia mendengar kalimat selanjutnya.
"Ya, dan aku harap kau bisa segera bercerai." ucapan yang terdengar menyakitkan dengan wajah yang dingin.
"Cerai? Kenapa aku? Apa hubungan nya?" wanita itu berusaha mencerna apa yang di katakan oleh teman nya.
"Kau kan tidak bisa punya anak? Dan aku sekarang hamil anak nya. Aku mau anak ku tumbuh dengan ayah nya." jawab wanita dengan rambut hitam yang pekat itu.
Wanita itu tersentak, bagi nya ini semau masih terasa tak nyata, ia berusaha untuk tak begitu terkejut namun.
"Ini anak suami mu," sambung wanita itu dan membuat wanita yang berada di depan nya langsung membatu.
"A...apa yang kau bicarakan?" tanya nya lirih dengan suara yang gemetar.
"Ini bukan salah ku, lagi pula kau sendiri yang mandul kan?" tanya wanita itu sembari membuang wajah dari tatapan teman nya yang tampak sangat terpukul.
Byur!
Siraman teh yang menjadi santapan nya di lempar ke wajah seseorang sampai membuat nya meringis merasa sakit.
Namun tentu rasa sakit itu masih tak sebarapa dengan hancurnya perasaan nya saat ini.
Teman yang ia anggap seperti saudari sendiri setelah sang kakak meninggal ternyata mengkhianati nya dan merebut satu-satu nya orang yang ia miliki.
Menjadi ibu adalah impian setiap wanita yang sudah menikah dengan orang yang ia cintai, namun jika belum memiliki kesempatan untuk merasakan nya apa itu kesalahan wanita?
......................
Sekolah
Gadis itu terbangun, seorang perawat berjaga pada di UKS tersebut.
"Sudah bangun? Bagaimana kondisi mu?" tanya perawat UKS itu.
"Sudah lebih baik," jawab Anna singkat.
Wajah nya masih pucat pasi namun ia masih bersikap seperti biasa.
"Tadi ada teman ku ke sini?" tanya Anna yang menatap ke arah perawat tersebut.
"Teman? Oh, teman pria mu?" tanya sang perawat yang mengingat sebelum nya sempat ada anak laki-laki yang datang.
"Bukan, yang tadi ngantar aku." ucap Anna sekali lagi.
Brak!
Suara pintu yang terdengar terbuka begitu ia bertanya.
"Ann!"
Suara gadis itu memenuhi ruangan, "Kamu kenapa pucat terus?" tanya Samantha pada gadis itu.
"Kalau begitu tadi sia-"
Ucapan Anna terpotong, perawat yang tampak sibuk itu berjalan pergi tanpa sempat mendengar nya yang ingin bertanya siapa teman laki-laki yang datang sebelum nya.
"Kenapa Ann?" tanya Samantha yang melihat ke arah teman nya.
"Ga apa-apa," jawab Anna lirih yang menggeleng tak jadi menanyakan hal yang ingin ia tanyakan.
...
Anna melihat ke arah ponsel nya, ia izin tak ke kelas saat ini, dan teman nya yang tadi membawa makanan sekaligus melihat nya kini sudah kembali ke kelas.
"Apa aku tidur aja lagi?" gumam nya lirih yang saat ini enggan menghubungi siapapun.
Gadis itu kembali menjatuhkan kepala nya ke atas bantal empuk UKS tersebut.
...
Bel yang menandakan pulang sekolah sudah berbunyi, anak-anak remaja itu bersorak saat mendengar nya.
"Mau aku tungguin sampai supir kamu yang biasa jemput datang Ann?" tanya Samantha sembari merangkul lengan teman nya itu.
"Biasa juga jemputan aku yang duluan dateng Sam," jawab Anna yang tersenyum melihat teman nya.
"Iya juga..." jawab Samantha yang lupa.
Ia masih mengingat jika gadis itu kembali menggunakan bus seperti biasa nya dengan berjalan sedikit ke stasiun menunggu bus yang tak jauh dari sekolah nya saat ini.
"Yauda, aku yang tunggu kamu." jawab Anna pada teman nya dan membuat Samantha tersenyum.
Para gadis remaja itu menunggu di depan sekolah, Anna melihat ke arah seseorang yang sudah datang menjemput nya lebih awal dan melihat nya namun ia masih tetap berdiri di samping teman nya.
"Ga apa-apa Ann? Kamu nungguin sama aku? Supir kamu kok serem banget lihatin kita?" tanya Samantha yang merasa tatapan supir yang menjemput teman nya sangat tajam.
"Ga apa-apa," jawab nya dengan senyuman tipis.
Ia tau supir yang melihat nya tajam dengan wajah yang datar itu tengah mengawasi nya.
__ADS_1
"Kalau kamu lagi buru-buru, duluan aja ga apa-apa Ann." ucap Samantha sekali lagi.
Anna hanya tersenyum mendengar nya, ia tak beranjak dan masih berdiri di samping teman nya itu.
"Itu!" Samantha menunjuk ke arah mobil yang terlihat dari jauh.
Anna ikut menoleh, ia melihat ke arah mobil yang datang menjemput teman nya.
"Hum? Kayak nya Papa deh yang jemput?" gumam nya melihat ke arah seseorang yang tengah membawa mobil itu.
Anna ikut melihat namun ia tak begitu tampak siapa yang membawa.
Ponsel nya berdering, pesan yang tertulis untuk menyuruh nya segera kembali.
"Aku duluan ya!" ucap Anna yang langsung bergegas memilih pergi dari pada menghadapi balasan nya nanti dari pria itu.
Samantha mengangguk mendengar nya, ia melambaikan tangan nya dan beranjak pergi.
"Papa!" ucap gadis remaja itu yang langsung mendekat ke arah sang ayah begitu pria yang ada di dalam mobil keluar.
Pria itu tersenyum melihat putri kesayangan nya, ia berjalan mendekat ke arah di mana anak gadis nya berdiri.
Deg!
Pria itu tersentak, rambut yang tampak memiliki warna yang sama dengan seseorang yang sangat ia kenali dulu.
"Lyn..." gumam nya yang langsung menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah remaja yang baru saja melewati nya.
Mata nya melihat ke arah gadis remaja yang sudah duduk di bangku belakang dalam mobil tersebut.
"Pa?"
"Papa!"
"Pa!" Samantha memanggil keras sang ayah yang tampak diam membeku dan terpaku pada sesuatu.
Mr. Harris tersentak, ia menoleh ke arah putri nya kembali.
"Papa lihat apa sih?" tanya nya yang bingung melihat sang ayah.
"Tidak apa-apa, gimana sekolah kamu?" tanya nya sembari mengusap kepala putri nya.
"Baik Pa," jawab Samantha lirih dengan senyuman cerah menatap sang ayah.
......................
Rumah Samantha
Pria itu terdiam, ia melihat seseorang yang sangat mirip dengan wanita yang begitu ia kenali dulu.
Greb!
"Kamu mikirin apa? Nanti malam makan di luar yuk? Sama Sam juga."
Suara yang terdengar lembut dari balik punggung nya dan berasal dari seseorang yang memeluk nya.
Mr. Harris membuang napas nya lirih, ia memegang tangan yang memeluk nya dan berbalik melihat sang istri.
"Laura?" panggil nya lirih.
Wanita itu menoleh ke arah sang suami dengan senyuman dan wajah yang tampak lembut.
"Anak itu..." ucap Mr. Harris lirih yang meras sedikit enggan menyebut putri nya yang lain pada sang istri.
Putri yang sangat jarang ia peluk atau memiliki waktu bersama nya dulu.
"Anak itu? Anak apa?" tanya Mrs. Laura dengan bingung.
"Anak ku dan Lyn, dia benar-benar sudah mati?" tanya nya lirih pada wanita itu.
Senyuman dan wajah lembut wanita itu langsung menghilang.
"Kenapa kamu tanya dia? Kenapa kamu ingat sama Lyn?! Kamu bilang cinta aku!" ucap nya yang langsung marah tak terkontrol.
"Aku cuma tanya! Lagi pula dia juga anak ku!" ucap nya pada sang istri.
Mrs. Laura terdiam ia menunduk dan mulai menangis, "Apa kamu ga bisa pikirin aku sama Samantha aja? Sekarang kami yang keluarga kamu..." ucap nya dengan tangis nya.
Pria itu merasa iba, ia tak bisa mengatakan apapun lagi dan beranjak memeluk sang istri.
Sedangkan Mrs. Laura menangis di pelukan suami nya, ia tentu perlu mengalihkan pembicaraan tentang putri pria itu yang lain.
Tentu ia tak akan mengatakan jika anak perempuan itu masih hidup setelah insiden dengan sang ibu.
Dan ia lah yang mengantarkan anak kecil itu ke panti asuhan setelah ibu nya meninggal.
......................
JNN grup
Lucas mengernyit menatap ke arah wajah yang tampak lebih putih dari sebelum nya. Ia bisa melihat bentuk dan warna yang jelas jika itu berhubungan dengan gadis remaja itu.
"Wajah mu lebih putih? Kau pucat?" tanya nya saat melihat gadis yang duduk di sofa ruangan nya karna menunggu nya itu.
"Saya tidak apa-apa sir." ucap Anna lirih sembari tersenyum melihat ke arah pria itu.
"Kalau ada yang aneh di tubuh mu katakan," ucap Lucas yang mengingat jika gadis itu memiliki sesuatu yang 'spesial' di tubuh nya.
"Saya baik-baik saja, Sir..." jawab Anna sekali lagi dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Kau mau pulang?" tanya pria itu yang menatap ke arah gadis itu.
Tentu ia perlu memantau dan menyiapkan jadwal operasi lain untuk mengganti chip di tubuh gadis itu dengan radiasi yang lebih kecil.
"Pulang? Ke mana?" tanya Anna menatap ke arah pria itu.
"Mansion," ucap nya pada gadis itu.
"Hum? Mansion?" Gadis itu memiringkan kepala nya, sekarang ia lebih sulit untuk nyambung dengan ucapan seseorang.
"Ya, Mansion kita, lalu ke mana lagi?" tanya Lucas yang beranjak menarik tangan gadis itu.
"Mansion kita?" tanya gadis itu mengulang.
"Iya, Lalu? Kau kan tinggal dengan ku," ucap Lucas yang membuang napas nya lirih memberi tau gadis yang sulit mengerti itu.
"Aku pulang ke sana?" tanya nya lirih.
"Tentu! Memang nya kau mau ke mana lagi? Kau harus pulang dengan ku dan harus aku!" ucap nya pada gadis itu.
Anna terdiam, ia tak pernah memiliki rumah semenjak masuk ke panti asuhan, dan setiap kali ia di adopsi ia juga di kembalikan lagi ke tempat itu dengan alasan ia kurang 'sempurna' untuk seorang anak angkat.
Saat panti asuhan kekurangan biaya pemeliharaan ia keluar dan berusaha menghidupi diri nya sendiri.
Rumah?
Ia tak pernah memiliki nya, pindah dari tempat satu ke tempat lain nya yang lebih murah.
Senyuman yang tampak cerah, wajah dan nada yang begitu ceria. Topeng yang cocok untuk membuat nya bisa bertahan sampai sekarang namun di balik itu ia tak pernah mempercayai apapun.
"Ya, Sir!" ucap nya tersenyum.
"Tapi, itu mansion anda, jadi kata 'kita' tidak cocok di ucapkan." sambung Anna tersenyum.
"Kenapa?" tanya Lucas mengernyitkan dahi nya.
"Kalau anda membuang saya nanti, saya tidak akan pulang ke tempat itu lagi." ucap nya dengan senyuman yang terlihat cerah.
Memang nya siapa yang akan ia percayai?
Berharap lalu di buang lagi, mempercayai lalu di khianati, menerima tangan yang tampak hangat namun kehangatan itu memukul nya lagi sampai membuat nya sadar jika satu-satu nya yang bisa mencintai diri nya hanya diri nya.
Karna tak ada siapapun yang mencintai nya.
Lucas diam tak mengatakan apapun, wajah gadis itu tetap tersenyum dengan cantik seperti biasa.
"Aku tidak akan membuang mu," ucap nya pada gadis itu.
...
...
...
Prang!
Gelas yang tampak pecah itu berhamburan ke lantai.
"Kamu bisa tinggalin dia? Kamu mau anak kan? Lihat! Aku juga! Aku juga hamil!" ucap nya yang menunjukkan hasil USG nya.
Seharusnya ia merasa sangat bahagia katja mendapatkan apa yang ia nanti selama ini.
"Kamu tuh ga bisa egois! Aku ga mungkin tinggalin dia! Lagi pula kenapa kamu tiba-tiba hamil?! Ini memang asli?!" tanya nya yang tak percaya.
Pernikahan selama 7 tahun tanpa keturunan dan memang dokter sudah mengatakan jika istri nya memang sulit memiliki anak.
"Aku ga bohong..." ucap nya dengan suara gemetar dan menangis tersedu.
Pria itu menggeleng, ia tetap tak percaya, "Tidak..."
"Dia hamil anak ku sekarang, aku tidak bisa meninggalkan nya." ucap nya yang menggeleng dan berbalik pergi meninggalkan istri yang menangis tersedu.
Wanita itu jatuh ke lantai, ia merasa terluka, terpukul dengan hati yang begitu remuk dan hancur.
Tangan nya memegang perut nya yang masih rata, ia menatap ke arah sang suami yang lebih memilih menemui wanita lain di bandingkan menemani nya.
"Lalu aku?"
"Aku juga hamil..."
Gumam nya lirih, rasa nya seperti mendapatkan musibah beruntun.
Lima tahun yang lalu sang kakak meninggalkan nya dan satu tahun yang lalu orang tua yang meninggalkan nya dan saat ini?
Tentu ia hanya memiliki suami nya, seseorang yang menjadi kelurga satu-satu nya.
Tangisan nya terdengar begitu pilu, ia merasa begitu sakit sampai membuat dada nya terasa sesak.
...
...****************...
Oh iya, ini kenapa othor gambarin tentang masa lalu ortu nya Anna ga penuh dan selang seling biar ga banyak sekali.
Dan sedikit spoiler kalau Anna sama Lucas juga masih punya hubungan secara ga langsung maka nya semanjak ketemu Anna si Lucas sering mimpi aneh"
Tapi ga othor kasih tau dung wkwk biar penisirin haha
Okey
__ADS_1
Happy readingππππ