Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Seperti nya aku suka?


__ADS_3

Mata pria itu menatap ke arah lain, pikiran nya tak bisa kembali fokus dan berkonsentrasi. Memikirkan hal tentu nya sama sekali tak berhubungan dengan pekerjaan nya.


"Luc?"


Diego mulai memanggil, situasi nya saat ini tengah tak menguntungkan mereka namun pria itu malah seperti memikirkan hal lain nya saat ia menjelaskan detail nya.


"Luc!"


Sentak nya dengan suara yang lebih kuat agar pria itu bisa mendengar nya.


Lucas langsung menatap dan mengernyit karna pria itu membuyarkan lamunan kotor nya, "Aku masih atasan mu di sini," ucap nya dengan mata yang menatap kesal.


Diego membuang napas nya, "Sorry Sir..." jawab nya lirih dengan panggilan yang lebih formal tanpa mengingat hubungan kekerabatan nya.


"Kenapa tidak kau saja yang gantikan dia? Kau juga bisa mengambil alih kan?" tanya Lucas sembari menyandarkan tubuh nya ke bangku yang ia duduki sambil mengetuk kertas dokumen di depan nya.


"Kalau aku mau seperti itu kenapa aku dari dulu memilih kerja dengan mu?" tanya Diego yang sebenarnya kurang menyukai di posisi yang tinggi karna juga akan memiliki tanggung jawab yang tinggi.


"Aku iri," gumam Lucas lirih.


Ia yang tak memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri karna memikirkan perusahaan besar itu dan ia yang memang sesibuk itu walau terlihat santai karna jarang ke perusahaan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan dan urus ini dulu, mereka pasti akan cari kelemahan mu bagaimana pun cara nya." ucap nya yang tau jika kerabat mereka yang lain nya memang memiliki cara untuk saling menjatuhkan satu sama lain.


"Si tua itu belum mati?" tanya nya sembari mulai kembali fokus akan pekerjaan nya.


"Sayang nya belum," jawab Diego dengan raut yang juga tak suka.


"Berapa umur nya di tahun ini?" tanya Lucas lagi.


"Tahun ini 99 dan tahun depan 100," jawab Diego.


Hah...


Kedua pria itu saling membuang napas nya, seseorang yang mereka bicarakan tak lain dan tak bukan adalah kakek mereka sendiri.


Kakek yang sangat membenci mereka yang dulu nya tak tau apapun sampai menerima sendiri kebencian itu.


"Tapi apa yang kau lakukan tadi pagi?" tanya Diego saat pembasahan tentang dokumen di depan nya selesai.


Lucas melirik sekilas tanpa menjawab pertanyaan dari sepupu nya itu.


"Bukan urusan mu," jawab nya pada Diego dengan ketus.


"Memang, tapi kau menyukai nya sebagai wanita kan? Bukan sebagai peliharaan mu yang biasa?" tanya Diego pada Lucas.


Lucas terdiam, sebanyak apa ia menyukai gadis itu dan sampai batas mana ia menginginkan nya ia tak pernah tau.


"Suka? Apa itu sesuatu yang menjijikan seperti dia?" tanya nya yang merujuk pada seseorang.


Berbeda dengan sepupu nya yang sering menjalin asmara namun ia juga tau kalau sepupu nya itu tak pernah benar-benar menyukai seseorang kecuali menyukai aktifitas di atas tempat tidur itu.


Dan satu-satu nya contoh dari perasaan suka yang ia lihat hanyalah dari sang ayah.


"Menjijikan? Ku rasa kalau kau masih suka dengan anak itu dan bukan nya aku tidak akan begitu mengerikan," jawab Diego enteng.


"Dan lain kali jangan bicara blak-blakan seperti itu," ucap nya dengan suara berbisik.


Ia tau jika Lucas membenci sang ayah karna percintaan sesama jenis terlebih lagi kekasih ayah nya adalah adik nya sendiri yang tak lain juga merupakan ayah Diego sendiri.


Ironi yang mengerikan dari keluarga konglomerat yang tampak sempurna.


"Kenapa? Karna negara ini punya hukum yang bebas maka nya mereka jadi tidak tau malu." jawab Lucas yang tak peduli sama sekali.


Diego tak menjawab, walaupun ia tau kelakuan sang ayah namun ia tak membenci ataupun menyukai nya.


Ia tak menentang ataupun mendukung berbeda dengan sepupu nya.


"Keluar, pekerjaan mu sudah selesai kan?" tanya Lucas yang mengusir sepupu nya nya itu.


"Yes, Sir!" jawab Diego pada sepupu nya.


Terkadang ia berbicara formal dan terkadang ia berbicara non formal.


Lucas masih terdiam, ruangan yang berdominasi hitam putih dengan nuansa mewah dan dewasa itu begitu hening tak ada suara apapun kecuali jam dinding yang berputar.


"Suka..."


Ia memejamkan mata nya, kilas balik tentang bayangan sang ayah yang bercumbu dan menyatu dengan pria yang ia panggil paman tiba-tiba datang lagi.


"Heuk!"


Perut nya terasa mual saat mengingat nya, padahal tadi ia juga memikirkan hal-hal kotor tentang gadis itu namun tak merasakan apapun.


Suara air terdengar mengalir di wastafel, ia berkumur setelah memuntahkan isi perut nya.

__ADS_1


"Hah..."


Menarik napas panjang setelah mencuci mulut nya, "Sial!" dan mengumpat setelah nya.


"Aku menyukai seseorang? Itu mungkin? Perasaan seperti itu?!"


Gumam yang keluar dari bibir nya terdengar mentertawakan diri nya sendiri.


Ia melihat bayangan nya di cermin yang tak bisa memantulkan wajah nya sendiri karna ia tak bisa melihat nya, namun...


Sir?


Ia merasa gadis itu ada di balik di cermin nya, pikiran nya kembali mengingat hal yang tak berguna dan vulgar itu namun ia tak merasa ada gejolak apapun di perut nya.


Tak merasa jijik atau seperti memakan kotoran saat mengingat bagian tubuh gadis itu dan yang ada hanya ingin menemui nya lagi dan kembali menyentuh sesuatu yang tampak indah itu.


"Seperti nya cumi-cumi nakal itu memberikan ku sihir," ucap nya lirih dengan tersenyum miring saat ia tak bisa menghilangkan wajah yang tampak begitu jelas di ingatan nya itu.


......................


Mansion Damian


Rambut yang basah itu tampak lurus di depan cermin, tak ada suara pengering rambut. Begitu hening dengan hanya suara sisiran yang lembut dan berulang.


Jantung nya masih berdegup kencang, melihat ke arah pintu berulang kali dan beberapa pelayan yang selalu datang pada nya setiap waktu makan.


"Kenapa sekarang dia seperti itu?!" gumam nya yang merasa pria itu sudah melakukan sesuatu yang terlalu jauh dari biasanya.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, tunggu!"


"Apa mungkin aku melakukan kesalahan tapi dia tidak beri tau?!" ucap nya lirih yang hanya bisa menebak tanpa bertanya dengan orang nya langsung.


Suara ketukan di kamar nya membuat nya menoleh.


Belum waktu nya makan namun sudah ada yang datang?


Tak ada jawaban untuk meminta si penguji masuk namun pintu itu akan di buka dengan sendiri nya.


"Ka..kalian siapa?" tanya nya lirih dengan mengernyit.


Wanita dan pria yang memakai jas putih khas identitas akan profesi yang di arungi.


"Mohon maaf, kami akan ingin melihat luka-luka nya dulu." ucap salah satu dokter.


Anna mengernyit namun orang-orang yang datang itu ingin melihat seluruh tubuh nya yang memiliki bekas luka walaupun ia sedang tak ingin kembali 'di lihat' lagi oleh seseorang.


Tak ada tanda-tanda jika pria itu akan kembali lebih cepat malam ini seperti malam biasa nya.


Tanpa sadar ia mulai tertidur, memejamkan mata nya yang sebelum nya terus terjaga.


...


Anna memejam, ia merasa seperti sesuatu yang sedang memegang rambut nya dan membelai kepala nya.


Ujung jemari yang hangat itu menyentuh hidung dan terkadang menyentuh mata nya. Antara mimpi dan tidak serta kenyataan atau bukan ia sedikit sulit membedakan nya saat kelopak mata nya masih terasa begitu berat.


"Kau nyenyak sekali?"


Mata yang terpejam dengan bulu yang lentik itu seakan berkedip dan bergerak, ia mulai tak nyaman dan ingin membuka mata nya kembali.


Segaris dari kelopak mata itu terbuka, bayangan pria dengan tubuh yang di penuhi otot dan tinggi itu terlihat samar akibat kantuk nya.


"Bangun,"


Deg!


Kali ini Anna sudah benar-benar tersentak, ia sudah semakin sadar sampai membuat nya dapat langsung bangun dari tidur nya.


Tangan kecil nya langsung menarik selimut nya dan menatap dengan was-was.


"Ada apa dengan ekspresi mu?" Lucas mengernyit menatap wajah yang tampak tak suka melihat nya itu.


Ia dulu mungkin tak tau namun sekarang ia sangat tau.


Anna tersadar, ia sangat terkejut bahkan sampai lupa mengatur ekspresi wajah nya.


"A..anda sudah kembali Sir?" tanya nya lirih dengan bibir yang kembali tersenyum dan mata yang seperti sabit.


"Ya, hari ini sangat melelahkan..." jawab pria itu lirih sembari memegang dagu kecil itu.


"A..anda mau istirahat?" Anna bertanya lirih, walaupun ia tersenyum namun ia sangat takut pria itu kembali menggila seperti pagi tadi.


Lucas tak menjawab, ia malah menidurkan diri nya dan membuat paha gadis itu sebagai bantal nya.


Anna tersentak, ia tak tau harus apa namun yang jelas ia tak akan berani mengusir kepala yang di tidur di paha nya itu.

__ADS_1


"Tadi sudah ada dokter yang ke sini kan?" tanya Lucas sembari memejam.


Ia lelah namun begitu kembali ia langsung menemui gadis itu karna baginya gadis itu merupakan penenang nya.


Membuat nya tau apa itu arti indah yang sesungguh nya karna penuh dengan warna dan bentuk yang begitu jelas.


Bukan bentuk bangunan atau hewan, bukan juga bentuk abjad dan tulisan dalam komputer melainkan bentuk yang benar-benar hidup.


"Ya, mereka tadi ke sini dan memeriksa saya..." jawab nya lirih.


Lucas membuka mata nya lagi, seharusnya gadis itu senang kan?


Tapi kenapa ia tidak terlihat senang?


"Anna?"


Deg!


Gadis itu tersentak, baru kali ini pria itu memanggil nya dengan nama yang ia miliki dan bukan nya cumi-cumi seperti biasa.


Mata biru itu menunduk melihat ke arah pria yang tanpa tau diri dan merasa bersalah tidur di paha nya.


"Maurenne Arianna?"


Panggil Lucas lagi sembari mulai memegang helaian rambut yang hampir mengenai wajah nya itu.


Anna masih diam tak menjawab namun mata nya melihat ke arah pria itu sampai Lucas dapat melihat bayang nya di netra biru mata si gadis remaja itu.


"Kau pernah bilang pada ku untuk memiliki mu kan?" tanya nya dengan nada yang lebih rendah dari biasa nya.


Lidah gadis itu kelu sesaat yang membuat nya tak bisa menjawab pertanyaan itu langsung.


"Apa kau menyesali perkataan mu?" Lucas tetap bertanya walaupun belum ada satupun jawaban.


Ia merasa gadis itu semakin berubah, semakin membangkang dan tak sepenurut sebelum nya tanpa ia sadar jika sikap nya juga sudah berubah berbeda dengan saat pertama kali.


Lagi-lagi Anna diam, kalau boleh jujur tentu ia sudah menyesali sejak mengikuti part time model itu karna awal ia bertemu dengan pria sinting di depan nya adalah saat itu.


Lucas bukan lah pria yang baik yang bisa menunggu hanya untuk pertanyaan yang bagi nya sederhana sederhana.


Tangan yang tadi nya hanya memegang helaian rambut coklat pirang itu kini mulai menarik nya dengan kuat sampai wajah cantik itu mendekat ke arah nya.


Akh!


Anna meringis, siapa yang tak akan terkejut jika di tarik sekuat itu oleh seseorang sampai rasa nya seluruh kulit kepala nya ingin lepas.


"Kau menyesal?"


Wajah yang tampak datar dan bergeming itu seperti tak menyadari kekuatan nya sendiri, ia bertanya dengan tenang walaupun tangan nya seperti api yang membara.


"Ti..tidak Sir..."


"Ma..mana mungkin saya me..menyesal.."


"Sa..saya kan sangat me..menyukai anda..."


Anna menjawab dengan gagap karna begitu gugup, ia kembali tersenyum dengan mata cerah nya yang gemetar.


"Lalu kenapa tidak tertawa?" tanya Lucas lagi pada gadis itu.


Anna terdiam, mana mungkin ia bisa tertawa jika ketakutan di Jambak dengan kuat oleh tangan seperti besi itu.


"Ha.."


"Haha..ha..haha..."


Tawa yang canggung dan terdengar sangat di paksakan itu membuat Lucas kembali melunak dan melepaskan jambakan nya di rambut pirang itu.


Ia tersenyum tipis sembari memegang rahang mungil gadis yang menunduk melihat nya itu.


"Aku rasa..."


"Aku juga mulai menyukai mu..."


Bayangan dari mata hitam itu terukir jelas wajah gadis yang terlihat sangat terkejut mendengar nya.


Entah konsep rasa suka apa yang di miliki oleh pria di depan nya namun ia tak menginginkan nya sama sekali.


"Sir?" panggil Anna lirih dan merasakan tangan yang memegang rahang nya itu mulai meraba leher nya dan mendekat ke tengkuk nya.


Humph!


Ia tersentak, leher nya langsung tertarik ke bawah dan lagi-lagi pria itu membuat bibir nya seperti jelly manis yang harus di hisap dan lum*t sebelum di makan.


Kedua mata itu saling bertemu dan melihat walaupun bibir nya masih bertaut satu sama lain.

__ADS_1


Anna tersentak, ia merasa takut dan mulai memejamkan mata nya, tangan nya menarik meremas kuat kemeja itu sampai membuat satu kancing dalam genggaman nya terlepas.


__ADS_2