
Suasana berkabung, pakaian hitam yang berdiri di depan makam keramik yang sudah di bangun.
Aroma semerbak bunga tercium, suara tangisan lirih terdengar.
Entah ketulusan atau hanya formalitas, ekor mata yang memincing tajam seperti melihat sebuah kotoran pada suatu objek.
Tatapan yang di buka dengan lama dan juga memikirkan semua hal sedih agar tangisan keluar.
Namun...
Tubuh kecil yang gemetar, wajah yang menunduk ke tangah dengan rerumputan yang hijau.
Tidak tau tangisan orang-orang di sekitar nya tulus atau tidak namun gadis itu menangis di dalam hati nya.
Ini adalah pemakaman yang pertama yang ia datangi untuk seseorang yang sudah cukup berkesan di hati nya.
Saat pemakaman ibu nya ia tak tau apapun karna berada di rumah sakit dan masih belum sadar, setelah ia sadar ia hanya di berikan alamat makam sang ibu dan di antarkan ke panti asuhan.
Namun saat ini ia menyaksikan semua proses nya dari awal.
Jujur ia seperti kehilangan seseorang yang ia anggap sebagai ganti dari seorang kakek yang tidak pernah ia dapatkan.
Ia bahkan tak pernah memanggil seseorang dengan sebutan 'kakek' sebelum nya.
Walau hanya bertemu beberapa bulan namun insting nya tau jika pria tua itu tak berniat menyakiti nya, pertemuan yang singkat namun membekas di hati nya.
"Kenapa pembunuh itu ada di sini?"
Semua sanak keluarga yang lain membenci gadis yang berdiri di samping cucu pertama dari pria tua yang berada di makam itu.
Cukup kebencian dari satu orang dan satu mulut yang menuduh nya hingga membuat semua orang yang masih memiliki nama belakang Damian itu ikut membenci dan menyalahkan nya.
Pria dengan mata abu-abu gelap itu tak menunjukkan kesedihan apapun, bukan meratapi ia hanya melihat ke arah gadis nya yang terus menangis.
Mata yang mendengar kata-kata buruk yang bergumam untuk gadis nya.
...
"Pulang lah lebih dulu," ucap Lucas sembari memegang kedua bahu yang kecil itu.
Anna menengandah, wajah nya masih sembab. Kesedihan masih merasuki nya.
Ia tak percaya semua nya akan secepat itu, bahkan saat pria tua itu berjanji akan memberikan nya banyak boneka lain nya dan berjanji ia harus bermain dengan nya lagi besok dan akan menang.
Namun keesokkan nya hari nya, pemakaman yang tenang di atas rumput hijau dan bunga yang berada di tempat yang bagaikan lapangan itu lah yang terjadi.
"Sudah, kau tidak salah apapun." ucap Lucas yang mengusap air mata gadis itu dan mengirim nya kembali ke mansion lebih awal.
__ADS_1
Anna mengangguk, ia menuruti perkataan pria itu dan masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Lucas harus segera kembali ke mansion sang kakek karna semua sanak keluarga nya sudah sangat berisik untuk membicarakan tentang warisan.
......................
Mansion Keluarga Damian.
Pengacara yang mengurus tentang warisan pun sudah datang dan membawa dokumen yang sudah di simpan itu.
Pembacaan nama dan harta yang di dapatkan dari mulai pembagian saham, tanah, kendaraan maupun itu darat, laut dan udara serta bangunan dan properti, belum lagi beberapa pantai beserta resort nya, anak perusahaan dan uang tunai yang di miliki di bank.
Banyak yang di bagikan namun untuk beberapa orang harta yang di dapatkan tak cukup sama sekali.
"Cih! Si tua itu tetap menyayangi nya!" decak Tiffany yang memandang ke arah keponakan nya dengan kesal.
Ia adalah anak perempuan ke empat yang di miliki oleh Mr. Ehrlich dan tentu ia juga tak menyukai keponakan nya itu.
Lucas mendapatkan 13,25 % Saham beserta dengan perusahan yang berkembang di bioteknologi dan Diego mendapatkan 9,24 % saham dengan satu pantai beserta resort nya.
"Tunggu, ada yang mau ku tanyakan." ucap seorang pria muda yang merupakan anak dari putri bungsu Mr. Ehrlich dan merupakan cucu laki-laki ke empat.
Pria berusia 24 tahun yang bernama Eric itu menatap dengan bingung pasal nya rumah yang sedang di jadikan tempat pembagian warisan ini belum di sebut.
"Siapa yang memiliki mansion ini?" tanya nya dengan bingung.
Semua yang berada di tempat itu terkejut seketika.
"Itu tidak sah! Dia tidak punya hubungan keluarga apapun di sini dan lagi pula dia yang membunuh Papa!" ucap Veronica yang langsung tak menyukai dengan pembacaan warisan yang tak adil itu.
"Kenapa bisa dia jadi pembunuh? Kau tidak dengar apa yang di katakan dokter?" tanya Lucas mengernyit yang sejak awal tak menyukai kata-kata yang menyudutkan gadis itu.
"Kakek mati karna darah tinggi yang meningkat dan juga kolestrol," sambung Lucas pada sang bibi.
"Maka nya itu! Papa makan steik karna siapa? Karna anak itu kan? Dia adalah pembunuh tak langsung!" sahut Prisillia yang merupakan putri bungsu dari konglomerat itu.
"Dia juga tidak bodoh, mana mungkin dia meminta makanan yang memiliki kadar garam dan lemak yang sama dengan teman makan nya kan? Jadi bukan nya koki yang memasak yang harus di hukum?" tanya Lucas yang menatap tajam.
"Dan anak itu juga terlalu bodoh untuk membunuh seseorang dengan makanan yang seperti itu dan dia juga terlalu baik untuk memaksa seseorang mengikuti makanan nya kecuali kakek yang mau makan sendiri." sambung nya yang membuat mulut yang berisik itu diam.
Ia tau pasti bagaimana sifat gadis nya dan ia juga tau kalau gadis remaja itu tak memiliki kepintaran dan kelicikan untuk menghabisi nyawa seseorang.
"Karna semua sudah tau, aku akan pergi duluan." ucap nya yang berdiri sedangkan surat-surat kepemilikan akan selesai dalam tiga hari.
"Aku juga, di sini terlalu menyesakkan untuk orang yang serakah." sambung Diego dengan nada santai nya yang membuat sanak saudara yang lain merasa kesal.
Walaupun hanya satu mansion yang di berikan pada orang asing namun sanak dari keluarga Damian itu sangat tak menerima nya.
__ADS_1
Mansion luas nan mewah yang berharga jutaan dollar yang tentu juga bukan yang yang kecil.
"Coba cari tau tentang koki yang memasak untuk makan malam itu dan jangan sampai ada pelayan yang di pecat sampai aku bilang jika semua nya sudah selesai." ucap Lucas pada Diego sebelum ia kembali ke mansion nya.
"Ya," jawab Diego singkat.
Walaupun kedua cucu laki-laki itu tak menangis sama sekali namun setidaknya mereka tak bergembira pada kematian sang kakek atau pura-pura meneteskan air mata palsu di pemakaman nya.
......................
Mansion Damian
Lucas kembali, tentu langkah nya langsung menuju ke kamar gadis yang ia kenali.
"Hey? Kau masih menangis?"
Suara bariton yang terdengar itu membuat Anna menoleh, mata nya masih sembab padahal seluruh keluarga dari Mr. Ehrlich sudah meributkan tentang warisan.
Ia tak menjawab, Anna menggelengkan kepala nya sembari mengusap air mata nya.
Lucas mendekati gadis yang tengah duduk, ia menarik tangan nya dan berbalik membuat gadis itu duduk di atas pangkuan nya.
"Sstt..."
"Anak baik tidak akan menangis terlalu lama." ucap nya yang menepuk bahu gadis itu dengan lembut.
Anna semakin merasa sedih saat seseorang menenangkan nya.
Memang seperti situasi yang terbalik, pria yang merupakan cucu kandung dari yang bersangkutan malah tak sedih sama sekali dan gadis remaja yang tak memiliki hubungan darah itu yang malah merasakan kesedihan dengan tulus.
"Sa..saya tidak tau..."
"Ma.. maaf..." tangis nya lirih saat pria itu mendekap nya.
"Ya, kau tidak melakukan apapun." ucap nya berbisik di telinga gadis itu.
Kilau mata yang jernih itu terasa begitu tajam, bagaimana pun ia tetap harus mencari penyebab kematian yang cocok dengan sang kakek dan menyalahkan salah satu dari saudara nya yang lain.
Karna ia tau para singa betina yang lapar itu akan selalu memburu gadis nya karna seperti sebuah kelemahan yang ia miliki.
"Kau masih memiliki ku, dan sekarang kau memang hanya akan memiliki ku..." ucap nya lagi di telinga gadis itu.
Bagai kesempatan yang datang di sebuah kemalangan, menekan kondisi psikologis seseorang yang tengah bersedih dan membuat nya berpikir jika hanya ia yang di jadikan tempat bergantung dan sandaran.
Anna tak mengatakan apapun, tangan nya meremas jas hitam yang di kenakan pria yang memangku nya.
Bisikan yang secara tak langsung mengatakan tentang kepemilikan diri nya mulai membuat pikiran tercemar.
__ADS_1