
Mata hitam itu berbinar melihat ke arah gaun yang terpasang cantik di etalase.
"Tunggu!"
Suara kecil nya yang menggemaskan itu langsung meminta sang supir untuk menghentikan mobil yang sedang membawa nya.
"Baik tuan," ucap nya pada tuan muda yang menggemaskan itu.
Kaki kecil nya turun dengan sepatu yang mengkilap mahal itu.
Mata dan senyuman yang masih polos itu menatap dengan berbinar ke arah gaun yang berwarna biru muda itu.
Ia masuk ke dalam toko pakaian yang bermerek dan menunjuk nya, tentu pembayaran akan di lakukan oleh sang supir saat sudah mendapat persetujuan dari anak lelaki itu.
"Hihi! Pasti cantik!" ucap nya dengan senyuman yang begitu cerah membayangkan seseorang yang akan memakai nya.
Mata hitam nya yang berbinar itu menatap suka ke arah sepatu heels kotak yang tampak cantik dengan warna peach itu.
Ia tak mengerti apa yang nama nya sepadan dengan warna gaun, yang ia tau hanya melihat sesuatu yang cantik berarti cocok.
Anak kecil yang polos dan tampan itu juga bahkan tak mengetahui apa yang ia beli akan cocok atau tidak pada seseorang yang akan ia berikan.
....
Wanita cantik itu tampak tersenyum, rambut yang pirang kecoklatan serta mata yang berwarna biru gelap.
Senyuman nya lembut, selembut tangan nya yang menyentuh anak laki-laki kecil yang mungil itu.
Wajah yang menggemaskan, pipi yang bulat dan mata berwarna abu-abu gelap.
Keimutan itu mungkin tak akan bertahan lama dengan wajah yang kaku dan dingin itu.
Namun anak kecil tetap lah anak kecil.
__ADS_1
Walau pun terlihat dingin dan datar namun mata yang berbinar itu bisa mengatakan segala.
Wajah yang datar itu bukan tak bisa merasakan apapun namun terlihat takut menunjukkan nya.
Seperti rasa suka atau pun merengek seperti anak seusia nya, namun senyuman dan sentuhan lembut wanita itu membuat nya perlahan luluh dan menyukai nya.
"Kamu suka?" tanya wanita itu tersenyum.
Mungkin ia masih bisa di katakan seorang gadis karna masih berada di umur 22 tahun dan memiliki seorang anak lelaki yang tampan berusia 6 tahun.
"Mommy!"
Suara yang terdengar riang itu langsung berlari mendekat ke arah wanita cantik itu.
Wanita itu tersentak, anak kecil yang belum sampai sepinggang nya itu langsung melompat dan memeluk kaki nya dengan erat.
"Hey? Jangan lari? Nanti jatuh," ucap nya sembari mencubit hidung anak lelaki itu.
"She's not your Mom! She's my Mama!" ucap nya yang langsung memeluk sang ibu dan tatapan penuh cemburu.
Wanita itu tertawa, ia mengusap kepala putra nya dengan lembut.
"Ga boleh begitu sayang, jangan nakal sama berkelahi." ucap nya yang mengecup lembut ke arah kening putra nya.
Sedangkan anak kecil yang terjatuh itu menatap dengan tatapan tak suka, ia merasa cemburu.
Ia tak memiliki sosok seperti itu, tak ada seorang pun yang bisa ia panggil 'Mommy' atau 'Mama'
Pernah ada harapan ia akan memiliki sosok wanita seperti yang ia harapkan.
Namun apa daya saat seseorang itu malah hanya menginginkan yang uang nya saja.
"Kamu terluka?" suara wanita itu menyadarkan nya, menarik nya dan membangunkan nya ketika ia terjatuh.
__ADS_1
......................
Tiga hari kemudian.
Mansion Damian.
Pria itu menatap ke arah punggung dengan bekas luka yang hampir menghilang, ia tak mengatakan apapun namun tangan nya mulai mengusap pelan ke arah luka di punggung gadis itu.
"Sir?" Anna memanggil lirih saat merasakan usapan pria itu yang menyentuh luka di punggung nya.
Tak ada sepatah kata pun untuk di jawab pria itu hanya mendekatkan wajah nya.
Anna diam, ia pun tak berani bersuara lagi selain merasakan helaian napas hangat pria itu yang menyentuh permukaan kulit nya.
Cup!
Tubuh kecil gadis itu tersentak, ia merasakan kecupan di punggung dan usapan yang begitu halus.
"Lain kali harus lebih hati-hati, kau tidak mau sakit lagi kan?" bisik pria itu dari belakang.
Lucas memang tak merasa bersalah sudah melukai gadis nya itu, hanya saja ia merasakan sesuatu yang menggelitik di dalam diri nya saat melihat bekas luka di objek yang menjadi keindahan nya.
Anna mengangguk, memang nya apa yang ia lakukan sampai pria itu marah?
Sikap yang ramah?
Atau senyuman yang menunjukkan ekspresi nya saat melihat sesuatu yang bagi nya menakjubkan.
Pria itu tersenyum tipis, ia beranjak mengambil perban yang baru dan kembali menempelkan nya ke punggung kecil itu.
Anna diam tak mengatakan apapun, ia merasa pria itu mulai merengkuh nya secara perlahan dari belakang.
Pria itu tak mengatakan apapun namun ia memejam seakan merasakan kembali ketenangan nya.
__ADS_1