
Gadis itu duduk di kursi yang di sediakan untuk nya, rambut yang pirang dengan mata biru gelap serta kulit putih yang cerah dengan bibir merah muda yang tipis.
Ia saling menautkan jemari nya satu sama lain, masih tak terlihat tonjolan di perut nya sama sekali.
"Bagaimana kau bisa mengenal nya?"
Suara seorang pria paruh baya itu memandang sinis ke arah gadis yang tersenyum canggung itu.
"Kami bertemu di pusat perbelanjaan dan saling tertarik satu sama lain," ucap nya tersenyum yang berusaha menyembunyikan kegugupan nya.
"Apa yang kau gunakan untuk memikat nya?!" pria paruh baya itu tak memiliki waktu untuk mendengarkan kisah cinta seseorang.
Gadis itu terkejut, ia begitu gugup dan pada akhirnya menautkan jemari nya satu sama lain.
Usia nya masih beranjak 16 tahun dan ia memilih untuk menikahi seseorang yang memberikan apa yang ia perlukan dan ia pun harus memberikan imbalan atas itu semua.
Ia mendapatkan uang dan pria itu mendapatkan anak sesuai dengan kesepakatan yang di telah di buat.
"Kau masih sekolah?" tanya nya pada gadis remaja itu.
Gadis itu menggeleng, ia takut dan gugup sedangkan pria yang menikahi nya tak akan memperdulikan nya yang di panggil oleh sang ayah mertua.
"Tidak punya pendidikan! Tidak punya nama! Apa jadi nya kalau ada orang seperti mu masuk ke keluarga ini?!" tanya pria paruh baya itu dengan tatapan sinis dan tak suka.
Gadis itu tak mengatakan apapun ia hanya diam dan menunduk.
Tentu hati nya merasa sakit dengan kata-kata penghinaan itu namun ia akan menepis nya karna memang ia hanya akan menjadi menantu dari keluarga kaya itu sampai bayi yang ada di rahim nya lahir.
"Papa? Papa tidak boleh terlalu banyak marah, nanti darah tinggi anda bisa naik," ucap nya yang menanggapi dengan senyuman nya yang cerah itu.
"Papa?! Kau pikir kau itu siapa?! Kau bukan menantu keluarga ini! Aku tidak sudi punya menantu seperti mu!" ucap nya yang dengan tegas menolak keberadaan gadis itu karna ia merasa putra nya pantas mendapat seseorang yang lebih baik.
Gadis itu hanya menahan napas nya dan tersenyum, sekali lagi ia harus melewatkan nya karna ia memang sangat membutuhkan uang untuk saat ini.
"Tapi saya sangat sudi punya mertua seperti Papa, dan lagi apapun yang anda katakan saya adalah menantu anda." ucap nya sekali lagi pada pria paruh baya itu.
"Papa mau teh? Saya akan buatkan teh nya," ucap nya yang tak ingin mendengarkan perkataan yang menyakiti hati nya.
Dan suami kontrak nya itu, dengan mudah melempar nya seperti barang untuk membuat sang ayah mertua teralihkan.
Prang!
Ack!
Gadis itu meringis, tangan putih nya memerah seketika saat teh panas itu di tolak dan jatuh membasahi nya.
"Memang nya aku pernah bilang mau teh yang kau buatkan? Kau mungkin saja tidak bisa membedakan mana gula dan garam!" ucap pria paruh baya itu yang menyimpan hinaan di balik kata-kata nya.
Gadis itu terdiam, ia ingin menangis namun ia tak boleh melakukan nya karna kegunaan nya bukan untuk menangis.
"Walaupun saya sudah tidak sekolah lagi tapi saya tidak sebodoh itu untuk tidak tau membedakan gula dan garam." ucap nya yang tetap tersenyum.
Pria itu tampak membuang wajah nya dan tak ingin melihat ke arah gadis itu.
"Karna saya kan menantu Papa!" sambung nya lagi dengan senyuman cerah dan mata yang seperti sabit itu.
......................
Dua Minggu kemudian
Kini tak ada lagi apartemen yang cukup besar, hanya ada apartermen basement dengan fentilasi udara yang buruk dan harga yang paling murah.
"Kamu serius kita tinggal di sini? Papa kamu mana?" tanya wanita itu pada putri nya.
Gadis itu hanya diam dan mengangguk, "Papa belum bisa di hubungi." jawab nya dengan lirih.
Mrs. Laura berdecak, sudah kejadian buruk menimpa nya dan sang suami malah menghilang tanpa jejak.
"Ma? Sam tadi udah buatin makan malam kita, nanti makan bareng Sam ya?" tanya nya yang mencoba mengalihkan pembicaraan agar sang ibu tak lagi kesal.
Wanita tak menjawab, namun saat makan malam tiba wajah nya langsung berubah seketika.
"Kamu mau Mama cepat mati?" tanya nya yang melihat telur goreng yang berwarna hitam pekat di satu sisi nya.
"Sam kan ga tau cara masak Ma," ucap nya lirih yang sudah berusaha sebaik mungkin.
"Kamu harus tau! Kamu sendiri lihat sekarang Mama seperti apa kan?" tanya wanita itu dengan nada dan raut kesal.
Gadis itu hanya diam dan menunduk tanpa membantah sang ibu. Ia tak tau jika wanita yang selalu bersikap lembut itu bisa berubah total saat kehidupan nya juga berubah.
"Pesan makanan! Kita tidak bisa makan seperti ini!" ucap nya yang selalu ingin kembali ke kebiasaan lama nya.
Samantha langsung melihat ke arah sang ibu dengan tatapan yang tak setuju, "Ma? Tapi nanti uang kita habis Ma."
"Tapi Mama mana bisa makan makanan seperti ini!" ucap Mrs. Laura yang tak menyukai makanan yang di buatkan putri nya.
"Tapi kalau Mama terus-terusan boros kita mau gimana Ma?" tanya Samantha yang mulai mendebat ibu nya.
"Bicara kamu sekarang malah keterlaluan ya? Kamu dulu waktu kecil minta apa aja pasti Mama usahain! Sekarang Mama cuma mau pesan makanan saja sudah kamu marah! Mau sombong kamu sekarang?" tanya Mrs. Laura pada putri semata wayang nya.
Gadis itu tak mengatakan apapun, mata nya berair dan beranjak pergi meninggalkan sang ibu.
"Sekarang kamu malah pergi?! Kamu juga mau ninggalin Mama?! Sam!"
"Samantha!"
Teriakan itu tak lagi di jawab, ia mengacaukan kerja part time nya hanya dalam seminggu karna ia memang tak pernah mengerjakan apapun.
Uang yang ia miliki semakin menipis, penagih hutang yang datang pada ia dan ibu nya menyita rumah dan barang-barang yang ia miliki termasuk semua kendaraan nya.
Kehidupan nya berubah 180 derajat hanya dalam beberapa bulan saja.
Orang tua yang kehilangan pekerjaan nya secara tiba-tiba dan sang ayah yang sudah sangat ketagihan berjudi hingga memiliki hutang di semua tempat serta sang ibu yang tiba-tiba mengalami kecelakaan sampai harus kehilangan tangan kanan nya.
Hubungan nya dengan kekasih nya pun mulai renggang, entah karna ia sudah memiliki 'teman ranjang' yang lain atau masalah yang ia miliki sekarang sudah semakin membuat nya menjauh dan pada akhirnya ia memutuskan hubungan nya.
"Hah..."
"Sekarang aku mau ke mana?" gumam nya lirih yang bingung.
__ADS_1
Gadis itu berusaha mencari pekerjaan baru dan tentu ia yang sebelum nya adalah seseorang yang memiliki kehidupan berkecukupan tentu tak tau mana tempat yang bisa ia masuki untuk bekerja atau tidak.
......................
Bandara Internasional Fiumicino, Italy
Mata biru yang gelap itu melihat takjub karna baru kali ini ia berpergian jauh bahkan sampai ke luar negeri.
Waktu sudah mulai memasuki liburan musim panas dan tentu kini pria itu yang meras gusar saat tau sang kakek kini sudah pernah bertemu dengan gadis nya membuat mengajak gadis itu ikut walaupun sebenar nya ia pergi untuk alasan pekerjaan.
"Ayo," ucap nya yang menarik tangan Anna tanpa membiarkan gadis itu merasa takjub lebih lama.
"Orang Itali banyak yang tampan ya Sir?" tanya Anna cengengesan saat ia melihat cuci mata nya dalam hal lain.
Ia tak bermaksud apa pun, namun ia juga hanya perempuan biasa yang juga menyukai tampilan menarik dari seseorang.
Lucas menoleh, ia mengernyit dan tak suka dengan apa yang baru saja terdengar di telinga nya.
Ia melihat ke arah gadis yang dengan penasaran menatap ke arah sekeliling nya dengan wajah yang tampak lebih berseri.
Pria itu tak menyukai nya, ia tak suka gadis itu memuji sesuatu yang lain selain diri nya.
Ia pun semakin menggenggam pergelangan tangan yang kecil itu dan menarik nya semakin erat.
"Auch!"
"Pe..pelan Sir!" ucap Anna yang meringis namun tentu tak akan di dengarkan sama sekali.
Seseorang mendatangi ia dan pria yang berada di samping nya.
Bahasa asing yang ia dengar dan tentu tak bisa ia tau apa arti nya, dan pria di samping nya pun dengan fasih berbicara bahasa asing itu di bandingkan menggunakan bahasa internasional.
Tak lama kemudian mobil mewah pun datang dan tentu Anna menaiki nya karna mobil itu ada untuk menjemput pria kaya yang berada di samping nya.
"Sir?" panggil nya sembari menatap ke arah pria yang berada di samping nya.
Lucas menoleh namun ia tak menjawab, ia memang cukup pendiam dan jarang berbicara namun sekali nya ia bicara pasti ada saja yang tak beres nanti nya.
"Tadi anda berbicara tentang apa?" tanya Anna dengan mata penasaran.
"Kenapa mau tau?" tanya Lucas mengernyit yang bingung mengapa gadis itu ingin tau hal seperti itu.
"Tidak apa-apa, hanya saja kalau seperti tadi anda terlihat seperti orang yang pintar!" ucap Anna dengan senyuman yang cerah tanpa keterpaksaan sama sekali karna ia begitu senang bisa berpergian keluar negeri.
"Sebelum nya aku tampak bodoh?" tanya Lucas mengernyit.
"Eh?" Anna tersentak, bisa aja ia salah bicara dan pada akhirnya hanya menempatkan diri nya dalam masalah.
"Biasa nya anda terlihat tampan dan sekarang anda terlihat tampan dan pintar!" ucap nya dengan senyuman sembari mengacungkan dua ibu jari nya.
Lucas tak terpengaruh, wajah yang datar dan mata yang tajam itu melihat gadis itu tanpa senyuman.
Ia benci saat gadis itu mengatakan ada pria yang tampan selain diri nya, mungkin saja bukan benci tapi lebih dekat dengan kata cemburu.
Dan dalam mengatasi emosi baru yang berbentuk 'kecemburuan' ia masih tak bisa.
Anna tersentak, tangan pria itu memegang rahang nya walau masih tak mencengkram sama sekali.
"Benarkah? Aku tampan? Padahal kau tadi baru memuji orang lain?" tanya nya sembari melihat pipi bulat yang mengembung bagai mulut ikan itu.
"Hum? Ka..kapan saya bilang begitu?" tanya Anna lirih yang tak sadar saat ia mengatakan sesuatu yang lepas begitu saja di bibir nya.
"Kau bahkan lupa?" tanya Lucas yang mulai menarik tangan kanan gadis itu dan membuat tubuh kecil itu langsung mendekat ke arah nya.
"Menurut mu apa yang harus ku lakukan untuk anak nakal seperti mu?" bisik nya dengan suara yang rendah namun membuat telinga gadis itu terasa geli.
"Sa..saya anak baik Sir..." jawab Anna tersenyum kaku berbeda dengan senyuman yang tadi ia keluarkan.
"Kau membuat ku kesal, itu artinya kau anak yang nakal." ucap Lucas sekali lagi.
Ia menarik pinggang ramping itu dan mengecup leher jenjang gadis yang berada dalam pelukan nya.
Sedangkan mata biru gadis itu melirik ke arah supir yang membawa mobil mereka.
"S..Sir.. a..ada orang lain, anda ha..harus berhenti..." ucap nya lirih sembari mencoba menggeliat.
Lucas menatap wajah gadis itu dengan datar seperti tak memperdulikan ucapan nya.
"Non guardare indietro," (Jangan melihat ke belakang) ucap pria itu yang memperingkatkan supir yang membawa mobil nya itu.
"Si signore." (Baik, Tuan) jawab pria yang tengah mengemudi itu.
Anna hanya berkedip tanpa tau apa yang di bicarakan.
Bahasa Inggris saja ia tak lancar apa lagi bahasa yang lain selain bahasa negara nya?
Lucas kembali menoleh ke arah gadis itu, ia menatap dengan tatapan yang menginginkan sesuatu dan mulai menarik rambut gadis itu ke arah nya sebelum menautkan bibir nya.
Humph!
Anna tersentak, ia ingin meringis namun suara nya terbungkam.
Tangan yang masuk ke dalam sweter longgar yang ia kenakan dan meremas apa yang ada di balik nya dengan kuat tanpa memikirkan apa ia akan merasa suka atau malah merasa sakit.
Gadis itu tak bisa memberontak sama sekali, selain tenaga nya lebih kecil ia juga tak memiliki keberanian sana sekali.
Tangan nya meremas kemeja hitam pria itu dan menahan nya sembari berharap ia segera sampai ke tempat tujuan yang bahkan ia sendiri tak tau akan berhenti di mana nanti nya.
...
Hotel
Kamar presiden suite yang tampak mewah dan besar itu bagaikan sebuah rumah, namun kali ini gadis itu tak begitu mengangumi nya seperti biasa karna ia memang tak di beri kesempatan untuk itu.
Sweater berwarna oranye dengan rok pendek yang berwana mint serta sepasang pakaian d*lam berwana hitam yang terlihat jatuh di lantai.
Plak!
Plak!
__ADS_1
"Ukh...."
Gadis itu meringis dangan tubuh yang bergejolak dan tersentak setiap kali tangan kekar dan besar pria itu menampar ke b*kong nya.
"Si.. Sir... Ma.. maaf..." ucap nya yang tak tau kesalahan nya.
Plak!
Pria itu tak menjawab, entah ia sedang menghukum atau ia yang memang menyukai saat melihat seseorang merasakan sakit.
Seperti permohonan yang selalu ia dengar saat ia menguliti seseorang yang bahkan tak bisa ia lihat wajah nya dan perasaan senang saat melihat darah serta perasaan puas saat ia mendengar ampunan.
"Sa...saya melakukan kesalahan?" tanya nya dengan lirih pada pria itu.
"Aku hanya ingin menghukum mu saja," ucap nya ringan tanpa merasa kesenangan nya membuat seseorang merasakan sakit.
'Peach' yang sebelum nya memiliki warna putih susu seperti kulit gadis itu kini tampak memerah.
Anna tak mengatakan apapun lagi setelah pertanyaan nya terjawab, menghadapi perubahan sikap yang tiba-tiba sudah biasa ia temui.
Lucas menarik tangan gadis itu hingga membuat nya duduk di pangkuan nya.
Tubuh polos tanpa sehelai benang pun dengan rambut ikal yang bewarna pirang itu duduk di atas paha nya.
Pria itu tersenyum tipis, ia mendapatkan kepuasan yang ia sendiri bingung bagaimana menjelaskan nya.
Tangan nya memegang dagu kecil gadis itu dan menatap nya, sedangkan tangan nya yang lain mengusap punggung yang teras lembut dan halus kecuali di bekas luka tikam yang masih tertinggal.
"Katakan kau milik ku," ucap nya lirih dengan mata yang membutuhkan pengakuan segara.
"Saya hanya milik anda," jawab Anna tersenyum walau ia merasa takut dan tak nyaman.
Pria itu tak mengatakan apapun lagi namun mata nya menunjukkan kepuasan tersendiri.
Tangan nya yang awal nya hanya memegang dagu gadis itu turun mengusap lengkung leher nya dan mulai mengusap Piramida yang runcing itu.
Tidak terlalu besar atau pun tidak terlalu kecil, cukup untuk berada dalam genggaman nya.
"Uhh!" Anna tersentak, pria itu memilin ujung yang runcing itu dengan gemas dan mulai menekan nya seperti tombol dalam remot game.
Lucas mendekat ke arah telinga gadis itu, "Reaksi yang bagus," bisik nya pada gadis yang berada dalam pangkuan nya.
Anna diam tak menjawab, dan hanya membiarkan pria itu mengendus nya.
"Letakkan kedua tangan mu di pundak ku," ucap Lucas pada gadis itu.
Anna mengangguk dan menurut begitu saja karna ia memang gadis yang di latih untuk menjadi 'penurut' pada pria itu jika tak ingin mati mengenaskan tanpa di kenali.
Lucas menghirup aroma yang membuat candu, warna terang dari rambut itu membuat nya merasa nyaman.
Ukh!
Anna tersentak, ia meremas kemeja pria yang sudah membuka jas nya itu, bahu nya terasa sakit saat ia tau Lucas mulai mengigit nya dengan gemas walau masih belum sampai terluka dan meneteskan darah nya.
......................
Jerman
Mansion Keluarga Damian
Pria tua itu tampak jengah mendengarkan ocehan putri tertua nya.
"Papa harus melakukan sesuatu! Kalau Lucas sampai menghancurkan nama keluarga kita? Dia masih anak-anak sehingga tidak memikirkan sesuatu dengan dewasa," ucap Veronika pada sang ayah.
"Dia sudah berusia 30 tahun, apa dia masih tampak seperti anak-anak?" tanya nya sembari menatap ke arah putri nya.
"Tentu! Dia membawa perempuan tanpa asal usul ke sini! Kita bahkan tidak tau apa tujuan gadis itu mencoba mendekati Lucas kita," ucap nya yang ingin sang ayah menyerahkan kekuasaan sementara JNN pada nya.
Mr. Ehrlich tampak berpikir, pria tua itu membaca perkembangan dari perusahaan yang begitu ia cintai itu.
"Dia menaikkan saham sebayak 5.45 % dalam tiga tahun terakhir dan membuat proyek mesin untuk mobil digital, dia bukan tidak tau apapun." ucap nya dengan suara serak nya khas seorang manula.
Veronica tampak begitu kesal, dulu saat kakak-kakak nya masih hidup ia dan saudari nya yang lain tak begitu di pedulikan walupun ia memang masih mendapatkan hak yang sesuai.
Dan bahkan kedua Kakak laki-laki nya itu melakukan kesalahan fatal dan meningkatkan anak-anak nya kini malah anak-anak itu yang mendapatkan perhatian walau pun saat bertemu sang ayah tampak memberikan kebencian yang mendalam.
"Baik, saya rasa saya memikirkan hal yang salah." ucap nya tersenyum dan beranjak keluar.
Saat nanti aku selesai membunuh jal*ng itu aku juga membunuh mu! Dasar manusia tua si*lan!
Ia merasa geram namun ia tak bisa memprotes karna sang ayah masih memiliki kekuasan nya.
......................
Italy
Hotel
Lucas melihat ke arah gadis yang tertidur di samping nya, ia tak merasa risih berdekatan dengan seseorang saat seseorang itu adalah gadis yang membawa sejuta ketenangan untuk nya.
Tangan nya mengusap rambut gadis yang sudah tertidur saat ia kembali setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
Karna setelah ia memberikan hukuman kecil yang sedikit panas untuk gadis itu tadi siang, ia pun pergi karena ada hal yang harus ia lakukan.
"Sir?" Mata biru itu terbuka melihat ke arah pria yang menganggu tidur cantik nya itu.
Lucas diam tak menyahut namun mata nya yang berwarna abu-abu itu melihat nya dari dekat.
"Anda sudah pulang?" tanya Anna pada pria itu saat tak ada jawaban apapun.
"Aku tidak bisa tidur," ucap pria itu lirih.
Anna menatap dengan mata biru yang tampak sayu karna mengantuk itu, ia membuka tangan nya dan memegang tangan pria itu.
Lucas mengernyit dengan bingung saat gadis itu menggenggam tangan yang berukuran lebih besar.
"Sekarang anda bisa tidur, saya akan menjaga anda..." ucap nya pada pria itu dan kembali memejam.
Lucas terdiam dan kemudian ia tanpa sadar tersenyum tipis, "Siapa yang menjaga siapa? Anak nakal."
__ADS_1