Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Mandi


__ADS_3

Rumah Mr. Harris


Samantha kembali ke rumah nya, suasana hening yang tak terdengar keberadaan adanya orang lain di rumah nya.


"Mama Papa belum balik?" gumam nya yang membuka isi lemari es nya dan mengambil air dingin.


Gadis itu masih bersikap seperti biasa, ia tidak tau apapun yang terjadi. Gadis itu mencari camilan nya dan menelpon kekasih nya sama seperti yang biasa ia lakukan.


Pukul 12.56 am


Samantha terbangun, ia keluar dari kamar nya dan melihat ke arah rumah nya yang masih tampak begitu kosong.


"Mama Papa belum balik?" gumam nya yang mencari keberadaan kedua orang tua nya namun tak menemukan apapun.


"Apa hari ini lembur lagi? Tapi kenapa ga ada yang ngabarin?" gumam nya yang ingat tak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk ke ponsel nya dari kedua orang tua nya.


......................


Italia, Roma


Mata pria itu terbuka lebar, ia sudah tak tahan ingin kembali ke mansion nya.


Tak ada yang ia ganggu, ataupun sesuatu yang membuat nya senang.


Ia bagi saja melakukan panggilan video tadi dan gadis itu pun tertidur tanpa sadar karna mereka tak membuat percakapan apapun.


"Anak itu nyenyak sekali, padahal aku tidak bisa tidur!" decak nya yang begitu kesal melihat gadis itu seperti tenang saja dan tak bahkan sangat nyaman saat jauh dari nya berbeda dengan ia yang seperti kebakaran bulu mata.


"Apa yang harus ku mulai nanti waktu kembali?" gumam nya yang memikirkan apa yang ingin ia lakukan dengan 'peliharaan' cantik nya itu.


......................


Mansion Damian


Anna membuang napas nya lirih, terasa begitu damai tanpa malaikat maut yang tinggal dengan nya.


Sebelum nya ia memang pernah begitu bidan sampai mau mati namun karna kali ini yang bisa kembali ke sekolah membuat nya tak begitu membosankan saat kembali ke mansion yang kaku itu.


"Aku harap dia ga pulang lagi, semoga pekerjaan nya banyak sam-"


"Siapa yang tidak akan pulang lagi?"


Deg!


Anna tersentak, bahkan doa yang ia panjatkan belum selesai namun setan yang mengusik nya sudah datang.


Ia berbalik menatap ke arah pria yang terlihat baru saja kembali itu.


"Anda sudah kembali Sir?" tanya nya yang langsung tersenyum menyambut pria itu.


Lucas tak menjawab dan hanya diam dengan wajah dingin nya dan menatap ke arah senyuman gadis itu.


Auch!


Anna langsung meringis, pipi bulat nya tertarik membuat nya meringis sembari menatap ke arah pria itu.


"Sir?" panggil nya yang menatap ke arah pria yang menarik pipi nya dengan tanpa merasa bersalah.


"Kau diet? Kenapa sekarang jadi kecil?" tanya Lucas yang menarik pipi gadis itu seperti makanan yang kenyal.


"Ti..tidak..." jawab Anna yang masih meringis sembari menahan tangan yang mencubit gemas pipi nya.


Lucas melepaskan tangan nya, ia menatap ke arah gadis itu dan mendekat.


Rambut yang halus dan juga harum membuat indera penciuman nya metasa nyaman, ia menarik tubuh kecil dan memeluk nya.


Anna tak melawan atau pun memberontak, ia sudah terbiasa dengan pria yang sangat suka mengendus nya itu.


"Datang bulan mu sudah selesai?" tanya Lucas sembari melepaskan pelukan nya.


"Sudah," jawab Anna dengan jujur tanpa memikirkan konsekuensi dari jawaban nya.


"Eh? Belum Sir!" sambung nya lagi yang ingat agar pria itu tak melakukan apapun pada nya.


"Mana yang benar? Jangan membuat jawaban lelucon." ucap Lucas yang langsung memandang tajam dan membuat nyali gadis itu menjadi ciut seketika.


"Sa..saya pikir seperti nya sudah..." cicit gadis remaja berumur 17 tahun dengan dengan senyuman gusar.


Lucas tersenyum tipis, ia mengusap kepala kecil itu dengan lembut.


"Kalau begitu, kau mau mandi bersama?" tanya nya sembari menyelipkan rambut yang bergelombang itu di balik telinga Anna.

__ADS_1


"Ha? Apa?" mata biru itu membulat seketika saat mendengar nya.


Ajakan macam apa itu?


"Ayo? Anak yang baik harus mandi sore kan?" tanya Lucas yang mengatakan isyarat halus jika gadis itu harus menurut.


Anna terdiam, ia hanya tersenyum melihat pria itu dan menatap dengan mata biru yang terpancar jernih.


...


Satu tarikan membuat sweter berwarna coklat muda itu turun ke lantai, rok yang sepanjang betis itu pun juga sudah turun hingga ke mata kaki.


"Sa..saya bisa membuka nya sendiri Sir..." ucap gadis itu yang merasa begitu canggung saat pakaian nya di lucuti satu persatu dengan situasi seperti itu.


Lucas berhenti sejenak, ia menatap gadis itu dan mencium pipi yang masih terasa begitu harum itu sembari membuka kaitan penyangga dari Piramida yang runcing itu.


Anna tertegun, ia tak mengatakan apapun dan hanya membulat kan mata yang biru itu.


Lucas tertawa kecil melihat nya, memang benar, jika hanya gadis itu yang mampu membuat nya merasakan suatu kepuasan dan kesenangan tersendiri.


Pria itu melihat ke arah kain segitiga yang masih terpasang rapi, ia menarik nya hingga membuat nya terlihat seperti berlutut pada gadis itu.


Cup!


Anna langsung tersentak, ia menoleh ke arah pria yang menengandah menatap ke arah nya dengan senyuman tipis dan tangan yang langsung refleks menutupi bagian sensitif nya itu.


"Sana, masuk." ucap Lucas sembari bangun dan kembali berdiri.


"I..iya..." jawab Anna lirih yang mulai beranjak masuk ke dalam bath up yang sudah di siapkan pria itu.


Plak!


Auch!


Suara nyaring itu, langsung di ikuti dengan ringisan yang membuat pria itu merasa senang sedangkan gadis itu merasakan panas di bagian b*kong nya akibat pukulan pria itu.


Anna terdiam, ia tak berani melihat kemana pun termasuk mencoba membandingkan kamar mandi yang 10 kali lebih mewah di bandingkan yang berada di kamar nya.


Gadis itu hanya melihat ke arah bayangan nya, ia hanya berharap pria itu tak melakukan hal yang lebih.


Suara keciprat air yang keluar, saat pria itu ikut masuk ke bath up membuat Anna tau jika kini pria itu sudah berada di belakang tubuh nya.


Otot nya keras sekali...


Lucas menyiram punggung yang memiliki warna kulit seputih susu itu dengan air busa yang merendam tubuh kedua nya.


Anna dapat merasakan sentuhan dari ujung jemari yang mengenai permukaan kulit nya setiap kali pria itu mencoba membilas nya.


Lucas mendekat, suara napas nya yang terasa hangat dapat di rasakan di leher jenjang gadis itu.


"Bagaimana sekolah mu?" tanya Lucas pada gadis itu.


Ia tak lagi bisa mendengarkan percakapan gadis itu karna jarak nya sudah begitu jauh namun jika masih hanya seputar di negara yang sama alat itu masih berfungsi.


"Ba..baik saja..." jawab Anna lirih yang takut pria itu bertanya tentang seseorang yang mengajak nya menjalin hubungan.


Karna ia merasa pria itu seperti peramal yang bisa tau apapun yang ia katakan atau ia lakukan.


Lucas tak mengatakan apapun, ia hanya menciumi lengkung leher gadis itu dari belakang sembari mengendus bahu putih yang mengilap licin karena masih ada busa-busa dari bak mandi yang menyelimuti nya.


"Aku menghukum mereka sedikit," ucap Lucas setelah puas menciumi leher jenjang itu dan kini membuat tubuh kecil itu bersandar di tubuh bidang nya yang penuh dengan otot itu.


"Mereka?" tanya Anna mengulang sembari mencoba menggerakkan tubuh nya karna posisi yang di buat pria itu membuat nya tak nyaman.


"Ya, mereka." ucap Lucas yang juga ikut bergerak karna tubuh gadis itu seperti cacing yang terus menggeliat.


Anna mencoba memutar ingatan nya mencari siapa yang di maksud sampai ingatan nya tertuju pada sang ayah yang bahkan tak ingin ia akui sebagai ayah nya.


"Maksud Anda ayah saya?" tanya nya pada pria itu.


"Hm, siapa lagi selain dia? Aku membuat nya sedikit sulit sekarang." ucap Lucas yang terlihat ingin mendapatkan reward dari apa yang ia lakukan.


"Wanita yang bersama ayah mu juga, dan kau mau yang lebih lagi? Aku bisa membuat nya menginginkan kematian nya segera." sambung pria itu yang sangat tau bagaimana cara nya menghancurkan hidup seseorang.


Anna tak mengatakan apapun, namun bukan berarti ia merasa iba dan kasihan.


"Kalau begitu anda bisa lakukan apapun," ucap nya lirih pada pria yang kini mengusap perut rata nha di dalam air.


"Apapun?" tanya Lucas mengulang. Ia sudah berpikir jika gadis itu pun menginginkan hukuman untuk satu keluarga itu tanpa melihat siapa orang nya.


"Ya," jawab Anna sekali lagi.

__ADS_1


"Tak ada hadiah untuk ku?" tanya Lucas pada gadis itu.


Anna berbalik, setiap kali ia bergerak air di dalam bath up yang penuh itu tumpah, "Anda mau apa Sir?" tanya nya melihat ke arah mata yang kini menatap nya dengan maksud yang lain.


Gadis itu bisa memikirkan nya, hadiah?


Pria itu bahkan lebih kaya dari nya namun menginginkan hadiah?


Lucas tak menjawab, ia hanya memegang dagu gadis itu dan menyuruh nya merasakan sendiri.


"Kau menduduki sesuatu yang keras kan?" tanya nya menatap ke arah wajah yang tampak polos tabpa polesan make itu hingga menampilkan beberapa frekles di pipi yang putih susu itu saat di perhatikan dari dekat.


"Hum? Ya?" Anna tau karena ia sudah merasakan nya sejak tadi maka dari itu ia terus bergerak agar tak menduduki nya.


Lucas menghela napas nya, ia menarik dagu gadis itu dan membuat wajah anak yang masih remaja itu mendekat ke arah nya.


"Ulang tahun mu 8 bulan lagi kan?" tanya nya saat memerhatikan wajah yang hanya berjarak beberapa Senti dari nya saja.


Anna tak menjawab, ia merasakan hidung yang bertabrakan dengan hidung mancung nya dan bibir yang menyentuh dagu serta sudut bibir nya.


"Aku takut aku tidak bisa tahan sampai kau mencapai usia dewasa," sambung pria itu dengan suara yang berat.


Tangan yang terus mengusap dan menginginkan tubuh gadis yang bersama nya saat ini.


Anna diam, jujur saja awal nya ia hampir terhanyut namun kembali tersadar saat pria terus menggerakkan tubuh nya hingga membuat kedua bagian sensitif itu bersentuhan.


"S..Sir..." panggil nya lirih sembari mendorong pelan dada bidang itu dan mencoba lebih naik agar tak sampai jatuh dan membuat jamur tumpul itu masuk ke dalam tubuh nya.


Lucas tak menjawab, ingin rasa nya ia segara menarik tubuh gadis itu dan membuat nya merasakan sesuatu yang sangat ia nanti.


"Ba..bagaimana dengan yang anda lakukan di sana? Apa anda bertemu dengan teman baru?" tanya Anna yang gugup namun menimpali kegugupan nya dengan wajah cantik nya yang tersenyum.


Lucas tak menjawab, ia yang sudah menahan sesuatu sampai ke ubun-ubun mana mungkin bisa lagi memikirkan hari nya saat berada di Itali?


"Kalau masuk sedikit tidak apa-apa kan?" bisik nya dengan suara gemetar dan berat.


Anna tersentak, tubuh nya meremang dan dapat merasakan apa yang di inginkan pria itu pada nya.


"I..itu... apa ma..mau saya..." ucap nya yang mencoba menawarkan hal yang biasa mereka lakukan.


Mana ada yang nama nya masuk sedikit?


Batin gadis itu yang tak mau terjebak dengan rayuan pria tampan yang mempesona itu.


Lucas berdecak, namun ia keluar dari air dan duduk di pinggir bath up.


"Lakukan," ucap nya sembari menyatukan rambut coklat yang basah itu dengan satu tangan nya.


Anna menarik napas nya, ia tak begitu menyukai nya namun ia juga harus melakukan nya untuk tetap menjaga sesuatu yang ingin ia berikan dengan seseorang yang nanti nya benar-benar ia sukai.


Tubuh pria itu bergetar, napas nya semakin berat dan menatap wajah yang tampak tengah menelan nya itu.


"Yah, that's good..." gumam nya meracau saat tau gadis itu sudah semakin mahir bermain dengan lampu gantung nya itu.


......................


Rumah Mr. Harris


Samantha yang baru saja kembali bermain saat tadi keluar bersama pacar nya pun masuk ke dalam rumah nya.


Suara gaduh terdengar, ia tersentak karena sebelum nya tak pernah mendengar kedua orang tua nya bertengkar hebat.


"Kau bilang mau adopsi sekarang?! Kita aja sudah mulai sulit!" ucap wanita itu yang berteriak pada sang suami.


"Adopsi? Karna kau aku jadi tidak tau kalau anak itu masih hidup," jawab pria itu yang kini bertengkar karna memikirkan hal yang berbeda.


Mengingat mantan istri nya saat sama-sama menghadapi masa yang sulit membuat nya mulai merasa bersalah juga dan akhirnya ingin sedikit memembus pada pada putri yang tak pernah ia peluk sebelum nya.


"Memang nya kau pernah peduli sama anak itu? Kenapa tiba-tiba sekarang mau jadi ayah yang baik?!" tanya Mrs. Laura dengan meninggikan suara nya.


"Itu bukan urusan mu! Aku akan mengambil hak asuh nya!" ucap Mr. Harris yang bersih kukuh.


Mrs. Laura pun langsung memegang tangan suami nya. "Lalu Samantha? Kau mau bilang apa sama dia?" tanya nya pada sang suami.


Pria itu diam sejenak, ia begitu menyayangi putri cantik nya karna sejak kecil ia sudah berkontribusi dalam mengurus nya.


"Dia akan mengerti," ucap Mr. Harris yang langsung masuk ke kamar nya.


Mrs. Laura tampak begitu kesal. Ia berulang kali terus mengumpat.


"Kenapa anak itu tidak mati bersama ibu nya?! Tidak! Aku harus singkirkan anak itu dulu!" ucap nya yang gelisah dan tenggelam dengan ketakutan nya.

__ADS_1


Samantha mengernyit, ia tak mengerti apa yang di bicarakan kedua orang tua nya dan siap yang di maksud dalam perkataan itu.


__ADS_2