Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Berita


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Universitas.


Mata yang melihat ke arah gadis di samping nya, "Kau masih mengabaikan ku? Ayolah..."


Anna menutup buku nya, ia melihat ke arah daun yang jatuh di musim gugur itu.


"Kau masih kedinginan?" tanya Gevan yang selalu mencoba membuka pembicaraan.


"Kenapa tanya itu?" Anna mengernyit menatap ke arah pria di samping nya.


"Kau masih pakai jaket," ucap Gevan yang menatap ke arah pakaian yang di kenakan oleh gadis di depan nya.


"Kamu ga kedinginan?" tanya Anna pada pria yang berada di samping nya.


"Aku? Aku penuh dengan hawa panas," ucap Gevan sembari mengedipkan mata nya.


"Aku juga panas liat kamu! Bawaan nya jadi emosi," ucap Anna yang langsung menggelengkan kepala nya tak termakan dengan godaan itu.


Gevan tertawa kecil, ia melihat ke arah gadis yang tak mau bertemu dengan nya di luar wilayah kampus.


Bahkan saat di pelajaran atau pun ketika ia mengikuti nya gadis itu masih terus menghindari nya seperti ia yang tengah memiliki virus yang sangat mematikan.


"Dia serius pada mu?" tanya nya yang terus melihat dari bawah karna kepala nya bersandar di atas meja yang di tempat kan di taman-taman kampus.


"Hum?" Anna menoleh, tangan nya berhenti mencatat inti sari buku untuk beberapa saat.


"Maksud ku Sugar Daddy mu, kau patuh sekali dengan dia." ucap Gevan yang tak mengerti mengapa gadis yang keras kepala dan tampak tak akan menundukkan kepala nya itu bisa begitu patuh dan menurut pada seseorang.


Anna diam tak mengatakan apapun, tak mungkin juga ia mengatakan pria yang bersama nya saat ini sangat berbahaya.


"Ann? Mau ku beri saran?" tanya Gevan yang masih menatap dengan mata hijau nya yang bersinar.


Anna tak menjawab apapun, namun sorot mata nya terlihat seperti mendengarkan.


"Karna dia masih menyayangi mu sekarang, simpan apapun yang dia berikan karna mungkin kau akan membutuhkan nya kalau dia membuang mu," ucap nya dengan wajah yang tampan serius dan kali ini tak terlihat tengah bermain-main.


Anna tersentak, namun mimik wajah nya tampak tak senang mendengar nya. Mungkin saja karna pria sudah berhasil memanipulasi pikiran nya hingga ia kehilangan diri nya sendiri.


"Dia tidak akan buang aku! Lagi pula dia tidak akan melakukan nya!" ucap Anna yang kali ini memberikan kalimat sanggahan.


Gevan tertawa kecil mendengar nya, senyuman yang tampak meragukan apa yang baru saja ia dengar.


"Kenapa ekspresi mu begitu?" tanya Anna yang merasa tak terima.


Gevan pun bangun dan duduk dengan tegap, ia tau orang-orang dewasa seperti itu hanya egois karena ia mengenal orang seperti di hidup nya.


"Kau pikir orang seperti itu bisa melakukan apa saja untuk mu? Pernikahan bukan sesuatu yang mudah, pertukaran milliar dollar dan perjanjian bisnis. Bukan hanya sekedar pasangan yang datang ke pesta dan di tunjukkan untuk di gandeng." jawab nya yang memang juga bukan kesalahan dan kebohongan.


"Maksud mu aku bukan sesuatu yang bernilai? Kamu salah Gev, dia butuh aku." ucap Anna yang masih dengan rasa keras kepala nya.


Ia tak bisa menerima apa yang ia dengar, rasa nya telinga nya memanas dan kepala nya ingin meluap karna amarah.


Padahal ia dulu sangat ingin kabur dan lari tapi kenapa sekarang ia sangat marah mendengar nya?


"Dia membutuhkan mu? Kenapa?" tanya Gevan dengan mengerutkan dahi nya dan menunggu jawaban gadis cantik itu.


"Dia butuh aku karena-"


Deg!


Anna tersentak, ia baru mengingat sesuatu belakangan ini.


Gaun dan sepatu, membedakan seseorang dari visual gambar, warna yang ia pakai tampak cocok atau tidak.


Pria itu mengatakan semua nya, ia tampak tau padahal dulu mengaku tak bisa membedakan bentuk wajah dan warna.


Tunggu! Sejak kapan dia bisa membedakan warna sepatu ku?


Anna tersadar, padahal hal itu sudah cukup lama namun ia tak memperhatikan nya sampai pembicaraan hari ini mengingatkan nya.


"Karna apa Ann?" tanya Gevan sekali lagi yang mendesak.


"Karena..." Anna tak bisa melanjutkan ucapan nya.


Satu-satu nya nilai yang ia punya mengalahkan semua wanita yang di temui pria itu karna ia memiliki warna dan bentuk yang jelas.


Namun jika pria itu pun sudah bisa melihat semua nya tanpa diri nya maka arti nya ia tak akan di butuhkan lagi kan?


"Aku pulang duluan Gev," ucap Anna yang yang memilih pergi tanpa bisa menjawab.


Ia langsung beranjak mengambil ponsel nya dan menelpon sang supir untuk datang menjemput.


......................


Cafetaria

__ADS_1


Mata yang berwarna gelap namun sedang memakai softlens hijau itu tampak berbinar.


Beberapa waktu lalu ada seseorang yang menawarkan beasiswa pada nya, memang orang asing dan mungkin rawan penipuan.


Namun jika hal itu penipuan kenapa ia harus tes dan bersaing dengan 300 peserta lain nya untuk lolos?


"Kau belum tamat sekolah? Sayang sekali..." ucap pria itu yang tampak enggan bertemu dengan satu satu finalis yang lolos.


"Ya? I.. itu saya bisa ujian menggunakan paket..." ucap Samantha yang gugup dan bersemnat saat ia bisa melanjutkan pendidikan nya.


"Tapi karna nilai mu cukup tinggi kami juga akan membiayai ujian kelulusan mu dan biaya dari kuliah mu. Tentu saja setelah tamat kau harus memberikan partisipasi untuk yayasan kami." ucap pria itu yang menerangkan.


Samantha mengangguk dan kemudian pria yang tampak sudah cukup berumur itu menerangkan prosedur dan tentu apa yang harus di raih nya karna ia melanjutkan pendidikan dalam sponsor yang di berikan seseorang.


Pria yang berada di dalam cafe itu dengan segelas macha yang tak manis di cangkir nya tersenyum kecil.


Walaupun kemenangan itu di lewatkan dengan ujian penyaringan peserta namun gadis itu akan tetap di berikan perlakuan yang spesial karna berdasarkan dari rekomendasi nya.


"Dia banyak tersenyum," gumam nya yang memperhatikan mimik wajah seseorang dari meja yang cukup jauh itu.


Pria itu menghela napas nya yang tampak lelah, ia sedikit merasa kasihan dengan hidup para gadis itu walaupun biasa nya tak memiliki rasa kasihan.


"Padahal aku yang membawa nya pertama kali..." gumam nya lirih.


Memang yang melakukan penyanderaan adalah sepupu nya namun yang pertama menculik gadis itu bukan lah Lucas namun diri nya atas dasar perintah.


Dan ia sendiri yang melempar gadis dengan mata biru bersinar itu pada sepupu gila nya.


......................


Mansion Damian


Gadis itu beranjak mendekat pada pria yang tampak duduk sendiri itu setelah ia menyelesaikan tugas kuliah nya.


"Luc..." panggil Anna lirih sembari memeluk pundak pria itu dari belakang.


Lucas tersentak, karna awal nya ia memang sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa?" tanya yang memutar tubuh nya dan melihat ke arah gadis nya sembari menarik tangan kecil itu agar jatuh ke pangkuan nya.


Anna tak menolak, ia duduk di atas paha pria itu dan menatap nya dengan sorot yang penuh tanda tanya.


"Anna?" panggil Lucas dengan nada bariton yang rendah dan membuat nya masuk ke dalam telinga dengan lembut.


"Menurut kamu kalau di kuku tangan aku bagus pakai yang mana?" tanya nya yang menunjukkan kuku yang terlihat di cat dan di berikan manik-manik cantik itu.


"Semua nya cantik," jawab Lucas sembari menggenggam tangan mungil itu.


"Jangan semua, kan aku mau nya pilih tangan yang mana? Luc?" ucap Anna yang sekali lagi memaksa pria itu memilih.


Semua motif dan juga manik-manik kuku nya sama, yang membedakan nya hanya lah warna.


"Kalau begitu yang ini," ucap Lucas yang menunjuk ke tangan sebelah kiri.


"Kenapa?" tanya Anna yang merasa bentuk kuku nya sama hanya warna yang berbeda namun pria itu memilih bagian kiri.


"Kau lebih cocok dengan warna biru," ucap Lucas dengan senyuman kecil.


Kini ia bisa sedikit menunjukkan ekspresi nya secara perlahan, Walaupun masih terkesan datar dan dingin namun wajah tampan itu kini sedikit memberikan respon yang variatif.


"Cocok warna biru? Bukan nya kamu ga bisa lihat warna?" tanya Anna dengan gugup.


"Oh itu?" ucap Lucas yang tampak dengan wajah yang mengatakan tentang ketidakpedulian nya.


"Kenapa kamu terlihat seperti itu?" ucap Anna mengernyit yang melihat ekspresi yang tampak tak ingin membahas nya.


"Kamu udah bisa lihat warna kan? kenapa kamu ga bilang sama ak-"


"Apa aku harus melaporkan nya pada mu?" potong Lucas dengan cepat dan membuat Anna terdiam beberapa saat.


"Bu... bukan nya kita sedang dalam hubungan?" tanya Anna yang terbata.


"Lalu? Apa itu arti nya aku harus melaporkan nya pada mu?" tanya Lucas sekali lagi.


Ia memang benar-benar tak tau bagaimana cara nya menjalin hubungan dan cara berkomunikasi yang benar.


Anna terdiam, walaupun pria itu dalam konteks bertanya namun reaksi dan wajah pria itu membuat nya salah menangkap maksud.


"Kau tau atau tidak kan bukan berarti yang berubah." ucap Lucas sekali lagi.


Anna masih terdiam untuk bebetapa saat tanpa mengatakan apapun karna ia sudah cukup terkejut sebelum nya.


"Kalau kamu sudah bisa lihat dengan baik bukan nya itu arti nya aku sudah ga di perlukan lagi?" tanya Anna yang membuka suara dengan bibir nya yang tampak gemetar.


Baru saja ia merasa memiliki sandaran namun pria itu sekaan sudah ingin pergi dari nya.


"Aku masih memerlukan mu, kau tau kan? Aku mencintai mu." ucap Lucas sembari mengesap leher gadis itu yang tercium begitu harum di hidung nya.

__ADS_1


Anna tak mengatakan apapun, ia membiarkan pria itu mencium lengkung leher nya walau ua tengah memikirkan sesuatu yang sedikit bertengkar di kepala nya.


......................


Satu Minggu kemudian.


JNN Grup


Diego telah lelah untuk mengatakan tentang tes, dan ia pun juga tak bisa melakukan nya diam-diam karna sulit untuk mendapat sampel dari sepupu nya.


Semua hilang bagai di telan oleh buih dalam lautan, cerita tentang kebenaran yang di ketahui dan di curigai menguap dan menghilang begitu saja.


Pekerjaan nya kembali normal dan sepupu nya tampak tak mengungkit masalah itu lagi.


"Seperti nya dia memang mau bermain-main dengan mu," ucap Diego yang menunjukkan data yang berisi tentang laporan pembukaan kas perusahaan.


"Wanita itu?" tanya Lucas sembari menaikkan satu alis nya dan menatap ke arah pria yang berbicara pada nya.


"Kemungkinan 80 %," jawab Diego yang menatap ke arah sepupu sekaligus nya atasan nya itu.


"Kenapa dia melakukan nya? Bukan nya tahun depan produk nya akan di luncurkan?" tanya Diego yang sedikit bingung bagaimana jalan berpikir wanita itu karna ingin mencari masalah padahal sedikit lagi akan ada nya proyek besar.


"Alasan nya? Dia sedang menantang ku," ucap Lucas yang menarik napas nya.


"Dan berikan pengawal untuk Anna, ada yang mengikuti nya dan juga pengawal untuk ku." ucap nya yang tau dalam beberapa waktu terakhir ada yang mengikuti diri nya.


"Baik," jawab Diego singkat.


"Ada yang mengikuti ku dan minta mereka untuk tidak menangkap orang yang mengikuti ku tapi mengawasi nya." ucap Lucas yang memberikan perintah tambahan.


"Kau membiarkan mata-mata ada di sekitar mu?" tanya Diego yang mengernyitkan dahi nya.


"Aku masih belum yakin tapi ku rasa wanita itu juga yang melakukan nya, dan kau tau kan? Stone Craft bukanlah sesuatu yang mudah." ucap Lucas yang tau apa yang ia hadapi.


"Biarkan saja wanita itu melakukan semua nya, karna nanti setelah dia pikir menang aku akan meremukkan nya," ucap Lucas yang berbicara sampai tak sadar pensil yang berada di tangan nya patah.


"Baik," jawab Diego yang keluar dari ruangan Presdir.


Ia tau untuk orang-orang seperti itu yang harus di gunakan adalah otak dan bukan nya otot.


Ia memang tak tau apa yang di pikirkan oleh sepupu nya yang jelas ia pahami pria itu tak akan kalah dalam pertempuran apapun.


......................


Skip


Anna menghentikan langkah nya, ia menatap ke arah dua orang yang baru keluar dari ruang makan privat itu.


Sedangkan ia saat ini tengah berada dalam perjalanan club' kuliah nya.


"Kalian saling kenal?" tanya Anna dengan mata biru nya.


Wanita yang ia kagumi itu bersama dengan pria yang datang ia kenal.


"Ya, kami kenal karna pather bisnis. Kalian juga saling mengenal?" jawab Luciana dengan senyuman tipis berserta dengan pertanyaan yang terdengar seperti tak tau apapun itu.


"Ya? Itu..." jawab Anna yang tergugup sembari melihat ke arah pria di depan nya.


"Di sini tempat club kuliah mu?" ucap Lucas yang menarik napas nya dan beranjak membawa gadis nya pergi dengan pindah ke sisi gadis yang berusia 21 tahun itu.


Anna terdiam, mungkin tak sengaja namun pria itu tak menyebutkan apapun tentang nya.


Luciana pun meninggalkan senyum cantik nya dengan pamitan yang tampak elegan dan beranjak pergi.


"Kalian kenal? Kenapa di sini? Tadi lagi ngapain?" tanya Anna pada pria yang berada di depan nya.


"Dia cuma rekan bisnis dan tadi juga pembicaraan tentang pekerjaan." jawab Lucas yang tak berbohong namun ia tak peka dengan perasaan sensitif.


Anna tak mengatakan apapun, mungkin pria itu tak bohong karna bahkan ada pembicaraan tentang bisnis di dalam club' malam.


......................


Tiga Minggu kemudian.


Universitas.


Langkah kaki itu berhenti saat sedang menuruni anak tangga yang berada di universitas besar dan bergengsi itu.


"Ini..." gumam nya lirih yang membaca berita di ponsel nya.


"Berkencan?" Suara yang terbenam itu hampir tak terdengar saat ia membaca artikel yang ia buka di halaman pertama briefing ponsel nya.


Berita kencan tentang dua pengusaha muda, menghebohkan?


Tentu saja di kalangan pengusaha karna berita seperti itu bisa membuat beberapa saham naik dan berapa saham perusahaan yang turun.


"Kenapa ada berita bohong begini?" ucap Anna yang mengganti tampilan layar ponsel nya dengan cepat agar tak melihat berita yang tak ingin ia baca itu.

__ADS_1


__ADS_2