Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Miss you


__ADS_3

Mata biru itu membuka secara perlahan, kapal nya masih terombang ambing, wajah nya pucat pasi karna ia mengalami mabuk laut.


"Nona? Anda sudah bangun? Kita akan sampai sekitar tiga jam lagi, anda bisa makan ini." ucap nya seorang pria yang memiliki banyak tato itu sembari memberikan makanan seada nya.


"Ya, terimaksih." jawab Anna lirih dengan wajah nya yang begitu pucat.


"Anda sakit? Kami memiliki beberapa perlengkapan obat, seharusnya sekarang kita sudah sampai tapi karna badai kemarin kapal nya keluar dari jalur." ucap pria itu yang mengatakan mengapa mereka terlambat sampai.


"Aku baik-baik saja, tapi kalian punya obat anti mual!" tanya Anna yang melihat ke arah pria itu.


"Baik akan saya ambilkan," ucap pria itu dan kemudian keluar mencari obat yang di minta oleh gadis itu.


Setelah beberapa saat Anna keluar, keadaan perut nya sudah membaik.


Orang-orang yang tampak di tempat nya saat itu terlihat mengerikan dan sangar namun orang-orang itu bisa ia percayai untuk saat ini.


Anna menghirup udara yang terasa segar tanpa ada nya polusi, laut yang di malam sebelum nya tampak begitu mengamuk kini sudah tenang.


Ia diam sejenak, mengusap perut nya yang ia berikan sedikit makanan karna memang tak memiliki selera sama sekali.


"Sayang? Sekarang kamu tinggal sama Mama ya? Mama bakal jagain kamu..." ucap nya lirih yang mengusap perut rata nya itu.


....


Dua jam kemudian.


Kapal yang memiliki ukuran lumayan besar itu berhenti di sebuah pelabuhan.


Gadis itu perlahan turun dan kemudian melihat ke arah sekeliling nya.


"Ayo nona? Kami akan mengantar anda ke tempat yang di tuju." ucap salah satu pria yang bertugas mengantar nya.


Anna menangguk, ia menatap ke arah pria itu sekilas dan memasuki mobil yang sudah menunggu kedatangan nya itu.


Wilayah pinggiran yang jauh dari kota, mungkin jika di peta pun wilayah itu hanyalah sebuah titik yang tampak tak berguna.


"Berapa orang yang tinggal di sini?" tanya Anna saat melihat ke arah pantai yang memiliki pemandangan bagus itu.


"Saya kurang tau karna saya bukan penduduk di sini," ucap pria itu.


Anna diam tak mengatakan apapun lagi, pantai yang ia lewati terlihat indah.


Kilauan biru itu begitu gemilang dan bersinar, begitu tenang dan damai melihat ke arah tempat yang luas tanpa batasan tembok.


Ia bebas sekarang.


Namun di balik kebebasan nya ia juga melepaskan cita-cita dan juga masa muda nya karna harus menanggung beban menjadi seorang ibu.


Setelah berjalan sekitar 30 menit dari pelabuhan, mobil berwarna putih itu berhenti di tempat yang terlihat seperti perumahan penduduk.


Dan lebih tepat nya di depan sebuah rumah yang cukup besar, walau tak sebesar mansion yang ia tinggali selama tiga tahun terakhir.


Anna masuk ke dalam wilayah di dalam pagar, mata nya melihat ke arah sekeliling dan menatap dengan menyeluruh.


Rumah itu di bangun selama dua Minggu dengan design yang sederhana namun elegan dan juga taman buatan yang memindahkan pohon kecil untuk di tanam.



Anna tersenyum, walau tak sebesar mansion pria itu namun bagi nya tempat itu sudah lebih dari cukup.


Ia seperti mendapatkan rumah impian nya.


"Urusan kami sudah selesai, dia yang akan membantu anda mulai sekarang." ucap pria itu sembari menunjuk ke salah satu wanita yang cukup tua itu.


Anna terdiam sejenak, wanita itu tak memiliki wajah ramah dan terlihat kaku.


"Perkenalan kan, Sa.. saya Anna..." ucap Anna yang memperkenalkan diri pada wanita tua yang berada di depan nya.


"Baik Anna, aku tidak akan memanggil mu nona karna di sini kau akan menjadi keponakan ku, mereka mengenal mu seperti itu." ucap wanita itu pada gadis di depan nya.


"Oh ya, jangan terlalu takut aku tidak akan memakan mu dan kau bisa panggil aku Bibi Camila," ucap wanita itu yang memperkenalkan diri nya.


Anna menangguk, ia mengikuti wanita itu untuk masuk ke dalam rumah yang akan ia tempati.


"Di sini ada sekitar 37 kepala keluarga dan kota kecil di sini juga ada di dekat pantai untuk wisatawan dan di sana lebih banyak kepala keluarga, lalu rata-rata pekerjaan orang di sini adalah nelayan." ucap Camilla menerangkan.


Anna mengangguk mendengar nya, sembari melihat ke arah rumah yang bagi nya begitu bagus.


"Dan kau bisa pakai ini," Ucap nya yang memberikan kartu identitas palsu untuk di gunakan sementara di tempat itu.


"Jangan sampai terlibat kepolisian atau kasus karna itu kartu nama palsu." ucap Camilla yang mengingatkan.


Anna menangguk sembari menerima apa yang di berikan oleh wanita itu.


"Varsha Arsene?" tanya nya yang menatap ke arah Camilla.


"Ya, karna kau keponakan dari ayah ku jadi nama belakang mu berubah," ucap wanita itu.


Anna tersenyum kecil, "Tidak apa-apa, lagi pula di nama asli saya, saya juga tidak pakai nama belakang ayah saya."


Wanita itu tak mengatakan apapun lagi, ia kembali melanjutkan pemandu di dalam rumah tersebut.


"Karna ke kota butuh waktu 40 Menit aku harap kau bisa ke sana dan belajar mengemudi, kunci mobil nya berada di bagasi dan rumah ini juga akan di jaga oleh 6 orang tapi berganti tiga shift dan pelayan yang membersihkan rumah ini ada 3 orang datang setiap pukul 8 pagi hingga selesai." ucap wanita itu.


"Saya baik-baik saja jika sendirian," ucap Anna yang tak masalah mengurus rumah nya sendiri.


"Untuk penjaga dia meminta nya karna untuk keamanan dan pelayan rumah juga kan kau sedang hamil." ucap Camilla dengan wajah datar nya.

__ADS_1


Anna menangguk, wanita itu berbicara dengan nada tegas dan dingin.


"Semua barang-barang mu ada di kamar, dan dokter akan datang sekitar satu jam lagi. Jika ada yang ingin kau ketahui atau butuhkan telpon saja aku."


"Ponsel yang berada di kamar mu sudah di beri nomor yang bisa kau hubungi dan lagi pula aku tinggal di samping rumah mu." ucap Camilla yang menunjuk ke arah bangunan berlantai dua di samping rumah gadis itu.


Anna tersenyum tipis, walaupun wajah wanita itu tak tersenyum dan dingin namun ia lebih bisa bernapas.


Camilla membuang napas nya saat melihat gadis itu begitu mudah tesbeyum pada seseorang.


"Jangan terlalu sering menunjukkan senyuman mu, kau masih muda dan cantik lalu akan menjadi ibu tunggal. Terkadang kita tidak tau apa yang biasa di pikirkan oleh orang lain." ucap Camilla yang memberikan sedikit nasihat.


Anna menangguk mendengar nya, wanita itu pun keluar dari rumah nya dan ia melihat ke arah pintu yang masih terbuka itu dan kemudian dua orang pria bertubuh tegap pun datang untuk berjaga di pos yang berada di dekat pagar.


"Seperti nya tidak terlalu buruk," ucap Anna dengan senyuman tipis.


Ia ke kamar nya dan melihat seluruh isi nya hingga lukisan besar yang berada brangkas di balik nya.


"Ini kan yang mawar?" gumam Anna dan kemudian menggeser lukisan itu.


Masih tampak seperti dinding biasa namun saat di geser akan seperti papan yang bergeser.


"Wah! Kayak di film yang orang kaya!" ucap nya yang mulai sedikit bersemangat.


Ia melihat ke arah brangkas yang hanya bisa di buka dengan sandi itu dan tentu nya ia sudah di beri tau sandi nya.


Mata nya membulat seketika, sejumlah uang yang cukup banyak, emas, perhiasan dan beberapa kartu kredit.


"Banyak sekali..." gumam Anna takjub namun ia segara beranjak mengambil tas nya.


Ia memang kabur namun bukan kabur tak membawa apapun.


Uang tunai yang ia kumpulkan selama tiga tahun ia bawa sebagian karna waktu yang sedikit dan ia memindahkan nya ke dalam ke brangkas itu.


"Sayang? Mommy punya banyak uang! Kita bakal baik-baik saja!" ucap Anna yang mengusap perut nya dan merasa lega.


Ia masih belum tau bagaimana berat nya mengurus bayi sendirian belum lagi dengan mental yang tak sepenuh nya pulih.


Anna turun dan berjalan ke dapur nya, mencari makanan untuk mengisi perut nya yang sangat sikit untuk makan.


Buah-buahan itu berada di depan mata nya, ia diam sejenak. Kali ini ia tak perlu ketakutan makanan yang ia masukkan ke mulut nya memiliki kandungan obat penggugur.


Anna membuang napas nya dan mengambil satu apel lalu mengupas nya.


"Tidak apa-apa..."


"Dia tidak akan menemukan ku..."


Ucap Anna lirih yang masih khawatir jika pria itu akan menemukan nya.


......................


Rumah sakit


Pria itu terbangun secara perlahan, kepala nya masih terasa begitu nyeri dan mata nya pun masih begitu sakit.


Karna ia di temukan pingsan akibat meminum obat yang berlebih tentu para penjaga nya yang tau langsung membawa nya ke rumah sakit.


Lucas diam sejenak, semua nya kembali atau mungkin lebih buruk?


Tak hanya sketsa namun kini penglihatan nya terganggu walau ia hanya melihat objek suatu benda.


Lucas tersadar, tempat itu bukanlah kamar nya dan tentu ia langsung bangun dengan melepaskan infus nya.


Baru dua langkah ia ingin berjalan, langkah nya terhenti ketika mendengar pintu ruangan yang terbuka.


"Anda sudah bangun Sir?" tanya salah satu perawat yang bertugas untuk memeriksa alat atau pun infus pasien nya.


Lucas tak mengatakan apapun, wajah yang tampak ramah itu bahkan tak bisa terlihat oleh nya.


Begitu buram dan abstrak hingga membuat mata nya semakin sakit.


"Anda harus istirahat dan menghabiskan infus nya," ucap wanita itu yang mendekat namun pria itu tampak memundurkan langkah nya.


Lucas masih berdiam diri, ia menatap arah seluruh kamar itu dan tak menemukan cctv dan memang bagian privasi seperti itu pasti akan di lindungi.


Perawat itu hanya tersenyum kaku melihat pasien nya yang menghindar, namun ia tak melupakan tugas nya dan tetap berjalan ke arah bagian infus lalu memeriksa hal yang mungkin di butuhkan oleh pasien VVIP nya itu.


Lucas diam sejenak, ia memperhatikan tubuh wanita dengan wajah yang tak bisa ia lihat. Langkah nya berjalan ke arah pintu dan kemudian mengunci nya.


Ia perlu mengkonfirmasi sesuatu.


Pria itu tak mengatakan apapun, di dekat nya ada beberapa buah-buahan dan juga beberapa garpu di atas piring itu.


"Sir? And-"


Crash!


"AAKHH!"


Perawat itu berteriak seketika, tubuh nya langsung tersungkur di lantai saat tiba-tiba seseorang menusuk leher nya dengan garpu.


"S.. Sir..."


"A.. apa yang anda lakukan?"


Wanita itu gemetar, menatap ke arah pria bertubuh tinggi dengan wajah yang tampan namun seperti iblis itu.

__ADS_1


Ia ingin berlari namun secepat kilat Lucas langsung berjongkok dan menarik kaki nya.


Lucas masih diam tak mengatakan apapun ia menatap ke arah luka di leher wanita itu yang mengalirkan setetes demi setetes darah segar itu.


"Heh," senyuman miring itu terlihat seperti sedang menemukan jawaban.


Ia masih diam, sedangkan wanita di depan nya menggeliat dan berusaha lari dengan tubuh yang gemetar itu.


Pria itu tak mengatakan apapun, ia melihat ke arah tangan yang sedang menutupi luka di leher nya itu sekaligus menghentikan perdarahan nya.


Ia menepis nya, menepis tangan perawat yang memiliki tubuh kecil itu. Darah segar itu mengalir.


Memang sakit di mata nya tak membaik namun setidak nya pandangan yang mirip sketsa itu tak begitu memusingkan.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun tangan yang tanpa permisi itu beranjak memegang dan menekan luka di leher wanita itu.


"AKH! Sakit! Lepas! Ku mohon!"


Wanita itu menjerit dan menggeliat seketika saat luka nya di leher nya seperti di masuki jemari yang ingin mengorek setiap tetesan darah nya.


Darah segar itu tak lagi menetes melainkan mengalir, wajah pucat dengan lelehen buliran bening terlihat.


Lucas berhenti, ia sudah memastikan nya. Tangan nya yang bagai terkena cat merah itu kini memiliki bentuk yang begitu jelas di hadapan nya.


Ia kembali menoleh ke arah wanita yang gemetar begitu hebat itu sekaligus tubuh yang terasa lemas karena darah nya yang keluar cukup banyak.


Slap!


Wanita itu terkejut, aroma anyir dan amis darah nya sendiri menyapu wajah nya.


"Diam, kalau kau terlalu berisik aku akan mencabut lidah mu, mengerti?" ucap Lucas dengan menghela napas nya sembari mengusap wajah wanita itu dengan darah yang sudah mengalir keluar.


Perawat itu tak mengatakan apapun, bukan nya ia yang sedang menurut namun ia terlalu takut hingga suara nya pun tak bisa ia keluarkan.


Lucas kembali diam, wajah nya datar menatap ke arah wajah yang setidak nya memiliki sedikit bentuk itu.


"Menurut mu kenapa dia meninggalkan ku?" tanya Lucas yang memikirkan gadis nya.


"Ku.. ku mohon..."


"Lepaskan aku..."


Ucap perawat itu dengan tangisan nya yang memohon.


Lucas menoleh, ia sedang mengajak bicara namun wanita itu hanya menangis dan memohon.


Sangat berbeda dari gadis nya yang tetap akan bisa di ajak bicara walaupun sekujur nya ia sayat dulu.


Crash!


AKHH!!!


Perawat itu menjerit, garpu yang terlihat tak berbahaya itu di tancapkan di kaki nya.


Sekali lagi cairan berwarna merah terang itu mengalir dan mengotori lantai.


"Kau tidak dengar? Menurut mu kenapa dia kabur? Aku sudah berusaha menuruti yang dia mau. Padahal aku sangat menyayangi nya." ucap Lucas sekali lagi.


"Mo.. Monster..."


Wanita itu menangis dan mengeluarkan kata makian nya.


Lucas menoleh, ia tak mengerti. "Monster? Menurut mu dia berpikir seperti itu setalah aku memberikan dia banyak cinta?"


"Le.. lepaskan aku..."


Perawat itu kembali memohon, ia menangis tersedu dan memohon.


Lucas tak mengatakan apapun, wajah nya datar dan mata nya kosong seperti tak memiliki perasaan.


AKHH!


"Sakit! Tolong! Ampun!"


Perawat itu berteriak histeris, ia mencoba menggeliat dan memukuli dengan tenaga nya yang lemah saat pria itu mencongkel mata nya dengan garpu.


Tuk!


Lucas melihat ke arah bola mata yang tak berwarna itu, sangat berbeda dari gadis kesayangan nya.


Sedangkan perawat itu mengalami kejang, reaksi alami nya ketika ia mengeluarkan darah dalam jumlah yang begitu banyak.


Lucas hanya melihat tanpa merasakan apapun, ia bangun dan membiarkan perawat itu merenggang nyawa sembari menjatuhkan bola mata yang berada di tangan nya.


"Anna?"


"Kau di mana?"


"Kau benar-benar pembohong handal, kau janji tidak akan meninggalkan ku..."


"Aku tidak akan mempercayai mu lagi,"


Bibir nya bergumam dengan mata kosong, ia menatap langit yang tak berwarna itu.


Pakaian pasien dan tangan nya penuh darah, korban pertama lagi setelah satu tahun ia tak pernah membunuh seseorang untuk darah.


"Aku merindukan mu..."

__ADS_1


Perasaan marah, kesal, gelisah, dan rindu yang beradu menjadi satu membuat nya berada dalam emosi yang sulit ia identifikasi.


__ADS_2