
Satu Minggu kemudian
Sekolah
Samantha berulang kali melihat ke arah ponsel nya, ia tak tau di mana teman sebangku nya itu tinggal sekarang setelah pindah dari apart kecil itu.
Ia ingat sebelum nya masih baik-baik saja tanpa ada masalah namun kini izin sakit sampai satu Minggu tanpa memberi tau nya apapun.
"Sakit apa sih ni anak?" decak nya yang Mets bosan karna tak ada teman nya yang berisik seperti biasa nya.
Drrtt... drtt... drtt...
Gadis itu langsung beranjak mengambil ponsel nya dengan semangat karna ia kiri kini teman nya sudah berbalik menelpon nya.
Senyuman cerah nya hilang dengan bola mata yang memutar malas melihat nama panggilan yang berada di ponsel nya.
"Ya?" tanya nya singkat dengan nada ketus.
"Anna mana? Telpon ku ga di angkat, kasih ke dia. Aku mau bicara."
"Gak dateng! Memang nya kamu aja kak yang sakit? Anna juga sakit tau! Jangan di gangguin terus tau!" jawab Samantha dengan ketus dan nada yang kesal.
"Sakit? Sakit apa?"
"Kurang tau juga, tapi dia udah seminggu ga masuk terus kata nya cuma sakit aja." jawab Samantha pada kakak sepupu nya itu.
"Rumah nya di mana? Kirim alamat nya? Biar aku ke sana."
"Dia pindah udah hampir jalan dua bulan sih, ga tau juga pindah nya kemana." jawab Samantha dengan jujur, karna kalaupun dia tau sudah dia yang lebih dulu mendatangi teman nya itu.
"Udah dulu ya? Mau masuk ini, udah bel." sambung nya berbohong karna malas meladeni sepupu nya yang pembuat onar itu.
...
Rumah sakit
Gevan melihat ke arah ponsel nya, sudah tidak di jenguk, tidak di tanya kabar, sekarang bicara saja sepupu nya itu malas.
"Dia sakit apa?"
Gumam nya lirih yang merasa gadis itu masih baik-baik saja saat mengunjungi nya namun kini malah di katakan sakit.
Ia tak bisa menghubungi gadis itu walaupun sudah lewat beberapa hari. Tak hanya itu pesan nya pun tak di baca sama sekali.
"Dia sakit atau pura-pura sih?" sambung nya dengan wajah frustasi dan tak mempercayai kabar yang ia dengar.
......................
Mini market
Diego turun dari mobil nya, air mineral yang berada di mobil nya sudah habis dan tentu ia harus membeli nya untuk persediaan di mobil.
"Hum?" mata gadis itu membulat seketika, ia melihat pria yang tempo hari pernah menjemput teman nya.
"Sir!"
Panggil nya tanpa sadar dan lupa jika pria itu tau tentang 'bagian' lain dari sisi nya dengan kekasih nya.
Diego langsung menoleh ke arah gadis itu dah menatap nya.
Ia mengernyit melihat gadis yang tak begitu ia kenal, "Ya? Ada apa?" tanya nya menatap ke arah gadis berambut panjang yang menghampiri nya itu.
"Anda tau di mana Anna tinggal?" tanya Samantha tanpa basa-basi pada pria itu.
Diego mengernyit mendengar nya, gadis itu langsung bertanya walaupun ia sendiri tak ingat siapa gadis yang berbicara pada nya itu.
"Ini..." ucap nya yang memiringkan kepala nya dengan berusaha mengingat wajah gadis itu depan nya.
"Samantha," jawab gadis itu dengan cepat saat melihat pria itu seperti melupakan nya.
"Oh iya, teman Anna?" tanya nya dengan senyuman yang biasa ia pakai di wajah nya itu.
"Kata nya Anna sakit tapi dia gak angkat telpon ku sama sekali, jadi..."
"Anda tau di mana dia tinggal?" tanya nya lagi pada pria itu.
Diego tersenyum namun tak mengatakan jawaban apapun yang di inginkan gadis itu.
"Entahlah, aku juga tidak tau dia tinggal di mana." jawab nya dengan ramah namun tentu apa yang ia katakan adalah kebohongan.
"Tapi kan anda pernah jemput dia," ucap Samantha sekali lagi mendesak pria itu.
"Tapi kau juga teman nya tapi kenapa dia tidak beri tau di mana dia tinggal?" tanya Diego yang berpura-pura tak tau walaupun ia sendiri dalang yang membawa teman gadis remaja itu masuk ke dalam sangkar neraka.
"Ya.. I..itu..." Samantha memiringkan kepala nya dan memutar bola mata nya ke atas karna bingung bagaimana menjawab nya.
Ia bahkan tak tau kenapa teman nya itu tak pernah mengatakan di mana ia tinggal sekarang.
Diego tersenyum, ia melihat ke arah belanjaan yang berisi susu dan jajanan yang bertumpuk di tangan nya itu.
"Ayo, akan ku bayarkan belanjaan mu." ucap nya sembari membalik tubuh gadis remaja itu.
Diego tak bisa mengatakan apapun tentang gadis yang berada di mansion sepupu nya itu.
...
__ADS_1
Samantha duduk dengan jajanan yang berserakan di depan nya, ia melihat ke arah pria yang tersenyum pada nya dan duduk di depan nya.
"Anda tidak pergi, Sir?" tanya nya sembari menatap pria yang terlihat meminum soda itu.
Diego melihat ke arah jam tangan nya, "Nanti, kalau aku pergi cepat dia juga bakal nambahin kerjaan." ucap nya yang tampak sedang ingin bermalas-malasan sejenak setelah di buat pusing dengan masalah yang harus ia tutupi.
Samantha mengangguk kecil mendengar nya, ia membuka jajanan nya dan mulai memakan nya.
Sedangkan pria itu melirik ke arah gadis yang membuka minuman nya. Walaupun memiliki usia yang sama namun kedua gadis itu sangat berbeda.
Gadis di depan nya terlihat centil dan lebih dewasa berbeda dengan gadis remaja di mansion sepupu nya yang polos dan lugu sehingga ingin mengerjai nya.
Membuat nya terlihat lucu dan menggemaskan berbeda dengan gadis di depan nya.
"Oh iya," Samantha tersentak, ia seperti melupakan sesuatu dan kembali masuk ke mini market yang sebelum nya tak jauh dari diri nya.
Diego melihat ke arah gadis yang melenggang pergi itu.
Ponsel yang tertinggal di atas meja itu mulai berdering, setelah beberapa lama tak ada yang mengangkat ponsel itu pun mulai bergetar dan menampilkan notifikasi.
Kamu di mana?
Nanti malam ke hotel lagi yuk?
Atau mau ke rumah ku? Orang tua mu sudah pulang kan?
Aku beli mainan baru, kamu pasti suka.
Mau ku jemput malam ini?
Set!
"Astaga!" Samantha langsung mengambil ponsel nya dengan panik.
"Seperti nya pacar mu mencari," ucap nya pada gadis itu dengan senyuman seperti biasa tanpa ada perubahan sedikit pun.
"I..iya..." ucap nya lirih dengan senyuman canggung.
Diego bangun dari duduk nya, dan melihat ke arah gadis itu, "Have a nice day." ucap nya sebelum ia berbalik pergi.
Samantha tersenyum canggung, ia pun langsung membuka kembali ponsel nya dan membulat kan mata nya seketika melihat pesan dari kekasih nya yang terlalu vulgar.
"Astaga! Malu nya!" ucap nya pada diri nya sendiri.
......................
Mansion Damian
Pria itu memotong daun yang masih melekat di buah segitiga berwarna merah dan berbintik itu.
"Si..sir..."
Ucap Anna memanggil lirih pada pria yang terus memberikan nya makanan satu persatu itu selama seminggu penuh.
"Kenapa? Makan lagi," Lucas dengan wajah datar nya terus menyuapi gadis itu dengan berbagai makanan.
"Bukan nya kau terlalu ringan? Kau bilang kau sudah berumur 17 tahun kan?" tanya nya pada gadis itu.
"Memang nya 17 tahun harus sebesar apa?" gumam gadis itu lirih yang sudah tak sanggup lagi mencerna makanan.
"Aku tidak tau sebesar apa, tapi yang jelas nya tidak sekecil tubuh mu." ucap Lucas pada gadis itu.
"Lagi pula yang di situ juga akan bertambah besar kalau berat mu naik kan?" sambung nya lagi sembari menurunkan pandangan nya ke arah dua gumpalan daging yang berbentuk bulat dan lembut itu.
Anna langsung mengernyit dan menutup dada nya seketika saat pria itu melihat nya.
"Sudah, makan lagi." ucap pria itu yang kembali memasukkan makanan ke dalam mulut gadis itu.
"Sir? Sa..saya sudah tidak bisa makan lagi..." ucap nya sembari menolak tangan pria itu yang terus memberikan makanan.
Lucas mengernyit, ia tak suka tangan nya di geser padahal ia sudah berbaik hati menyulangi gadis cantik itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya nya dengan tatapan yang tajam.
"Hum?" Anna menatap bingung, memang nya ia melakukan apa.
Ukh!
Gadis itu tersentak, rahang nya kembali tercekik ketika pria itu mencengkram nya dengan kuat.
"Makan!" ucap Lucas sekali lagi.
Anna pun hampir tersedak dan kembali membuka mulut nya dengan terpaksa dan memakan makanan yang di berikan pria itu.
Setelah melihat gadis itu memakan makanan nya, ia tampak tersenyum tipis.
Tangan nya meraih pinggang ramping itu dan semakin mendekatkan dengan diri nya. Aroma khas tubuh gadis itu kembali tercium di hidung nya.
Ia merasa sudah mengikuti saran sepupu nya dengan memperlakukan gadis itu sebaik mungkin.
Walaupun yang terlalu baik juga menjadi masalah.
...
Balutan perban di tangan dan kepala gadis itu perlahan di buka. Walaupun masih satu Minggu namun luka-luka itu sudah mulai mengering dan kini sedang berada dalam tahap pemulihan.
__ADS_1
Anna melirik ke arah pria yang memperhatikan nya dengan wajah yang datar seperti tak merasa bersalah sedikit pun.
Setelah memberikan perawatan rutin pada luka-luka yang berada di gadis itu para dokter pun keluar.
Anna sedikit memalingkan tatapan nya yang bergetar saat melihat pria itu mendekat. Walaupun ia berusaha membiasakan diri namun tetap saja ia tak bisa menghilangkan rasa takut dan gelisah nya saat ia hanya berdua dengan seseorang yang hampir membunuh nya.
Lucas mendekat ke arah gadis yang masih duduk di kursi nya itu, mata nya melihat ke arah warna memar di leher gadis itu yang menampilkan bekas cekikan nya tempo hari yang sudah lewat.
Tangan nya mendekat ke arah leher gadis itu
Eikh!
Anna langsung memejam sembari membuka kedua siku nya membentuk pertahanan diri nya seperti seseorang yang akan di pukul.
"Singkirkan tangan mu," ucap Lucas dengan datar sembari menepis tangan gadis itu.
Anna tersentak, namun ia tak berani menghalangi pria itu.
"Si..sir..."
Panggil nya pada pria yang melihat ke arah nya dengan tangan yang melingkar dan memegang leher nya walau belum mencekik nya.
"Kenapa? Apa aku terlihat berbeda?" tanya Lucas dengan datar sembari memperhatikan wajah gelisah dan takut gadis itu.
Siapa yang tak akan gemetar jika ia kembali melingkarkan tangan nya di leher mungil itu lagi.
Anna menggeleng, tatapan dan mata pria itu memang berbeda di malam ketika hampir membunuh nya namun biarpun begitu tatapan pria itu mirip seperti ia saat menguliti semua 'Peliharaan' nya yang lain sebelum diri nya.
"Leher mu kecil sekali?" gumam nya yang mengukur lingkar leher gadis itu.
"Kau sudah lebih baik?" tanya nya pada gadis itu.
"Su..sudah Sir!" jawab Anna segera yang memejam takut.
"Lihat aku," ucap Lucas sembari mengangkat sedikit tangan nya agar wajah cantik gadis itu menengandah dan melihat ke arah nya.
"Kau mau jadi cumi-cumi nakal?" tanya nya saat gadis itu memejam.
Ukh...
Anna meringis, rasa nya setiap kali tangan pria itu bergerak di leher nya maka napas nya terasa akan segara habis dan membuat nya tak bisa mengambil udara.
Mata biru itu perlahan terbuka dan melihat ke arah pria yang berdiri di depan nya.
"Kau masih ingat dengan kelas tambahan yang ku ajarkan?" tanya nya pada gadis itu.
"A..apa.."
Suara itu terdengar gemetar dan lirih seperti sulit keluar dari tenggorokan nya yang seperti di ikat dengan tangan yang memiliki jemari yang kekar dan besar itu.
"Kalau sudah lebih baik, kita bisa melakukan nya lagi kan? Lagi pula kalau kau menelan nya itu juga akan menjadi vitamin untuk mu." ucap nya dengan suara lirih sembari menunduk dan melihat ke arah wajah yang tampak takut itu.
"Sa..saya..." gadis itu gemetar sembari meneteskan air mata nya.
Ia takut kalau nanti nya ia bisa hamil walau pun sudah di beri tau jika hal seperti tak akan membuat nya hamil.
"Le..leher saya ma..masih sakit..." ucap nya lirih pada pria itu.
"Sakit? Bukan nya tadi kau bilang sudah lebih baik?" tanya Lucas yang langsung melepaskan tangan nya di leher gadis itu dan memegang dagu kecil sembari melihat ke arah seluruh wajah gadis itu yang basah.
Tatapan nya terlihat lekat, wajah bulat, hidung yang mancung rambut yang pirang bergelombang dan sudut kening yang masih memiliki bekas terluka dari apa yang ia lakukan.
Namun semua pandangan nya itu jatuh pada bibir merah muda gadis itu yang membuat nya ingin mencoba jelly manis yang lembut itu lagi.
Humph!
Pria itu bertumpu pada kursi di mana gadis itu duduk dan memakan bibir merah muda itu.
Suka?
Ya, ia tau ia suka pada gadis itu karna bisa melihat warna nya dengan jelas dan bentuk yang jelas.
Namun untuk menyamai rasa suka nya dengan perasaan cinta ia masih tak tau. Yang ia tau adalah kesenangan saat ini saat gadis itu masih ada di sisi nya.
......................
Sementara itu
Suara yang terdengar jelas bertabrakan satu sama lain, suasana hangat di kala dinginnya udara dari alat pendingin ruangan itu.
Sprei yang berantakan, napas yang berat serta keringat yang jatuh di pelipis nya.
"Okey, good girl babe!"
Suara yang berat itu semakin menguatkan tenaga nya, gadis itu meremas sprei putih Dru tempat tidur hotel presiden suite itu.
Aduan napas yang semakin berat terdengar sampai mencapai suatu titik yang membuat nya gemetar.
"Kita berhenti kan? Lagi pula sudah habis..."
Gadis itu berbicara dengan tersengal-sengal sembari melihat ke arah bungkus bahan pelindung dari kegiatan nya.
Pria itu tersenyum seperti biasa, "Bagaimana kalian bisa berteman?" tanya nya yang merasa gadis di samping nya saat ini memiliki teman yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan nya.
"Ja..jangan beri tau dia..." ucap nya lirih pada pria itu.
__ADS_1
"Kalau pun aku beri tau dia juga sulit mengerti," jawab pria itu dengan senyuman di wajah nya.