
8 Hari kemudian.
JNN grup
Siklus pemberian bahan kimia itu kini sudah selesai dan berakhir dalam 48 jam yang lalu.
Mata biru itu termenung menatap kosong ke arah pintu yang tak terbuka lagi itu setelah para dokter mendatangi nya tiga jam yang lalu.
"Dia masih lama?" gumam nya yang duduk dengan memeluk kedua kaki yang di tekuk itu dan menyandarkan kepala nya di dengkul.
Menunggu dan berbicara dengan seseorang adalah satu-satu nya hal yang bisa membuat nya tetap waras di keadaan yang begitu membuat nya stres.
Satu jam...
Dua jam...
Mata biru itu menoleh ke arah jam dinding yang berdenting dengan berisik namun bagi nya hal itu bukan masalah.
Suara televisi yang menampilkan pembicaraan karna film yang ia inginkan tengah di putar nun bukan itu yang menjadi fokus.
"Apa dia tidak datang? Kenapa lama sekali?" gumam nya lirih yang secara alamiah mulai bergantung pada pria yang sejujur nya sudah menjerumuskan diri nya.
...
Ruangan Presdir
Pria itu membaca sejenak tentang apa yang di berikan oleh sekertaris nya yang juga masih memiliki hubungan kerabat dengan nya.
"Kau bisa atasi masalah ini? Apapun cara nya buat mereka setuju bekerja sama dengan kita," ucap nya yang melihat ke salah satu dokumen nya dan tentu ingin membangun aliansi bisnis.
"Aku akan coba," jawab Diego yang mengambil nya dan tentu ia harus mendapatkan hal tersebut.
Lucas pun memberikan beberapa dokumen yang sudah ia tandatangani dan beberapa laporan cacat karna tak sesuai dengan yang seharus nya.
Pekerjaan yang elit tentu menanggung beban yang berat juga.
Diego menarik napas nya dan kini ia sudah selesai melalukan pembicaraan dengan atasan.
"Luc?" panggil nya dengan nada lirih yang berbicara seperti saat ini ia tak menjadi sekretaris pria itu melainkan sepupu nya.
Lucas tak menjawab namun ia menoleh dan menatap ke arah pria itu.
"Kau sudah tau kalau efek kemoterapi nya bisa menyebabkan kemandulan?" tanya Diego sembari menatap ke arah pria itu.
"Ya, lalu? Bukan nya itu bagus?" tanya nya dengan nada yang datar dan ekspresi yang menunjukkan jika ia sama sekali tak masalah.
"Bagus? Kau hanya mau bermain-main dengan nya saja?" tanya nya mengernyit karna tanpa di bilang pun ia sudah tau jika sekarang hubungan sepupu nya dengan gadis remaja itu sudah dalam.
"Tidak, aku akan menikahi nya ketika dia berumur 21 tahun atau 20 tahun." jawab Lucas yang tampak kukuh dan yakin.
"Dan kau bilang bagus kalau dia mandul?" tanya nya mengernyit.
"Ya, aku jadi tidak perlu pakai pengaman atau melakukan vasektomi untuk mencegah dia hamil kan?" tanya nya yang terlihat serius dengan ucapan nya.
"Kau tidak mau punya anak?" tanya Diego yang kini tau apa yang di pikirkan oleh sepupu nya.
"Benar," jawab pria itu singkat tanpa ragu sedikit pun.
"Dia tau kalau kau tidak mau punya anak? Kalau hanya kau yang setuju mungkin dia akan-"
"Diego," panggil pria itu yang memotong ucapan sepupu nya.
"Dia bukan adik mu, dia bukan Helienne mu. Berhenti menunjukkan ketertarikan mu untuk nya dalam bentuk apapun." ucap Lucas yang ingin membuat mulut sepupu nya berhenti bicara.
"Ya, aku akan urus ini." ucap Diego yang menarik napas nya dan menunjukan ke arah dokumen yang ia bawa.
__ADS_1
Lucas menatap dengan dingin sampai pria itu keluar dari ruangan nya.
Bukan nya ia yang ingin bermain-main dengan gadis remaja itu, namun ia ingin memiliki nya sendirian.
Ia ingin menikahi nya dan hidup hanya dengan diri nya tanpa membagi gadis itu untuk siapapun walaupun adalah anak nya sendiri.
Dan faktor yang datang dari masa kecil nya pun membuat nya memberikan warning yang tak ia sadari untuk tidak memiliki seorang anak.
...
Skip.
Klek
Suara pintu yang terbuka itu membuat mata biru itu sejenak menatap dengan harapan namun juga rasa was-was saat ia tau kemungkinan yang datang adalah para dokter lagi dan bukan nya seseorang ia tunggu.
"Luc!"
Mata biru yang jernih itu berbinar di wajah yang pucat itu, ia bangun dari tempat nya dan langsung mendekati pria yang masuk ke dalam kamar perawatan nya itu.
Lucas tersenyum melihat nya, ia tampak menyukai nya saat gadis itu menyambut nya ketika ia datang.
"Kau menunggu ku?" tanya nya yang memegang dagu gadis itu.
"Ya," jawab Anna dengan senyuman tipis, kepala nya mendekat ke arah tangan pria itu seperti menginginkan pujian.
"Anak manis..." ucap Lucas dengan senyuman simpul sembari mengusap rambut halus yang tak mengalami efek rontok dari kemoterapi.
Seperti seseorang yang kini sudah kehilangan arah nya, sikap delusif yang membuat nya menjadi apa yang di inginkan pria itu.
His Pet? Or Slave? Maybe Women?
Ia tak peduli lagi dengan itu semua, bentrokan di dalam diri nya hanya ingin ia tetap waras dan tetap bertahan hidup.
......................
Senyuman terulas di wajah pria yang masih membicarakan pekerjaan walau di tempat yang tampak tak mungkin membahas nya.
"Kau tau kenapa aku suka berbisnis dengan kalian?" tanya pria itu yang tampak senang.
"Karna kalian sangat menguntungkan!" ucap nya yang mengambil anggur di samping alkohol nya.
"Saya akan anggap itu pujian," ucap Diego singkat dengan senyuman kecil.
Tak semua nya urusan bisnis di selesaikan di tempat yang formal.
"Aku akan datang ke perusahaan kalian dua Minggu lagi setelah istri ku pulang dari Korea." ucap nya pada pria itu.
"Kami akan senang hati menyambut anda," ucap yang selalu memberikan senyuman formalitas.
Pria itu mengangguk, ia sudah memanggil lima wanita untuk menjadi pendamping karna ia memang suka di layani lebih dari satu wanita.
"Yang bekerja di sini memiliki kualitas yang bagus, aku pernah bersama dengan wanita yang terlihat masih remaja," ucap nya yang membicarakan seseorang.
Karna di tempat seperti pun memiliki larangan untuk memperkerjakan anak-anak di bawah umur sehingga beberapa dari gadis remaja yang melakukan pekerjaan kotor itu menyembunyikan usia sebenarnya.
"Kali ini aku akan coba mengajak yang lain," ucap nya yang tersenyum, selain bermain dengan lebih dari satu wanita ia juga suka bermain dengan kelompok atau bersama-sama.
Diego tak mengatakan apapun, ia hanya tetap menjaga ekspresi nya dengan senyuman formalitas itu.
Sisi gelap dari orang-orang yang memiliki kuasa tentu sudah menjadi rahasia umum karna ia pun juga bukan orang yang benar-benar bersih.
Ketukan pintu terdengar, belum ada jawaban namun pegangan pintu sudah terbuka dan membuat para wanita itu bisa masuk.
"Nah! Ini dia yang punya pelayanan memuaskan!" ucap nya yang tertawa dan menarik gadis itu ke dalam pangkuan nya.
__ADS_1
Gadis itu tentu harus tersenyum walau ia terkejut, ia melihat ke arah pria itu tanpa melihat ke arah lain lagi.
Greb!
Pria itu tersentak begitu juga dengan gadis yang tampak terkejut itu saat tangan nya di tarik dan membuat nya langsung beranjak menoleh ke arah pria yang menarik nya.
"Kau! Kenapa kau di sini?"
Deg!
Mata hitam yang saat itu mengenakan soflens hijau itu langsung tersentak, jantung nya terasa ingin berhenti seketika.
Rasa malu yang meluap hingga ke ujung rambut nya melebihi 20 kali lipat ketika ia melihat teman nya.
Bibir nya terkunci rapat, ia tak mengatakan bisa mengatakan apapun dan hanya bisa terdiam.
Sedangkan pria yang bertanya itu kehabisan kata-kata, walaupun ia menuruti perkataan sepupu nya untuk tak lagi ikut campur atau mencari tau tentang gadis yang harus nya ikut menderita dengan orang tua nya itu. Namun ia juga sudah memberikan kartu kredit tanpa batas yang bisa di gunakan oleh gadis itu.
"Kalian saling mengenal?" tanya pria yang bersama Mac itu melihat wanita pel*cur kesayangan nya itu di tarik oleh rekan nya.
"Ya, ku rasa aku juga tau pelayanan nya." jawab pria itu dengan nada sarkas pada gadis yang ingin menyembunyikan wajah nya itu.
"Dia bisa dengan ku, kan?" sambung nya yang kali ini mengatur ekspresi wajah nya lagi.
"Baik, kalau kau mau dia." ucap Mac yang mengendikkan bahu nya tampak hanya seperti melakukan pertukaran barang.
Plak!
Suara renyah saat ia memukul b*kong seksi terdengar, remasan kuat di tangan nya yang tentu bisa saja ia lakukan untuk wanita yang memang di sewa untuk itu.
"Perlakuan dia dengan baik, tapi kau juga sangat tau cara nya." ucap Mac pada gadis yang terus menunduk tak bisa mengangkat wajah nya sama sekali.
Mata gelap itu itu menyilang, ia merasa sangat marah walau ia tak memiliki hak untuk marah sekali pun sampai beberapa kali kelepasan dalam menunjukan ekspresi nya.
Tangan nya mencengkram kuat pergelangan tangan gadis itu.
"Ya, tentu dia harus melakukan dengan baik karna dia sudah di bayar kan?" tanya nya yang menatap dengan mata tajam pada gadis yang menunduk dengan rasa malu yang teramat sangat itu.
...
Bruk!
Tubuh gadis itu langsung terhempas di ranjang yang empuk hingga membuat nya tak merasakan sakit sama sekali.
"Si.. Sir..." ucap nya lirih yang memanggil formal dan merasa takut karna ia tak pernah melihat pria itu marah sebelum nya.
"Berapa banyak pria yang sudah kau layani?" tanya nya dengan tajam dan berdiri di ujung ranjang menatap ke arah gadis itu.
Lidah nya kelu, ia tak bisa mengatakan apapun dan suara nya seakan menghilang di telan bumi.
Pria itu tertawa lirih, gadis itu sudah hilang kabar sejak lama dan ia memang tak mencari tau nya lagi namun ia sudah memberikan kartu credit nya tanpa ia blokir sama sekali.
"Dari semua pekerjaan yang bisa kau lakukan kau memilih ini? Kau memang semurah dan serendah ini?" tanya nya dengan nada tajam pada gadis itu.
Samantha tak mengatakan apapun, ia memang memilih kabur dan tak ingin bertemu dengan orang-orang yang ia kenali untuk memperhatikan harga diri yang masih ada walaupun sudah memiliki banyak sisi yang retak.
"Sa.. saya akan pa.. panggil kan wa.. wanita yang lain..." ucap nya yang gagap dan berusaha bangun walau ia tak lagi memiliki tenaga untuk itu.
"Dari pada kau menjadi pel*cur murahan seperti itu kenapa kau tidak menjadi pel*cur ku saja? Aku bisa membayar mu lebih mahal," ucap nya yang tanpa sadar merasakan marah dan kecewa untuk keputusan yang di ambil oleh gadis itu.
"Sa.. saya akan panggil teman yang lain u.. untuk mengantikan sa.. saya.." ucap nya yang terdengar serak karna tangisan nya yang saat ini ia merasa begitu malu.
"Kenapa? Aku sudah membeli mu juga, kau harus melayani ku kan? Seperti pelanggan mu yang lain, karna kau pel*cur." ucap nya yang menjadi lebih sarkas.
Gadis itu bisa memilih pekerjaan lain atau memanfaatkan kartu credit yang ia berikan dan ia tak akan marah untuk itu.
__ADS_1
Namun malah memilih pekerjaan hina itu?
Membuat nya tak habis pikir dan rasa terkejut nya kini berubah menjadi rasa amarah dan kekecawaan.