
17 Tahun kemudian.
Pria dengan tubuh yang tinggi dan juga wajah yang tampan karna mewarisi gen dari kedua orang tua yang memang memiliki paras yang rupawan itu datang.
Tas kamera yang ada di bahu nya dengan foto cetak yang sudah ada di tangan nya.
Mata nya menatap ke arah wajah yang masih tampak cantik seperti yang terkahir kali ia ingat. Tak menua sama sekali walaupun waktu sudah berlalu sangat banyak.
Entah kecanggihan apa yang di berikan namun tubuh wanita itu tak membusuk, tak hancur dan juga tak bau atau hancur.
Kotak kaca yang sedingin es dengan bunga mawar putih yang selalu ada di dalam nya selalu terlihat bersih.
Ia membuka nya dan kemudian memberikan semua foto cetak yang sudah ia ambil.
"Ma? Tempat yang terakhir kali aku datangi bagus, nanti kita ke sana ya Ma?"
"Nanti aku yang akan bawa Mama ke sana, karna kalau memang kehidupan selanjutnya itu ada."
"Aku akan tetap minta untuk di lahirin dari Mama." ucap nya tersenyum tipis karna ia selalu memberikan semua foto yang ambil pada ibu nya.
Seperti menunjukkan banyak tempat di dunia yang masih begitu indah.
Ia tak tau apa itu arti kata mati, namun seiring berjalan nya waktu ia mengetahui semua itu sendiri nya.
Ia tumbuh dan melihat sang ayah yang sangat jarang bicara nya pada nya namun selalu menunggu dan melihat ke arah mayat ibu nya.
Seperti menunggu sesuatu yang tak akan mungkin datang, pria yang dulu ia takuti namun tak pernah memukul nya.
"Ma? Maaf..."
"Kali ini aku tidak akan jadi anak baik untuk Mama, tidak apa-apa kalau Mama mau marah karna kali ini aku sudah tidak mau lagi lihat Mama di sini..."
"Di sini menyakitkan, iya kan Ma? Aku mau Mama pergi ke tempat yang hangat..." ucap nya lirih dengan senyuman tipis.
Walaupun dulu ia anak yang tak mengerti apapun namun kini ia tau, dan ia tentu tak ingin melihat ibu nya terus menerus berada di tempat yang sedikit es dengan suntikan yang membuat tubuh nya awet karena itu seperti menyakiti ibu nya.
Tak ada kasih sayang, ia di besarkan dengan uang dan sikap ketidakpedulian serta tatapan yang dingin.
Ia tak membenci nya namun tentu ia juga tak bisa menyayangi ayah yang seperti itu.
...
Pukul 08.45 pm
Langkah kaki yang terdengar masuk ke dalam ruangan itu tak membuat nya menoleh, mata nya hanya melihat ke arah tempat yang sama seperti menunggu seseorang yang tak akan datang.
"Ku mohon..."
"Berhentilah, dia tidak akan bangun dan anda hanya menunggu sesuatu yang sia-sia."
Tak ada jawaban, pria yang sudah cukup berumur setengah abad lebih yang merupakan penyintas dari penyakit hati dan masih bertahan itu hanya menatap ke arah kotak kaca yang dingin itu.
"Pergi," satu kata yang singkat terdengar dari pria yang tampak tetap tampan itu.
Tak ada jawaban namun linggis yang berada di balik punggung pria tampan itu memukul dan memecahkan kotak kaca yang begitu dingin itu.
Prang!
Lucas tersentak, ia langsung berbalik dan memukul ke arah anak yang ia besarkan walau tanpa kasih sayang nya sama sekali.
Bugh!
"Kau mau mati?"
Ia menatap dengan murka dan melihat ke arah anak yang baru beranjak dewasa itu.
"Hentikan, lihat dia? Dia tidak akan bangun, dia..."
"Dia sudah pergi sejak lama, saya mohon..."
__ADS_1
"Jangan terus menyiksanya,"
Tak ada perlawanan bahkan saat sang ayah menarik kera baju nya dengan erat.
Lucas menjawab, ia masih menatap dengan marah namun tangan putra nya seperti memberi nya sesuatu.
"Anda tau? Ini jenis yang sama dengan yang di minum dulu, dia sudah tidak ada dan saya mau anda untuk menerima itu..."
Lucas melepaskan nya secara perlahan dan melihat ke arah ampul kecil di tangan nya.
"Saya sudah bisa mengurus diri saya sendiri, dan saya berterimakasih untuk apa yang sudah anda berikan." Ia mengatakan dengan kata-kata yang baku dan formal.
Dan walaupun ia memberikan ampul yang berisi racun yang sama namun ia tidak melakukan nya untuk balas dendam, ia tak benci namun juga tak menyayangi ayah nya.
Anak yang tumbuh dengan defisit emosi dan juga tanpa kasih sayang itu tentu memiliki jalan pikiran dan kecerdasan yang berbeda.
Yang ia inginkan hanya melihat raga ibu nya tak lagi tersiksa dan sang ayah yang terbebas dari penantian panjang yang tak akan usai.
"Itu pilihan anda, apapun yang anda lakukan nanti. Tapi saya mohon berhenti menyakiti ibu saya dan berhenti menunggu..."
"Dia tidak ada lagi di sini, dia tidak akan bangun, anda lihat sendiri kan?" sambung nya yang melihat ke arah sang ibu yang jatuh dari kotak kaca nya.
Kali ini ia tak menunggu jawaban lagi dan keluar membiarkan sang ayah yang memikirkan apa yang ia katakan.
"Kau jatuh? Dia anak yang nakal, berani sekali dia melakukan itu pada mu?" tanya nya yang beranjak menggendong tubuh yang tak lagi berat seperti dulu.
Lucas diam, menunggu hampir 18 tahun dan menolak kenyataan tentu bukan waktu yang singkat.
Kata-kata yang terdengar seperti sihir untuk nya, dan menyadarkan nya sedikit kenyataan yang ia tolak.
"Katakan pada ku ini hanya mimpi buruk, katakan kalau semua akan baik-baik saja..."
"Aku sudah melakukan semua yang kau mau, membiarkan anak itu hidup dan menjalani terapi, ku mohon..."
"Bangunlah..."
Deg!
Tangan wanita itu seperti akan hancur jika ia menggenggam nya dengan begitu erat.
Sebanyak usaha apapun yang ia lakukan namun tetap saja raga yang mati memiliki kekurangan.
Tes...
Di sadarkan dengan kenyataan yang sesungguhnya, mungkin jika kotak kaca itu tak di pecahkan ia masih berpikir dengan kenyataan yang ia tolak.
"ARRGHH!"
Suara nya menggelegar, kali ini bukan tangisan tanpa suara tapi tangisan yang meledak.
Sesuatu yang tersimpan selama belasan tahun hanya untuk menunggu di waktu yang saat ini.
Ia memegang tangan yang seperti akan hancur itu, ia tidak bangun dari mimpi buruk nya melainkan sadar jika ia sedang tak bermimpi.
"Aku akan tidur, kali ini aku tidak akan memberikan mu tempat yang dingin itu lagi..." ucap nya lirih yang kemudian mengangkat dan membuka ampul itu.
Setelah tangisan yang pecah, senyuman yang tipis pun terlihat.
Pikiran nya kosong dan kemudian meminum apa yang di berikan oleh putra nya barusan.
Puk!
Tangan nya menepuk dan memeluk punggung wanita yang tak lagi bernyawa itu, ranjang yang tak pernah lagi di tiduri bersama hampir 18 tahun kini kembali di tempati pemilik nya.
Pria itu menarik selimut nya dan kemudian memeluk nya seperti apa yang ia lakukan terkahir kali sebelum bulan madu mereka 18 tahun yang lalu.
"Maafkan aku...''
"Kau pasti merasa sakit..."
__ADS_1
Mata pria itu tampak tak berhenti berair walau memejam dan juga ia yang terus menepuk punggung sang istri dengan lembut.
Tenggorokan nya terasa terbakar dan isi perut nya yang terasa terkoyak namun ia tak mengeluh sama sekali.
...
...Aku sudah menunggu untuk waktu yang lama......
...Aku melakukan apa yang kau inginkan, dia mungkin tidak mendapatkan ayah yang dia mau tapi aku memberikan semua yang aku bisa untuk membesarkan nya....
...Lalu kenapa kau tidak bangun?...
...Oh ya......
...Aku baru sadar, kau tidak akan bangun......
...Pasti tempat itu terlalu indah untuk membuat nya mu merasa nyaman dan tak ingin pergi dari sana kan?...
...Lalu aku boleh? ...
...Apa boleh ikut masuk ke dalam mimpi mu?...
...Aku boleh ikut tidur dengan mu?...
...Aku tau aku memang bukan pria yang baik dan aku tidak minta untuk hidup seperti ini......
...Tapi aku juga tidak bisa mengandalkan nya......
...Anna?...
...Aku harap nanti, di waktu yang bahkan aku tidak tau kapan......
...Aku bisa menjadi pria yang kau mau, bukan pria yang akan membuat mu meminum cairan yang sangat menyiksa itu......
...Bukan pria yang akan memberikan mu tatapan yang dingin dan wajah yang tidak memiliki ekspresi......
...Aku ingin menjadi pria 'normal' seperti yang kau inginkan nanti......
...Maaf......
...Aku tidak pernah mengatakan nya satu kali pun, padahal aku selalu mengatakan aku mencintai mu......
...Tapi kata itu tidak pernah ku sebutkan......
...Ann?...
...Ku harap, nanti aku bisa menemui mu lagi setelah aku tau perasaan yang bisa membuat orang lain mengatakan maaf, terimaksih dan tolong......
...Dan aku harap aku bisa menemui mu dengan semua emosi yang bahkan tidak pernah aku rasakan sampai saat ini, aku akan menemui mu lagi dan......
...Kau tidak perlu mengajarkan apapun pada ku......
...Aku yang akan mengajari mu semua hal, membuat mu tau kalau kau adalah makhluk yang paling pantas untuk di cintai......
...Aku tidak pernah menyesal pernah mengenal mu, bahkan kalau pun kau benar membunuh ku aku juga tidak akan menyesal......
...Bagi ku kau tetap sama......
...Kau dunia yang paling berharga......
...Aku mencintai mu......
...Dan maafkan aku karena aku memilih mencintai mu......
^^^~Lucas Alessandro Damian ^^^
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...The End...
__ADS_1